
Fatih menatap datar dua orang yang tengah mengobrol di pinggir jalan itu.
"Tadi pagi, kamu denger namaku di panggil?" tanya Ghina dan membuat Ilham mengangguk.
"Ada apa emang?" tanya Ilham.
Ghina akhirnya menceritakan kronologi pemanggilan dirinya ke TU yang ternyata hanya untuk menemui Pak Sohib yang menanyakan tentang penginputan data rapot. Ia juga menceritakan perihal Fitri yang mengetahui tentang hal itu.
"Fitri, dia ada tanya ke aku cara daftar PTN jlaur gratis," papar Ilham. "Aku juga bilang kalau nanti kita yang input data, cuma ini rahasia aja."
"Ya allah, pantesan Ham." Ghina mendesah pelan. "Berarti dia yang ngelaporin aku."
"Maaf, aku kira dia bisa jaga rahasia Na. Bisa-bisanya setega itu."
"Nggak tau Ham. Aku kira, cuma kita-kita aja yang tau tentang ini."
"Maaf ya Na, Fitri itu 'kan temannya Sella, dia juga sering tanya-tanya tugas ke aku. Ya, aku kira dia anak baik-baik, ternyata bisa berbuat kayak gitu juga."
"Ya udahlah, semuanya udah terjadi. Yang penting, semuanya udah selesai. Pak Arman yang akan mengurus kesalahpahaman ini," ucap Ghina. "Aku pulang dulu, angkotnya udah datang."
Ilham mengangguk dan ia pun beranjak dari sana.
Fatih yang sedari tadi melihat mereka, lantas mengejar Ghina dan masuk ke dalam angkot.
"Pak, nggak jadi. Ayo Na!" ajak Fatih dan menarik tangan Ghina untuk turun dari angkot.
"Fatih!" pekik Ghina pelan. "Lepasin, kamu ngapain sih?"
"Pulang sama aku," balas Fatih enteng dan melepaskan cengkramannya pada lengan Ghina.
"Aku nggak mau. Sana pulang aja, Pak tunggu saya." Ghina kembali hendak menaiki angkot, namun lagi-lagi Fatih menahan tangannya.
"Kamu harus jelasin sesuatu ke aku Na," ucap Fatih. "Pak, jalan aja. Dia mau nebeng sama saya," teriak Fatih pada supir angkot.
Angkot berwana kuning itu pun pergi dan membuat Ghina berdecak kesal. "Maksa banget sih kamu. Aku harus jelasin apa coba?" tanya Ghina yang akhirnya pasrah dan menatap Fatih.
"Nggak ada," balas Fatih dengan senyuman anehnya.
"Tuh 'kan bohong. Kamu buang-buang waktu aku aja Fath," kesal Ghina.
"Aku liat kamu sama Ilham tadi ngobrol. Hati-hati, kalau keluargaku atau keluargamu liat. Bisa berabe nanti. Atau Wakasek yang udah tau kita nikah secara agama. Kamu mikir ke situ nggak sih?" tanya Fatih serius sambil berjalan mendahului Ghina.
"Tadi itu aku kecopetan, terus ditolongin Ilham. Angkotnya udah nggak ada, jadi dia sekalian nemenin aku buat nunggu."
"Tapi 'kan kamu bisa tunggu sendiri. Lagian, di sini rame juga, nggak sepi-sepi amat. Yang bahaya itu kalau kalian sengaja berduaan cih." Fatih berdecih pelan.
"Apa sih kamu ini Fath, udah aku bilang tadi kecopetan, Ilham juga cuma mau nemenin aku takut copet itu datang lagi. Gitu aja di ungkit, udahlah, aku capek, pengen cepet pulang." Ghina merasa Fatih seolah memonopoli dirinya, menyalahkan perbuatannya dan Ilham beberapa menit lalu, padahal ia dan Ilham hanya mengobrol.
Fatih berhenti berjalan, ia membalik badan dan menatap Ghina. "Jadi, mau nggak ikut pulang sama aku? kalau nggak, aku tinggal aja kamu di sini. Biar nunggu angkot selanjutnya."
Mata Ghina mendelik. "Ya nggak maulah, tega banget kamu."
Fatih terkekeh pelan. "Gitu dong, ikhlas ya ikut sama aku?"
"Iya cepet," balas Ghina dan mendorong dada Fatih.
"Eh, berani sentuh-sentuh?" goda Fatih yang membuat Ghina memelototkan matanya.
"Kamu mau beli apa?" tanya Fatih saat mereka hanya terdiam di perjalanan.
