
Usai makan malam bersama keluarga besar, Fatih dan Ghina akhirnya bisa istirahat di kamar. Mereka berdua sama-sama kelelahan, karena tidak ada istirahat sama sekali, sejak mereka sampai rumah, mulai dari party milad, hingga masak-masak bersama, lalu sorenya Ghina harus ke pasar membeli bahan makanan untuk makan malam, karena Najwa - Kakak Ipar- nya itu sedang hamil muda dan Imran sangat posesif hingga tidak mengizinkannya pergi ke pasar sore.
"Capek ya?" tanya Fatih saat mereka sudah berada di atas kasur Ghina. Untunglah, kamar ini sudah rapi dan bersih, sepertinya Ibu Ghina memang sudah menanti-nanti putrinya untuk menginap.
Ghina tersenyum tipis, "sedikit, tapi hilang kok karena bahagia. Aku merasa punya keluarga besar lagi, setelah Ibu memutuskan hubungan dengan keluarga besar Ayah."
Fatih merentangkan tangannya ke atas, menggerak-gerakkannya untuk mengusir pegal, ia ikut tersenyum, lalu memijat pelan kaki istrinya yang berselonjor. "Mas, harusnya aku yang mijat kamu," lirih Ghina, walau ia merasa nyaman dengan pijatan itu.
"Kamu lebih capek, aku mah cuma antar ke pasar, kamu sekaligus masak. Biarin gini, kapan lagi bisa dipijat orang ganteng?" Seperti biasa, Fatih selalu percaya diri di depan Ghina.
"Makasih ya, udah menjadi bagian dari keluargaku. Makasih juga sudah buat aku nyaman," ucap Ghina sembari menatap lekat-lekat wajah suaminya.
Fatih menggaruk tengkuk, tiba-tiba salah tingkah saja karena istrinya terlalu mengamatinya. "Na," panggil Fatih.
Ghina bergumam saja, kini tatapannya jatuh ke bawah, ke arah kakinya sendiri. Ia gugup ketika Fatih memanggilnya dengan suara berat dan lirih.
"Kamu nggak pernah kangen sama Ayahmu?" tanya Fatih pelan. "Kalau nggak bisa jawab, nggak usah. Kita bicarakan hal yang lain," sela Fatih cepat.
"Cuma pernah membayangkan, bagaimana jika Ayahku seperti Ayah orang lain yang sikapnya manis, baik, hangat, pasti aku bahagia dan menjadikan dia cinta pertama. Kangen? entahlah, aku selama ini telah melupakan dia. Rasa-rasanya, sulit sekali melupakan perbuatannya pada Ibuku, aku terlalu membencinya."
"Kamu sempat membenciku karena menghancurkan kepercayaanmu waktu itu?" tanya Fatih serius.
"Sempat, aku sempat berfikir bahwa semua laki-laki sama. Mereka kasar, mereka tidak dapat di percaya dan mengecewakan. Kecuali, Kakakku, dia nggak pernah mengecewakanku, dia orang yang bisa di percaya, serta tidak kasar, makanya seenggaknya, aku berusaha menepis, bahwa tidak semua laki-laki seperti Ayahku."
"Pasti sangat sulit bagi kamu buat percaya lagi 'kan?"
"Iya sulit, tapi aku berusaha. Seperti percayaku sama kamu, aku hanya berusaha semampu aku untuk percaya, kalau kamu adalah pria yang akan membuatku nyaman, pria yang tidak akan pernah menyakitiku, pria yang bisa membuatku bergantung."
Fatih menghentikan pijatannya, merasa telah begitu bersalah pada wanitanya. Ia hampir saja melunturkan kepercayaan Ghina. Untunglah, wanita itu berusaha percaya padanya, walau mungkin sulit. Seharusnya, ia bisa bersyukur, Ghina percaya padanya saja adalah hal yang mewah untuknya. Maka untuk urusan wanita itu mencintainya atau tidak, Fatih akan sabar dan tidak akan menuntut apapun dari wanita itu.
"Ya sudah, ayo kita tidur, besok kita harus ke rumah Abimu, sekalian meminta restu yang sebenar-benarnya, kalau kita akan berusaha membina hubungan rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya." Ghina melepaskan tangan suaminya dari kakinya. Lalu menepuk-nepuk bantal dan kini memposisikan dirinya untuk rebahan.
"Iya, tidurlah yang nyenyak, baca doa dulu jangan lupa," ucap Fatih dengan senyuman, ia meringsek mendekat, lalu mengecup lama kening istrinya. Ada yang bergejolak dalam dadanya, walau sekedar mencium dahi, namun ia tidak ingin terburu-buru. Biarlah cinta itu tumbuh perlahan dalam diri istrinya, ia akan tetap sabar menantikan hingga saatnya tiba. Saat dirinya akan di terima oleh Ghina seutuhnya.
