
Ghina mendongak dengan gumpalan rasa bersalah di dadanya. Bahkan matanya terasa sangat panas begitu bertatapan dengan netra kelam Kakaknya yang paling tampan sedunia, menurut -tetangga sebelah rumah-.
"Kak..." panggil Ghina lirih dengan mata yang terhalang kaca-kaca.
“Kakak udah tahu semuanya?" tanya Ghina yang tak mendapat respon apapun dari laki-laki yang kini menyilangkan tangannya di depan dada. Duduk di sofa dengan tubuh tegapnya.
Jika hal yang mendebarkan bagi tersangka adalah saat di interogasi oleh penyidik, maka saat ini Ghina seolah mendapat posisi itu. Sungguh, jantung berdegup kencang menunggu suara orang di depannya keluar.
"Aku sebenarnya nggak ingin percaya, tapi bukti nyata adanya. Kakak benar-benar kecewa sama kamu. Kamu mengkhinati kepercayaan Ibu dan aku sebagai Kakakmu," jelas Imran dengan nada yang dingin. Raut wajahnya sangat datar. Membuat Ghina membeku, bergetar bibirnya.
Mata gadis itu berair dan meleleh mulus di wajahnya. Dalam diam, ia memutar otak untuk mencari kata yang tepat diungkapkan walau pun rasanya sulit.
Ghina tahu jika Kakaknya tengah emosi. Melihat Imran seperti itu, entah mengapa Gbina selalu merasa bukan adiknya lagi.
“Maafkan aku.” Hanya kata itu yang bisa Ghiba keluarkan. Bahkan tertahan oleh desakan tangis yang menyeruak dari dalam dadanya. Rasanya sesak sekali. Jika bisa dia menahan air mata itu, tentu tidak akan mengeluarkannya begitu saja. Tapi, ini begitu perih.
“Menangis nggak akan menyelesaikan masalah. Itu masalahmu, apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasinya? Kamu tahu siapa yang kena aib yang paling besar? Keluarga kita. Fatih? Anak Kyai Zafran? Innalillahi, bagaimana bisa kalian?” Imran memijat keningnya, kini tubuhnya bersender di sofa.
Ghina mengambil amplop yang berisi surat pemanggilan orang tua dari tasnya dan menaruhnya di meja. Imran menatap benda itu dengan nanar.
"Sebelum surat ini sampai, sekolah sudah menghubungi aku," ucap Imran. Ghina memahami, sekolah mungkin menduga bahwa dirinya belum tentu amanah.
Mereka diam. Satu orang dengan rasa bersalah dan satunya dengan rasa kecewa yang mendalam.
“Kalau aku ceritakan kejadian sebenarnya, apa Kakak mau dengar?” tanya Ghina serak, tak sanggup lagi menatap mata Imran yang tajam nan menusuk itu. Tangannya mengepal kuat.
"Kak, aku hiks, hiks," Ghina menangis sesegukan saat Imran hanya terdiam. Imran yang mendengar suara pilu Adiknya itu lantas menatap Ghina, sendu.
Tangan kekarnya terulur membelai pipi sang Adik yang duduk di seberangnya.
Ghina mendongak menatap mata Kakaknya. Rahang yang tadi mengeras itu tidak lagi terlihat, tatapan tajamnya sudah meneduh. Kakaknya menatap Ghina dengan tatapan sendu.
“Maafkan Kakakmu tidak mampu menjagamu Na," sesal Imran. "Aku akan mendengarkan ceritamu," katanya.
Ditukar dengan perhiasan atau kemegahan di belahan dunia manapun tak akan pernah tergantikan oleh sosok Kakaknya yang satu ini. Demi Allah, Ghina berani bersumpah. Setelah Ibu, dialah yang paling Ghina sayangi.
Ghina yakin Kakaknya tidak akan langsung menyalahkannya, mungkin tadi hanya emosi sesaat. Ghina bisa merasakan kekecewaan Kakaknya. Matanya tambah beranak sungai. Semakin terisak-isak walau tangan Imran tak berhenti mengelap bulir air di pipinya.
“Aku nggak mendekati zina Kak. Naudzubillahimindzalik. Aku nggak mungkin berkhianat pada Allah dan kalian keluarga yang paling aku sayangi. Aku tahu perbuatan itu dosa. Dan aku tidak akan pernah melakukannya selama aku hidup. Sebenarnnya….”
Ghina menceritakan panjang lebar kejadian di sekolah bersama Fatih yang akhirnya menimbulkan fitnah itu. Imran menepuk-nepuk bahu Ghina.
“Istirahatlah. Kamu pasti capek. Biar nanti Kakak yang cerita sama Ibu.”
\=\=\=\=\=
Walau Ghina belum mengetahui respon ibunya tapi dia tetap mencoba untuk lebih tenang dan terlelap dalam tidurnya.
