Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
12


__ADS_3

"Tes... tes..." suara mikrofon terdengar gemerisik.


"Astaga, aku baru ingat ini hari senin," ucap Renata seraya menepuk jidatnya pelan. "Kita nggak usah ikut upacara."


"Semua murid diharapkan segera ke lapangan!" suara Wakasek Kesiswaan terdengar berteriak membuat speaker berdengung keras.


"Kamu sehat Ren," ucap Ghina dengan tatapan datar. Renata meringis pelan.


"Aku lagi mau tiduran aja di UKS." Renata menaiki kasur UKS lalu merebahkan dirinya di sana, tepat di samping Ghina yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Terserahmu."


Mereka terlarut dengan obrolan sampai upacara di lapangan selesai. Setelahnya terdengar pengumuman.


"Semuanya jangan bubar dulu!" ucap Pak Sandy selaku Wakasek kesiswaan, ia tengah berdiri di mimbar yang di taruh tepat di tengah lapangan. Matanya mengitari wajah-wajah murid SMK Angkasa yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Ada pengumuman apa ya Pak Sandy?" tanya Renata yang menajamkan pendengarannya.


Ghina hanya menggeleng, ia juga turut terdiam menunggu Pak Sandy melanjutkan perkataannya.


Setelah Pak Sandy mengucap salam dan di jawab serentak oleh para murid. Dia melanjutkan ucapannya, "insyaa Allah, sekolah akan mengadakan kegiatan khataman yang akan dilaksanakan pada bulan Maret. Jadi, semua siswa, perkelasnya wajib mengkhatamkan tiga puluh juz al-qur'an."


"Untuk pembagian surat per suratnya, saya serahkan kepada masing-masing ketua kelas untuk membagi-bagi kepada anggota kelasnya. Jika ada yang halangan, temannya bisa membantu menyelesaikannya. Siap?" tanya Pak Sandy.


"Siap Pak!" koor murid-murid dilapangan.


"Ada yang mau ditanyakan?"


"Berarti DL ngajinya nya kapan Pak?" tanya salah seorang murid


"Iya karena acara khataman kita nanti dilaksanakan awal bulan Maret. Jadi, tanggal 28 Februari harus sudah khatam semua."


"Acara khataman," ucap Ghina. "Keren, baru tahun ini ada acara kayak gitu," lanjutnya.


"Ya karena Pak Sindy emang beda," ucap Renata. "Masih inget 'kan dulu kurikulum pesantren yang membuat satu sekolah geger?" tanya Renata. Mereka seolah bernostalgia dengan kejadian dua tahun lalu. Tepatnya saat mereka masih kelas sepuluh. Sekolah digegerkan dengan demo yang kompori oleh salah satu Kakak kelas jurusan TKR yang tidak suka jika sekolah menerapkan aturan seperti pesantren menurutnya.


Semenjak Pak Sandy menjabat sebagai Wakasek Kesiswaan, memang terlihat sekali beberapa perubahan di SMK. Tempat wudhu yang dulunya tidak terawat, kini menjadi lebih baik. Tidak seperti angkatan tahun-tahun lalu yang harus memperjuangkan pembatas wudhu saja. Karena sekolah memang tidak terlalu memperhatikan fasilitas Musholla.


Juga, Pak Sandy menerapkan kebijakan agar murid di SMK Angkasa tidak boleh ada yang pacaran, siswinya tidak boleh berdandan menor. Jika ketahuan, maka akan diberi sanksi. Bahkan ada juga kebijakan ngaji setiap pagi yang harus ada laporannya di buku dibuktikan dengan tanda tangan guru yang masuk pada jam pertama.


Dan ternyata, semua kebijakan itu membuat segelintir murid SMK Angkasa tidak terima. Mereka memberontak dan menganggap kebijakan Wakasek tidak cocok jika diberlakukan di sekolah umum seperti SMK, hanya cocok di pesantren saja.