Keesokan harinya, Narsih sudah melepas kepergian putri dan menantunya yang akan menginap di kediaman Pak Kyai Zhafran. Imran dan Najwa melambaikan tangan, juga menitip salam pada keluarga Kyai lewat adik iparnya.
"Kamu kangen nggak sama sekolah kita dulu?" tanya Fatih di sela-sela perjalanan mereka.
Ghina di belakang mengangguk, "iya kangen. Apa kita mampir dulu Mas? ngeliat kondisinya aja, apakah ada perubahan atau nggak," ucap Ghina, rasanya ia ingin kembali bernostalgia.
"Boleh tuh, mumpung hari libur, mungkin cuma ada anak-anak ekstrakulikuler di sana, jadi nggak terlalu ramai."
__ADS_1
Mereka kini berjalan dengan tangan bertaut di koridor sekolah, saling melempar senyum dan memindai sekolah mereka. Benar dugaan Fatih, ada beberapa mahasiswa yang sibuk bermain Futsal di lapangan. Tidak perduli bahwa ada dirinya dan sang istri yang bergandengan tangan dengan mesranya.
Hingga mereka berhenti di depan ruangan Lab besar, tempat dimana mereka biasa praktik komputer. "Kamu ingat nggak? waktu ujian, kamu sakit, terus aku minta kamu ujian di UKS," ujar Fatih. Ghina mengangguk.
"Waktu itu, aku sebel banget sama kamu. Padahal, aku bisa aja ujian disini, gara-gara kamu ember, aku harus di uks sampai ujian selesai," sahut Ghina, ia tersenyum sendiri mengingat kenangan itu.
"Itu karena aku khawatir sama kamu Na," ucap Fatih, mengakui bahwa ketika itu ia memang sudah memiliki rasa untuk Ghina. Hingga saat kecelakaan itu terjadi, ia begitu khawatir pada keadaan Ghina. Apalagi, Ghina tetap memaksa untuk ikut ujian.
"Masa?" tanya Ghina dengan alis naik turun.
Fatih mendengus, Ghina selalu menggemaskan saat menggodanya begini. Tangannya mengacak pelan kerudung sang istri. "Yuk kita cek kelas kita," ajaknya. Mereka kembali berjalan, menuju kelas yang telah menorehkan kenangan.
"Pintu ini, yang menyebabkan rumor itu terjadi," ucap Ghina, karena ia yang mengingat betul kejadian saat Fatih melindunginya dari lemparan bola kasti. Hingga pria itu seperti akan menciumnya padahal tidak.
Fatih terkekeh pelan, "bisa-bisanya kita dikira ciuman. Foto itu benar-benar menipu," ucap Fatih.
"Kamu nggak berniat menciumku 'kan waktu itu? barangkali kamu emang punya niat," tuduh Ghina, yang membuat Fatih seketika tertawa, karena ekspresi istrinya yang lucu ketika wajahnya penuh selidik.
"Nakal-nakal begini aku nggak brengsek yah," kata Fatih membela dirinya. Ghina tersenyum. Memukul pelan lengan Fatih.
"Ya iyalah, aku percaya kok kamu nggak brengsek," ucap Ghina membuat Fatih melambung tinggi, merasa bahagia.
"Disana!" tunjuk Ghina ke arah bangku Fatih. "Tempat dimana orang berisik berada, kamu dan Riki selalu mengganggu telingaku," sebal Ghina.
"Iya, tapi bagiku berisik," sahut Ghina dengan tatapan mengejek.
"Setelah kamu jadi istriku, jadi suka 'kan sama suaraku?" goda Fatih. Ghina mendecakkan bibir.
"Yeh, kepedean." Ghina menjauh, ia berjalan ke arah papan tulis, mengingat bahwa ia pernah maju ke sini saat dimintai maju oleh guru, lalu ia melihat ke arah bangku-bangku, paling sudut sebelah kanan, di sana ada Fitri dkk, yang suka berdandan ria, lalu bangku paling depan yang biasa ia dan Renata isi.
"Ah Renata!" pekik Ghina. Ia baru ingat gadis itu.
"Kenapa?" tanya Fatih berjalan mendekat.
"Aku mau ke rumah Renata dulu ya?" pintanya. Fatih menganguk, lalu meraih tangan istrinya.
"Ayok, kita ke rumah Renata," ajaknya.
Setelah bertemu kangen dan mengobrol banyak dengan Renata, akhirnya Ghina dengan berat hati izin pamit karena merasa tidak nyaman dengan Fatih yang mungkin sudah lelah menemaninya jalan-jalan. Ia juga khawatir jika ternyata di pesantren, kehadiran mereka sudah di nanti-nanti oleh Pak Kyai dan Ummi Zainab.
