
Mata Ghina mengerjap perlahan. Ia merasakan tubuhnya remuk dan tidak nyaman. Telapak tangan kanannya sudah terpasang infus.
Sebuah ruangan berbau obat dan ia tahu dimana. Ingatannya kembali pada peristiswa yang terjadi tiba-tiba tanpa ia duga.
"Ya Allah, Renata!" pekik Ghina saat ia mulai bisa menyesuaikan tubuhnya. Ia teringat keadaan Renata. Gadis itu yang menyetir dan keadaannya pasti lebih sakit dari dirinya.
Ghina bangkit dari duduknya. Kepalanya terasa pening, punggungnya terasa begitu ngilu dan lengan kirinya terlihat bekas goresan aspal.
Seorang wanita paruh baya masuk dan berhambur memeluk Ghina.
"Nak, kamu udah sadar? gimana keadaan kamu? udah merasa nyaman?" tanya Narsih sembari mengusap pelan kerudung putrinya yang baru saja siuman itu.
"R-Renata Bu, aku pengen tau keadaan dia," lirih Ghina. Ia hendak turun dari ranjang, tapi sang Ibu menahannya.
"Dia baik-baik aja. Udah siuman beberapa jam lalu, kamu yang parah di sini sayang," jelas Narsih dengan mata berkaca-kaca. Dapat Ghina rasakan betapa khawatirnya sang Ibu padanya, ia ikut meneteskan air mata. Jujur, melihat sang Ibu begitu mengkhawatirkan keadaannya, ia sangat suka.
Ya, karena semenjak Ibunya menderita depresi beberapa tahun lalu, Ghina maupun Imran berusaha untuk hidup dengan baik walau mereka kekurangan kasih sayang sang Ibu. Ada tetangga dekat yang mau mengurus mereka terkadang. Dan Ghina sangat bersyukur karena Allah tidak meninggalkannya walau sang Ibu yang ada di depan mata seperti telah pergi jauh.
Terdengar salam dari luar. Bu Nyai alias Ummu Zainab langsung mendekat ke arah Ghina. Tangannya memeluk tubuh Ghina dengan erat.
"Ya allah sayang, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Ummi Zainab. Ghina tersenyum tipis.
"Remuk Ummi," lirih Ghina.
"Ya udah berbaring aja, jangan duduk dulu." Ummi Zainab membaringkan menantunya, ia mengelus kerudung Ghina dengan sayang.
"Alhamdulillah, walau mereka ketabrak, tapi Allah masih beri mereka keselamatan," ucap Ummi Zainab seraya memandang besannya.
"Iya besan, alhamdulillah. Saya kaget banget pas di telpon pihak kepolisian asam-asam. Kirain penipuan anak saya kecelakaan. Ternyata beneran, polisu itu nunjukin kartu siswa punya Renata."
"Ya Allah, mereka ini mau kemana kok ada di asam-asam?" tanya Ummi Zainab yang memandang Ghina dan Ibunya bergantian.
"Jalan-jalan katanya," balas Narsih. Ghina hanya mengangguk.
"Lah, mau UN kok jalan-jalan, jauh lagi. Seharusnya banyak istirahat di rumah, otak kalian udah banyak di forsir untuk persiapannya lho," ucap Zainab pada Ghina.
"Hehe, emang udah rencana kami Ummi," ucap Ghina.
"Iya, tapi takutnya gini. Alhamdulillahnya kalian selamat," ucap Ummi Zainab.
"Ya udah kamu istirahat aja dulu. Oh ya, Fatih juga ke sini mau jenguk kamu, nanti Ibu suruh ke dalam ya," ucap Ummi Zainab. Narsih juga mengiyakan, ia ikut undur diri dari ruangan bersama besannya.
Fatih masuk dengan membawa sesuatu untuk Ghina. Bunga Lily yang di kemas dalam buket yang cantik. Mata Ghina melebar begitu melihat benda indah itu di tangan Fatih.
"Kamu rontokin bunga-bunga di rumahku?" tanya Ghina ketus. Ia menatap nyalang ke arah Fatih.
"Haha, iyalah. Masa nggak," balas Fatih santai. "Lumayan, banyak bunganya, sayang di anggurin. Nih, kesukaanmu 'kan?" tanya Fatih lalu menyodorkannya ke arah Ghina.
"Fatih!" pekik Ghina. "Bungaku, nggak mungkin," ucapnya dan menggelengkan kepala.
Sedangkan Fatih hanya terkekeh dan mendudukan diri di kursi tepat dekat ranjang Ghina.
"Kamu keterlaluan Fath. Itu, adalah bunga yang setiap hari aku jaga, aku rawat, aku abadikan. Tapi kamu, langsung membabat mereka dalam satu hari," papar Ghina. Tangannya menepis buket yang tersodor ke arahnya.
"Terima dong, sayang nih bunga," ucap Fatih dan menaruhnya di sisi ranjang.
