
Ghina berjalan mondar-mandir seraya menggigit bibir bawahnya. Matanya sulit sekali terpejam walau berkali-kali ia membaca do'a sebelum tidur juga ayat kursi. Besok, ia harus menyiapkan fisik dan mental untuk bertemu seseorang yang membuat mimpi buruk hadir hampir di setiap malamnya.
Notifikasi ponselnya berbunyi. Tumben, padahal sudah pukul sebelas malam. Siapa pula yang berani mengirim chat padanya. Ghina mendengus pelan saat melihat nama Fatih tertera di layar.
Kelinci Nyebelin : Pasti nggak bisa tidur 'kan?
Me : Wajarlah tidur larut, masih ada yang harus aku kerjakan.
Kelinci Nyebelin : Ah masa'? minggu ini nggak ada try out kok.
Me : Emang siapa yang bilang aku lagi ngerjakan soal. Cih, sok jadi cenayang. Udahlah, mendadak aku jadi ngantuk.
Kelinci Nyebelin : Oh jadi dari tadi nungguin chatku ya sebagai pengantar tidur?
Me : Read
Pintu kamar diketuk, ternyata sang Kakak. Imran seperti tahu jika Ghina tidak bisa tidur.
"Bagaimana Na, kamu sanggup bertemu dia?” tanya Imran pada Ghina yang masih terpekur dengan wajahnya yang menghadap cermin. Dari ekspresi sendu itu, Imran seolah tahu sang Adik sedang tidak baik-baik saja.
Ghina menoleh, tersenyum masam, “mau gimana lagi? dia masih hidup, aku nggak bisa menjadikan Kakak sebagai wali.” Ghina menghela nafas. “Mungkin sudah takdirku untuk melakukan akad nikah di lapas.”
“Karena kita nggak bisa memilih lahir dari orang tua mana. Satu hal yang harus kita ingat, untuk generasi kita selanjutnya, jangan pernah mengulang hal yang sama. Kamu percaya, Fatih dapat menjadi imam yang baik untuk kamu 'kan?" tanya Imran untuk mengkonfirmasi seberapa yakin Ghina pada Fatih. Karena ia sendiri pun paham, usia adiknya itu masih terlampau muda untuk menikah. Ia hanya takut, jika ternyata Ghina dan Fatih menikah hanya untuk saling menyakiti.
“Sebelumnya, aku pikir nikah pakai cara gini nggak masuk akal. Tapi, kalau Fatih nggak main-main dengan pernikahan ini, maka aku akan berusaha.”
Mendengar jawaban dari Ghina, Imran sedikit lebih lega.
“Kamu suka sama dia?” tanya Imran yang membuat Ghina mendengus.
“Pertanyaan apa itu? ya jelas aku nggak pernah suka sama dia.”
“Terus?” Alis Imran bertaut.
“Apa? alasan aku mau menikah sama dia?” tanya Ghina sinis.
“Demi menjaga nama baik pesantren. Karena aku ikut andil dalam memperburuk citranya. Walau, nikah muda itu nggak mudah. Apalagi ada perasaan yang harus aku jaga.”
“Kalau dihati kamu ada yang lain. Kakak harap, kamu bisa membuangnya." Imran menunjuk dada Ghina.
“Aku lagi berusaha. Menurut Kakak, gimana perasaan laki-laki jika di khianati?” tanya Ghina. Ia memutar posisi duduknya menghadap Imran yang duduk di kasurnya
“Kalian nggak menjalin hubungan apapun, nggak seharusnya merasa dikhianati ‘kan?” tanya Imran, bukannya Ghina dan orang yang disukainya belum halal, tidak terikat apapun, jadi untuk apa merasa mengkhianati?
“Tapi, aku ngerasa khianatin seseorang gitu. Pernah ngebayangin, kalau dia nanti akan datang ngelamar."
"Ya buang aja perasaan itu beres 'kan?" enteng Imran yang membuat Ghina membuang wajah.
"Loh ya bener 'kan? kalian 'kan belum halal, dia juga nggak datang ke rumah tuh buat lamar," ucap Imran dengan alasan masuk akal.
“Kak," panggil Ghina.
“Hm.”
__ADS_1
“Gimana kalau aku nggak kuat?”
“Ghina Izzati pasti kuat.”
“Bukan tentang aku aja. Ibu, bagaimana?”
“Dia akan kuat demi anaknya.”
“Ibu banyak sekali berubah, terkadang aku merasa jauh.”
