
Semua siswa dan sisi SMK Angkasa berbaris rapi sesuai dengan kelasnya masing-masing. Pak Wakasek sudah berteriak-teriak lantang, menyuruh agar beberapa siswa yang tersisa di kelas untuk segera ke lapangan. Dan yang masih ribut di barisan untuk tenang.
Ghina mengambil barisan paling belakang kelasnya. Renata yang juga berdiri di belakang segera saja menghujani dengan beberapa pertanyaan.
"Kenapa jadi telat benget?" tanya Renata khawatir.
"Tadi penumpangnya banyak, beberapa kali berhenti," balas Ghina.
"Terus, gerbangnya tadi udah di tutup?" tanya Renata lagi.
"Kalau udah di tutup, aku nggak di sini sekarang Ren," balas Ghina malas.
"Oh iya ya." Renata meringis sendiri.
"Eh kemarin kamu kemana? kok nggak aktif aku chat?" tanya Ghina.
"Maaf nggak ngabarin kamu, kemarin aku ke Banjarmasin, kontrol kaki Ayahku," jelas Renata. "Emang ada apa?" tanyanya kemudian.
"Ilham nanyain, kalian udah nyari pemtarinya belum. Takutnya lupa, 'kan ini udah akhir bulan Februari."
"Ah iya." Renata menepuk jidatnya pelan. Ia meringis sendiri. "Lupa Na, untung aja diingetin. Nanti aku diskusikan sama divisiku ya."
"Iya, jangan kelamaan."
"Udah khatam 'kah ngaji kamu?" tanya Renata.
"Belum," balas Ghina.
"Sama, ini lagi halangan. Kalau nggak selesai, bantuin ya," mohon Renata dengan raut yang di buat sedih. Ghina hanya berdecak kesal.
"Iya."
"Iya dong, pahala juga," ucap Renata terkekeh.
Seorang siswa berdiri tegap di tengah lapangan. Terlihat peluh dari dahinya. Diam-diam Ghina memperhatikan laki-laki itu. Ia tersenyum kecil, sapaan Ilham tadi pagi entah mengapa membuat jantungnya masih berdebar hingga kini.
"Terlalu keliatan," bisik seseorang yang berdiri tak jauh dari Ghina. Laki-laki itu mengemut permen karet di mulutnya.
Ghina menoleh ke sebelah kiri, mendapati Fatih yang tengah menatapnya sambil cengengesan.
"Bisa diem nggak?!" ancam Ghina dengan suara yang lirih. Fatih di buat tertawa pelan membuat Riki yang berada di sampingnya ikut menoleh ke arah Ghina.
"Hai ustadzah!" sapa Riki pelan dengan senyuman. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Renata yang melihat Riki tersenyum aneh mendelik.
"Kenapa sih mereka itu Na?" tanya Renata.
Ghina hanya menggedikkan bahu. Dua sejoli itu memang teraneh di kelas, walau memiliki wajah yang lumayan di atas siswa lainnya.
Upacara diakhiri dengan pidato panjang dari kepala sekolah. Wakasek kini maju ke atas mimbar, menyebut satu-satu nama siswa maupun siswi yang melanggar aturan. Ghina dan Renata memutuskan untuk kembali ke kelas daripada melihat wajah malu murid-murid yang di hukum di tengah terik matahari.
Jam pelajaran setelah upacara kosong begitu saja. Padahal harusnya setelah berkeringat ria, mereka akan mengikuti kelas mengarangnya guru Bahasa Indonesia.
Kelas begitu gaduh, ada yang berteriak-teriak, menggosip, merias diri dan ada pula suara sumbang menyanyi. Di bangku urutan ke tiga dekat jendela, Fatih tengah memetik gitarnya dan Riki yang menjadi vokalisnya walau suaranya lebih hampir mirip kaleng rombeng. Ciri khas seorang laki-laki yang lambenya turah luar biasa.
"Panas kupingku," desah Ghina yang meletakkan wajahnya di atas bangkunya. Renata juga begitu.
__ADS_1
"Iya, makin capek rasanya. Padahal niatku tiduran di kelas. Tadi malam aku sampai rumah jam 12, untung aja nggak bangun kesiangan."
"Na, sebelum UN jalan-jalan yuk?" ajak Renata.
"Kemana?" tanya Ghina tak bersemangat.
