
Dekorasi rumah mertuanya memang sederhana dan menyejukkan, dari tempatnya duduk saja ia masih bisa melihat bunga Anggrek yang menjuntai di letakkan tepat di atas rak kayu yang memanjang, menghalangi kamar mandi yang terletak di luar.
Tepat di depan rak kayu, ada sebuah ruang ukuran 3x3 yang khusus digunakan untuk Ibu mertuanya bekerja yang dihalangi dinding agar terpisah dari ruang tamu yang berisi sofa dan televisi.
Kini, Fatih terduduk di sofa sudah hampir dua jam. Gadis keras kepala itu tetap kekeh tidak mau diajak belajar bersama. Dengan pasrah, daripada di usir, akhirnya Fatih mengiyakan saja.
Beberapa buku dengan judul Prediksi UN berserakan di atas meja. Juga lembaran-lembaran soal bekas angkatan tahun-tahun lalu yang ia ambil di perpustakaan. Laptopnya masih menyala, tengah menayangkan proses instalasi Windows lewat aplikasi Virtual Box.
Terdengar salam dari luar, juga bunyi kunci gemerincing dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul dari sana.
"Loh, kok sendirian Nak? Ghina mana?" tanya Ibu mertuanya pada Fatih.
Laki-laki yang mengenakan kaos oblong dengan rambut yang sedikit berantakan itu hanya tersenyum. "Dia pengen istirahat di kamar Bu, katanya."
"Tapi, 'kan suaminya di sini, kok dia malah ke kamar sih? ya Allah Ghina." Narsih tampak menggeleng-geleng kepala, ia menaruh beberapa paper bag di meja ruang makan yang langsung terhubung ke dapur.
"Nggak papa Bu, Ghina juga kecapean. Kasian juga, sebenarnya kalau besok belum UN, lebih baik memang harus total di rumah," jelas Fatih lalu membereskan semua barang miliknya yang berserakan di mana-mana.
"Kamu nggak dibikinkan minum?" tanya Narsih dengan mata membesar. "Duh, maaf Nak, Ibu jadi nggak enak sama kelakuan putri Ibu sama kamu," sesal Narsih dan mengambil gelas lalu menyeduh teh.
"Nggak usah repot-repot Bu, saya juga mau segera pulang. Tadi, cuma nemenin Ghina aja. Takutnya dia butuh apa-apa kesusahan karena jalannya masih pakai tongkat," tolak Fatih halus.Tapi Ibu mertuanya menggeleng.
"Nggak, kamu minum dulu ya, makan-makan dulu cemilannya," titah Narsih yang sudah menyediakan minuman dan cemilan kue di meja.
Fatih tersenyum sungkan, Ibu mertuanya begitu baik padanya. "Terimakasih Bu," ucapnya.
Narsih balas tersenyum, ia mengamati aktivitas menantunya. Melihatnya dari atas ke bawah dan membuat Fatih malu sendiri. Merasa sedang dinilai.
"Nak," panggil Narsih.
"Iya Bu."
"Pasti Ghina kasar ya ke kamu?" tanya Ibu mertuanya serius, seketika Fatih tersedak, tak dapat di tolak lagi, tenggorokannya terasa ngilu.
Narsih tersenyum melihat tingkah menantunya. "Nggak papa, jujur aja. Kamu pasti kaget ngeliat kelakuan dia saat diluar sekolah?" tebak Ibu mertuanya dan benar saja memang itulah yang Fatih rasakan. Ghina di sekolah memang cenderung dingin, wajahnya datar, suka menegur tanpa basa-basi, dan jarang tersenyum, tapi di balik itu ia adalah cewek yang perhatian terhadap keadaan sekitar. Tidak membiarkan hal-hal yang tidak beres.
Tapi, setelah melihat kelakuan gadis itu di rumah, ternyata bukan hanya datar dan dingin, tapi omongannya juga lebih pedas daripada menegur di sekolah, tutur katanya hampir selalu kasar walau bukan jorok, tidak seanggun pakaian yang dikenakannya, dan keras kepalanya yang minta ampun. Ya, Fatih akui itu semua.