"Nggak ada," balas Ghina dari belakang punggung Fatih. Ia yang duduk menyamping, hanya memegang bagian jok belakang, tidak ingin berpegangan pada Fatih sedikit pun.
"Beneran? nggak usah malu-malu, bilang aja," ucap Fatih. "Jajanan pinggir jalan itu?" Fatih menunjuk beberapa stand jajanan ringan di pinggir jalan, mulai dari gorengan, pentol, batagor, hingga martabak.
Fatih menghentikan motornya. "Ayo pilih, aku traktir," katanya.
__ADS_1
"Ih ngapain sih, orang nggak pengen juga," tolak Ghina.
"Jangan sampai, pas nyampe rumah nyesel nolak tawaran aku. Cepet, pilih sana," titah Fatih.
"Heh, malah ngelamun." Fatih menegur Ghina saat gadis itu hanya diam sambil menatap stand jajanan itu.
Ghina akhirnya menuruti. Ia dan Fatih berjalan ke salah satu stand penjual. "Mau makan di sini, atau di bawa ke rumah?" tanya Fatih.
"Di sini aja. Aman 'kan?" tanya Ghina yang melihat ke sekeliling.
"Aman lah, kalau nggak ada temen-temen yang kenal kita. Kita ke saja aja, ada tenda nya tuh," tunjuk Fatih pada sebuah tempat yang digunakan untuk pembeli yang ingin memakan jajanan di tempat.
Ghina memesan batagor dan juga gorengan. Sedangkan Fatih, ia memesan martabak telor satu porsi. Minuman mereka sama, hanya es teh.
"Btw, itu nafkah pertama aku buat kamu." Fatih berkata santai sambil menikmati makanannya.
Namun beda dengan Ghina, gadis itu tersedak bahkan wajahnya sampai merah karena mendengar kata 'nafkah' dari Fatih.
"Hahaha, kenapa Na? hati-hati dong kalau makan. Baca do'a dulu."
Ghina tersenyum sebelah. "Udah kali."
Ghina melanjutkan makannya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Sebenarnya, baru pertama kali baginya makan berduaan dengan Fatih. Ia sebenarnya tidak ingin juga begini, tapi, karena ada hal yang memang ingin ia sampaikan pada laki-laki itu, akhirnya ia memilih untuk mencari waktu bersama Fatih.
"Fath," panggil Ghina yang membuat Fatih mendongak.
"Apa istri?" tanya Fatih dengan senyumnya yang membuat Ghina serasa ingin muntah.
"Jangan panggil aku itu, kalau lagi di luar," ancam Ghina sambil menengok ke kanan dan ke kirinya tidak nyaman.
Fatih tergelak. "Iya, kenapa?" ulangnya dengan ekspresi serius.
"Maaf, udah nuduh kamu." Ghina berkata pelan, ia sebenarnya gengsi untuk meminta maaf. Tapi, ia sadar perbuatannya tadi pagi berlebihan. Dan itu, dosa. Menuduh orang sembarangan.
Fatih hanya bergumam sambil memakan Martabaknya. "Maafin aku nggak?" tanya Ghina.
"Katanya sesama muslim harus saling memaafkan."
"Ya aku tau. Tapi, tetep aja nggak bisa."
"Fatih!" kesal Ghina. "Bukannya ngajarin istri yang baik-baik, tapi apa," protesnya.
"Oh, jadi sekarang udah ngerasa jadi istri ya?"
"Nggak tau ah."
Fatih tertawa pelan. Ia mengambil satu iris Martabak telornya dan menaruhnya di mangkok Ghina.
"Nih, makan itu. Nanti aku pikirkan lagi buat maafin kamu," ucap Fatih dan mampu membuat Ghina tersenyum. Ternyata semudah itu Fatih memaafkan, padahal ia menduga laki-laki jahil itu akan mengerjainya.
Ghina memakannya dengan lahap dan diam-diam membuat Fatih tersenyum. "Enak aja minta maaf semudah itu, ya nggak lah."
Ghina yang mendengarnya mendongak. "Bukannya kamu bilang, tadi udah maafin?"
"Siapa bilang? aku cuma bilang, nanti aku pikirin lagi mau maafin atau nggaknya."
Fatih tertawa dalam hati saat melihat wajah Ghina yang memerah karena kesal padanya. "Santai aja dong mukanya. Ingat, aku belum maafin loh."
"Kamu sengaja mau buat aku nggak bisa tidur?" tanya Ghina geram.
