
Riki berkali-kali mengusap cairan bening dari hidungnya. Setumpuk tisu menemani beberapa jam waktunya. Ia begitu terkejut begitu mendapati Fatih sudah tergeletak seorang diri di dalam kosan. Temannya itu pasti kelelahan, tapi tidak mau mengatakan.
Ia ikut bersedih dengan kejadian rumit yang menimpa kehidupannya Fatih. Jika ia di posisi itu, mungkin tidak sanggup. Apalagi, di saat sakit seperti ini, hubungan Fatih dengan keluarga sedang bersitegang, ditambah sang istri pun enggan menjumpai.
Beberapa detik lalu, Ghina yang ia hubungi mematikan sambungan teleponnya. Walau, dirinya sudah membujuk Ghina, namun nihil wanita itu tetap bersikeras untuk tidak menjumpai Fatih.
"Aku harus gimana lagi biar hubungan kalian membaik?" lirih Riki dalam sedihnya. Setelah sekian menit berlalu, ia justru di kejutkan dengan panggilan dari Ghina, bertanya tentang lokasi rumah sakit.
"Semoga kalian bisa berbaikan," ucap Riki, ia mengelap dahi Fatih yang berkeringat dengan tissue.
"Diantara banyaknya fansmu di sekolah, hanya aku yang bertahan sampai kuliah. Bukannya aku sesetia itu? terus, apa yang membuat kamu nggak bangun-bangun? harusnya kamu menyadari, kalau ada aku disini," ujar Riki, tangisnya kembali pecah. Bodo amat dikatakan cengeng, tapi ia memang segitu sayangnya kepada Fatih. Terlepas dari hubungan mutualisme yang kerap terjadi antara mereka. Dulu, demi merahasiakan pernikahan, Fatih harus rela memberinya kompensasi, sebagai jaminan agar mulutnya tidak ember. Namun, saat ini, justru itulah yang menjadi kenangan manis. Saat-saat mereka bersama, bermain gitar, menghadapi Lukman dkk dan masih banyak momen lain.
"Kamu itu orang baik, kenapa Ghina nggak mampu ngedeteksi itu?" gumam Riki.
Suara ketukan pintu, membuat Riki cepat-cepat menyeka air mata. Akan memalukan jika kondisinya yang begini terlihat orang-orang yang baru datang itu. Riki berlari ke kamar mandi, mencuci wajah dengan cepat. Lalu segera membuka pintu.
Nampaklah Ghina dan Melani di sana. Riki tersenyum lebar, akhirnya istrinya Fatih itu benar-benar datang. Dan anehnya bersama Melani? sejak kapan mereka bisa bersama? tapi ya sudahlah, Riki tidak peduli itu, yang penting kini hatinya lega, ternyata Ghina masih memiliki rasa iba.
"Wa'alaikumussalam, silakan masuk," balas Riki ketika Ghina mengucapkan salam.
"Gimana keadaan dia Rik?" tanya Ghina langsung. Ia berdiri di dekat ranjang dimana suaminya berbaring. Menatap nanar wajah Fatih yang memiliki banyak memar di sana sini.
"Dia belum pulih semenjak aku bawa ke rumah sakit. Dia dehidrasi parah, badannya lemes dan dingin banget Na. Aku pikir dia meninggal eh--" Riki menutup mulut, menggelengkan kepalanya.
"Tapi alhamdulillah nggak. Kalau tau bakal kayak gitu, nggak aku tinggal dia di kos sendirian. Akhir-akhir ini, dia emang makin kurus, entah kurang makan atau banyak pikiran," jelas Riki seperti emak-emak yang begitu memahami kondisi anaknya. Tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi mata Fatih.
"Kapan kalian saling ketemu?" tanya Riki yang penasaran sedari tadi.
"Melani berkunjung ke kosku," balas Ghina.
"Oh," balas Riki singkat. Ia sehenarnya masih kesal dengan keengganan Melani membantu Fatih dan Ghina bersatu.
"Tapi, kenapa kamu berubah fikiran Na?" tanya Riki merasa ada yang janggal.
"Melani yang ngasih tau aku, kalau foto-foto itu settingan. Cuma akal-akalan Sella, agar aku dan Fatih pisah," jelas Ghina, membuat mata Riki melebar. Dia berdecak, lalu menatap Melani.
"Tuh 'kan? dugaanku bener. Pasti, si Sella itu sengaja ngejebak Fatih. Dia itu udah cinta buta, makanya jadi goblok, menghalalkan segala cara." Riki menggelengkan kepala sambil mengatakan itu.
"Ini juga karena Melani yang ngasih tau aku. Kalau nggak, mungkin aku nggak bakal percaya," ucap Ghina, menatap Melani. "Makasih ya Mel."