"Nggak mau, kamu harus ganti rugi."
"Mau aku ganti apa huh?"
"Pokoknya harus kembalikan!" gerutu Ghina dan membuang wajah.
"Gini ya si Nana Bobo kalau lagi merajuk," ejek Fatih yang mendapat pelototan.
__ADS_1
"Kenapa mau jalan-jalan sama Renata nggak bilang aku hum?" tanya Fatih yang kini menatap Ghina lekat-lekat.
"Itu rencana kami berdua. Nggak ada hubungannya sama kamu," ujar Ghina yang membuang wajah ke arah jendela.
"Ya, tapi setidaknya kamu ada bilang sama aku. Aku nggak bakal larang-larang, kecuali sama laki-laki," ucap Fatih tegas yang membuat Ghina sedikit merinding. Ternyata sikap Fatih yang aneh bisa juga menjadi seperti seorang Kakak yang menasihati adiknya.
"Hm." Ghina hanya bergumam ria.
"Hm gimana?" tanya Fatih yang kini menangkup wajah Ghina, membuat si empunya terkejut.
"Ih lepasin!" berontak Ghina.
"Hehe, aku cuma mastiin badanmu nggak demam. Istirahat aja selama seminggu ini, nggak usah masuk sekolah. Lagian kita juga tinggal UN aja."
"Tapi 'kan masih ada mata pelajaran yang belum selesai?"
"Emang kamu bisa jalan? kuat udah?" tanya Fatih dan melihat ke arah kaki Ghina. Ia jamin, gadis itu bakal meringis jika memaksa untuk bergerak sendiri.
"Bisa, sekarang aja udah baik-baik aja. Aku mau liat Renata ke ruangannya," pinta Ghina. Ia memposisikan diri untuk duduk dan menyibak selimutnya.
"Lepas!" ketusnya saat Fatih berusaha membantu untuk berdiri.
"Pake kursi roda aja ya?" tawar Fatih sabar.
"Nggak mau, bisa jalan."
"Ini kepala terbuat dari apa sih?" gerutu Fatih yang membuat Ghiba rasanya ingin tertawa. Entah sudah berapa orang yang mengatakan jika dirinya keras kepala.
"Ya udah jalan sendiri kalau bisa, aku angkat tangan." Fatih mengalah, menjauhkan tangannya dari mencoba membantu Ghina berdiri.
Namun, benar saja apa yang dikatakan Fatih. Ternyata Ghina belum sepenuhnya bisa berjalan. Ia merasa tubuhnya berat dan kakinya sedikit ngilu.
Tubuhnya oleng ke samping, dengan sigap Fatih menahannya.
"Hei, tuh 'kan mau jatuh," omel Fatih yang sudah menangkap tubuh Ghina yang mungil. Mereka dalam posisi saling berhadapan.
Fatih menuntun Ghina dengan kursi roda ke ruangan Renata. Mereka terdiam di sepanjang jalan sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan yang hanya terhalang lima ruangan dari tempat Ghina berada tadi.
"Ren," panggil Ghina. Di sana sudah ada tantenya Renata juga sang Ibu. Dua wanita itu segera pamit meninggalkan ruangan setelah Ghina menyapa mereka.
"Na, gimana keadaan kamu?" tanya Renata dengan raut menyesal.
"Aku baik-baik aja, cuma sedikit sakit di beberapa bagian. Kamu gimana?"
"Akh juga mending. Lebih ke pusing aja sih, tapi kamu parah banget Na. Sampai di perban sana-sini, kakimu juga keseleo kayaknya itu. Lihat, tanganmu." Renata meraba lengan Ghina, ia menatap nanar ke arah goresan random di sana.
"Gara-gara aku Na, seharusnya lebih hati-hati, apalagi mau UN," lirih Renata. Matanya berkaca-kaca.
"Nggak papa, ini udah takdir Allah. Syukur aja, kita selamat dari maut Ren," ucap Ghina menenangkan.
Renata yang terharu lantas memeluk Ghina. Namun, dirinya baru sadar bahwa yang membawa Ghina ke sana adalah si Jenius Fatih.
"Loh, Fatih di sini juga?" tanyanya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum jahil.
"Ciye, di jenguk suami," celetuknya yang membuat Ghina segera melepaskan pelukannya.
"Argh," ringis Ghina pelan karena selimut Renata mengenai lengannya yang terluka.
"Eh, kamu kenapa Na?" tanya Renata khawatir.
"Nggak, sedikit tersenggol aja," ujar Ghina. Ia mencubit kecil lengan Renata.
"Cepat sembuh ya Ren, Riki kayaknya bakal kangen kamu beberapa hari ke depan," ucap Fatih yang membuat Renata berdecak.
__ADS_1
"Ih males banget ngomongin dia Fath. Berarti kekuarga kalian ada juga di rs?" tanya Renata.
