Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Sepuluh Hari Lagi


__ADS_3

Tidak terasa bulan telah berpindah. Memasuki Maret, dimana murid kelas dua belas akan lebih di sibukkan oleh simulasi-simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer.


Sebagai ekstrakulikuler sekolah yang di tunjuk langsung oleh Wakasek Kesiswaan untuk menyiapkan acara khataman, KSI (Komunitas Studi Islam) SMK Angkasa di sibukkan oleh gladi bersih.


Anggota divisi acara berlatih menabuh rebana, MC dan mengecek soundsystem. Ghina sebagai sekretaris yang merangkap jadi penanggung jawab acara tampak lebih sibuk dari yang lainnya. Mengecek perlengkapan dan apapun yang memang harus diperhatikan.


Semua anggota laki-laki bergotong royong mendirikan panggung dan juga tenda untuk hadirin yang diundang dari luar dan juga untuk masyarakat sekolah. Beberapa anggota OSIS juga terlihat membantu.


"Kenapa kalian juga ikut gladi bersih?" tanya Ghina saat Fatih berjalan menghampirinya dan tiba-tiba merebut kursi yang baru saja ia ambil untuk di rapikan.


"Kalau kita di sini, berarti ya karena OSIS juga ikut andil untuk acara ini," jawab Fatih enteng, sambil mengeluarkan kursi plastik satu-satu, lalu menatanya.


"Emang kalian di suruh wakasek?" tanya Ghina lagi.


"Hadeh bawel banget," ketus Fatih yang kini sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Mau bukti?" tantangnya dengan menyeringai.


"Nggak perlu," balas Ghina dan berlalu meninggalkan Fatih.


"20 hari lagi!" teriak Fatih saat Ghina sudah berjalan menjauh.


Ilham yang matanya sesekali mengawasi Ghina melihat kejadian itu dengan alis menyatu. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu antara Ghina dan Fatih. Ia mendengar teriakan Fatih tadi. Apa yang dimaksud dua puluh hari itu?


Besoknya, tepat hari H khataman semua kelas. Lima anggota KSI yang terdiri dari dua cewek dan tiga cowok sudah duduk rapi di atas panggung dengan jarak aman. Mereka menjadi perwakilan untuk membaca surah Ad-duha sampai An-nas dan diakhiri dengan doa khatmil Qur'an.


Namun sebelum itu, ada tampilan rebana dan suara nasyid merdu yang di bawakan oleh Meysa sebagai vokalis utama. Semua hadirin yang terdiri dari beberapa jajaran guru, pejabat daerah, bahkan ada polisi juga bertepuk tangan melihat penampilan memukau dari ekstrakulikuler sekolah itu.


Setelahnya lima anggota KSI mulai mengaji dengan suara merdu mereka hingga akhirnya tiba pembacaan do'a khatmil qur'an yang membuat Ghina ikut meneteskan air mata haru. Jika menyangkut al-qur'an hatinya memang mudah luluh dan terenyuh.


"Keren banget mereka ya Na?" tanya Renata yang duduk di samping Ghina.


"Bukan karena merekanya, tapi karena ayat-ayatnya itu. Kalau kita memahami artinya dengan benar, terasa menusuk-nusuk sampe sini," tunjuk Ghina ke dadanya.


"Masyaa Allah, ampuni aku Allah, belum bisa merasakan getaran karena mendengar bacaan qur'an," kagum Renata pada Ghina dan ia beberapa kali beristighfar.


"Pokoknya tiap tahun harus selalu diadakan acara ini. Itung-itung biar murid SMK terbiasa mengaji dan bikin target khatam," jelas Ghina. Renata mengangguk setuju.


Usai acara khataman dan anggota Rohis maupun OSIS membereskan semua sisa-sisa acara. Baik itu penurunan tenda, penyusunan kursi hingga pemungutan sampah mereka selesaikan dengan tuntas. Apresiasi wakasek kesiswaan saat pidato tadi menambah semangat pada mereka. Andaikan satu tahun saja mereka bisa tinggal di sekolah, mungkin akan ikut lagi berpartisipasi. Tapi sayang, tahun depan mereka sudah lulus dan tidak berada di sekolah ini lagi.


"Makasih ya Na, kamu sudah bekerja keras sebagai PJ," ucap Ilham menghampiri Ghina dan Renata yang tengah duduk di tepi teras sambil istirahat.


"Bukan karena aku, tapi kita semua," balas Ghina karena ia merasa semuanya telah bekerja keras, bukan hanya dirinya semata. Ah, Ilham terlalu berlebihan.