Tak disangka, beberapa siswa mendiskusikan di grup chat Whatsapp untuk merencanakan demo dan mereka benar-benar melakukannya dengan mengunjungi kantor polisi terlebih dahulu. Mereka berencana bertolak dari sana -setelah membuat laporan ke pihak polisi- lalu menuju sekolah untuk menyerukan aspirasi mereka. Dan akhirnya terjadilah cekcok antara beberapa murid yang hadir sebagai perwakilan di kantor polisi dan juga Wakasek Kesiswaan yang merasa tidak menyangka murid SMK sekurang ngajar ini dengan melaporkan bahwa SMK telah melanggar Hak Asasi Manusia.


"Yah itu udah dua tahun yang lalu," ucap Ghina. "Awal mula kita hijrah," lanjutnya. Saat itu memeang Ghina dn Renata sudah sekelas, mereka masih belum hijrah. Saat keluar rumah, belum memakai kerudung seperti saat ini. Saat itu, ia dan Renata di ajak hijrah oleh salah satu Kakak kelas yang begitu baik dan ramah.


"Masih ingat banget, beberapa siswa dan siswi yang akhirnya dihukum di depan lapangan setengah hari karena mempermalukan sekolah dengan membawa-bawa masalah sekolah ke polisi," ucap Renata.


"Sejatinya kebijakan yang di buat Pak Sandy baik, untuk menertibkan murid. Terbukti, setelah ada aturan itu. Murid yang taat nggak berani pacaran terang-terangan. Atau mungkin yang pacaran langsung putus."


"Iya sih, aku waktu itu juga kagum banget sama Pak Sandy. Tapi juga kasian sih, kayak di rendahkan murid-murid." Renata seperti ikut sedih. "Aku pernah denger teman sekelas kita bilang, aturan itu ada untuk dilanggar. Keputusan Pak Sandy membuat aturan itu justru salah, jangan harap murid SMK mentaati. Saat itu, aku cuma bisa diam sih."


"Kelakukan murid saat ini 'kan emang akhlakless," decek Ghina. "Eh tapi, waktu kasusku kemarin aku nggak liat Pak Sandy ikut campur. Seharusnya dia yang pertama negur aku. Mungkin sibuk kali ya."

__ADS_1


"Kemarin katanya ada dinas kemana gitu. Mungkin udah dapat klarifikasi dari guru-guru Na," jelas Renata. Ia beranjak dari ranjang, lalu mengambil kresek putih yang berisi obat. "Hm, kamu utang terimakasih sama dia Na," katanya yang membuat Ghina menghela nafas.


Ghina dan Renata kembali ke kelas mereka setelah pengumuman usai. Di depan pintu kelas, Fitri the geng tengah berbincang-bincang dan tentunya menghalangi jalan.


"Dari mana kalian nggak ikut upacara tadi?" tanya Fitri memicing. Sella juga ikut menatap Ghina.


"Ghina pingsan tadi, aku temenin dia ke UKS," jawab Renata.


Sella terkekeh pelan. "Pingsan atau pura-pura pingsan?"


Ghina menoleh ke arah Sella yang sekarang mulai terang-terangan seperti memusuhinya. Entah kenapa Ghina belum mengerti.


"Pura-pura atau nggak itu urusanku," balas Ghina dingin. Ia menepuk tubuh Sella untuk bergeser, namun Sella justru menahan tubuh Ghina.


"Aku tahu kamu caper sama Fatih Na," ucap Sella. Alis Ghina bertatut, atas dasar apa gadis dihadapannya ini berbicara seperti itu.


"Aku? caper sama Fatih? sejak kapan?" Ghina terkekeh pelan. Berusaha menyembunyikan rasa geramnya. Untuk apa ia mencari perhatian Fatih? Konyol sekali.


"Aku ngeliat kamu lagi ngobrol sama Fatih, terus kamu pura-pura pingsan biar Fatih gendong kamu huh?" tanya Sella dengan matanya menatap rendah ke arah Ghina. Wajah Ghina seketika berubah pucat, walau ia berusaha menetralkannya.