"Kalau mengoreksi kejelekan orang itu, nggak bakal ada habisnya Bu," ungkap Fatih jujur. Ia sedang tidak ingin berpura-pura membaguskan atau memuji tingkah laku Ghina di depan Ibunya. "Tapi, setiap orang itu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Saya, akan menerima semuanya dari istri saya, jika hal yang keliru terus di lakukannya, saya insyaa Allah akan berusaha meluruskannya. Dan kebaikan apapun yang dilakukannya, semoga dapat saya tiru dan pelajari dari dia."
Jawaban dari Fatih membuat mata bening milik Narsih berkaca-kaca. Hatinya begitu haru mendengar betapa dewasanya menantunya itu. Ia merasa benar-benar tidak salah memilih Fatih sebagai pendamping dari anaknya yang kekurangan kasih sayang baik dari Suami maupun dirinya.
"Misal aja, Ghina membuat kamu marah, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Narsih. Ia harus memastikan hal ini dulu, karena pengalaman masa lalu yang hingga saat ini masih menghantuinya adalah tentang sikap murka seorang suami terhadap istrinya. Ya, ia sudah sangat lelah menghadapi betapa kasar pria yang dulu ia cintai dan begitu lembut saat mereka sebelum menikah, tapi setelah menikah, tabiat aslinya ternyata bertolak belakang.
"Mengendalikan marah memang tergantung pribadi masing-masing Bu. Sulit emang, mengintrol amarah, apalagi di usia-usia kayak kami saat ini, pikiran juga belum dewasa, mementingkan ego. Cuma, yang saya tekankan pada diri saya adalah, saat marah, maka ingatlah kepada siapa saya marah, dia istri saya, orang yang seharusnya saya muliakan dan memperlakukannya harus dengan cara ma'ruf. Walau saya paham, marah kepada siapapun, tetap nggak dibenarkan berlaku zolim.
Jika memang, yang membuat saya marah adalah karena kekufurannya atau maksiat dia terhadap Allah, mungkin, saya akan pakai cara syariat menangani istri yang nusyuz. Wallahu a'lam Bu, saya manusia biasa, nggak bisa menebak masa depan. Bisa jadi, mungkin saya hari ini berkata begini, tapi siapa yang tau nanti. Yang jelas, saya hanya mohon do'a dari Ibu, semoga saya bisa menjaga istri saya."
Narsih semakin berkaca-kaca, bahkan bulir bening itu lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Ia begitu tidak menyangka, anak muda di hadapannya begitu tegas, lembut dan dewasa. Bagaimana bisa, kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya?
"Kamu, benar-baner menerima pernikahan ini?" tanya Narsih lagi. Ia harus benar-benar tuntas memantapkan hatinya untuk melepaskan anaknya nanti untuk Fatih.
__ADS_1
"Ikhlas atau nggaknya, itu memang urusan hati. Saya, hanya berusaha menjalankan pilihan yang saya buat sendiri Bu," balas Fatih. Memang benar, awalnya juga ia tidak bisa menerima. Pun, ia yakin, remaja di luaran sana yang memiliki nasib harus di nikahkan paksa seperti dirinya, juga akan kesulitan untuk bisa berdamai dengan apa yang terjadi.
Tapi, jika terus menerus terkungkung dalam keterpaksaan, maka bagaimana nasib rumah tangga ke depannya? apakah semua yang terjadi adalah hanya keterpaksaan? terpaksa melayani, terpaksa memiliki anak, terpaksa jadi ayah dan Ibu dan terpaksa lainnya.
"Terimakasih ya Nak, udah mau nerima Ghina sebagai istrimu. Yang harus kamu ketahui, dia menderita trauma berat," ujar Narsih pilu. Nafasnya naik turun. Ia berusaha untuk tidak menangis di depan menantunya.
