Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Pesan Istimewa dari Ghina (Ending)


__ADS_3

Noted: Mengandung unsur 18+


Fatih mendesah pelan, menghentikan perbuatannya. "Maaf, aku kelewatan," lirih Fatih yang kini sudah beranjak, lalu menatap langit-langit kamarnya.


"Mas," panggil Ghina lirih. Fatih tidak menoleh, hanya menatap datar langit-langit. Ia tidak ingin ketika menatap istrinya, kelakiannya teruji.


"Iya Na," sahut Fatih tanpa menoleh.


"Kenapa berhenti? lanjutkan apa yang menjadi hajatmu," ujar Ghina walau lirih. Fatih menoleh, menatap tidak yakin ke arah istrinya.


"Kamu belum mencintaiku, aku nggak ingin kamu terpaksa melakukan ini, aku masih bisa sabar kok," jawab Fatih lembut. Tidak ingin memaksakan keinginannya pada wanita yang belum menginginkannya itu, walau ia sudah sangat menginginkan wanita itu menjadi miliknya seutuhnya.


"Aku siap lahir batin," ucap Ghina akhirnya. Ia memberanikan diri, menyentuh lengan Fatih, mengelusnya lembut. "Kamu masih nggak ngeh kalau aku sudah ketauan cinta sama kamu? kamu sendiri yang bilang kalau cemburu tanda cinta," ujar Ghina, membuat Fatih menoleh.


Menatap dalam-dalam netra istrinya, sembari mencari kejujuran di sana. "Jadi kamu?" tanya Fatih.


"Aku yakin, udah cinta sama kamu," ucap Ghina dengan wajah yang memanas, ia malu begitu mengatakannya. Pengakuan cinta pertama kalinya pada seorang pria yang kini bergelar suaminya.


"Aku ingin dengar sekali lagi," pinta Fatih yang sudah menghadap ke arah istrinya. Ghina menghela nafas dalam-dalam, memejamkan matanya.


"Aku cinta sama kamu Mas Fatih," lirihnya.


"Bismilllah, kalau begitu, aku akan baca do'a," lirih Fatih dengan wajah sayu.


Mereka kembali bertatapan, kini Fatih tersenyum begitu bahagia. Memindai wajah jelita itu untuk ia kenang beberapa hari ke depan karena ia akan pergi melakukan tugas pengabdian pada Tuhan sebagai khalifah yang menyebarkan ajaran Islam kepada umat manusia.


Malam itu menjadi yang pertama bagi mereka, malam yang berbeda dan penuh sensasi aneh dan mendebarkan. Hati mereka dipenuhi rasa bahagia dan syukur yang hanya bisa terekspresikan dengan senyum setelah mereka mencapai apa yang seharusnya.


Skip!


Subuh menjelang, Ghina justru terkaget karena tidak mendapati suaminya di sisinya. Kalang kabut sendiri, karena kacaunya dirinya sekarang, ia baru ingat apa yang terjadi semalam.


"Ya Allah, malunya," lirih Ghina. Ia membuka selimut, melihat kondisi tubuhnya sendiri. "Apa yang aku lakukan tadi malam sama Fatih? ya Allah, seperti mimpi. Aku nggak nyangka bisa begitu sama dia."


Ghina menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya memerah dan tangannya menepuk-nepuk pipinya. "Ya Allah, ini pertama kalinya aku akan mandi junub karena itu. Malunya aku."


Krieek!

__ADS_1


Pintu terbuka, menampilkan wajah suaminya yang sudah basah, rambut pria itu juga demikian. Sekilas tatapan mereka beradu, Ghina segera membuang muka. Ia meras malu, bingung hendak menyapa suaminya seperti apa.


"Mau mandi?" tanya Fatih tanpa kegugupan, pria itu terlihat santai, seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa. Ghina menjadi tidak habis pikir, suaminya seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Seharusnya minimal pria itu malu-malu? seperti dirinya sekarang ini.


"Hei, kenapa melamun?" Fatih mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah istrinya yang malah cengo.


"Iya iya, mau mandi. Kamu habis dari mana?" tanya Ghina heran.


"Aku mandi di kamar mandi luar, biar kamu yang di dalem. Sebentar lagi subuh, mandi gih segera, kita salat berjamaah berdua."


"Kamu nggak ke musholla?" tanya Ghina, ia semakin mengeratkan selimutnya, malu karena Fatih terus menatap ke arahnya.


"Nggak, subuhan sama kamu aja," tolak Fatih dengan senyuman membuat Ghina seketika bergidik, ia seperti melihat senyum aneh dibalik wajah tampan suaminya.


Usai salat subuh, Ghina dan Fatih melakukan tadarus masing-masing dengan penuh kekhusyukan tanpa ada yang mengganggu. Usai tadarus, Ghina membersihkan sprei yang ternyata sudah ada noda di atasnya. "Ya allah, gimana ini?" tanyanya kaget.


"Kenapa Na?" tanya Fatih bingung, pria itu beranjak dari duduknya, mendekati sang istri yang sedang menarik sprei.


"Mas, ada darah, gimana? aduh malu aku kalau ketauan nyuci setelah ini. Em... aku bawa ke kosan aja ya spreimu, nanti aku cuciin."


"Nggak papa, kamu nyuci disini aja," ucap Fatih heran.


Ada yang mengatakan akan ada darah ada juga yang mengatakan bisa tidak berdarah, tapi bukan tentang keperawanan karena bisa jadi masih perawan tapi di malam pertama digauli suaminya tidak berdarah sama sekali. Penyebabnya bisa banyak, biasanya terjadi pada perempuan yang pernah kecelakaan dan lainnya.