"Aku yang makasih untuk kalian semua. Khususnya kamu Rik. Pas kamu nemuin aku waktu itu, bikin aku sadar, kalau yang aku lakuin salah. Walau ya, aku nggak bisa untuk nasehatin Sella, karena dia tetap keras kepala," jelas Melani dengan nada datarnya.
Riki tersenyum, "aku seneng tau, kalau kamu akhirnya sadar. Maaf kemarin mungkin kesannya aku maksa. Tapi, itu semata, karena aku kehabisan cara, agar Ghina dan Fatih bisa baikan," jujur Fatih.
"Dia makan berapa kali sehari?" tanya Ghina pada Riki.
"Aku nggak tau persisnya. Soalnya, aku juga nggak 24 jam sama dia. Tapi dari badannya yang jadi kurus, aku duga dia jarang makan. Pas aku ke kos pun, jarang ada nasi di ricecooker, entah dia nggak masak atau mungkin makan diluar. Tapi, mengingat keuangannya nggak stabil, mungkin kah dia makan diluar?" tanya Riki, entah kepada siapa. Hanya menatap wajah Fatih iba.
"Keuangan nggak stabil? maksudmu?" tanya Ghina.
"Kamu belum tau tentang usaha cafe Fatih yang gulung tikar?" tanya Riki serius. Ghina menggeleng.
"Ternyata kamu emang menutup telinga dan mata ya kepada Fatih, sampai-sampai kabar yang menggegerkan mahasiswa kampus itu nggak tau," ucap Riki, yang dibalas senggolan kecil dari Melani. Pria itu jelas menyindir Ghina. Namun, Ghina hanya menggeleng polos. Ia memang tidak tahu menahu dan tidak ingin tahu bagaimana Fatih menjalani hidupnya ketika pria itu dengan seenaknya menjatuhkan talak padanya.
"Ya Allah Na, kamu itu watados banget, bikin greget aja," keluh Riki, tatapannya memicing ke arah Ghina.
__ADS_1
Ghina tersenyum tipis. "Aku emang nggak tau apa-apa, kerjaannya banyak tidur," ucap Ghina.
"Orang yang jadi partner Fatih, penipu ternyata. Dua orang itu, siapa namanya..." Riki terlihat mengingat. "Si Bram namanya kalau nggak salah, dia itu sama pacarnya nipu Fatih," lanjut Riki.
"Si Bram membatalkan kerjasama dengan Fatih, karena merasa Fatih merebut kekasihnya, padahal ya itu cara dia biar bisa kabur aja, ck bener-bener ya, nggak paham aku jalan pikiran orang-orang jahat itu." Riki yang mendadak pegal terus berdiri, memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sengaja ia mengeluarkan duit dari Mamanya agar Fatih bisa di rawat di ruangan yang baik dan kondusif, bukan malah ruang bersama yang saling berdesakan dengan pasien lain.
"Jadi ya, cafe akhirnya tutup. Modal yang Fatih keluarkan di bawa kabur sama si Bram," ucap Riki geram dan kesal ketika mengingat cerita Fatih.
"Ya Allah," lirih Ghina, ia melirik ke arah wajah Fatih. Tidak nyangka jika usaha yang selama ini dibangun pria itu, harus kandas ditengah jalan. Padahal, ia tahu, membangun cafe hingga bercabang-cabang adalah salah satu impian Fatih.
"Makanya itu. Fatih cerita, Sandra kamu tau?" tanya Riki.
Ghina mengangguk. "Dia pernah ke kosan," balasnya.
"Dia malah sengaja nyium Fatih di depaj cafe, lalu mengabadikan momen itu dengan cctv, biar kesannya, Fatih dan dia ada hubungan spesial, rekaman cctv, Bram gunakan untuk menuduh Fatih merebut kekasih orang. Padahal, Sandra itu yang licik," jelas Riki. "Kamu ada liat rekaman itu juga?" tanya Riki.
Ghina menggeleng. "Aku cuma tau foto dia sama Sella," jelas Ghina.
"Oh, karena kamu sudah tau ceritanya. Jangan percaya kalau rekaman itu sampai ke hape kamu, itu bukan kesalahan Fatih. Tapi, Sandra yang gatel," jelas Riki, ia memijat keningnya sendiri.
"Memikirkan rumitnya rumah tangga kalian, membuat kepalaku serasa mau pecah," keluhnya.
"Dibawa mandi Rik, wajahmu yang kusut itu nggak enak dilihat," celetuk Melani, membuat Riki membuka mata.
"Enak aja, gini-gini, aku udah wangi loh. Mandi pakai sabun artis," jelas Riki tidak terima.
Melani dan Ghina tertawa mendengarnya. Riki yang dulu dengan sekarang, memang tidak ada bedanya. Ember, cerewet, manja dan mirip emak-emak.