Satu yang menjadi ganjalan saat Renata berpesan padanya, "belajarlah mencintai suamimu, dia keliatan tulus banget Na, ya terlepas dari tengilnya dia," ucap Renata dengan mimik serius.
__ADS_1
Gadis itu terlihat lebih dewasa, katanya sudah mulai bekerja di suatu perusahaan Tambang, yang itu berarti Ghina tidak perlu menghawatirkan lagi kegalauan sahabatnya yang selalu curhat padanya belum menemukan pekerjaan yang tepat.
"Kenapa cepet-cepet pulang? bukannya kalian masih kangen-kangenan?" tanya Fatih sembari menyetir.
"Iya masih kangen sih. Cuma kamu juga pasti kangen sama keluargamu. Lebih baik kesana dulu, biar rindu kamu tuntas, aku kemarin sudah."
Fatih tersenyum karena Ghina ternyata begitu mengerti perasaannya. "Lain kali, kita berkunjung lagi ke tempat Renata. Bisa aja, setiap akhir pekan kita pulkam, kalau itu mau kamu Na," jelas Fatih.
"Jangan lah, kita harus fokus kuliah dulu Mas, sebulan sekali aja pulang kampungnya."
"Baiklah, aku akan ikuti kemauanmu."
Ghina tersenyum di balik punggung suaminya, semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang sang suami.
Benar saja dugaannya, keluarga Kyai Zhafran menyambut dengan bahagia kedatangan Ghina dan Fatih. Ada Nafisah yang tersenyum-senyum sendiri, bersama Syamila yang sedang sibuk bermain boneka di teras. Maheer tidak terlihat ada. Sedangkan Ummi Zainab terlihat berkaca-kaca matanya.
Kyai Zhafran, seperti tabiatnya, tersenyum tenang dan penuh wibawa. Fatih menyalami Abinya yang kini tatapannya lembut, tidak seperti tempo hari ketika menyambangi kosannya. Ghina mengikuti suaminya, menyalami Ayah mertuanya.
"Kamu itu selalu membuat ummi khawatir," kesal Ummi Zainab, menepuk-nepuk pundak anak laki-lakinya.
"Kalau benar kejadian itu fakta, Ummi benar-benar kecewa sama kamu," lanjut Ummi Zainab, menyinggung perihal permasalahan yang menimpa anaknya tempo hari.
"Buktinya aku disini sekarang dan masih sama istirku ummi," jawab Fatih dengan senyuman.
"Kamu itu loh bikin seisi rumah geger aja. Imran bahkan sampai datang berkali-kali ke sini untuk membicarakan permasalahan kalian, hingga Abi memutuskan untuk menikahkanmu saja sama wanita nggak jelas itu. Untung aja kami segera tau faktanya, kalau nggak, sandalku ini bakal merobek-robek wajah gantengmu itu," jelas Nafisah dengan menggebu-gebu.
Fatih meringis, "sadis betul ini emak-emak," katanya membuat Nafisah melotot.
"Dasar tengil, malu lah sama istrimu yang kalem itu, ck bisa-bisanya dia masih sabar dan nerima kamu," ejek Nafisah.
"Ghina, kamu sehat-sehat aja nak?" tanya Ummi Zainab memeluk menantunya. Ghina mengangguk.
"Sehat Ummi," jawab Ghina dengan senyuman. Setelah saling bersapa dan bersalaman, mereka masuk ke dalam rumah pak Kyai untuk melanjutkan obrolan.
Ghina kini sudah berada di kamar suaminya yang dulu sempat pula ia kunjungi saat mereka masih pengantin baru. Suasananya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah dari asesorisnya. Terlihat ada gambar ulama besar yang terpajang di dinding kamar, membuat Ghina mengamatinya lamat-lamat.
Suaminya belum masuk juga ke kamar, entah tadi pergi kemana bersama Maheer, ia tidak tahu, yang jelas ia kini dibiarkan untuk istirahat saja di dalam kamar setelah makan dengan keluarga besar.
Mendadak bosan, Ghina akhirnya keluar kamar, ia tiba-tiba rindu melihat taman belakang yang ada di kediaman Kyai Zhafran ini. Tempat dimana ia dan Fatih pernah bercengkrama saat awal-awal menikah.
Ghina terkejut begitu di sana ada orang yang menempati, itu suaminya dan seorang wanita entah siapa. "Siapa dia?" tanya Ghina.
__ADS_1
Hei hei, yang masih baca cerita ini sampai bab ini, komen-komen lah biar otor semangat🤭 sekarang udh mulai aktif nih di NT, soalnya udah mau ending cerita2 di pf lain☺️
btw, aku jadi kepikiran buat ceritanya Nafisah sama Maheer hihi, tp baru di kepala sih, menimbang2 dulu