Fatih dan Ghina mengangguk bersamaan. "Oh, btw aku ngantuk banget, habis minum obat tadi. Mau tidur dulu ya. Kamu banyakin istirahat Na, ya. Itu sedikit aja kesenggol sakit," tunjuk Renata pada lengannya.
"Iya, yang penting aku udah tau keadaan kamu. Aku pamit ya," ucap Ghina dan Renata hanya memasang jempolnya.
Ghina kembali rebahan. Ia menghela nafas berat sedangkan Fatih masih belum beranjak.
"Kamu nggak pulang?" tanya Ghina.
"Nggak, nanti aja kalau Ibu sama Ummi udah balik sini,"
"Emang mereka kemana?"
"Entah." Fatih menggedikkan bahunya. Ia berjalan ke arah sofa dan merebahkan diri di sana.
"Kamu udah laper?" tanya Fatih. Ghina hanya menggeleng dan itu tentu luput dari penglihatan Fatih.
"Laper nggak?" tanyanya ulang. Ghina mendengus.
"Nggak!"
"Fath, gimana, kalau kakiku masih sakit sampai UN?" tanya Ghina lirih. Dalam hati kecilnya tetap saja ia merasa khawatir karena kakinya masih sakit jika harus berjalan.
"Insyaa Allah segera sembuh. Sini." Fatih kembali beranjak, ia mendekat ke arah ranjang, lalu memegang kaki Ghina yang berselonjor.
"Eh ngapain kamu?" sentak Ghina dan menepis tangan Fatih yang memegang lutut dirinya.
"Pijit lah, biar lebih enakkan," ujar Fatih. "Mumpung gratis loh, siapa yang nggak mau pijit gratis sama orang ganteng nomor satu di sekolah?" tanya Fatih dengan seringaian jahilnya.
"Cukup, aku enek sama kepedeanmu Fath," ucap Ghina. Ia membiarkan Fatih memijat kakinya pelan.
Tanpa sadar, Ghina akhirnya tertidur karena merasa begitu nyaman di pijat oleh suaminya sendiri. Sedangkan Fatih, hanya berdecak begitu dirinya ditinggal tidur.
"Malah tidur," gerutunya. "Biarlah, langka liat dia tidur," ucapnya terkekeh.
Tengah hari tepatnya pukul satu siang, Ghina terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling dan ada Fatih yang juga tertidur di sofa.
"Fath!" panggil Ghina pelan. Tapi, Fatih tidak kunjung bangun.
"Fath!" panggilnya lebih keras.
"Hei suami." Ghina coba-coba memanggil itu. Dan ajaibnya Fatih langsung bangun dengan mata memerah sehabis bangun tidur.
"Udah jam satu, kamu mau salat?" tanya Fatih. Ghina mengangguk pelan.
"Mau di bantu nggak wudhunya?" Fatih menawarkan lebih dulu. Karena jika ia berinisiatif langsung membantu, Ghina pasti marah-marah.
"Iya, tolong," ucap Ghina pasrah. Mau tidak mau harus meminta pertolongan laki-laki itu.
Fatih memapah Ghina perlahan, lalu membantu Ghina duduk di kursi kecil yang ada di kamar mandi.
"Kamu duduk di sini dengan tenang," titah Fatih, ia menyingsingkan lengan baju hem yang dikenakannya, lalu celana chinonya juga.
"Ibumu tadi bawa barang-barangmu juga dari rumah. Kamu mau cuci muka pakai sabun kamu?" tanya Fatih.
"Pakai sabun aku aja," ujar Ghina. Fatih segera keluar kamar mandi, ia menengok ke arah ransel di atas meja. Tidak membutuhkan waktu lama, ia bisa menemukan sabun cuci muka milik Ghina.
"Merem, nanti perih." Fatih mengingatkan saat Ghina masih saja memelototkan matanya. Padahal, beberapa detik lalu, ia sudah membasuh wajah Ghina dengan air dan kini bersiap untuk mengolesnya dengan sabun cuci wajah dengan merek yang cukup pasaran itu.
Ghina akhirnya memejamkan mata. Ia menikmati setiap sentuhan tangan Fatih ke wajahnya, bukan kerena ia suka Fatih melakukannya. Tapi, karena wajahnya terasa lebih dingin dan segar.
Fatih memijat pelan wajah istrinya itu dengan telaten. Ia sebenarnya sudah biasa melakukan ini dulu. Saat Nafisah belum bersuami. Nafisah yang sedikit bar-bar itu pernah jatuh dari pohon Mangga, lalu keseleo sampai beberapa minggu tidak kunjung sembuh. Akhirnya setiap rutinitas cuci muka, pasti meminta Fatih membantunya.
__ADS_1
Saat melihat wajah Ghina yang polos saat memejamkan mata, membuat desiran aneh dalam dada Fatih. Tiba-tiba, entah keberanian dari mana, ia mencondongkan wajahnya ke arah Ghina dan ...
"Aaaa!"