Berarti Sella tadi pagi melihatnya mengobrol bersama Fatih? apakah Sella juga mendengar percakapan tadi pagi?


"Hah beneran Sel?" tanya Fitri dengan wajah dibuat-buat tidak percaya. Tangannya bertepuk ke udara. "Wah hebat! diam-diam menghanyutkan," katanya mencibir.


"Kalau kamu liat aku waktu itu, kenapa nggak kamu yang duluan tolong aku Sel?" tanya Ghina. "Aku ngerti sekarang," tambahnya. Ghina sekarang mengerti mengapa sikap Sella mulai terang-terangan memusuhinya. Siapa lagi kalau bukan Fatih. Sella menyukai Fatih.


"Astaga, kalau Ilham tahu kelakuan aslimu Na. Dia nggak mungkin bucin sama kamu," cibir Sella. Melani yang berdiri di sampingnya menepuk pundak Sella.


"Kamu sekarang udah terang-terangan Sel." Melani mengingatkan. Ia tahu, Sella menyukai Fatih sejak dulu. Namun hanya diam-diam, sekarang justru perempuan itu membeberkannya.


"Hahaha, kamu suka beneran sama Fatih Sel?" tanya Renata tidak percaya, ia melongok ke dalam kelas, di sana sudah ada Fatih dan Riki yang tengah mengobrol. "Perlukah aku kasih tahu?" tanya Renata.


"Diem kamu Tutul!" Sella berkata dengan menyentak.


"Aku nggak mau cari musuh ya Sel, kalau kamu suka sama Fatih ya silakan. Aku nggak ada urusan untuk itu," jelas Ghina dan berjalan menerobos diantara Sella dan Melani.


Renata menjulurkan lidahnya ke arah Fitri the geng.


"Sial! aku harus lakuin apa lagi biar dia menderita?" lirih Sella dengan kesal.


"Cari cara jitu biar langsung dikeluarin dari sekolah," timpal Fitri yang membuat Sella membinarkan matanya.


"Apa itu?"


"Guys, aku pikir sudah cukup sampai sini aja. Lagian, kalian liat 'kan tadi, Ghina nggak ada perasaan apa-apa sama Fatih. Kasian lah dia udah kena fitnah, namanya rusak, eh malah ditambah-tambah," sela Melani cepat. Ia tidak ingin lagi terlibat dengan ide konyol kedua temannya.


"Mel, kamu mau membelot dari kita?" tanya Sella sinis. Melani mendecih pelan. Gadis dengan ekspresi datar itu sebenarnya muak dengan sikap kedua temannya. Tapi, ia justru senang berteman dengan keduanya.


"Emang apaan membelot segala, aku cuma mengutarakan perasaanku," bela Melani.


"Sejak kapan kamu menggunakan perasaan?" tanya Fitri memicing. Ia memahami betul sifat Melani yang kelewat dingin yang menurutnya tidak berperasaan.


"Bego, aku juga manusia." Melani menghela nafas. "Setidaknya dia harus tahu siapa pelakunya."

__ADS_1


"Jangan songong! kamu mau aku di Do?" sentak Sella. Bagaimana pun, ia adalah salah satu dalang dari kasus yang tengah Ghina dan Fatih alami.


"Haha, ya nggak lah. Ghina nggak sejahat itu guys," ucap Melani terkekeh.


"Jangan terlalu jujur. Rahasia ini biar kita yang tahu," tukas Sella dingin dan masuk ke dalam kelas dengan wajah cemberut.


Mata pelajaran Matermatika tiba, jika boleh jujur Ghina tidak begitu menyukainya. Karena selalu saja, akan ada saatnya aku harus menunduk malu karena ketika disuruh maju mengerjakan dan Ghina tak mampu menjawab. Hari ini, Mister Arif mengatakan akan membahas satu-satu soal yang ditugaskan Minggu lalu.


“Ghina Izzzati, kerjakan no tiga!” Ghina menutup mata, menggeleng kuat. Jantungnya sedari tadi sudah tak karuan.


