Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Malam Pertama


__ADS_3

Makan malam keluarga besar Kyai berlangsung dengan penuh warna. Semua anak, menantu dan cucu-cucu dari ketua pondok pesantren itu menghadiri acara resepsi Ghina dan Fatih.


Obrolan demi obrolan berlanjut, hingga ada pula godaan-godaan yang ditimpakan pada kedua pengantin baru yang malam ini akan tidur bersama itu.


"Udah Fisah, kasian Ghina, wajahnya udah merah tuh." Peringatan dari Ummi Zainab pada Nafisah yang terus menggoda menantunya.


Narsih hanya menatap gemas anaknya yang bersikap begitu kalem saat ini. Imran juga merasakan hal yang sama, tentu sang adik pasti masih merasa canggung dengan keluarga Pak Kyai.


"Pokoknya lima anak ya? aku yakin Fatih bisa lebih kuat dari itu," mohon Nafisah dengan cekikikan sambil menunjukkan lima jarinya.


"Terserahmu lah Mbak," kesal Fatih yang sedari tadi hatinya dongkol bin geram karena Nafisah terus-terusan melontarkan perkataan ejekan padanya.


Isya berkumandang, semua laki-laki yang berada di sana undur diri untuk melaksanakan salat berjamaah di Mushalla pesantren.


Ghina membantu Ibu mertuanya untuk mencuci piring, setelahnya ia dan Ibunya mengobrol di kamar Nafisah.


"Belajar kerasan sayang, ini 'kan rumah suamimu."


"Iya Bu, aku akan berusaha. Keluarga Kyai sangat ramah juga."


Narsih mengelus pucuk kepala putrinya. "Ternyata, anak Ibu udah dewasa sekarang. Bisa memilih kehidupannya sendiri dan mengambil keputusan yang tepat. Bahagiakan suami kamu, saling terbuka dan memahami. Masalah itu pasti ada, tapi semua itu hanya untuk menguji, seberapa kuat kalian mempertahankan janji suci itu."


"Bu, ada kisah seseorang. Dia nggak suka sama orang lain, karena orang lain itu yang menyebabkan masalah bagi hidupnya. Apa yang harus di lakukan oleh seseorang itu Bu?"


"Allah mengirimkan seseorang dalam hidup kita, kemungkinan dua. Yang pertama, mungkin ada sesuatu dari kita yang dipelajarinya. Kedua, mungkin dia ada, agar kita belajar sesuatu dari dia. Hidup itu, tentang belajar Nak. Belajar itu nggak instan, butuh proses, makanya ada istilahnya belajar sepanjang hayat."


Ghina manggut-manggut sambil menggenggam tangan sang Ibu.


"Lihatlah kelebihannya, jangan fokus sama kekurangannya. Insyaa Allah, kita bisa lebih menerima apa adanya."


"Terimakasih Bu, karena sudah lahirin aku. Dari Ibu, aku banyak belajar."


"Bahagia atau tidaknya kita, tergantung ini," tunjuk Narsih pada hati anaknya. "Kamu tau apa yang membuat Ibu bertahan sampai saat ini?"


"Karena aku dan Kak Imran?"


Narsih menggeleng pelan. "Karena, di dalam masih hidup. Hati yang tenang, bisa didapat dengan menerima semua takdir yang Allah gariskan. Apapun itu."


Ghina menggangguk, ia memeluk Ibunya erat. "Aku sayang Ibu."


Terdengar lantunan surah al-lail yang mengalun merdu. Ghina dan Ibunya menyimak dalam diam.


"Bagus ya suara imamnya?" komentar Narsih.


"Iya Bu." Ghina membenarkan, karena memang suara yang terdengar cukup keras ke kamar Nafisah itu benar-benar menenangkan.


"Itu suara Fatih Bu," sahut seseorang yang baru masuk. Nafisah, ia membuka lemarinya, lalu mengambil mukena di sana.


"Masyaa Allah, merdu banget. Ibu suka. Kayak suara Muzammil hasballah."


"Iya, santrinya sering bilang, suara Fatih mirip Muzzammil Bu," ucap Nafisah.


Ghina hanya terdiam mendengar percakapan Ibu dan Nafisah. Ia terkejut begitu tahu jika suara Fatih lebih merdu ketika mengaji daripada menyanyi. Ya, walau saat menyanyi pun, ia akui suara Fatih memang bagus.


