Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Jalan-jalan


__ADS_3

Setelah Fatih menghentikan sepeda motornya tepat di halaman rumahnya, Ghina segera turun tanpa berkata-kata lagi.


Fatih mengekornya di belakang, membuat Ghina membalikkan badan dan hampir saja mereka bertabrakan jika Fatih tidak sigap mundur beberapa langkah.


"Kamu mau kemana? pulang sana!" ketus Ghina dengan menata Fatih dari atas ke bawah. Tangannya menyilang di depan dada.


"Mampir dulu lah, ketemu mertua," balas Fatih santai dan berjalan melewati Ghina.


"Heh, nggak usah. Lain kali aja," pinta Ghina dan mencoba menghalangi Fatih. Tangannya ia rentangkan.


"Kenapa sih, ketemu mertua aja nggak boleh. Itu namanya memutus silaturahmi," jelas Fatih.


"Bukan gitu, aku lagi nggak mau ada tamu hari ini," kilah Ghina.


"Na, ajak Fatih masuk ke rumah." Tanpa mereka berdua sadari ternyata, Ibunya Ghina sudah melihat Fatih ada di luar.


"Makasih Bu, ayok Na." Fatih melenggang dengan santai sambil bersiul dan mengekor Ibu mertuanya ke dalam rumah.


"Nak, buatkan suamimu teh atau kopi," titah sang Ibu yang kini sudah duduk di tempat mesin jahitnya. Sedangkan Fatih, mendudukkan dirinya di kursi.


"Kamu mau apa?" tanya Ghina malas.


"Aku mau kamu," ucap Fatih santai tapi pelan dan di hadiahi tatapan tajam oleh Ghina. "Em terserah kamu aja, semua yang istri bikin, aku pasti suka," ucap Fatih sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Apa kabar Ummi kamu dan Kyai Nak Fatih?" tanya Narsih sambil melakukan aktivitasnya. Walau ruang tamu terhalat dinding dari kayu, tapi Fatih masih bisa mendengar suara Ibu mertuanya.


"Alhamdulillah sehat Ummi. Fatih minta maaf ya, berkunjung tapi nggak bawa apa-apa," balas Fatih.


"Iya nggak papa Nak. Santai aja, anggap ini rumah kamu sendiri. Kapan pun kamu bisa berkunjung. Kalau Ghina ngelarang, abaikan aja."


Fatih terkekeh mendengar penuturan Ibu mertuanya. "Iya Bu siap."


Ghina kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi segelas air teh dan setoples Kong Guan.


"Makasih istri," lirih Fatih sambil menoleh ke arah tempat di mana mertuanya berada. Khawatir terdengar.


Ghina berdecak pelan. "Kalau udah di minum, cepet pulang," ucapnya.


"Aku mau nginep, biar tidur sama kamu," ucap Fatih santai sambil menyesap tehnya.


"Mau aku cubit kamu?" ancam Ghina yang kini duduk di depan Fatih.


"Mau dong, asal cubit manja haha. Canda Na, biar nggak tegang," papar Fatih.

__ADS_1


"Omonganmu emng nggak pernah serius," cibir Ghina yang membuat Fatih terkekeh.


"Emang kamu mau seserius apa hum?" tanya Fatih dan kini duduk tegak, menatap Ghina serius. "Mau ngomongin anak? masa depan kita? visi misi rumah tangga?"


Ghina menatap Fatih, mereka saling bertatapan sejenak. Walau salah satu yang di sebutkan Fatih adalah hal yang menjadi gangguan bagi Ghina akhir-akhir ini. Tapi, entah mengapa ia sedikit tidak nyaman membicarakannya. Ada rasa takut tersendiri di hatinya.


"Berani ya tatap aku kayak gitu," cetus Fatih lalu memalingkan wajah dari tatapan Ghina.


Sedangkan gadis itu tersadar dan berdehem. "Salah satunya mau aku omongin, kita harus bicarakan Fath," ucap Ghina yang diangguki Fatih.


