
"Aku malu Ren." Ghina menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Malu sama siapa?" tanya Renata tidak mengerti.
"Sama Ilham, aku udah marah-marah ke dia. Bilang kalau dia yang ketua Rohis harusnya bisa membantu anggotanya yang lagi kena kasus."
"Ya Allah, Na. Hadeh," Renata menggeleng pelan, memilih menepuk pipinya. "Ilham itu laki-laki yang baik, wajarlah kalau Fitri juga suka. Aku juga suka. Bedanya kalau kamu 'kan cinta Na."
"Renata!" desis Ghina kesal.
"Coba liat mata kamu!" titah Renata serius. Ghina menatapnya heran.
"Nah, aku bisa liat ada pelangi di matamu. Kamu emang cinta sama Ilham Na," tebaknya seperti cenayang.
"Diem ah!" Ghina mengibaskan tangan. "Aku mau merenungi kesalahanku dulu."
Renata terkekeh, "Iya, kamu harus pikirin kapan buat minta maaf ke dia."
Kali ini, pulpen milik Ghina yang meloncat dan mengenai wajah Renata.
"Aw! ish sakit Na," ringis Renata mengusap-ngusap wajahnya pelan.
"Iya maaf."
Mata pelajaran terasa cepat berlalu. Kini Ghina dan Renata tengah berjalan di belakang kelas. Sengaja mereka lewat sana, untuk menghindari tatapan mencibir dari adik-adik kelas kepada Ghina.
"Besok, nggak usah jemput aku. Biar aku langsung ke pasar aja," ucap Ghina
"Tapi Na?" Renata keberatan tentu saja. Ghina selalu membantunya menjualkan gorengan Ibunya di pasar, tapi Ghina selalu menolak ketika mau dijemput.
"Biar kamu nggak bolak-balik, sayang bensin tahu. Kamu langsung bantu-bantu Ibumu aja. Tunggu aku di sana," larang Ghina.
"Iya. Yuk aku antar, mukamu pucat Na, kamu pasti sakit. Nanti pingsan di angkot." Renata menatap wajah Ghina khawatir. Terlihat, jika Ghina sedang tidak baik-baik saja.
"Nggak kok, aku baik-baik aja."
Sesampainya mereka di dekat gerbang, langkah mereka terhenti begitu mendengar tawa laki-laki dan perempuan.
Fatih dan dua orang cewek. Sesekali laki-laki itu menyesap Lollipopnya. Oh jangan lupakan, ada Riki juga ternyata di sana.
"Dia lagi tertimpa masalah besar, tapi masih sempat tertawa," decak Ghina. Renata ikut menggeleng-geleng.
"Sebenarnya dia merasa rugi atau di untungkan sih dari masalah ini? dia bahkan nggak ngerasa bersalah sama kamu Na," kesal Renata seraya meremas-remas jari tangannya.
"Eh Ghina dan ee..." Riki menggantung ucapannya, hanya menunjuk-nunjuk wajah Renata dengan tatapan mengejek.
"Apa lamtur? mau ngajak gelut?" tantang Renata yang memang bisa bersilat. Ia sudah memegang sabung Jambon di persilatan yang diikutinya dulu.
"Ayo kita gelut," ajak Riki dengan tertawa. "Tapi di kamar hahaha," lanjutnya yang membuat Renata mengambil benda apapun yang membuat dirinya bisa melempar wajah Riki.
"Dasar mesum!" umpatnya.
"Eh Fath! denger ya," Renata mengambil ancang-ancang. "Diem kamu!" ketusnya pada Riki yang menirukan gaya bicaranya dengan komat-kamit mulut.
Fatih mengangkat dagu, ia menyuruh Adik kelas yang merupakan fans beratnya untuk meninggalkan mereka.
"Apa?"
"Kamu nggak niat minta maaf gitu sama Ghina? kamu udah nyeret dia ke masalah kamu loh," tegas Renata sembari hendak berjalan mendekat. Tangan Ghina menahannya.
"Cukup Ren. Kita akan tahu sikap seorang yang punya hati dan orang yang hanya menggunakan hati sebagai simbol bahwa dia manusia."
