
"Ghina," panggil seseorang. Tidak lain adalah Ilham. Diikuti Mira di belakangnya.
"Maaf ganggu kalian udah selesai kah bicaranya? Kakak pembimbing sudah memberi intruksi untuk berkumpul lagi," jelas Ilham.
Ghina menatap Fatih sekilas, lalu beralih kepada Ilham. "Udah selesai kok," ucapnya.
"Kita tunggu aja ya, untuk sesi penandatanganan suratnya Fath. Sampai itu tiba, banyak-banyak koreksi diri."
Setelah mengucapkan kalimat pedas itu kepada suaminya, Ghina melengos. Menyisakan Fatih yang menatap nanar punggung sang istri dengan dada yang sesak. Jika tidak malu untuk menangis, ingin sekali ia menumpahkan air matanya.
Namun, kembali lagi pada perenungannya, bahwa semua yang terjadi pula atas kesalahannya. Coba saja, ia tidak mengiyakan ajakan Sella, coba saja ia tidak suuzon dulu atas kehadiran Ilham di kosan, coba saja ia tidak memberi kesempatan pada Sandra untuk berbuat hal yang tidak-tidak.
Coba saja, ia mampu untuk membuat Ghina percaya. Tapi, ia lemah. Ia pecundang. Tidak tahu harus dengan cara apa membuat orang-orang percaya.
Selama tiga hari menjalankan masa orientasi mahasiswa yang begitu menyibukkan. Fatih akhirnya kembali harus mencari cara, untuk membuktikan kepada Ghina, bahwa ia tidak berbuat serong dengan wanita lain.
Fatih mengamati Green House berbahan plastik yang ia belikan untuk sang istri. Pot-pot yang sudah diisi tanah, juga beberapa bibit yang masih kecil-kecil itu menghadirkan kembali kenangan, saat ia dan Ghina rukun. Mengingat kembali, betapa bahagia wajah Ghina begitu mendapat pemberian darinya.
"Na, aku sayang sama kamu. Aku nggak mungkin mengkhianati kamu," lirih Fatih.
Telponnya berdering beberapa kali, sebuah nama tertera di sana. Nama partner kerjanya. Bram.
"Iya Bang, ada apa?" tanya Fatih. Ia sudah izin selama tiga hari untuk tidak mengelola cafe dulu, karena ia fokus untuk mengikuti masa orientasi mahasiswa. Juga untuk menata hatinya yang remuk.
"Kamu udah liat video yang aku kirimkan?" tanya Bram dengan nada dingin. Fatih mengernyit heran, ia hendak melihat video apa gerangan yant dikirimkan rekan bisnisnya itu.
"Nanti aja kamu periksanya. Yang jelas, aku memutuskan kontrak kerja sama kamu. Semua dana yang kamu investasikan nggak bisa kamu tarik lagi. Karena kamu yang udah melanggar perjanjian kita."
"Maksud Abang gimana?" tanya Fatih.
"Sudahlah, kita selesaikan semuanya Fath. Kamu jelas-jelas berkhianat dengan rekan kerjamu sendiri."
"Maksud abang apa?" tanya Fatih lagi. Siapa yang berkhianat? dirinya? kapan? selama ini ia berusaha untuk ikut serta untuk mengelola cafe, walau ia sendiri paling banyak mengeluarkan dana investasi.
"Kamu pikir aku bodoh. Kamu dan Sandra sudah main-main di belakangku. Kalian membina hubungan diam-diam, padahal kamu tahu Sandra adalah pacarku Fath. Untung saja, aku melihar cctv cafe, dan melihat kelakuan busuk kalian," jelas Bram dengan nada emosi
"Bang bentar dulu aku harus jelasin--"
"Nggak perlu. Perjanjian kita udah selesai. Jangan pernah hubungin aku lagi. Semua berkas perjanjian, sudah lengkap, atas persetujuan kedua pihak. Akan aku kirimkan via dokumen nanti."
"Bang, kamu nggak bisa seperti itu. Kita harus selesaikan semuanya."
__ADS_1
Telpon di putus begitu saja. Fatih menyugar rambut kasar. Setelah masalah rumah tangganya yang kacau, kini bisnisnya pula yang bangkrut.