“Bukan begitu. Ibu sedang dalam masa menyembuhkan dirinya. Kita juga demikian. Self healing itu butuh waktu.”
“Aku masih membencinya sampai saat ini, apa yang harus aku lakukan saat nanti menatap matanya?” tanya Ghina yang lagi-lagi merasa takut besok akan bertemu seseorang yang ia benci.
“Jangan pikirin apapun.” Imran merengkuh tubuh yang rapuh itu, “jangan biarkan dia membaca hatimu.” Imran menepuk-nepuk bahu Ghina.
“Aku akan berusaha.”
Keluarga Ghina maupun Fatih kini sudah berada di sebuah lapas yang terletak di daerah Jorong. Di sana, Ayah Ghina di tahan sudah sekitar lima tahun akibat kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Ghina berkali-kali meremas tangan Imran, sedangkan sebelah kirinya, lengannya di gandeng oleh sang Ibu. Mereka terus berjalan di lorong, hingga memasuki sebuah ruangan. Ternyata, Fatih sudah berhadapan dengan seorang laki-laki yang mengenakan pakaian tahanan dengan peci di kepalanya. Ada juga penghulu, dua laki-laki sebagai saksi dan keluarga Fatih yang terdiri dari Kyai Zhafran, Ummi Zainab, Maheer, Nafisah dan satu lagi pria yang Ghina belum pernah lihat sebelumnya.
Matanya tertunduk dalam, ia tidak ingin bersitatap dengan pria itu.
Dua keluarga itu saling menyapa dan bersalaman.
"Duduk Nak," titah sang Ibu, sambil mendudukkan Ghina di salah satu kursi, tepat di belakang Fatih. Namun jarak mereka tetap berjauhan.
"Baik, bisa kita mulai?" tanya penghulu. Dan ketika semua orang mengangguk, akhirnya acara ijab kabul pun di mulai.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap bagi Ghina Izzati. Dia pingsan di tempatnya.
Ghina baru tersadar dari pingsan saat jam menunjukkan pukul sebelas siang. Semua keluarga berkumpul di salah satu rumah sakit terdekat, tempat dimana Ghina dilarikan karena pingsan mendadak. Menurut diagnosis dokter, Ghina mengalami gejala trauma berat dan hal itulah yang menyebabkan gadis itu sampai pingsan saat melihat sesuatu yang membuatnya mengingat kejadian di masa lalu.
"Ibu," panggil Ghina saat membuka mata. Narsih yang masih meneteskan air mata sedari tadi, segera memeluk Ghina.
"Ibu di sini Nak," katanya.
Imran yang melihat kondisi Ghina hanya terdiam dengan wajah sedih. Seperti ingin menangis, namun berusaha di tahannya.
"Sudah merasa lebih baik Nak?" tanya Ummi Zainab pada Ghina.
Ghina hanya mengangguk, matanya beralih kepada seseorang yang kini telah resmi menjadi suaminya. Mereka sejenak bertatapan, namun Ghina membuang muka ke arah lain.
Setelah Zuhur dan kondisi Ghina memang sudah membaik, dua keluarga itu berangkat menuju kediaman Kyai Zhafran untuk menyambut beberapa tamu yang sudah di undang.
Suasana pesantren memang selalu mampu menyejukkan hati. Ghina yang belum pernah menyesap sama sekali pendidikan model seperti itu rasanya ingin sekali, tapi setelah lulus SD, tidak ada sama sekali Ghina kepikiran akan masuk pesantren. .
Setelah berbicang dan makan bersama para tamu Kyai, keluarga Ghina dan juga Fatih mengadakan pembicaraan khusus di ruang tamu.
Namun, hanya orang-orang tua saja yang mengobrol ria. Tapi Ghina merasa kasihan pada Imran yang sesekali di goda karena sampai saat ini belum melamar sang pujaan hatinya, padahal sang adik sudah menikah. Imran merespon dengan cara elegan dan coolnya.
“Mencari yang terbaik memang tidak mungkin. Karena hanya Allah yang tahu yang mana yang baik untuk saya. Tapi setidaknya, tidak melupakan proses seleksi dengan standar yang ada dalam syariat," jelas Imran dengan senyuman.
__ADS_1
“Benar sekali Nak, memang harus dipertimbangkan. Walau pernikahan ini terkesan dipaksakan tapi aku percaya pada Fatih, dia mampu menjadi imam rumah tangga yang baik. Semoga dia pendamping yang tepat untuk Nak Ghina," ujar Ummi Zainab dengan menatap ke arah Ghina.