Mereka membicarakan hal tadi sebenarnya dengan suara yang pelan, berharap semoga Ibu Ghina tidak mendengarkannya. Tak lama, Narsih juga ikut bergabung ke ruang tamu.


"Gimana bisnis fotocopyan mu Nak?" tanya Narsih pada menantunya.


"Alhamdulillah lancar Bu, mohon do'anya aja semoga bisa bikin cabang di dekat SMA," balas Fatih yang membuat mata Narsih berbinar.


"Beneran Nak? terus siapa yang ngelola di sana?" tanya Narsih.


"Salah satu orang kepercayaan Fatih Bu. Insyaa Allah," balas Fatih. Sedangkan Ghina hanya menyimak malas percakapan dua orang itu. Ia menyalakan televisi.


"Ya udah Bu, udah hampir Ashar. Saya mau pamit," ujar Fatih dan beranjak. Ia menyalimi Ibu mertuanya.


"Iya hati-hati di jalan ya. Na, anter suami kamu ke depan," titah Narsih yang diangguki malas oleh Ghina.


"Nanti cari waktu untuk bicarakan yang tadi, sementara fokus UN dulu aja," ucap Fatih dengan raut serius lalu berbalik.


Sedangkan Ghina, hanya menghela nafas. Melihat tatapan Fatih yang begitu tajam tadi, membuatnya menerka, apakah Fatih memang sudah merencanakan jauh-jauh hari tentang semua hal yang telah di sebutkannya tadi? lalu, apa yang akan di katakan Fatih nanti mengenai hal itu? apakah Ghina harus berusaha mewujudkannya? apakah Fatih akan memaksa dan memintanya?


Fatih menyalakan kendaraannya. Namun, saat ia gas tidak juga berjalan. Membuat Ghina menatap heran.


"Kenapa?" tanya Ghina yang melihat Fatih yang matanya melihat ke arah mesin.


"Nggak papa. Motor ini susah jalan, kalau nggak boncengin kamu, assalamualaikum," pamit Fatih dan segera melenggang dengan tawa di mulutnya. Sedangkan Ghina mencebik kesal, padahal baru saja laki-laki itu terliha serius. Tapi baru beberapa menit, sudah kembali ke sifat anehnya.


Setelah melewati bulan Maret yang penuh dengan Try Out yang melelahkan fisik maupun mental. Kini, murid kelas XII sudah memasuki bulan April, dimana akan di laksanakan Ujian Nasional.


Mereka semakin bekerja keras, sedikit tidur, kurangi main, dan banyak-banyak mengunduh soal-soal di Google untuk di jadikan bahan uji coba karena soal-soal yang ada di buku Prediksi UN sudah ludes mereka nikmati.


"Intinya, selamat berjuang. Jalan kalian masih panjang, setelah lulus dari sini, kalian bisa terus lanjut. Atau bisa langsung bekerja karena toh kalian udah punya keterampilan," jelas Miss Ingrid. Walau dia adalah guru Bahasa Inggris, tapi tidak selalu berbicara bahasa tersebut full di kelas.


"Ingat, untuk yang pengen terjun ke dunia kampus khususnya. Harus siap-siapin dari sekarang, karena dunia itu akan berbeda sekali dengan masa-masa kalian sekolah," ucap Miss Ingrid lagi. Semua siswa dan siswi mengangguk.


"Bu, lanjut cerita minggu lalu yang belum selesai," celetuk salah satu murid laki-laki. Minggu lalu seperti biasa, jika tidak banyak materi yang diajarkan di tambah murid yang cepat paham, membuat Miss Ingrid memiliki waktu luang yang banyak untuk bercerita apapun tapi mengandung makna.

__ADS_1


"Oh yang anaknya hamil, tapi masih ke sekolah?" tanya Miss Ingrid dengan senyumannya.


Semua murid mengangguk, karena Ibu guru di depan mereka masih berhutang menjelaskan.