Kondisi Ibunya sepertinya memang drop. Saat Ghina periksa ke kamarnya, wanita itu masih terlentang di kasur dengan mata terpejam. Ghina tak nyaman untuk membangunkan, membiarkan Ibunya beristirahat.
Ghina hanya berharap semoga kesehatan ibunya segera pulih dan masalah itu akan menghilang. Walau dia sendiri tidak yakin bagaimana bisa rumor yang sudah tersebar itu begitu saja hilangnya.
Setelah salat Subuh, Ghina menemui Ibunya yang sedang menyesap teh di ruang tamu. Ada Imran juga di sana.
__ADS_1
"Ibu," panggil Ghina yang langsung mengambil duduk di samping Ibunya. Narsih menatap anaknya sejenak, namun ia membuang muka dan kembali fokus ke layar televisi di depannya. Imran hanya memperhatikan sembari sesekali meneguk kopi hitamnya.
"Ibu, maafkan aku. Aku membuat Ibu malu," lirih Ghina sembari menatap wajah Ibunya dari samping.
“Ibu belum bisa percaya sama kamu Nak. Foto itu jelas sekali menujukkan foto kamu dan anak Pak Kyai," ucap Narsih yang membuat Ghina seketika ingin sekali menangis. Ibunya sendiri tidak percaya padanya, bagaimana dengan orang lain?
“Ibu… maafkan aku. Sungguh, aku nggak tahu bakal begini jadinya," Ghina berusaha membujuk Ibunya.
“Ibu sudahlah. Semuanya hanya ketidaksengajaan. Maafkan Ina Bu. Hari ini, setelah memenuhi panggilan ke sekolah, aku akan mendatangi pesantren Nurul Huda, menemui Kyai Zafran biar kita bicarakan soal ini baik-baik." Imran bersuara, berusaha membela Adiknya.
"Kamu itu, adikmu itu salah, jangan dibela," larang Narsih dengan tatapan tajam pada Imran.
"Tapi Bu, tadi 'kan udah aku ceritakan semuanya. Ghina dan Anak Kyai Zafran nggak sengaja di posisi itu. Dan mereka di fitnah," jelas Imran lembut dengan menatap mata Ibunya.
"Tetep aja, Ibu nggak percaya. Kecuali bener-bener ada bukti kalau itu fitnah. Lagian, jelas gitu fotonya," ucap Ibu Ghina dingin.
"Itu kesalahanmu Na, sebagai anak Ibu. Kamu harus tanggung jawab nantinya," ucap Narsih sembari beranjak dari duduknya dan membawa gelas teh yang tinggal setengah ke dapur untuk kemudian dia cuci gelasnya.
Imran menghela nafas, "nggak papa. Nanti juga amarah Ibu reda. Beliau masih terkejut denger kabar ini," ucap Imran mencoba menenangkan Ghina yang kini sudah menangis dalam diam.
"Hari ini berangkat sama Kakak ya?" tawar Imran. Ghina mendongak, ia merasa masih ada orang yang perhatian kepadanya. Kakaknya, Imran. Ia tersenyum dengan manis.
Setelah Ghina mengenakan seragam sekolahnya, ia bergegas keluar. Di sofa, Imran sudah siap dengan baju hem birunya di padukan dengan celana chino berwarna hitam yang tidak terlalu ketat. Postur tubuh Kakaknya itu tinggi, badannya proporsional. Ghina memaklumi, jika terkadang laki-laki itu narsisnya kelewatan. Memang Ghina akui, Kakaknya tampan. Tampan tidak ada apa-apanya jika tidak dipadukan dengan perilaku yang lembut dan Kakaknya memiliki itu.
"Sudah?" tanya Imran sembari memperbaiki letak jam tangannya.
"Yuk." Ghina tersenyum cerah. Ia melirik ke dapur. Tidak ada siapapun.
Tok Tok
"Bu, aku berangkat. Assalamualaikum." Ghina tidak masuk ke dalam, ia ingin membiarkan Ibunya menurunkan amarah.
"Kita sarapan dulu ya," ujar Imran sembari berjalan ke teras luar.
"Iya," balas Ghina
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Imran dan menoleh ke arah Ghina. Ia tersenyum melihat wajah Adiknya yang tidak sesendu kemarin.
"Bubur ayam Kang Opik," ucap Ghina. Imran tersenyum tipis
"Oke."
"Eh bentar," Imran mencegat bahu Ghina. Membuat alis tipis gadis itu tertaut.
"Apa sih Kak?" kesalnya.
"Helm kamu lupa," ucap Imran yang membuat Ghina terkekeh. Ia kembali ke dalam rumah dan mengambil helm yang terletak di meja di dekat mesin jahit Ibunya.