“Kami harap Ghina juga begitu Pak Kyai. Insyaa Allah anaknya baik, hanya saja sikapnya yang kekanakan, maklum ya seperti itulah," imbuh Narsih.
Kyai Zafran dan Ummi Zainab tertawa. Ghina hanya terdiam sembari sesekali mencuri pandang terhadap Fatih, laki-laki itu hanya sesekali tersenyum sambil menyesap tehnya, elegan sekali. Sikapnya seperti orang dewasa. Bahkan duduk berdampingan dengan Kak Imran ia tak tampak gugup.
“Kalian berdua jika ingin mengobrol berdua silahkan,” kata Ummi Zainab. Lantas saja Ghina mendongak hendak menggeleng tapi suara Fatih mendahului.
“Iya Ummi, aku mau bicara sebentar dengan Ghina.”
“Lama juga nggak papa, kalian kan sudah suami istri.” Itu kalimat godaan pertama bagi keduanya setelah menikah.
Wajah Ghina memerah menahan malu karena ucapan Ibu mertuanya, lantas dirinya beranjak dari sana dan mengikuti langkah Fatih yang mengisyaratkan Ghina untuk menyusulnya.
Saat mereka berjalan kaki berduaan, lebih tepatnya Ghina menjadi buntutnya, melewati para santri. Ghina dibuat terkejut saat para santri itu menyalami Fatih dengan penuh takzim. Dapat Ghina duga, umur para santri itu barulah menginjak SMP dan ada juga seumuran anak SD.
Ternyata seorang Fatih yang ‘kurang ngajar’ jika disekolah, bisa begitu dihormati di lingkungan pesantren. Dan setelah kami banyak berbincang, aku menjadi tahu bahwa dia adalah salah satu pengajar di pesantren ayahnya.
“Mau kemana sih?” tanya Ghina kesal karena langkah Fatih tak kunjung berhenti.
“Ikut aja.”
Langkah Fatih terhenti di depan sebuah gazebo yang lumayan luas. Letaknya sebenarnya di belakang rumah Kyai, hanya saja Fatih berjalan memutar melewati asrama para santri.
"Apa dia sengaja mau pamer istri?" batin Ghina.
Namun dilihat dari tempatnya yang berpagar, dapat Ghina tebak, lingkungan ini khusus untuk bersantai keluarga. Fatih duduk di kursi, Ghina hanya mengikuti.
“Kamu nggak papa ‘kan dengan pesyaratan itu?"
“Maksud kamu tentang kita nggak serumah?” tanya Ghina
“Iya.”
“Dari awal 'kan memang aku yang ngajuin. Kamu tahu ‘kan aku masih belum bisa terima. Ini semua terjadi tiba-tiba. Walau pun aku tahu bahwa menikah itu boleh saja, bahkan bernilai ibadah. Tapi rasanya terlalu cepat. Makanya aku mensyaratkan untuk kita nggak serumah dulu.”
“Tapi aku akan sering berkunjung ke rumahmu," celetuk Fatih dengan tangan yang menopang dagu. Menatap Ghina dengan cengengesan.
“Ih ngapain sih. Nggak usah repot-repot. Aku nggak membutuhkan kunjunganmu," tolak Ghina.
“Kita liat aja nanti," ucap Fatih santai.
“Jangan macam-macam, aku nggak pengen temen-temen tahu kalau kita nikah," ancam Ghina. "Kalau nggak, awas aja."
“Nggak bisa gitu dong. Jelas-jelas kita udah suami istri, haha.” Fatih tertawa keras sambil memegang sendiri perutnya.
“Fatih!” pekik Ghina yang mampu menghentikan tawanya
“Canda." Fatih menunjukkan peacenya. "Tapi suami istri bercanda, pahala loh setauku,"lanjutnya dan seketika membuat Ghina mengeluarkan kepalan tangannya.
Dering handphone membuat Ghina beralih dari menatap Fatih. Renata menelponnya.
“Wa'alaikumussalam ada apa Ren? udah aku bilang aku lagi sibuk hari ini?" tanya Ghina yang memang sehari sebelumnya ia mengatakan tidak bisa membantu Renata berjualan dan ia meminta kepada gadis itu untuk tidak menelponnya karena ia akan sibuk dengan kegiatan di rumah.
__ADS_1
“Kamu nikah sama Fatih?!” tebak Renata dengan nada sedikit kesal dan entah.
Mendengar pertanyaan dari Renata, seketika Ghina menatap Fatih yang kini tengah menahan tawa.