"Nyindir Na?" Fatih terkekeh. Ia memainkan Lollipopnya.
"Orang yang merasa tersindir, itu artinya dia memang demikian. Ayo pulang Ren," tandas Ghina dan menarik tangan Renata.
"Aku kira kamu bakal tobat Na setelah ini. Tapi nyatanya, hadeh." Fatih mengigit Lollipopnya keras-keras dan melempar batangnya ke tempat sampah yang ada di sana.
"Tobat apa maksudmu Fath? seharusnya kamu yang tobat. Kenakalanmu itu kebanyakan nggak diketahui oleh keluargamu. Akhirnya saat fitnah itu ada, keluargamu jadi tahu kelakuanmu yang sebenarnya. Walau kamu akhirnya ngelibatin aku!" geram Ghina akhirnya keluar juga.
"Impas berarti kita?" tanya Fatih dengan seringaiannya.
"Maksudmu?"
"Kamu juga fitnah aku bawa rokok ke sekolah, ngerokok di sekolah. Padahal aku udah bilang itu bukan punyaku tapi punya Riki, tapi nyatanya kamu tetep bilang ke guru dan akhirnya aku di hukum! kamu lupa? itulah balasan untuk kamu, biar sadar. Jangan asal fitnah orang. Akhirnya kena fitnah balik!" tekan Fatih tajam. "Oh ya jangan lupa, awal aku mulai nggak suka sama kamu. Kamu nuduh aku nonton video biru juga dan akhirnya nggak bisa ikut pelajaran seharian." Fatih berdecak.
__ADS_1
"Ingat banget, semua itu memang ada sama kamu!" desis Ghina.
"Bullshit! orang yang merasa benar sendiri emang susah di nasehati. Rik, ayo pergi. Panas aku lama kelamaan di sini, rasanya pengen ngamuk!" ucap Fatih sarkas dan menarik kerah belakang seragam Riki.
"Eeeh, iya-iya. Dadah Mak Lampir," Riki berdadah ria dengan matanya yang menatap Renata.
"Dasar lamtur!" ejek Renata dengan suara keras-keras.
"Udah cukup Ren!" ucap Ghina gemas. Ia merasa memang harus sadar diri, mungkin Fatih waktu itu sudah ia fitnah. Benarkah rokok itu bukan milik Fatih?
Kalau memang bukan, berarti dirinya yang salah?
Ingatannya kembali berputar saat ia dan Fatih baru bertemu dalam satu kelas di kelas dua belas. Perkenalannya dengan laki-laki itu memang buruk. Baru pertama bertemu di kelas yang sama, Ghina sudah melaporkan Fatih yang membawa ponsel dan ia melaporkannya sedang menonton video biru. Dan benar, di ponsel yang ternyata milik Riki, itu memang berisi video tersebut.
"Nanti sore aku jemput ya Na," ucap Renata yang sudah mengambil sepeda motor beat putihnya dari parkiran. Sore ini memang jadwal eskul Rohis.
"Ih, rumah kita 'kan bertolak arah Ren." Ghina menggeleng.
"Nggak papa, sekalian aku mau singgah sebentar ke rumah temannya Ibuku, katanya mau ngembalikan angsul. Lupa, Ibuku nggak enak, kepikiran," Renata mencari alasan.
"Oh iya."
Ghina dan Renata akhirnya berpisah di tepi jalan. Ghina menaiki angkot berwarna kuning, ia langsung ikut berdesakan dengan beberapa penumpang yang untungnya cewek. Setelah angkot berhenti di tepi jalan gang rumahnya. Ia turun.
"Assalamualaikum."
Tidak ada sahutan dari dalam. Ghina menghela nafas, menduga-duga apakah sang Ibu masih marah padanya?
"Ibu..." panggil Ghina lagi setelah ia masuk ke dalam rumahnya. Suasana rumah benar-benar sepi. Konsidi mesin jahit masih sama seperti yang ia lihat tadi pagi. Tidak ada kain acak-acakan di sana. Itu berarti, Ibunya belum menyentuh benda itu sama sekali.