"Mungkin, itu bagian dari kelebihan dia," batin Ghina.


"Ayo, Kakak antar ke kamar Fatih," ajak Nafisah saat Ghina sudah usai melaksanakan salat Isya.


Ibunya dan juga Imran berpamitan beberapa menit yang lalu dan kini tinggallah dirinya yang harus menghadapi Fatih sendirian di kamar laki-laki itu.


Nafisah mengetuk pintu kamar sang adik. Saat ia melongok ke dalam, tidak ada siapapun di sana.


"Fatih masih diluar kayaknya," ucap Nafisah.


"Temani aku Mbak," pinta Ghina dengan tatapan memohon.


"Iya, Mbak temenin."


Baru beberapa menit mereka di dalam kamar, Fatih sudah mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya. Laki-laki itu mengenakan gamis putih yang dikenakannya saat sesi foto pertama tadi pagi.


Sama dengan Ghina saat ini, yang masih memakai gamis putih, dipadukan khimar berwarna senada. Bahkan, mahkota kecil masih terpajang di atasnya, atas paksaan dari Nafisah.


"Nah, suamimu udah datang. Mbak, pamit ya sayang," ucap Nafisah pada Ghina yang berdiri kaku di sana.


"Iya Mbak," balas Ghina sambil melirik Fatih yang berjalan santai ke arah jendela yang terbuka, lalu menutupnya.


"Fath, jangan galak-galak sama istrimu, awas aja kamu kalau sampai besok Ghina nangis-nangis karena kelakuan kamu," ancam Nafisah sebelum pergi.


"Iya iya, sana pergi!" usir Fatih, ia masih kesal dengan kelakuan Kakaknya saat makan malam tadi.


"Santai aja Na, kalau kamu pengen mandi, mandi. Kalau pengen apapun terserah," ucap Fatih sambil melepas kopiahnya. Ia juga melepas gamisnya hingga menyisakan celana pendek di bawah lutut berwarna putih dan kaos oblong warna sama.


Ghina seperti menjadi perempuan yang bego dan tidak tahu harus melakukan apa. Kamar ini, masih asing baginya. Dan Fatih, yang walau sudah ia kenal, tapi tiba-tiba terasa asing dan menakutkan.


"Woi, malah ngelamun." Fatih menghampiri Ghina, melambaikan tangannya di depan gadis itu.


"Apa sih? aku nggak ngelamun juga," kilah Ghina dan melihat ke arah lain.


"Habisnya di panggil nggak nyaut gitu. Oh ya, pakaianmu tadi siang udah di beresin Ummi ke lemari, tuh." Fatih menunjuk lemari besar miliknya yang sekarang sudah berisi tambahan pakaian istrinya.


"Kalau kamu nggak mau mandi duluan, aku yang duluan," ucap Fatih, lalu menyambar handuknya dan melenggang ke dalam kamar mandi.


Ghina mendesah pelan, ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Siapapun yang berada di posisinya, pasti merasakan kecanggungan luar biasa. Bingung harus bersikap seperti apa pada suami. Biasanya, di kamar hanya seorang diri, kini ada orang lain yang menemani.


Ia harus memutar otak dari sekarang, memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika Fatih sudah keluar dari kamar mandi. Apakah dirinya langsung mandi juga? atau tidak usah sekalian dan sekarang langsung pura-pura tidur? atau ia keluar saja dan minta tidur sekamar dengan Nafisah? ah tidak mungkin.


Hampir saja tubuhnya terjungkal ke ranjang, saat suara pintu kamar mandi terbuka. Jantungnya semakin berdebar tak karuan dan Ghina tentunya memakinya dalam hati.

__ADS_1


"Jangan kayak orang bego!" batinnya kesal.


"Kamu mau mandi apa langsung tidur Na?" tanya Fatih sambil mengelap rambutnya yang basah. Laki-laki itu berpakaian lengkap. Celana warna cokelat di bawah lutut dengan kaos oblong berwarna hitam.


"Hah? e-e-aku." Ghina merutuki mulutnya yang tergagap tak tahu tempat.