"Dia, sangat membenci Ayahnya. Karena, dia sering menyaksikan Ayahnya berbuat kasar. Semoga kamu memahaminya Nak. Ibu, ingin kamu menjaga dia. Ibu nggak ingin, dia mendapat pria yang sama seperti Ayahnya."
Fatih tertegun mendengar penjelasan Ibu mertuanya. Ternyata selama ini, Ghina diam-diam mengalami trauma. Ia kembali teringat kejadian saat Lukman hampir menampar wajah gadis itu, terlihat sekali bibirnya bergetar tapi tak mengeluarkan air mata. Mungkinkah saat itu Ghina tengah ketakutan?
"Jadi, itu penyebab dia pingsan di lapas juga Bu?" tanya Fatih.
"Iya Nak, dia nggak pernah mau berkujung ke tempat Ayahnya berada. Dan, karena pernikahan kalian, akhirnya terpaksa, dia harus ke sana. Walau, dia bilang baik-baik aja, tapi ternyata nggak juga. Dia pasti hanya ingin membuat Ibu, kembali percaya padanya. Saat itu, Ibu sangat marah sama dia, karena foto kalian itu. Jadi, Ghina berusaha melakukan apapun, agar kemarahan Ibu reda."
"Ghina anak yang baik Bu. Saya yakin, dia mungkin sedang nggak enak perasaannya," ucap Fatih.
"Kalau, ada keburukan dari dia, dan kamu susah untuk nasihatin, bilang aja ke Ibu."
"Iya Bu," balas Fatih, kemudian menandaskan minuman di gelasnya. Sudah waktunya dia pulang, ada hal-hal lain yang harus ia kerjakan di Pesantren milik Abinya.
"Kamu ada kerjaan ya? kok cepet mau pulang?" tanya Narsih saat Fatih sudah mengenakan jaketnya.
"Iya Bu, ada jadwal ngajar habis Zuhur."
"Oh gitu, ya udah sampaikan salam ya ke Ummi sama Kyai, Ibu mohon maaf nggak bisa kasih apa-apa."
"Nggak papa Bu, nanti saya sampaikan."
Ia mengecek ponselnya, di layar Whatsapp sudah ada nama seseorang yang mampu membuat bibirnya terangkat ke atas.
Ilham : Sudah pulang ke rumah?
Ilham : Sibuk ya Na?
Ilham : Maaf kalau ganggu. Mengenai pembicaraan kemarin, aku minta maaf. Nggak seharusnya aku bilang gitu.
Ghina membaca pesan itu dan mengingat pembicaraannya via chat dengan Ilham saat masih berada di rumah sakit. Ilham mengatakan jika dirinya khawatir dengan keadaan Ghina dan ingin menjenguknya setiap hari, tapi Ghina melarang dan menanyakan alasannya. Tapi, tanpa Ghina duga, Ilham malah mengakui perasaanya yang sebenarnya.
Aku tau ini nggak boleh. Tapi, aku suka sama kamu Na. Aku nggak akan maksa kamu buat jawab. Lagian pacaran 'kan haram. Aku cuma nggak tahan kalau mendam perasaan, takutnya, jadi penyakit.
Setelah membaca pesan itu, Ghina tidak membalas lagi dan mungkin Ilham mengira bahwa gadis itu marah padanya. Padahal tidak. Dalam hati kecilnya, ada rasa senang yang menelusup dalam hatinya, saat mengetahui bahwa tidak salah ia menduga Ilham suka padanya. Walau, Ghina sendiri tetap akan memegang teguh prinsipnya untuk tidak pacaran.
Me : Iya baru pulang tadi pagi. Terus belajar dan ketiduran.
Ia melihat, tiba-tiba status Ilham online. Laki-laki itu mungkin sedari tadi menunggu balasannya.
Ilham : Jangan dipaksakan otakmu. Lebih baik, banyakin istirahat. Insyaa Allah, aku yakin Ghina Izzati mampu mengerjakan soal-soal itu.