"Habis apa... hayo," goda Fatih yang membuat Ghina kesal.


"Ih Mas! aku malu, jangan kayak gitu," ketus Ghina. Fatih terkekeh.


"Maklum lah, kakaku lebih parah, dia histeris pas ada darah di spreinya. Hihi."


"Hah? masa?"


"Iya, kata Ummi, hihi."


"Mas, itu 'kan aib, kamu malah membeberkannya, nanti kak Nafisah malu."


"Ya maaf, terlanjur bicara, setelah itu, aku langsung cari tau penyebab ada darah setelah suami dan istri tidur berdua. Eh ternyata begituan."

__ADS_1


"Mas! udah nggak usah dibahas." Ghina melempar bantal ke wajah suaminya.


"Aduh, jadi pengen ngulang lagi yang semalam," ucap Fatih terkekeh saat ia berhasil menangkap bantal. "Mumpung matahari belum terbit, yuk ulangi," ajaknya membuat Ghina melotot.


"Jaga istrimu baik-baik, awas aja kamu menyakiti dia. Kalian itu harus belajar rukun, walau awalnya kalian saling nggak suka, Ummi yakin, insyaa Allah, Muhabbah itu milik Allah, dan Allah yang akan menurunkannya pada kalian berdua," jelas Ummi Zainab memberi nasihat pada anak dan menantunya.


"Tuh denger," celetuk Nafisah yang berdiri di samping umminya. "Cinta datang karena terbiasa, nanti juga kalau kamu sama Ghina udah biasa satu rumah, satu ranjang, goal deh eh?"


Maheer melotot mendengar perkataan istrinya yang kadang aneh dan tidak terkontrol itu, kepalanya menggeleng-geleng. Sedangkan Fatih, terkekeh geli sambil melirik Ghina yang langsung menundukkan wajahnya.


"Iya, semoga Ummi, doakan kami. Abi, doakan kami," ujar Fatih, kini menyalami dan memeluk Abinya.


Kyai Zhafran membisikkan sesuatu di telinga anak laki-lakinya, nasihat dan juga doa untuk sepasang suami istri. Fatih mengangguk, lalu mengucap amin.


Sesampainya ke kosan, Ghina menaruh barang-barang yang ia bawa ke kampung, termasuk sprei milik Fatih yang justru ia bawa ke Banjarmasin, untuk menghindari malu karena ketahuan mencuci sprei bertabur darah malam pertama.


"Kamu nggak papa kok kalau capek bisa istirahat, nggak usah nganter aku," ucap Fatih sambil mengelus kepala istrinya. Ghina menggeleng, ia tetap ingin menemani suaminya di saat-saat terakhir mereka bertemu.


"Nggak, aku mau ikut pokoknya."


"Ya sudah, ayo berangkat, Mobil Mas Maheer nya udah datang tuh," kata Fatih seraya melongok ke luar pintu kosan, di sana sudah ada mobil yang menunggu.


"Hati-hati di jalan Mas, aku akan selalu mendoakan, semoga dakwahmu lancar disana," ucap Ghina saat akan melepas kepergian suaminya. Fatih tersenyum, mengusap kerudung istrinya.


"Iya kamu juga, jaga kesehatan ya, jangan rutin makan mie, kalau bisa jangan makan mie selama aku nggak ada ya?"


Ghina mendengus, namun kemudian ia tetap mengangguk, lalu menciumi tangan suaminya bolak-balik. Mereka mengakhiri keromantisan mereka dengan panggilan Maheer yang menyuruh Fatih bergegas. Suami istri itu saling melambai.


"Baru aja romantis-romantisan, udah ditinggal aja," gumam Ghina dengan tidak bersemangat. Malam kebersamaan dengan suaminya masih ia ingat dan begitu membekas.


"Ya allah, lancarkan perjalanan suamiku, mudahkan urusannya di sana, aamiin." Ghina berdoa, lalu mengusap wajahnya sendiri. Merasakan hampa ketika suami tidak ada disisinya.


Mungkin kita akan tutup cerita ini dengan kepergian Fatih dalam rangka perjalanan dakwah. Sedangkan Ghina, menjadi wanita yang merindukan suaminya yang tengah menunaikan tugas Ilahi sembari berdo'a agar suaminya bisa kembali dah mereka akan benar-benar memulai hidup sebagai pasangan suami istri yang seutuhnya. Ternyata, yang muda bisa menikah juga, seperti dirinya. Dulu, Ghina bingung akan di bawa kemana pernikahannya dengan Fatih, namun setelah hari ini, ia telah memiliki rencana yang akan ia wujudukan tentu bersama suaminya.


Namun, satu pesan istimewa dari Ghina untuk yang muda menikah. Mereka yang masih berusia sangat dini untuk menikah namun harus menikah karena berbagai alasan, maka Ghina berpesan, "pernikahan memang indah walau tidak mudah. Namun, bagi yang sudah terlanjur menikah, belajarlah untuk sabar dan endapkan ego diri. Saling menerima dan saling membantu adalah kunci apalagi untuk pernikahan muda yang rentan dengan godaan berupa keegoisan masing-masing pribadi. Yang belum menikah muda pun, sebaiknya tidak tergesa, siapkan mental, fisik dan ilmu, agar ketika seprei harus berdarah di malam pertama, tidak histeris karena melihatnya. Agar ketika suami begitu tidak sesuai harapan, maka kita bisa menyikapinya dengan ilmu. Agar ketika ada cobaan, mental dan fisik kita kuat menghadapinya. Sekian."


TAMAT

__ADS_1


hai-hai, gimana? tamat ya?😂 nggak kerasa ya udah tamat aja. Komen-komen dong.


__ADS_2