Ia menatap nanar mesin jahit itu, jika bukan karena permasalahan yang menimpanya. Di pagi hari seperti ini, pasti Ibunya sudah duduk di sana, menyibukkan diri untuk menjahit.
Butuh waktu sekitar lima menit perjalanan hingga mereka sampai di sebuah kedai bubur ayam di pinggir jalan yang bertuliskan "Bubur Ayam Kang Opik."
Imran memesan dua porsi untuk dirinya dan Ghina, mereka duduk di salah satu meja. Kedai bubur ayam ini memang terkenal. Wajar saja di pagi hari sebelum matahari terbit pun sudah ramai pembeli.
__ADS_1
"Silakan Neng." Karyawan Kang Opik menaruh pesanan Imran ke atas meja. Dan juga teh hangat dua gelas. Kang Opik memang sibuk meracik, jadi karyawannya yang mengantar ke kursi pelanggan.
"Ya, makasih Kang," ucap Imran dengan senyuman. Ghina terkekeh pelan melihat senyum itu.
"Kenapa?" tanya Imran yang merasa di tatap.
"Kakak murah senyum, walau mukanya kaya datar gitu dilihatnya," aku Ghina dengan menahan tawa.
"Hm, kalau bukan ibadah, Kakak males juga. Takutnya banyak yang kelepek-kelepek," balas Imran yang membuat tawa Ghina akhirnya keluar.
"Hahaha, mulai narsisnya. Enak nggak jadi ganteng?" tanya Ghina sembari tangannya mengaduk-aduk bubur.
"Enak nggak enak. Kakak nggak suka di deketin banyak cewek. Tapi, enaknya, nanti calon istri nggak ngenes-ngenes amat dapat wajah model gini," ucap Imran yang lagi-lagi membuat Ghina tertawa.
"Hahaha, tampan nggak jadi prioritas menurutku. Karena laki-laki yang biasa aja, kalau kelakuannya baik itu mendadak jadi ganteng," jelas Ghina mengemukakan pendapatnya tentan laki-laki.
"Berarti ganteng dan baik, plus-plus ya kaya Kakak?" tanya Imran dengan tatapan mata jahil.
"Iya, Kakakku plus-plus ujub huek." Ghina pura-pura ilfeel dan mau muntah.
"Hush, lagi makan juga." Imran mengingatkan dan mereka kembali fokus makan sembari terdengar kekehan kecil dari mulut Ghina.
Imran dan Ghina sudah sampai di depan gedung sekolah. Imran memarkirkan sepeda motornya.
"Kamu takut?" tanya Imran saat menyadari wajah Ghina yang murung.
"Iya, aku harus gimana Kak?" tanya Ghina.
Mereka kini berjalan di parkiran Guru tepatnya di belakang kelas 10 dan 11 TKJ. Parkiran untuk guru. Imran sempat menyapa satpam sekolah -Pak Samson- dengan senyuman.
"Tenang aja. Insyaa Allah masalah akan segera terselesaikan," ucap Imran. Mereka berdiri berhadapan. Tangan Imran mengusap pelan kepala Ghina yang tertutup dengan kerudung.
"Senyum dong," katanya sembari menarik pipi Ghina, membuat Ghina menepis pelan tangan Imran.
"Ih, sakit!" katanya tak terima. Imran hanya terkekeh dan mereka melanjutkan perjalanan sambil menelusuri lorong sekolah dan akhirnya sampai di depan ruangan Bimbingan Konseling.
Bel berbunyi tanda masuk sekolah. Ghina melirik ke arah kelasnya, di depan pintu ada Renata yang melambai-lambai ke arahnya.
Ia membalasnya dengan senyuman. Saat Ia dan Imran masuk ke ruangan. Di sana sudah ada Fatih dan juga seorang laki-laki yang menjadi walinya. Ghina dan Fatih memang sudah diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran pertama, karena dalam surat yang tertera bahwa pembicaraan dengan wali murid adalah jam delapan pagi. Agar masalah segera terselesaikan.
Ibu Masyitah mempersilakan Ghina dan Kakaknya masuk dengan senyuman. Mereka berdua duduk bersebelahan.
Pintu ruangan kembali terbuka, menampilkan seorang laki-laki berpakaian dinas guru. Tersenyum ke arah Ibu Masyitah dengan lesung pipinya, lalu beralih menatap Fatih dan Ghina bergantian.
Deg
Jantung Ghina makin berpacu cepat. Ia rasanya bulir keringat yang mengalir dari pelipisnya. Pak Adam -Pembina rohis- pasti tahu tentang persoalannya ini.
Dan Ghina benar-benar mati kutu di posisinya. Memalukan.
Hai semuanyaa....
Kalau kalian sukak ceritanya, tambahin ke favorit, vote, like dan komen yaa...
__ADS_1