"Setidaknya refreshing sebelum UN, jadi pas UN nya otak kita nggak buntu-buntu amat hihi," ucap Renata.
"Iya kemana tapi?" Ghina menegakkan kepalanya.
"Yang pasti bukan ke toko buku atau toko bunga. Kita ke pantai, gimana?" tanya Renata dengan mengecualikan kedua tempat yang sering mereka kunjungi jika ada luang di akhir pekan untuk liburan. Walau memang masih lebih sering intensitas berlibur di pasar, dengan berjualan gorengan, usahanya Ibu Renata.
"Pantai? panas lah," tolak Ghina.
"Loh, di sana silir, banyak angin. Enak sambil ngobrol lesehan, nikmatin air kelapa di padukan dengan pisang bakar?"
"Yang lain aja."
"Shopping? tapi duitnye." Renata merengut, bukan ia tidak suka berbelanja seperti remaja kebanyakan, tapi ia selalu harus bisa menahan pengeluaran untuk tabungan kontrol penyakit Ayahnya. Ghina yang melihat Renata bersedih, langsung paham.
Ia tersenyum.
"Ya udah pantai aja."
"Yes," girang Renata.
Tidak ada kejadian berarti, selain rutinitas menghabiskan mata pelajaran. Namun untuk hari ini, Ghina harus banyak menahan amarah karena beberapa kali Fatih mengganggunya. Apa laki-laki itu belum puas membalas dendam padanya? bukankah mempermalukan Ghina dengan foto aib itu sudah cukup?
Fatih, Riki dan juga Alim masih mengobrol di toko. Sesekali mata Fatih memperhatikan Ghina yang suda berdiri di pinggir jalan menunggu angkot.
"Yok sama aku aja," ajak Riki, ia menggaet ranselnya setelah puas menghabiskan thai tea yang dibelinya dari kantin. Alim juga sudah bersiap menutup toko, namun karena masih ada Bosnya ia merasa tidak nyaman.
"Motifnya apa coba? karena ustadzah?" tebak Riki, yang juga mengikuti arah pandang Fatih.
"Kendaraanku lagi di perbaiki," balas Fatih.
"Mbak Ghina memang ayu ya," puji Alim yang menbuat Fatih dan Riki serentak menatap laki-laki polos itu.
"Lim?" panggil Riki tak percaya, ia mendekat ke arah Alim yang masih berdiri sambil matanya menatap ke arah Ghina.
"Nggak boleh Lim, kamu masih kecil," larang Riki sambil menepuk bahu Alim. Sedangkan Fatih tertawa saja.
"Dia tau juga cewek cantik," komentar Fatih.
"Kemajuan Fath, semenjak sering sama kita," tebak Riki.
"Kamu yang ngajarin Rik," tuduh Fatih santai.
"Lah kok aku? temen cewekmu itu yang sering berkunjung ke sini, makanya Alim yang malu-malu jadi nggak tau malu," bela Riki yang tidak terima. Ia tidak mengajarkan hal-hal yang buruk kepada Alim, apalagi cewek. Karena ia tahu, Alim tidak terlalu suka membahas itu. Justru, bosnya Alim yang begitu. Mempersilakan fans ceweknya untuk berkerubung di tokonya. Dari sana, Alim sering kebanjiran kunjungan lawan jenis, walau tujuan kunjungan bukan padanya, tapi pada sang pemilik toko.
Satu spidol berhasil mengenai dahi Riki.
"Nggak tau malu mana, sama cowok yang suka gosip," sindirnya membuat Riki mendengus kesal sambil meringis karena kepalanya terasa berdenyut.
"Nah itu dia," ucap Fatih sembari beranjak dari duduknya. Sebuah angkot berwana kuning berhenti di pinggir jalan.
"Aku pulang, assalamualaikum," pamit Fatih pada Alim dan juga Riki yang menggeleng tak percaya. Entah apa yang ada di pikiran Fatih sampai lebih memilih angkutan umum daripada menaiki sepeda motor gede milik Riki.
__ADS_1
Fatih ikut masuk ke dalam angkot setelah Ghina. Dapat ia lihat, gadis itu duduk di dekat pintu keluar. Dengan sengaja, Fatih hendak duduk di sampingnya.
"Jangan duduk di sini!" pekik Ghina dengan mata melotot.
"Hahaha, yaya belum sah ya?" tanya Fatih dengan senyuman menyebalkan.
