
Fatih memarkirkan sepeda motornya di parkiran sebuah supermarket. Senyum tak lekang dari bibirnya, apalagi mengingat sepanjang perjalanan wanitanya menyenderkan kepala di punggungnya.
Kali ini, ia pun tidak menunda kesempatan untuk menggenggam tangan Ghina, begitu ia sudah menerima uluran helm. "Fath, lagi dimuka umum, aku malu," lirih Ghina yang masih dapat di dengar oleh Fatih. Namun, pria itu malah terkekeh dan semakin mengeratkan genggaman.
"Pegangan tangan masih wajar Na, asal nggak berlebihan, nanti setelah didalam baru aku lepas hehe," ucap suami Ghina itu dengan cengiran yang menghiasi bibir tebalnya. Ghina memutar bola mata, akhirnya hanya membiarkan telapak tangannya di genggam dengan getaran membuncah di dadanya. Ia tersenyum simpul diam-diam.
"Em, tapi kalau udah di rumah, berarti boleh ya pegang-pegang?" goda Fatih. Ghina yang mendengarnya, meremas tangan suaminya.
"Duh... enak banget pijitan istri walau ditangan, apalagi dibagian lain," ucap Fatih terkekeh. Ghina memutar bola mata jengah, tidak ingin meladeni suaminya yang mulai ngawur itu.
"Kamu nggak ngundang Ilham?" tanya Fatih begitu mereka sudah sampai ke kosan.
Ghina menghela nafas, perkataan terakhir Ilham saat di rumah sakit masih mengganjal di hatinya. Apalagi Fatih tahu. Bahwa ternyata Ilham masih mencoba memperjuangkan cintanya untuk Ghina. "Aku nggak bakal undang dia, kalau kamu nggak izinin," lirih Ghina. Mendengar hal itu, Fatih tersenyum simpul. Ia merasa senang, karena istrinya begitu menghargai dirinya.
"Sepanjang dia nggak macam-macam, aku izinkan dia. Toh, dia teman satu sekolah juga. Mantan ketua rohis lagi, justru kita bisa meminta dia untuk memimpin acara syukuran nanti," jelas Fatih.
"Kamu juga anak kyai, mondok pesantrena, kenapa nggak kamu aja?" tanya Ghina, membuat Fatih seketika tergelak. Sambil mengeluarkan bahan-bahan yang telah di beli, Fatih tam berhenti tertawa.
"Kenapa malah ketawa? kamu harusnya malu loh," cibir Ghina, ia mengeluarkan sayur mayur dari kresek hitam.
"Nggak semua anak kyai, lulusan pondok atau lulusan sekolah basic-nya Islam, yang mampu mimpin acara syukuran. Ya, mungkin dari bacaan mereka bisa, tapi mentalnya nggak kuat hehe." Fatih menggaruk tengkuk, begitu menyadari ia sedang menyindir diri sendiri.
"Oh begitu... kamu udah biasa ngajar 'kan?" tanya Ghina lagi.
Fatih mengangguk. "Iyap."
Ghina manggut-manggut. "Tolong kamu potongin kol, wortel, daun bawang ini dan seledri kecil-kecil ya. Aku mau nyuci ayamnya," ucap Ghina. Fatih menurut saja.
"Terus, kamu 'kan udah nggak ngajar lagi. Berkurang dong tenaga pendidik di sana?" Ghina kembali bertanya.
"Nggak, kalau memang di butuhkan, ya cari lagi guru baru. Biasanya, Abi jadiin santri berprestasi untuk jadi guru sementara, ngabdi lah istilahnya."
"Aku pengen jadi anak pondok," ucap Ghina dengan senyuman yang tidak dpaat dilihat Fatih karena pria itu sekarang sibuk menunduk ke arah talenan.
"Kenapa nggak mondok aja?" tanya Fatih.
"Em... itu setelah aku SMK. Nyesel sih ada, kenapa keinginan mondoknya pas udah terlanjur SMK, akhirnya ya di pendam aja keinginannya. Toh, sekarang kalau belajar Islam, bisa di tempat lain, jika memang nggak memungkinkan belajar di pondok," jelas Ghina.