"Iya, tapi kamu keren juga bisa ngatur-ngatur mereka yang sering bandel," ucap Ilham terkekeh.


"Itu karena mereka ngehormati ketua Rohis juga. Masa mau asal-asalan. Ini juga amanah langka dari wakasek."

__ADS_1


"Ayo makan dulu!" tiba-tiba Fatih datang dan ikut nimbrung di sana. Tangannya merangkul Ilham.


"Hei ketua Rohis, malah sibuk ngobrol. Tuh, anggotamu pada kelaparan," ucap Fatih sambil dagunya yang di arahkan ke beberapa anggota Rohis yang terduduk di teras dengan muka lelah dan kelaparan tentunya.


"Kita tunggu titah Pak Adam dulu," ucap Ilham dan melepaskan rangkulan Fatih. Laki-laki yang sok akrab menurutnya.


"Ck, anak baik ya kamu ternyata. Apa-apa harus izin dulu. Pantes, banyak cewek yang ngidolain," sindirnya sambil melirik ke arah Ghina yang diam. Renata hanya menyimak pembicaraan itu.


"Bukannya kamu ya yang sering bikin geger sekolah karena fansmu yang banyak itu?" tanya Ilham dengan sebelah alis yang terangkat.


"Tau aja ketua Rohis. Update juga orangnya. Kirain sibuk jadi orang alim," tukas Fatih pedas yang membuat Ghina menatapnya tak percaya.


"Fatih!" sela Ghina. Entah mengapa, ucapan Fatih tadi begitu mengganggunya dan tentunya laki-laki itu benar-benar tidak sopan menyindir Ilham begitu.


"Hehe canda. Sorry bro. Salam kenal ya, setelah sekian lama berpapasan, baru kali ini bisa langsung ngobrol sama orang nomor satu di Rohis," tutur Fatih sambil menyugar rambutnya. Ia mengulurkan tangannya, sedangkan Ilham hanya meliriknya datar, tapi tetap menyambut uluran itu.


"Aku harap, kita kedepannya bisa berteman baik ya!" ucap Fatih setelah Ilham melepaskan tautan tangannya. Ia berlalu dari sana dan masuk ke dalam Musholla bersama-sama dengan Riki yang ikut berlari menyusulnya.


"Selama tiga tahun kalian baru saling ngomong?" tanya Ghina tidak percaya.


"Memang. Karena selama tiga tahun, aku nggak pernah sekelas sama dia. Cuma, sesekali ketemu pas tanding futsal dan nggak pernah satu team. Kecuali, kalau ada lomba di luar sekolah, itupun sebatas tanding bersama, bukan ngobrol bersama," jelas Ilham datar saja.


"Wah, segitunya ya jadi cowok. Kalian padahal baru kenal, tapi aura permusuhannya kerasa sekali." Renata bertepuk tangan dengan kekaguman. Ghina di sebelahnya langsung menepis tangan Renata yang membuat si empunya meringis.


"Aku nemuin Pak Adam dulu," pamit Ilham yang diangguki oleh Ghina dan Renata.


Pak Adam mengucapkan banyak terimakasih kepada OSIS dan juga anggota KSI binaannya.


"Nah, untuk kerja keras kita. Mari kita rayakan dengan makan bersama, silakan dibagi snacknya. Jangan ada yang nggak makan," titah Pak Adam tegas. Semua yang ada menurut dan mereka semua menikmati snack yang telah di bagikan.


Hari yang melelahkan. Itulah yang dirasakan Ghina. Setelah Renata pulang lebih dulu, ia hanya berjongkok di tepi jalan.


Ilham yang melihat Ghina belum naik angkot lantas menepi. "Belum ada juga angkotnya?" tanya Ilham.


"Belum, mungkin jam empat nanti. Soalnya biasanya, adanya jam 2 siang. Terus jam empat."


"Mau ikut aku?" tanya Ilham, walau ia tidak benar-benar menawari.


Ghina mendengus, membuat Ilham tertawa. "Ya nggak mungkin lah ya. Ya udah aku pulang duluan ya, hati-hati. Oh itu tokonya Fatih juga masih buka, kamu bisa aja mampir dulu ke sana. Setidaknya ada Fatih dan temen-temennya di sana. Takutnya kalau nunggu di sini kamu di culik."


"Hah? nggak mungkin lah, emang kamu pikir aku perempuan apaan," kesal Ghina.