Tok Tok
"Bu... aku pulang," ucap Ghina setelah mengetuk pintu. Tidak ada sahutan dari dalam
"Ibu tidur?" tanya Ghina sembari menempelkan kupingnya di pintu bercat putih itu.
Masih tidak ada sahutan. Ghina memijat keningnya yang tiba-tiba pusing. Ia tidak tahan sebenarnya dengan sikap Ibunya. Ia rebahkan tubuh letihnya di kasur. Menghela nafas berkali-kali dan akhirnya ia menyambar ponselnya. Ingin memberitahu Renata, jika hari ini ia ingin izin tidak ikut ekstrakulikuler.
Ghina : "Kamu nggak usah jemput aku. Aku izin hari ini."
Ghina : "Sedikit."
Renata : "Ya udah istirahat aja. Nggak usah mikirin berita itu lagi. Toh, nanti sore bakal di klarifikasi sama Pak Adam."
Ghina : "Iya."
Renata : "Mau nitip ngomong ke Ilham?"
Ghina : "Apaan coba? nggak usah."
Renata : "Yaya, kali aja. Minta maaf atau bilang rindu eh, makasih maksudnya."
Ghina : (emot berwarna merah)
Setelah salat Ashar, Ghina memutuskan untuk membangunkan Ibunya yang sepertinya masih tertidur.
"Ibu... udah bangun?" tanya Ghina yang melihat Ibunya tengah menonton televisi di ruang tengah.
Ibunya hanya bergumam. "Ibu, masih marah ya sama aku?" tanya Ghina yang ikut duduk di sofa. Berseberangan dengan Ibunya.
"Ibu cuma kecewa sama kamu Na," ucap Ibunya tanpa menatap Ghina.
"Aku harus apa biar Ibu maafin aku?" tanya Ghina lirih, ia menatap nanar cemilan rengginang berbungkus tolpes di depannya.
"Ibu masih butuh waktu," ujar Ibunya. "Untuk maafin kamu."
"Ibu, tapi sekolah udah percaya kalau aku nggak--"
"Cukup, Ibu lagi nggak mau dengerin penjelasan apapun." Mata Narsih menatap anaknya tajam, kekecewaan masih terlihat jelas di sana. Ia menghela nafas dan beranjak dari sofa setelah mematikan televisi.
"Ibu sudah makan?" tanya Ghina mengalihkan topik, ia berusaha mencegah agar Ibunya tidak pergi dari sana.
"Kalau kamu laper, makan aja sana," ucap Narsih dingin. Tidak menjawab pertanyaan Ghina, membuat Ghina seketika mengeluarkan bulir bening itu lagi.
"Ibu, maafkan..." Ghina sesegukkan.
__ADS_1
Suara pintu utama yang terbuka membuat Ghina menyeka air matanya.
"Assalamualaikum."
"Loh, kok Kakak masih di sini?" tanya Ghina heran. Bukankah Kakaknya itu harusnya sudah pulang ke Messnya?
"Jawab salam dulu." Imran menoyor jidat adiknya pelan.
"Waalaikumussalam, Kak Imran cuti?" tanya Ghina lagi.
"Ibu mana?" tanya Imran tanpa menghiraukan pertanyaan Ghina.
"Ih ditanya dari tadi nggak jawab-jawab." Ghina yang kesal langsung mencubiti lengan Imran.
"Aw!" pekik Imran. "Aku ngambil cuti, beberapa hari. Makanya masih di sini. Kamu kira, setelah pertemuan dengan guru, masalahmu selesai huh?" ucap Imran dengan nada bergurau, namun ditanggapi oleh Ghina dengan wajah murung.
"Gara-gara aku, masalah ini bawa-bawa Kakak dan Ibu," lirih Ghina.
"Kamu habis nangis?" tanya Imran yang baru sadar, jika hidung adiknya sedikit memerah.
"Nggak, tadi bersin-bersin."
"Malaikat atid, catat ya keboongan Ghina," ucap Imran dengan wajah yang dibuat-buat serem, matanya melihat ke sisi kiri adiknya.