Me : Kalau nggak gimana? aku nggak mau lah nilaiku biasa aja. Targetnya tuh, dapet juara 1-3 di salah satu mapel yang diujikan. Juga 'kan siapa tau jadi bahan pertimbangan nanti saat aku masuk kuliah.
Ghina memang sudah membahas tentang niatnya masuk sekolah lewat jalur gratis pada Ilham. Laki-laki itu juga ternyata ingin demikian, bahkan kampus mereka sama. Bukankah peluang untuk berjodoh semakin dekat?
__ADS_1
Ilham : Nilai UN 'kan nggak di masukin untuk pengisian PDSS. Yang penting, nilai rapot kita.
Me : Yap betul. Tetep aja, target ketua.
Ilham : Iya, aku mengalah.
Me : Do'akan semoga kita bisa masuk jalur gratis
Ilham : Pastilah, aku juga ingin. Soal kemarin, aku minta maaf🙏
Me : Gapapa, ketua juga manusia. Bisa khilaf.
Ilham : ☺️ Syukron ukhty
Me : Sama-sama
Keesokan harinya. Semua kelas sudah di atu dan kursi sudah di susun dengan rapi. Masing-masing ruangan berisi dua puluh siswa. Hari pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia.
Ghina sudah memasang kartu ujiannya di kerudungnya. Pin cantik dengan model kupu-kupu yang membuat kartu itu terpampang manis di sana. Tapi, ia harus sabar dan hati-hati, karena ini hari pertamanya masuk sekolah dalam keadaan memakai tongkat.
Imran sebenarnya sudah menawari untuk mengantarnya pagi-pagi. Tapi, Ghina menolak. Pria itu pasti sangat sibuk dengan pekerjaanya. Ia tidak ingin Imran tidak profesional. Setelah mengantar Mangga muda kesukaannya, pria itu langsung pergi lagi ke Messnya.
Sebelum Fatih menjemputnya, Ghina sudah mengirim pesan terlebih dahulu.
Me : Nggak usah jemput. Hari ini, aku mau naik angkot.
Kelinci Nyebelin : Nanti kamu kesiangan. Aku jemput aja.
Me : Aku bilang nggak usah. Kamu tau 'kan, pasti murid lain berangkat pagi-pagi juga. Nggak mungkin kali ini kita lolos dari penglihatan mereka.
Kelinci Nyebelin : Nanti aku bawa mobil Abi aja.
Me : Aku bilang nggak usah. Nanti apa kata mereka, aku sama kamu satu mobil?
Kelinci Nyebelin : Bilang aja, ngasih tebengan.
Me : Nggak. Titik!
Ghina turun dari angkot dengan hati-hati. Ia juga sebelumnya sudah mewanti-wanti supirnya agar tidak lambat-lambat mengemudikan mobil, karena hari ini, Ghina akan ujian. Pak Sopir dengan semangat dan aman memacu kendaraannya. Ia juga tidak ingin, anak sekolah terlambat Ujian Nasional.
Di depan gerbang, Renata sudah menunggu dengan cemas. Saat dari kejauhan terlihat seorang gadis berjalan tertatih, ia segera berlari menghampiri.
"Na, ya Allah. Aku khawatir banget sama kamu," ucap Renata. "Aku bantuin gimana nih?" tanyanya panik.
"Santai aja, aku udah mulai biasa pakai tongkat," ucap Ghina.
"Ya udah, sini aku bawakan tasmu," pinta Renata yang mendapat gelengan kepala dari Ghina.
"Jangan, tasnya nggak berat juga. Ayo cepetan masuk, kita seruangan 'kan?" tanya Ghina. Renata mengangguk.
Saat ia dan Renata hendak masuk ke sebuah ruangan. Matanya tiba-tiba bersitatap dengan netra teduh seseorang. Ghina merasa, keadaan jantungnya tidak baik-baik saja.
__ADS_1