"Iya dia masih sekolah. Parahnya itu, anak sini loh. Ibu 'kan biasa nemuin kasus di sekolah lain. Dapat cerita dari teman sesama guru. Terus, ya rata-rata mereka keluar sendiri atau emang ketauan pas lagi ngeboking hotelnya," jelas Miss Ingrid. Ia yang tadi berdiri, kini duduk di kursinya.


"Anak kelas XII TKJ 1 dulu. Tiga tahu di atas kalian. Anaknya cukup pendiam, tapi dia punya pacar. Nah, kalian tau sendiri 'kan Ibu gimana? Ibu itu welcome aja kalau ada murid Ibu yang pengen curhat, nggak usah takut. Malah Ibu senang dengerin curhatan kalian. Nah, dia diam-diam datang ke kantor, nemuin Ibu." Miss Ingrid menjeda sejenak.


"Habis itu, dia ya cerita panjang lebar mulai awal sampai akhir. Dan dia sambil nangis. Bingung, kalau berhenti sekolah nanti ketauan kalau dia hamil. Soalnya kehamilannya itu emang ia sembunyikan dengan pakai jaket setiap hari. Sebenarnya Ibu ada ngerasa curiga sih, kalau liat itu anak kok kemana-mana pakai jaket di sekolah. Jadi, ya syukurlah dia jujur. Walau akhirnya, mau nggak mau sekolah harus ngeluarin dia. Karena melanggar aturan 'kan?"


Semua murid mengangguk ada juga yang menggeleng miris.


"Intinya, jangan macam-macam. Masa depan kalian masih panjang, jangan berbuat hal yang aneh-aneh. Hati-hati yang pacaran, kebablasan bisa merugikan. Ibu bukan orang yang suka larang-larang, itu urusan kalian. Tapi, Ibu pengen aja kalian belajar dari pengalaman orang lain," jelas Miss Ingrid.


Semua siswa manggut-manggut.


"Nah, karena Bell udah bunyi, Ibu tutup pembelajaran hari ini, terimakasih semuanya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh," ucap Miss Ingrid dan semua siswa maupun siswi berhambur mencium tangannya.


"Besok jadi?" tanya Renata pada Ghina setelah kepergian Miss Ingrid.


"Jadi, kita mampir beli makanan dulu. Jangan beli di pantai, mahal-mahal," balas Ghina.


Renata tersenyum sumringah, "oke bisa di atur."


Sesuai dengan rencana mereka berdua. Sebelum melaksanakan UN sekitar seminggu lagi, mereka akan melakukan jalan-jalan aka refreshing terlebih dahulu. Agar tidak tegang saat menghadapi Ujian Nasional.


Mereka berdua kini sudah membelah jalanan Jorong hendak menuju Asam-asam. Pantai yang mereka tuju kali ini, adalah pantai yang cukup terkenal di sana, pantai Asmara.


Mereka sesekali mengobrol di jalan. Bawaan mereka hampir penuh karena jajanan. Sedangkan ransel yang mereka bawa berisi pakaian ganti jika mereka tiba-tiba ingin berenang di sana.


Hari Minggu memang selalu ramai. Kendarana yang lalu lalang sedikit lebih banyak dari hari-hari biasa. Renata terus melaju hingga mereka tiba di dekat sebuah gapura bertulikan Asmara Beach. Karena mereka dari arah kiri sedangkan jika ingin ke gapura harus menyeberang ke arah kanan, Renata mencoba menyeberang, namun usahanya keliru karena tidak memberi lampu riting terlebih dahulu. Alhasil, sebuah motor yang melaju dari arah belakang menabrak sepeda motor Renata dan akhirnya kecelakaan tidak bisa di elakkan.


Bruk


"Argh." Ghina merasa kepalanya seperti terbentur sesuatu. Badannya sangat ngilu dan akhirnya ia kehilangan sadar.


Nah lo, mau UN Ghina dan Renata kecelakaan?


apa yang akan terjadi?


btw siapa yng punya pengalaman serupa?


bisa bagi cerita di kolom komen😁

__ADS_1


kalau kalian suka ceritanya, share juga ya ceritanya sama teman-teman kalianšŸ¤—


__ADS_2