"Ih apaan sih Kak. Ibu lagi di kamar, kayaknya masih kurang sehat," jelas Ghina dan memilih menyalakan televisi. Menyandarkan punggungnya di sofa.
Imran hanya ber'oh' ria dan ikut duduk di sofa.
"Kakak nggak pulang sama sekali setelah dari sekolah?" tanya Ghina menegakkan badannya, lalu menangkup toples cemilan rengginang ia mengambil isinya dan memakannya.
"Nggak, Kakak reunian sama temen lama tadi," balas Imran.
"Oh, reunian atau ketemu calon?" tanya Ghina, tidak berniat menggoda sebenarnya. Tapi ternyata Imran salah menangkap, laki-laki itu justru melempar bantal ke arah adiknya.
"Ih Kak Imran! bukannya jawab malah lempar bantal!" kesal Ghina dan melemparkan balik bantal itu ke wajah Imran.
"Aku bilang reunian tadi," Imran tak kalah kesal.
"Ya udah sih, aku 'kan cuma tanya. Lagian, tuh calon di sembunyiin terus. Kapan coba mau seriusinnya. Bilangnya ke aku nggak boleh pacaran, eh Kakak malah pacaran diam-diam," sindir Ghina. Matanya menyorot ke arah Imran.
"Hush, kamu 'kan tahu Kakak nggak pacaran sama dia. Justru kami lagi saling menjaga," jelas Imran santai.
"Hadeh, kalau udah tahu perasaan masing-masing, apa namanya coba? hubungan tanpa status? ck, temeng doang," decak Ghina yang justru seperti menyindir dirinya sendiri. Entah mengapa ia merasa juga tengah seperti itu. Menjalani hubungan seperti itu, dengan Ilham.
"Sabar, Kakak masih perlu waktu," ucap Ilham. "Karena jadi suami itu nggak mudah."
"Iya tahu, selamat berusaha!" ketus Ghina dan pergi dari sana meninggalkan Imran yang sudah mengganti-ganti channel televisi entah ke berapa kalinya.
Setelah Maghrib, semua anggota keluarga berkumpul. Ghina masih dalam diamnya. Sedangkan Imran, masih sibuk dengan ponselnya.
"Bu, keluarga Kyai Zafran mau ke sini, malam ini," celetuk Imran tiba-tiba.
"Apa?" Narsih terkejut dan menaruh sendoknya di piring. "Kenapa nggak bilang Nak?" tanyanya.
"Kelupaan tadi hehe." Imran menggaruk tengkuknya. "Tadi aku dan menantu Pak Kyai sempat berbincang sebentar, katanya keluarga Pak Kyai mau nemuin kita secara langsung. Ada yang mau dibicarakan."
"Kira-kira, apa yang mau mereka bicarakan ya Im?" Narsih menatap ke arah Ghina sekilas yang masih terdiam dengan suapan di mulutnya. Lalu menatap Imran khawatir.
"Ya pasti seputar kasus Ghina dan Fatih. Ibu, tenang aja, ini cuma acara mengklarifikasi sesama pihak keluarga kok," ucap Imran.
"Ibu jadi nggak bisa tenang," ucap Narsih lirih.
Imran hanya memberikan senyum hangatnya pada sang Ibu.
"Ibu belum memaafkan Ghina?" tanya Imran, setelah mereka makan dalam keheningan. Imran menatap Ghina sekilas lalu beralih menatap Ibunya.
"Bu... kasian Ghina. Dia juga udah terpukul dengan berita itu. Belum lagi di sekolahan mungkin dia di buli habis-habisan. Setidaknya, kita sebagai keluarga dukung dia Bu," ujar Imran lagi yang tadi tidak mendapat respon dari Ibunya.
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar. Ghina mendongak, matanya menatap penuh tanya ke arah Imran.
"Biar Kakak yang bukain," kata Imran dan melenggang pergi. Tak lama ia kembali lagi.
"Keluarga Kyai Zafran diluar."
Hai....
__ADS_1
Aku mohon kritik dan sarannya dong buat cerita ini, atau setidaknya kalian vote + like daj comen ceritanya, biar aku tambah semangat lanjutin hehe...