"Ya Allah," lirihnya. Ia segera menghubungi Sandra, untuk menanyakan perihal cafe. Ternyata, wanita itu tidak bisa dihubungi sama sekali.
Fatih segera bergegas menuju cafe, di sana terlihat beberapa pria berpakaian seragam yang mengangkat properti cafe ke atas truk.
"Maaf Bang, kenapa properti cafe diangkut?" tanya Fatih.
"Kamu nggak liat, itu." Seorang pria menunjuk ke arah pintu cafe, yang disana tertera sebuah tulisan besar. Bahwa tempat itu telah dijual.
"Bram sudah menjual tempatnya, gimana bisa?" lirih Fatih.
Ia segera mengotak-atik ponsel, ia memencet nomor Bram, namun tidak bisa lagi dihubungi.
"Apa mereka sengaja menipuku?" lirih Fatih. Ia berjongkok, sambil mengusap dada. Mengapa rasanya semua orang berbuat jahat padanya? dan mengapa, disaat hatinya hancur, justru ia malah ditipu oleh rekan kerja yang selama ini ia percayai?
Fatih kembali ke kosnya dalam keadaan lunglai. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Bram, namun tidak bisa. Ia bahkan sudah mengirim dirrect massage lewat instagram pria itu, juga sama sekali tidak dibalas.
Ia memang mengenal Bram dari instagram, yang katanya bisnisman newbie yang terpercaya dan tinggal di daerah kampus yang akan ia masuki. Bram sendiri mengaku sebagai alumnus kampus itu dan kini bersama kekasihnya tengah berusaha untuk merintis bisnis, buat modal nikah.
Ternyata, selama ini ia tidak begitu mengenal Bram. Pria yang selama ini ia percayai. Yang ternyata bisa juga menipunya. Bersama siapa lagi, jika bukan Sandra. Sementara ini, Fatih hanya bisa menyimpulkan bahwa kedua pasang kekasih itu, hanya ingin mengambil keuntungan darinya, lalu kabur entah kemana.
Sesampainya di depan kos. Ia hanya menghela nafas, begitu melihat ada sebuah mobil yang terparkir dihalaman. Ia begitu kenal pemilik kendaraan ini. Siapa lagi, jika bukan Abinya.
"Aku sedang marah, yang ingin aku dengar adalah penjelasan darimu, anakku," ucap Pak Kyai dengan nada tegas.
"Silakan masuk dulu Abi," ajak Fatih, setelah ia membuka pintu kosnya.
"Ummi nggak ikut?" tanya Fatih, hanya sekedar berbasa-basi.
"Dia sudah banyak menangis gara-gara kelakuanmu. Kenapa kamu melakukan dosa yang sangat di benci Allah? kamu berani menyakiti istrimu, dan berzina dengan wanita lain, kenapa?" tanya Pak Kyai begitu mendudukkan diri di sofa.
Fatih duduk bersila di bawah lantai, menghormati pria bersorban di depannya sebagai Ayah dan juga pimpinan pesantren.
"Apa kata orang? rumah tangga seorang Gus, anak kyai, hanya berlangsung seumur jagung? apalagi, alasan hancurnya karena perzinaan, mau ditaruh dimana muka keluarga kita?" Pak Kyai bertanya dengan emosi, walau sang anak hanya diam menyimak dengan wajah yang tertunduk.
"Bicara Fatih! kamu pria, kamu harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu! mana wanita yang kamu zinahi itu? bawa kesini! kalian harus dinikahkan!"
"Abi, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku bukan pezina!" teriak Fatih dengan tegas. Matanya memerah, ia sedari tadi berusaha sabar. Bahkan tubuhnya kini sampai berdiri. Ia muak kepada siapapun yang menuduhnya melakukan perbuatan yang melanggar syariat. Ia paham, ia mengerti, ia sudah belajar, dan ia bisa menahan diri untuk tidak melanggar apa yang Allah larang hingga sampai saat ini.
"Kenapa kamu marah? itu sebab perbuatanmu." Pak Kyai berkata dengan datar. Manatap anaknya dengan tajam.
__ADS_1
"Aku tidak berzina, aku hanya mencintai istriku, dan aku tidak akan pernah mengkhianatinya! Abi nggak tau, Abi sama seperti orang lain, yang hanya bisa menunduhku tanpa tabayyun!"