Mendengar keributan, Fatih akhirnya sadar dari pingsannya. Matanya mengerjap pelan dan wajah yang pertama ia lihat, adalah istrinya.
Riki apalagi, dia langsung loncat dari Sofa dan menghampiri ranjang Fatih. "Fath, kamu bisa denger suara aku?" tanyanya. "Bisa liat wajah aku?" tanyanya sambil mengguncang bahu Fatih.
"Itu Ghina?" tanya Fatih serak, masih berusaha menyesuaikan mata dengan cahaya yang masuk ke retinanya.
Riki mengangguk cepat, "iya Ghina, istri kamu."
Reflek, Fatih langsung berusaha bangkit dari tidurnya. Ia membuka mata sempurna, walau kepala masih berdenyut. "Na, gimana bisa kamu kesini?" tanya Fatih tidak percaya.
"Berbaring aja, kamu masih lemah," ucap Riki. Fatih menggeleng, ia begitu merindukan wajah istrinya, ingin sekali menggapainya, tapi ia mengingat statusnya saat ini, yang bukan lagi suami Ghina. Ia telah menjatuhkan talak tempo hari bukan?
Ghina tersenyum tipis. "Gimana keadaan kamu Fath?" tanyanya.
"Aku udah baikkan. Ini kamu 'kan? Ghina?" tanya Fatih lagi, seolah tidak percaya dengan kehadiran perempuan di hadapannya.
"Sepertinya, kita biarkan mereka ngobrol dulu," sela Riki, ia melirik ke arah Melani. Perempuan itu juga mengangguk setuju.
"Kenapa kamu bisa jadi gini si Fath? kamu jarang makan? banyak pikiran?" tanya Ghina, walau ia ingin menyentuh tangan Fatih, namun ia tahan karena status mereka kini.
Fatih tersenyum. "Ternyata kamu bisa khawatir juga sama aku Na. Aku menantikan ini dari lama. Kamu gimana kabar?" tanya Fatih.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu liat," ucap Ghina. Mereka malah saling terdiam, namun mata masih saling menatap.
Fatih menggaruk lehernya yang tidak gatal, tiba-tiba suasana malah canggung. Bukannya mereka masih dalam kondisi tidak baik-baik saja?
"Em, maaf Fath, aku udah nuduh kamu," ucap Ghina lebih dulu. Fatih menggeleng.
__ADS_1
"Aku juga salah, nuduh kamu macam-macam sama Ilham, padahal, aku tau kamu wanita yang menjaga. Nggak mungkin berbuat aneh-aneh di belakang suami kamu. Maafkan aku Na," lirih Fatih, ia menundukkan kepalanya.
"Aku yang minta maaf, banyak kesalahanku ke kamu Fath. Selama ini, aku emang nggak bisa ngelayanin dan ngehormatin kamu sebagai suami," jelas Ghina. Fatih mendongak, menatap wajah cantik wanita dihadapannya. Wajah yang beberapa waktu lalu menatapnya penuh amarah, namun sekarang malah hanya ada raut rasa bersalah.
Fatih mengulurkan lengan, ingin menggenggam tangan Ghina, namun wanita itu mundur beberapa langkah. "Kamu lupa, status kita sekarang?" tanya Ghina.
Fatih menggeleng, ia menatap lekat-lekat Ghina. "Nggak. Aku ingat banget, saat itu aku terlalu marah, sampai jatuhin talak," lirih Fatih. "Tapi Na, masih kah ada kesempatan buat aku untuk memperbaiki semuanya?" tanya Fatih.
Ghina yang mendengarnya hanya bisa menatap netra Fatih dalam diam. Fatih mengajaknya kembali? itu artinya mereka rujuk begitu? dan tidak jadi bercerai.
Fatih menatap khawatir Ghina yang hanya diam, ia menduga-duga, tidak ada lagi kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki semuanya. Ruangan itu mendadak mengheningkan cipta.
"Na?" tanya Fatih. Berusaha melihat wajah Ghina yang tertunduk. Saat wanita itu mendongak, matanya sudah basah.
"Maafkan aku selama ini Fath. Aku jadi istri yang nggak baik, keras kepala dan menuntut segala macam dari kamu. Aku juga nggak bisa ngelayanin kamu sebagai mana mestinya, kenapa? kenapa kamu masih milih aku?" tanya Ghina dengan berurai air mata. Fatih menggeleng, ia hendak menarik Ghina ke dalam pelukannya, tapi takut tidak sah.
"Na, kamu denger aku. Sekarang, aku minta kita rujuk, mau kah kamu?" tanya Fatih dengan mimik serius. Ghina yang telah berurai air mata hanya diam sambil sesegukkan.