"Ya bukan apa-apaan. Cuma jaga-jaga aja, Fatih juga nggak bakal ngapa-ngapain kamu 'kan? kalian temen sekelas juga."


"Big no, aku mau di sini aja."


"Ya terserahmu si keras kepala, aku pulang duluan ya."

__ADS_1


"Iya, pulang sana, siapa juga yang nyuruh kamu nepi segala." Ghina berkata ketus dan dihadiahi tawa pelan oleh Ilham.


Mengadakan Try Out tidak sesederhana yang dipikirkan oleh orang-orang yang belum pernah merasakan. Kelas dua belas seolah harus di genjot setiap saat untuk terus belajar dan mencoba bebagai macam soal dengan kesulitan yang berbeda-beda.


SMK tentunya tidak sama dengan SMA. Jika sekolah menengah atas hanya perlu melakukan simulasi UN untuk mata pelajaran yang sifatnya hanya teori, sedangkan jika SMK, ada tambahan mata pelajaran praktek yang diujikan. Tentu, hal tersebut semakin menambah beban anak kelas dua belas.


"Gini nih nggak enaknya jadi anak SMK," keluh Renata saat dirinya sudah seperti akan semaput karena terlalu lama melihat layar komputer.


Ghina yang masih fokus menghafal rumus-rumus Debian hanya menganguk-anggukkan kepalanya. Ia harus benar-benar hafal agar saat ujian tiba tidak menangis di tempat karena lupa perintah yang harus dia ketikkan di keyboard. Ya, semua anak Teknik Komputer Jaringan tahu betapa menyebalkannya rumus Debian, belum lagi harus bikin Web Server dan turunannya.


Selain itu, mereka juga harus memulainya dalam keadaan PC yang memang benar-benar mati, tidak ada kabel penghubung dan tanpa instalasi Windows didalamnya. Benar-benar menyusahkan. Wajarlah, banyak Kakak kelas terdahulu yang panas dingin dan bahkan menangis di ruangan ujian saking banyaknya soal-soal praktik yang diujikan. Tentu, banyak pula rumus-rumus dan langkah-langkah yang harus di hafalkan.


"Aduh lupa lagi." Ghina menepuk jidatnya pelan, menghapus beberapa karakter di layar menggunakan tombol detele.


"Udahlah Na, jam pelajaran juga udah selesai. Mending isrirahat dulu," saran Renata dengan kepala bertumpu ke meja.


"Kesempatan Ren, mumpung diizinkan lebih lama di Lab. Tuh, anak-anak lain juga masih makai," ucap Ghina dan menunjukkan dagunya ke arah teman sekelasnya yang lain.


"Hadeh, tapi otakku panas harus berhadapan dengan komputer terus. Bisa jadi, bukan PC yang hang, tapi nih," tunjuk Renata ke arah kepalanya sendiri yang ia rasa akan meledak.


"Sabar, bentar lagi ujian. Setelah itu, kita bebas sejenak. Nah, mending hafalin aja nih, biar diluar kepala." Ghina menimpuk wajah Renata dengan bukunya yang berisi banyak rumus Debian.


"Aish, percuma di hafal kalau nggak di praktekin," kesal Renata.


"Nah itu tau."


"Oi Nana Bobo!" Fatih mengetuk-ngetuk meja panjang tempat dimana ia dan Renata praktik.


Ghina menatap sebal ke arah Fatih. "Apa sih, aku lagi nggak mau di ganggu," ketus Ghina.


"Minjem bukumu bentar," pinta Fatih.


"Bukannya situ udah ahli ya?" tanya Ghina sinis.


"Ahli juga tetep butuh panduan. Aku ada yang lupa di beberapa bagian, tolonglah jangan pelit-pelit sama temen," ucap Fatih.


"Ambil tuh, tapi nggak boleh kamu bawa pulang." Ghina memberi peringatan.


"Oke thanks, 10 hari lagi."


Ghina terhenti dari aktifitasnya dengan tatapan mendelik ke arah Fatih. Renata yang matanya memejam, ikut mendongak.


"Apa yang sepuluh hari lagi Fath?" tanya Renata penasaran.


Fatih hanya menyeringai dan beranjak dari sana.


"Apaan Na?" tanya Renata yang tak mendapat jawaban.

__ADS_1


"Tau tuh, dia itu 'kan nggak jelas," balas Ghina sekenanya dan membuat Renata kembali menelungkupkan wajahnya. Tidak perlu penasaran terhadap suatu hal yang justru menambah beban pikirannya. Cukup ujian nasional saja. Pikirnya.


__ADS_2