Pak Kyai maju ke depan, ia melayangkan tamparan pada Fatih.
"Sejak kapan kamu berani berteriak pada Abimu? sejak kapan, kamu mencari berbagai alasan untuk perbuatan burukmu?" tanyanya dingin.
Tersebab tamparan di pipi yang begitu keras, Fatih sampai oleng dibuatnya. Ia terjatuh kesamping, lalu bangkit lagi.
"Kamu tau, semua omonganmu akan di pertanggungjawabkan di akhirat. Jangan mengatakan kamu akan melakukan ini itu, kalau nyatanya itu tidak kamu lakukan."
"Aku nggak salah, aku tidak berzina Abi."
Plak!
Satu tamparan kembali melayang, kini di pipi kanannya. Sudut bibir Fatih langsung mengeluarkan darah, karena tamparan kedua lebih sakit dari sebelumnya.
"Akui, akui itu. Bertobatlah, minta maaflah kepada istrimu. Jika dia meminta cerai, ceraikan dia. Jangan sakiti dia lebih lama lagi, agar kamu tidak zolim berkepanjangan."
Fatih hanya diam, matanya menunduk ke bawah. "Bawa wanita yang kamu zinai ke pesantren, aku akan menikahkan kalian disana."
Fatih menatap kepergian Abinya dengan sedih. Air matanya tiba-tiba saja mengalir. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar orang-orang percaya bahwa dia tidak berzina dengan siapapun. Ia berusaha untuk selalu menjaga kesuciannya, senakal apapun, sedekat apapun dengan para wanita.
Ditempat lain, seorang wanita terlihat gusar di tempatnya. Ia mendapat kabar dari Sella, dan perempuan itu juga mendapat kabar dari sepupunya yang bernama Ilham, bahwa Fatih dan Ghina akan bercerai.
"Sel, ini nggak bener. Kamu harus klarifikasi sama Ghina. Fatih sama kamu nggak ngapa-ngapain," jelas Melani dari balik telpon.
Terdengar tawa dari seberang. "Nggak, biar dia yang nyari tau. Kalau dia percaya sama Fatih, yang nggak mungkin mereka bertengkar, itu karena Ghina sendiri nggak percaya sama suaminya, ya 'kan?"
"Tapi itu gara-gara kamu Sella. Ghina itu temen kita loh. Kamu yang udah bikin dia nikah sama Fatih 'kan? gara-gara foto mereka yang kayak berciuman kamu sebarin. Terus, apa sikap dia ke kamu? dia tetap maafin kamu. Terus sekarang, kamu malah mau merusak rumah rangganya."
"Ck, nyesel aku ngasih tau kamu, kalau mereka mau cerai. Udahlah, aku nggak mau ribet. Cuma mau nunggu, apa mereka jadi cerai apa nggak? kalau cerai kan ada kemungkinan bagi aku untuk maju jadi istrinya Fatih, hahaha."
"Tega kamu Sell, aku nggak nyangka. Cinta bisa buat kamu sejahat itu sama temen."
"Kamu berpihak kemana huh? aku atau Ghina? kalau kamu berpihak sama Ghina, kita nggak usah temenan lagi."
Melani menghela nafas panjang, ia terpa dilema. Bagaimana pun Sella temannya, dan ia sampai ikut andil dalam merusak hubungan rumah tangga orang lain. Namun di sisi lain, ia juga memiliki hati, merasa jahat, karena yang ia rusak kehidupannya adalah mantan teman sekelasnya sendiri, Ghina Izzati. Salah apa perempuan itu padanya? mengapa ia justru mendukung kejahatan Sella?
Yuhuu, YMM back!
Makasih buat kalian yg ternyata masih nungguin ni cerita, walau aku gantung berbulan2 😂
__ADS_1
Makasih juga, like komennya, bikin makin semangat lanjut, sampai selesai pokoknya. Oh ya, karya ini diikut lombakan, jdi bantu otor dngn komen banyak2, spam komen, komen curhat, trsrah aja, yg pnting komen gtu, biar apa? biar masuk ke populer gtu, krn bnyk yg komen like🤧😁