Fatih manggut-manggut, baru tahu jika ternyata istrinya bercita-cita untuk masuk ke pondok pesantren, walau sekarang sudah terlambat. "Kamu emang suka banget belajar ya?" tanya Fatih.
Ghina tersenyum, "nggak juga. Sedikit lah. Karena menurutku dengan belajar, kita jadi tau apa yang sebelumnya nggak tau. Sewaktu SMP, aku belum begini Fath."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Aku masih membuka aurat," ujar Ghina. Ia teringat masa lalunya yang belum menutup aurat, kesana-kemari tanpa memakai pakaian yang sesuai syariat. Bahkan, Ghina sempat berpacaran.
"Terus?" Fatih penasaran akan kisah istrinya.
Ghina memotong-motong kecil bagian ayam yang akan ia olah. "Terus... ya begitulah, sekitar smp kelas tiga, aku ketemu temen yang ngajak aku buat hijrah. Kami juga sering adain pengajian gitu. Alhasil, aku jadi tau, kalau seorang wanita itu, wajib menutup aurat."
"Kamu langsung nutup sempurna?" tanya Fatih.
Ghina menggeleng, kini potongan ayam sudah selesai. Tangannya beralih mencomoti bumbu ke dalam cobek. Dan kini dirinya sudah duduk berhadapan dengan suaminya. "Nggak. Susah awalnya. Nggak biasa, Ibuku aja sampai bertanya-tanya kok aku jadi aneh gitu. Tapi, lama kelamaan Ibuku senang. Aku jadi semakin semangat." Ghina tersenyum mengingatnya. Raut wajah bahagia sang ibu terukir dalam bayangannya. Tidak ada bayangan sedih disana. Seolah apa yang menimpa sang ibu tidak pernah terjadi.
"Saat itu, akhirnya aku bertekad untuk istiqomah. Dukungan orang-orang sekitar emang penting, keluargaku mendukung, Ibu dan Kak Imran. Aku senang memiliki keduanya."
Fatih menghentikan aktifitasnya untuk menatap istrinya yang tersenyum. Ia kembali mengingat pesan dari Ibu mertuanya untuk jangan sampai membuat Ghina bersedih, karena perempuan itu sudah banyak menderita. Mengalami trauma kepada Ayahnya sendiri dan akhirnya tidak mengakui sang Ayah sebagai bagian dari keluarga. Ghina yang tak sadar sedang di tatap, sibuk mengulek bumbu.
Bawang dan cabai membuat mata Ghina berkaca-kaca. Ia meneteskan air mata, membuat Fatih sigap mengambil tisu dan mengusapkannya pada mata Ghina. "La tahzan, sekarang kamu punya aku."
"Hah?" Ghina tak mengerti maksud Fatih.
Fatih tersenyum. "Masa lalu yang pahit itu, bukan untuk di kenang. Kita harus fokus dengan masa depan."
"Ck, kamu lagi gombal maksudnya?"
"Ya Allah, mataku ini perih gara-gara bumbu, bukan masa lalu Fath." Ghina menggelengkan kepala, sudah kelewat jengah mendapati suaminya yang mendadak melankolis. Fatih, walau diluar terlihat anak bersemangat dan ramah, tapi di dalam penuh drama.
"Oh.. hahaha." Fatih justru tertawa, ia menertawakan kekonyolannya sendiri.
Ghina beranjak saat mendengar ponselnya berdering. Ternyata telepon dari sang ibu. "Ibu... aku kangen," ujar Ghina setelah menjawab salam.
"Gimana kabar kalian?" tanya Ibunya Ghina.
"Sehat Bu, ibu gimana? kemarin aku dengar Ibu sempat di periksa ke rs. Ibu drop lagi ya?" tanya Ghina.
"Nggak sayang. Ibu sangat sehat. Kamu lagi ngapain sekarang? nggak kuliah?" tanya Narsih.
"Udah selesai tadi, terus belanja untuk acara syukuran malam ini."
"Syukuran? kalian udah mau punya momongan?" tanya Narsih terdengar kaget. Ghina yang mendengarnya pun ikut kaget.