"Iya, biar mikirin gimana caranya agar aku maafin kamu," balas Fatih enteng.
"Fatih! aku sangat, sangat, sangat, sangat, minta maaf. Aku nyesel," ucap Ghina dengan mengulang kata 'sangat' berkali-kali. Berharap Fatih akan mengiyakan.
"Gimana ya?" Fatih mengusap-usap dagunya sendiri.
__ADS_1
"Ya udahlah, toh aku udah minta maaf, kamunya aja yang nggak mau maafin," sentak Ghina dan langsung cepat-cepat menghabiskan makanan di depannya.
"Eh, nggak ikhlas berarti minta maafnya."
"Kamu aja yang nggak maafin aku. Udah bener-bener minta maaf juga."
"Aku mau maafin, tapi kamu harus nurutin permintaan aku."
"Ih, jangan aneh-aneh deh Fath."
"Mau nggak? kalau nggak ya udah, biar aja gelisah sampai pagi karena suami nggak maafin."
"Ngancem nih?" cibir Ghina dengan mata memicing. Fatih mengangguk mantap.
"Iya bilang apa maumu?" tanya Ghina. "Tapi, jangan aneh-aneh. Allah aja nggak beri beban melebihi kemampuan hambanya."
Fatih menyeringai, "iya Ustadzah." Ide jahil pun tiba-tiba muncul di pikirannya. "Nih, cium dulu." Fatih menepuk-nepuk pipinya.
"Fatih!" pekik Ghina geram. Ia merasa kehabisan sabar jika terus berhadapan dengan laki-laki itu. "Aku mau pulang."
"Canda doang kok hehe." Fatih meringis, ia juga ikut berdiri dari duduknya dan menghampiri penjual jajanan untuk membayarnya.
Fatih menepikan motornya di halaman rumah Ghina. Ia juga ingin berkunjung ke rumah gadis itu untuk menyapa mertuanya setelah sekian lama.
"Masuk boleh nih?" tanya Fatih.
"Nggak boleh, kecuali maafin aku dulu," larang Ghina.
"Oke aku maafin," ucap Fatih akhirnya
Ghina tersenyum puas, karena ia tidak harus menuruti keinginan Fatih yang konyol hanya untuk meminta maaf.
"Nak Fatih, udah lama nggak ke sini, sibuk ya?" tanya Ibu mertuanya.
Fatih menyalami Narsih dengan takzim, ia tersenyum manis. "Maaf Bu, akhir-akhir ini emang rada banyak kerjaan. Kemarin habis UN, langsung ngurus-ngurus toko ATK yang di SMA."
"Oh pantes, tapi lancar aja 'kan?"
"Alhamdulillah Bu."
"Na, buatin suamimu minum."
Ghina hanya melirik malas ke arah Fatih dan berjalan menuju dapur.
"Gimana kabar Pak Kyai dan Ummimu?"
"Alhamdulillah sehat Bu. Cuma Abi aja yang sering kecapekan akhir-akhir ini, karena banyak agenda."
"Oh iya, bentar ya. Ibu baru dapat kiriman Jamu dari temen, lumayan ampuh untuk obat lelah," ucap Narsih dan melenggang menuju kamarnya.
Fatih hanya mengangguk. Ia duduk di sofa dengan santai. Datanglah Ghina membawa nampan dengan wajahnya yang cemberut.
"Kenapa mukamu gitu?" tanya Fatih mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau ada kamu tuh, bikin repot."
"Hahaha, nanti kalau udah serumah, aku bakalan lebih ngerepotin dari ini lho."
Ghina berdecih pelan, ia ikut duduk di depan Fatih, lalu menyalakan televisi.
"Nah, ini Jamunya. Nanti, diminum yang rutin, biar lebih cepat kerasa efeknya. Ibu minum ini udah seminggu, Alhamdulillah sakit pinggang nggak kumat-kumatan lagi," ucap Narsih dan menyodorkan kresek hitam yang berisi Jamu kepada Fatih.
Fatih manggut-manggut. "Terimakasih Bu, em bentar lagi masuk Ashar, kalau gitu saya pamit dulu Bu."
"Lah kok cepet banget? salat di sini aja."
__ADS_1
"Bu, Fatih 'kan terbiasa berjamaah, dia harus pulang," sela Ghina sebelum Fatih menjawab pertanyaan Ibunya.
"Oh iya, nggak papa Nak, kamu pasti banyak kerjaan juga ya di pesantren. Hati-hati kalau gitu."