"Jawab Na," ucap Fatih. Ghina hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkata-kata. Tiba-tiba tubuhnya sudah oleng saja ke atas ranjang karena ditarik oleh Fatih.
Mereka berpelukan dengan Ghina yang menangis. "Maafkan aku, Fath. Aku barus sadar, selama ini egois, nggak percaya sama suamiku sendiri. Dan kamu, malah masih menginginkan aku disisimu," lirih Ghina.
Sedangkan Fatih, di merasakan hatinya begitu bahagia. Senyum lebarnya terbit, sebelumnya tidak pernah membayangkan momen ini akan terjadi. Saat dimana, ia bisa kembali bersama dengan wanita yang ia cintai, walau ia sendiri tidak tahu perasaan Ghina padanya.
Fatih mengelus kerudung wanita yang kini kembali menjadi istri sahnya. Mendekap hangat tubuh yang bergetar itu. Merasakan seolah derita yang ia alami juga sirna karena kesempatan yang diberikan Ghina padanya.
"Aku akan berusaha jadi suami yang baik buat kamu Na. Aku sangat berterimakasih, karena kamu sudah memberikan aku kesempatan kedua," jelas Fatih dalam pelukannya.
"Aku juga, terimakasih suamiku. Terimakasih sudah mau nerima istrimu yang apa adanya ini. Terimakasih mau nerima aku yang keras kepala ini," lirih Ghina, semakin mengeratkan pelukannya.
Lama mereka saling memeluk, hingga ketukan pintu, membuat mereka sadar. Ghina segera melepaskan pelukan, wajahnya sudah memerah. Sedangkan Fatih, terkekeh geli melihat rona di pipi istrinya. Apa Ghina saat ini tengah malu? batinnya.
"Ekhem!" Riki langsung berdehem ketika di persilakan masuk. Cengar cengir tidak jelas juga.
Melani tersenyum melihat wajah dua orang yang tampak sumringah itu. "Maaf ya, aku nggak bisa lama-lama jenguknya. Ada urusan lain," sesal Melani. Sedangkan Riki, mengangguk mambenarkan.
"Sama," katanya.
"Sejak kapan kamu jadi sibuk?" tanya Fatih kepada Riki.
"Tuh 'kan? kalau udah idup, pasti nongol nyebelinya," decak Riki, tapi ia segera berlari memeluk Fatih.
"Senengnya aku, akhirnya kamu sadar Fath. Kamu nggak tau, aku kangen banget sama suara emas kamu huh? aku bahkan bawain gitar kenangan kita, agar bisa nyanyi sama-sama, tapi sayang, belum sempat, aku ada urusan diluar," jelas Riki, ia mempererat pelukan hingga Fatih berusaha keras mendorongnya karena kehabisan nafas.
"Lepas Rik, jangan lebai gini," protes Fatih.
Riki melepas pelukan dengan nyengir. "Hehehe, kalau gitu, sehat-sehat ya. Sekarang, udah ada belahan jiwa di samping kamu--" belum selesai Riki bicara, Fatih seolah sudah ingin menabok mulutnya.
"Ya bener 'kan? jadi, aku nggak harus repot bolak balik kesini. Oke, Melani, ayo kita pergi dari sini," ajak Riki dengan riangnya. Ia berbalik, menuju ke pojok ruangan, tangannya sudah akan menggapai gitar, tapi ia urungkan.
"Em, gitarnya aku tinggal ya. Biar kamu bisa persembahin lagu buat belahan jiwa," godanya. Membuat Fatih seketika melotot, jika ia sedang baik-baik saja, sudah pasti mulut Riki ia sumpal dengan kaos kaki.
Halloo semuanya☺️
Makasih banget ya atas dukungan kalian buat cerita ini. Padahal cuma Like Komen dari kalian, itu buat aku makin semangat. Aku baca juga, ada yang nanyain terus kapan Up, nah hari ini aku up lagi, tadi malam juga udah. Pokoknya bakal aku rutinkan selama aku bisa ya🤭
__ADS_1
Kemarin-kemarin itu aku down aja, kayak nggak ada suara-suara dari para reader alhasil, aku endapkan naskah ini. Tapi, karena sekarang banyak reader yang berkicau, uuuh jadinya semangatlah ya. Btw, bantu otor promokan karya ini ya, share ke teman, tetangga, sahabat atau pak Rt eh? biar mereka juga ikut baca. Share pokoknya di sosial media kalian ya. Soalnya, aku itu mendadak sedih, pas mau promo di salah satu grup Noveltoon facebook, eh postinganku ditolak, entah ditolak admin atau ada yang ngelaporin gitu😭 jadi ya harapannya kalian bisa turut mempromokan cerita ini. Em, dahlah segitu aja curcolnya. Selamat membaca😘