Fatih mengernyitkan alis, namun sedetik kemudian ia menyeringai. "Baru kali ini aku liat kamu gugup gitu? kenapa?" tanyanya dan berjalan mendekat ke arah sang istri yang tengah duduk di sisi ranjang.


Ghina menatap Fatih, aroma shampo menguar ke udara, tapi cepat-cepat ia kembali membuang muka. "Siapa juga yang gugup, aku cuma bingung, mikirin mau mandi apa nggak, soalnya udah malam, dingin."


"Masa?" tanya Fatih dan berjalan semakin dekat hingga berada tepat di depan Ghina.


"Iya, udah deh sana tidur duluan. Kayaknya aku mau mandi aja, terpaksa, udah lengket banget rasanya." Ghina menepiskan tangannya di depan agar Fatih segera menyingkir dari sana.


Ghina hendak beranjak dari duduknya, namun tangannya di tahan oleh Fatih yang beberapa detik lalu mendudukkan dirinya di samping Ghina.


"Lepasin Fath, aku mau mandi!" pekik Ghina dengan suara yang ia usahakan pelan.


Pantatnya kembali terduduk di sisi ranjang. "Katanya dingin."


"Aku bilang udah lengket badanku, pengen mandi aja."


Fatih tiba-tiba memegang kepala Ghina, membuat si empunya terkejut. Apalagi saat Fatih memejamkan mata dan merapalkan doa, dalam hati Ghina mengamini. Tapi, di sisi lain ia merasa khawatir akan sesuatu.


"Gimana, kalau mandinya setelah layanin aku?" tanya Fatih dengan wajah serius. Tatapan matanya mengarah pada bibir Ghina.


Sontak, Ghina menggelang, matanya menatap ngeri ke arah laki-laki yang rona wajahnya terasa begitu berbeda. Ghina takut, Fatih meminta haknya malam ini.


"A-aku nggak-"


"Bukannya tadi udah denger ceramah ya? apa kata Pak Kyai tadi? taati suami? layani suami?" cecar Fatih dengan pertanyaan.


"Fatih, kamu nggak berniat--"


"Pasti, niat banget. Aku udah bacain do'a buat kamu Na. Sekarang, kamu cukup nurut aja apa mauku."


"Fath, bukan gitu-"


Fatih meletakkan jari telunjuknya di bibir Ghina. Setelahnya, ia memajukan wajahnya perlahan, membuat Ghina semakin meremas seprei yang didudukinya.


Fatih sekuat tenaga berusaha menahan tawanya kala pertama kalinya melihat ekspresi Ghina yang ketakutan. Ia terus memajukan wajahnya, hingga mata Ghina terpejam erat tapi wajahnya meringis.


"Hahaha, bercanda Na. Jangan tegang gitu dong." Fatih memencet hidung Ghina pelan, membuat si empunya membuka mata dan menatap Fatih dengan geram.


Walau kesal karena Fatih telah mengerjainya, tapi di sisi lain ia lega, karena laki-laki itu tidak melakukan hal yang ia takutkan.


"Fatih!" kesal Ghina dan mencubit lengan suaminya dengan keras.


"Aw! sakit istriku."


"Awas kenapa huh? aku nggak takut, yang ada, kamu yang takut. Ciyah, mukamu tadi ketauan takut hahaha." Fatih memegang perutnya sendiri karena tertawa.


Ghina beranjak dari ranjang dengan wajah merengut. Tapi, Fatih lagi-lagi menahannya. Laki-laki itu berdiri di hadapannya.


"Mau mandi 'kan? lepas dulu dong ini nih, nanti kebawa ke wc, nyemplung deh, 'kan sayang." Fatih melepas mahkota kecil yang berada di kepala Ghina.


Ghina hanya mendengus, lalu melangkah ke arah lemari dan mengambil handuk juga beberapa pakaian. Ya, ia akan berganti di dalam kamar mandi sekalian, tidak mungkin di depan laki-laki itu 'kan?


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Ghina yang memakai piyama tidur yang lengan dan celananya panjang, tidak lupa kepalanya berbalut kerudung.


"Kamu kok masih pakai kerudung?" tanya Fatih yang tadi sibuk dengan ponselnya, kini melirik Ghina.


"Suka-suka aku," balas Ghina.