"Jauh-jauh sana!" usir Ghina kesal. Ia menaruh tasnya di kursi sebelahnya. Hanya ada mereka berdua sebagai penumpang. Sedangkan si sopir tampak tidak peduli dengan keadaan di belakang kemudi.
"Aku tau orangnya," celetuk Fatih yang kini sudah duduk menyilang kaki di kursi yang berseberangan dengan yang Ghina tempati.
"Nggak peduli," cuek Ghina.
"Masa? yakin?" tanya Fatih dengan senyum simpul.
"Dia yang nyeret pelakunya ke BK, ketua rohis yang terkenal berwibawa dan menjaga, parasnya lumayan, deket-deket akulah. Kayaknya dia nomor dua setelah aku di jurusan. Tadi pagi dia nyapa-"
Jantung Ghina berdebar cepat saat Fatih menyebutkan ciri-ciri seseorang itu. Jika bisa, ia ingin sekali menyumpal mulut laki-laki di depannya yang kelewat ember. Seseorang memang akan seperti temannya. Ya seperti Fatih, tidak jauh karakternya seperti Riki si lambe turah.
"Stop! bisa diem nggak?" Ghina memotong pembicaraan Fatih.
"Nggak, diemnya kalau di cium," ucap Fatih santai dan membuat mata Ghina mendelik tajam.
"Bisa nggak jangan mesum, kita cuma berdua loh Fath di sini, astaghfirullah." Ghina memperingatkan.
"Yaya bercanda lah. Playboy kayak gini, kalau berhadapan sama ustadzah, nggak beranilah," ucap Fatih terkekeh.
Ghina tersenyum sinis, Fatih mengakui kejahatannya sendiri. Ya, playboy memang cocok di sematkan untuk laki-laki itu. Betapa banyak perempuan yang sudah dia obrak-abrik hatinya, walau akhirnya semuanya tidak ada yang benar-benar serius.
Walau anehnya, selama sekelas dengan Fatih pun, tidak pernah mendengar kabar Fatih berpacaran, hanya berita tentang beberapa adik kelas yang mengaku pacarnya Fatih. Dan Ghina pun memang tidak pernah melihat Fatih bermesraan berdua dengan cewek. Hanya sering terlihat mengobrol bersama banyak cewek di temani oleh Riki.
Fatih menghentikan godaannya saat wajah Ghina benar-benar kusut. Tapi, entah mengapa ia merasa senang saja membuatnya seperti itu. Sesuai dugaannya, Ilham adalah laki-laki yang di sukai Ghina.
"Ukuran jarimu berapa Na?" tanya Fatih setelah mereka terdiam sepanjang perjalanan. Matanya menatap ke arah jemari Ghina.
"Mana ku tau," balas Ghina ketus. Ia tak ingin terlibat percakapan lagi dengan Fatih.
"Itu kamu pakai cincin, aku pinjem ya. Besok aku balikin. Kemarin 'kan kita nggak sempet beli. Daripada Kak Nafisah ngajakin kita untuk beli cincin, mau?"
Ghina baru ingat, kemarin mereka memang tidak sempat lagi membeli cincin, lagi pula karena kondisi tubuh Ghina yang memang tidak enak. Wajarlah, Nafisah tidak mengajak mereka langsung membeli cincin pernikahan.
"Baiklah, ini." Ghina melepas cincin sebagai hadiah dari Ibunya saat ia ulang tahun ke tujuh belas.
"Sama aja ya kiri maupun kanan?" tanya Fatih.
"Iya segitu ukurannya."
"Oke."
Angkot berhenti tepat di pinggir jalan. Ghina beranjak dari duduknya, saat ia hendak keluar, tasnya seperti ada yang menarik dari belakang. Ia mendesis pelan.
"Fatih! lepasin nggak? kamu makin berani ya sekarang--" ucapan Ghina terhenti saat ia melihat wajah Fatih yang menahan tawa di dalam sana. Laki-laki itu hanya diam tak berbuat apa-apa.
Nyatanya tasnya hanya tersangkut ke pegangan besi dekat pintu keluar.
"Ya Allah, malu-maluin," batin Ghina dan dengan segera mengeluarkan beberapa rupiah kepada sopir di depan.
Dukung cerita ini yuk dengan tap like, favorit, vote dan komen.
__ADS_1
Terimakasih.