"Bukan Bu. Ini syukuran buat green house yang dibelikan Fatih buatku. Disini, aku jadi banyak kegiatan, disampingnya kuliah, aku lagi ngurus green houseku, mau nanam bunga, sayuran juga."
__ADS_1
"Oh alhamdulillah. Suamimu mana, kuliah?"
"Nggak, dia lagi di dapur, bikin bakwan," jelas Ghina.
"Loh loh, kamu suruh dia masak gitu?" tanya Narsih.
"Hehe... bantu-bantu Bu. Dia juga yang pengen bantu."
"Jangan terlalu menekan suami kamu. Kasian, dia biasa di layani di pesantren, eh malah di jadiin begitu oleh istrinya. Dia juga udah kerja, bisa nafkahin kamu, padahal diumurnya yang masih muda, jarang loh, ada laki-laki kayak gitu," jelas Narsih yang semakin kagum dengan menantunya.
"Ah Ibu bisa aja. Kalau dia denger, kepalanya jadi besar nanti," cibir Ghina.
"Kepala siapa yang besar?" suara Fatih di dekat telinganya membuat Ghina terkejut.
"Fatih!" kesalnya. Fatih malah nyengir.
"Aku mau ngomong juga sama Ibu," ucap Fatih. Ghina memberikan ponselnya.
"Fatih pengen ngomong sama Ibu," ucap Ghina. "Ya udah nih, kamu aja yang ngobrol, aku lanjut masak, nanti nggak selesai-selesai," keluh Ghina dan beranjak dari kamarnya.
Setelah berbincang dengan Ibu mertua yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri, Fatih kembali ke dapur. Ghina sudah selesai menggodok ayam. Istrinya itu mulai memasukkan bumbu yang telah diulek ke atas wajan dan mengaduknya dengan ayam yang beberapa menit sudah direbus.
Usai salat Maghrib, semua makanan telah siap sedia. Hanya tinggal menunggu tamu yang diundang. Ghina menarik nafas dalam-dalam, ternyata masak besar begini cukup menguras energinya. Ia melihat Fatih yang duduk di sofa sambil menatap lapotopnya. Ada inisiatif sendiri bagi Ghina untuk membuatkan minum untuk sang suami.
"Aku beli chocolatos tadi pas di supermarket, kamu mau?" tawar Ghina basa-basi, saat ia sudah membawa gelas berisi chocolatos matcha.
Fatih menoleh, tersenyum. "Boleh."
"Ini, untuk kamu. Minum ya," ujar Ghina, meletakkan gelas itu di meja.
"Makasih Na." Fatih kembali fokus. Ghina mengamati kegiatan suaminya, sambil menopang dagu. Ternyata rasa begini memiliki seorang pria di dalam hidup. Dan pria itu, bukan sekedar Kakak. Tapi, juga suami. Ia melihat guratan wajah serius itu. Jika sedang seperti ini, tidak terlihat sama sekali ketengilan suaminya. Fatih menjadi lebih dewasa.
Ghina menggelengkan kepala, menghapus segala kekaguman dirinya terhadap suaminya sendiri. Sejak kapan?
Fatih menoleh, mendapat istrinya geleng-geleng kepala sendiri. "Kamu kenapa Na? pusing?" tanya Fatih yang langsung khawatir.
"E-eh? nggak, aku nggak papa. Kamu udah selesai?" tanya Ghina. Fatih mengangguk. "Minum dulu," lanjutnya.
Fatih tersenyum, ia menyeruput chocolatos matcha buatan istrinya. "Makasih ya Na," ucap Fatih. Ia menatap istrinya lekat-lekat, membuat Ghina salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Ghina mencoba bertanya dengan nada setenang mungkin. Suaminya malah mendekatkan wajah. Membuat Ghina seketika berdebar.
__ADS_1
Yuhu... alhamdulillah bisa up lagi YMM, otor moon maap ya karena lambat up. Coz, lagi fokus nulis cerita yang lain. Yng punya aps joy, mampir ya ke cerita author disana, judulnya Dinikahi Dosen😘
Thanks... jan lupa like komen, biar otor semangat lanjut