"Nggak papa juga kamu lepas, aku juga udah pernah liat rambutmu."


"Nggak mau!"


Fatih hanya menggeleng pelan, ia kembali fokus melayani chat dari para fansnya yang patah hati massal ketika mengetahui dirinya menikah.


"Mana hapemu? aku liat," pinta Fatih kepada Ghina yang masih duduk di meja rias.


Ghina menoleh, ia melihat ponselnya terletak di atas nakas. Dengan cepat ia berlari ke sana, khawatir Fatih mengambilnya. Walau, ia kalah cepat, suaminya sudah mengambilnya dengan ekspresi menjengkelkan.


"Fath, balikin!" pinta Ghina memaksa.


"Minjam bentar. Eh, nggak di kunci?" Fatih menyeringai, jemarinya langsung bermain di layar ponsel Ghina.


"Nggak sopan kamu Fath, ambil hape orang tanpa izin ck." Ghina berdecak kesal. Tapi, Fatih abai saja.


"Duduk sini, kalau kamu mau liat aku ngapain hape kamu." Fatih menepuk bagian ranjang di sebelahnya.


"Nggak mau! sini ah kembaliin."


"Banyak juga yang spam kamu ya. Mereka nggak macam-macam ke kamu 'kan?" tanya Fatih begitu melihat banyak chat yang nomornya sudah di blokir oleh Ghina.


"Fatih, kembaliin nggak?!" Ghina masih meminta, ia takut jika Fatih sampai pada chat ia dan Ilham.


"Nih, ambil," ucap Fatih sambil menyodorkan ponsel pada Ghina. Namun, saat istrinya itu hendak mengambil, Fatih tidak memberikannya.


"Fatih! ih nyebelin banget. Sini!" Ghina naik ke ranjang dan mencoba merebut ponselnya dari Fatih.


Suaminya malah tertawa lebar, lalu menggerak-gerakkan tangannya agar benda bentuk segi empat itu tak terjangkau olehnya.


Kedongkolan hati Ghina membuatnya reflek mendorong tubuh Fatih dengan keras hingga terjungkal ke bawah.


"Argh, sangar banget kamu Na. Sakit," erang Fatih sambil memegang bokongnya yang mencium lantai.

__ADS_1


Ghina tersenyum menang. "Rasain."


"Loh, kualat sama suami nanti kapok loh."


"Jangan suka berdalil jadi suami. Nggak bakal mempan!"


Ghina beranjak dari ranjang, ia mengantungi ponselnya, lalu berjalan ke arah meja yang terletak dekat lemari. Di sana ada banyak tumpukan kado.


"Banyak juga ya, bantu aku unboxing Fath," ucap Ghina dan menyentuh satu-satu kadonya.


"Ogah, pengen tidur. Sana buka sendiri." Fatih merebahkan dirinya di kasur, lalu memejamkan matanya walau tidak tidur.


"Fatih! bantuin istrimu!" sentak Ghina kesal sambil menarik lengan Fatih.


"Katanya nggak boleh pakai dalil suami istri?" kesal Fatih. "Jadi, aku nggak mau bantu kamu. Capek, pengen tidur. Eh pijitin juga boleh."


Ghina melotot, ia mencubit pelan lengan Fatih. "Cepet bantuin aku buka."


"Apa yang dibuka?" tanya Fatih sambil bangkit, lalu memegang kerudung Ghina dengan senyum sebelahnya. "Sini aku bantuin."


"Mesum!" Ghina menepis kasar tangan Fatih. Ia melangkah kembali ke arah meja, lalu memindahkan semua kado ke lantai.


Sebenarnya bukan tanpa alasan ia seperti ini, hanya ingin agar tidak gugup saja di depan Fatih, juga matanya terasa tidak mengantuk entah mengapa. Semoga Fatih benar-benar tidur duluan.


"Segala sesuatu kalau di kerjakan berdua, pasti ringan 'kan?" tanya Fatih dan mendudukkan dirinya di depan kado-kado yang berhamburan.


Ghina tak peduli, tidak menanggapi sama sekali. Ia sudah merobek dan menggunting kertas yang melingkupi salah satu kado, dengan motif bunga-bunga.


"Ini dari Renata," ucap Ghina yang melihat nama sahabatnya tertera.