“Ren, gimana nih?” Ghina gusar sendiri.


“Maju aja, toh udah ngerjakan juga 'kan?" Renata menjawab santai, sembari membolak-balikkan buku tugasnya.


“Fatih Rafasya, kerjakan nomor empat!” mendengar nama Fatih disebut refleks Ghina menoleh ke arah laki-lami itu. Tepat saat itu, Fatih juga menoleh kepadanya. Ekspresinya santai. Riki menepuk-nepuk bahu Fatih, seperti memberi semangat.


“Hidup Fatih! Si jago matematika!” celotehnya sedikit keras, membuat Mister Arif membesarkan matanya ke arah Riki yang heboh sendiri.


“Setelah ini Riki, siap-siap maju!” wajah Riki terlihat pias. Semua murid di kelas hanya tertawa.


“Ciye ciye.” Olokan itu yang paling Ghina benci. Ingin rasanya melemparkan spidol ke wajah-wajah mereka. Tapi, itu terlalu anarkis. Zolim namanya.


"Cocok sih mereka kalau jadi pasangan," cicit salah seorang dari mereka. Ghina hanya diam menahan amarahnya. Walau isu kemarin sudah di klarifikasi, ternyata bulian itu masihlah berlaku.


Ghina berjalan ke arah samping papan tulis. Tangannya berniat ingin mengambil salah satu spidol dari sana. Saat ia sudah mengambilnya, tangan Fatih justru menariknya.


"Aku duluan!" ketus Ghina sembari menarik spidolnya. Tangan Fatih tetap di sana. Ia menyeringai.


"Hai Na! sudah baikkan?" tanya Fatih.


"Nggak lihat apa?!" ketus Ghina dengan menarik kuat spidol ditangannya dan berjalan menjauh dari Fatih. Tangannya mulai menuliskan beberapa rumus untuk soal nomor tiga yang harus ia kerjakan.


"Gimana jawaban Ghina menurut kalian?" tanya Mister Arif yang membuat tangan Ghina keringatan.


"Ada yang kurang Mister," celetuk salah seorang siswa laki-laki. Ghina mendesah, ia kembali melihat jawabannya di papan tulis. Apa yang kurang?


"Coba kamu cek lagi Ghina," titah Mister Arif yang membuat Ghina cemberut. Ia menatap ke arah Renata yang meringis. Mulutnya seperti berbicara.


"Aku juga salah hehe."


Fatih melambatkan laju nulisnya. Ia melirik ke arah Ghina yang kembali menghapus angka-angka di papan tulis.


"Kamu cuma kurang nulis log yang terakhir Na," bisik Fatih yang mampu Ghina dengar. Materi Log memang memusingkan menurut Ghina.


"Kamu udah nulis di atas tadi, tapi pas ke bawah malah nggak di tulis," ucap Fatih lagi sambil terus mengerjakan miliknya.


Tanpa Ghina dan Fatih sadari, dari bangkunya Sella nampak menahan nafas. Tangannya meremas-remas kertas dihadapannya. Ia sangat benci melihat Fatih bersikap seperti itu kepada Ghina.


Ghina melihat lagi ke LKS yang berada ditangannya, mencermati soalnya. Lalu ia berdecak, ia memang lupa menaruh Log terakhir sepertinya. Jadilah keliru jawabannya.


"Udah ketemu 'kan?" tanya Fatih saat Ghina sudah terdiam tidak menulis lagi. Namun Ghina hanya bergeming. Ia merasa Fatih seperti tengah mengejeknya saat ini. Terlihat senyum menyebalkan itu terbit di wajah laki-laki itu.


"Bagaimana jawaban Fatih?" tanya Mister Arif. Semua siswa manggut-manggut tanpa protes. Mister Arif bertepuk tangan disambut pula oleh murid-murid.

__ADS_1


Ghina berdecak pelan. Fatih menoleh, menatap lama ke arah Ghina dan tersenyum entah apa artinya.


"Kenapa sih dia?" batin Ghina


__ADS_2