Ghina tertegun sesaat begitu melihat isinya. Ia melirik ke arah Fatih yang menatapnya penasaran. "Buku apa itu?" tanyanya.


Ghina hanya menggeleng dan menyembunyikan bukunya ke samping. "Buku apa Na?" ulang Fatih, ia bahkan menggeser duduknya untuk melihat buku yang disembunyikan oleh Ghina.


"Buku bacaan biasa, khusus untuk cewek."


Fatih manggut-manggut, ia kembali meneruskan merobek kado. Ghina yang melirik ke arah Fatih mendesah lega, karena laki-laki itu tak lagi penasaran dengan buku apa yang Renata berikan. Dalam hati, Ghina merutuki temannya yang tidak tepat mengisi kado dengan buku yang tak layak dibaca bagi anak-anak di bawah umur itu.


Di dalamnya ada catatan yang tentunya sangat menyebalkan.


Aku tau, kamu bukan tipe-tipe orang yang suka barang-barang nggak penting. Jadi, aku kadoin buku aja. Pasti suka 'kan? langsung baca sama suamimu, di jamin, malam pertama lancar jaya! huhu semangat!


"Apaan coba?" batin Ghina risih lalu meremas surat dari Renata. "Awas aja kamu Ren."


"Kamu belum ngantuk Fath?" tanya Ghina yang sudah merasa bosan dan pegal karena belum semua kado terbuka.


"Kamu ngantuk?" Fatih justru balik bertanya. "Ya udah tidur duluan aja, biar aku selesaikan ini. Besok aku mau pergi soalnya."


"Kemana?"


"Haul Datu Kalampayan."


Ghina baru ingat, jika perpisahan KSI dengan melakukan ziarah ke makam Datu Kalampayan, dan ternyata waktunya besok.


"Fath," panggil Ghina.


"Apa?"


"Besok, aku boleh ya ikut acara Haulan? sama anggota KSI? acara perpisahan kamu ya berkunjung ke sana dan aku baru inget, waktunya ya besok."


"Kalau aku nggak izinin gimana?"


"Fatih!"


"Aku nggak izinin. Kalau pun tetep mau ke sana, kamu harus sama aku. Tapi, aku berangkat sama Kyai-kyai dari pesantren lain, pasti kamu nanti nggak betah dan canggung. Pilihannya dua, nggak ikut sama sekali, atau ikut aku, cuma bakal barengan sama teman-teman Abi."


"Ih, aku pengen sama anggota KSI Fath, kami mau perpisahan besok. Acara terakhir, kenapa sih? lagian besok ada Pak Adam juga, nggak bakal terjadi hal-hal yang kamu pikirin."


"Bukan itu Na. Haul itu banyak orang, kamu harusnya pergi sama suami, bukan sama temen-temenmu, walau ada teman perempuan, tetep nggak aman dari godaan. Bisa jadi, nanti temen laki-lakimu curi-curi kesempatan ya 'kan?"


"Su'uzon kamu, aku nggak bakal ngelakuin hal aneh-aneh. Ya, Fath? aku udah izin loh ke kamu, tau gitu nggak usah aja!"


"Ngambek nih?"


"Tau ah gelap."


"Lampu masih nyala gini."


"Fatih!"


"Iya aku izinin, tapi dengan syarat."


"Apa sih pakai syarat segala."


"Kamu harus mau ikutin perintah aku."


"Apa?"


"Nanti aku kasih tau. Pokoknya, kamu boleh pergi, tapi tetep jaga adab-adab sebagai wanita. Aku yakin, kamu bisa." Fatih menatap tepat di manik mata istrinya. Bukan ia tak menginginkan Ghina untuk mengikuti acara yang tujuannya adalah ibadah itu. Tapi, ia hanya tak ingin Ghina bertemu dengan Ilham dan membuat mereka semakin dekat.


"I-iya," balas Ghina sambil membuang wajah ke samping karena risih ditatap seperti itu oleh suaminya.


Yuhuu, otor back lagi... gimana malam pertama Ghina sama Fatih?😂


Nggak sesuai bayangan kalean yaa huhu, nanti aja kalau mereka sama-sama siap eh?


Yang suka ceritanya jan lupa, like, komen, vote dan share ke yang lain yaaaa

__ADS_1


__ADS_2