
Semua anggota KSI sudah bersiap dan berkumpul di lapangan multiguna. Pak Adam sebagai pembina, memulai orasinya sekitar lima menit. Lalu di susul oleh ketua Rohis yang sudah lengser sebenarnya, Ilham.
"Alhamdulillah, walau ketua Rohis sudah tergantikan oleh saudara kita akhi Yusuf, tapi saya masih diberikan kesempatan untuk menjadi koordinator ziarah. Semoga, Allah meridhai kita semua."
Para mata baik cewek maupun cowok menatap Ilham dengan takjub. Selain wajah rupawan, suara berat, laki-laki itu memang selalu memikat dengan gaya bicaranya yang berwibawa.
"Karena tatib, semuanya sudah pegang masing-masing, jadi saya kira nggak perlu lagi dibacakan. Hanya saja, saat ada yang melanggar nantinya, tolong sesama saudara kita saling mengingatkan."
"Siap ketua!"
"Kalau ada kendala, atau keperluan apapun dari pihak ikhwan, silakan langsung lapor ke saya. Dari pihak akhwat, silakan lapor ke ukhty Ghina Izzati. Baik Pak Adam, sepertinya semua sudah siap, langsung berangkat?" tanya Ilham menatap pembina Komunitas Studi Islam itu.
"Iya Ham, kita berdo'a dulu. Semuanya siap-siap. Hasyim, silahkan pimpin do'a," titah Pak Adam sambil mengedarkan pandangannya.
"Gimana?" Renata mengerling jahil sambil menyikut pelan lengan Ghina. Mereka kini tengah bersandar di kursi bis khusus bagian akhwat.
"Apanya?" Ghina menoleh kesal ke arah Renata.
"Itutuh, bukunya, udah di baca bareng Fatih? lancar nggak?"
Rasanya ingin sekali mencomot mulut Renata yang sekarang makin berani beromong tak senonoh. "Biasa aja."
Mata Renata melotot. "B-biasa gimana? rasanya gimana?" gadis dengan alis tipis itu menegak ludah. Menunggu jawaban dari penganten baru.
"Apa sih? ya baca buku, gimana rasanya emang? kaya nggak tau aja." Ghina memejamkan mata, karena kepalanya mulai pening.
"Ih, itu malam pertama, hungan suami--" belum sempat Renata menyelesaikan kalimatnya, Ghina sudah menutup mulutnya.
"Diem, jangan omongin di sini Ren. Ada adek-adek tuh, nanti mereka denger gimana. Kamu ini, belajar mesum dari mana huh?"
"Hehe, ya 'kan gini-gini udah belajar tentang rumah tangga. Biar nanti, kalau ada yang lamar, udah siap sedia. Secara ilmu, fisik dan mental huhu." Renata mengangkat tangannya ke atas, membentuk piramida. Seolah memperlihatkan otot tangannya yang tak terlihat karena tertutup gamis.
"Rahasia ranjang itu, nggak boleh diceritain ke orang," ucap Ghina pelan dengan mata terpejam. Renata langsung menghadap temannya itu.
"Beneran? ih, tetanggaku yang baru nikah itu, sama temen-temennya ngomongin itu biasanya."
"Lah kamu nguping?"
"Ya iyalah, ngomongin yang hot gitu, siapa yang nggak penasaran. Ayolah, saya masih abege, penuh rasa penasaran yang tinggi."
"Pantes, jadi mesum. Kebanyakan dengerin yang aneh-aneh tuh. Lagian ya, ngapain juga perkara privasi di ceritain ke orang. Kalau nanti orang yang denger cerita kita, malah ngiler, gimana? bayangin yang nggak-nggak gimana? parahnya, bayangin bisa 'itu' sama suami atau istri kita? ih ogah."
"Oh begitu. Jadi, aku nggak bisa tau ya, kekuatan Fatih di ranjang. Eh, astaghfirullah, mulut mulut ini." Renata menepuk mulutnya berkali-kali. Tak habis pikir, semakin usia bertambah, lidahnya susah untuk dikontrol.
"Udahlah, nggak usah bahas lagi. Nanti, kamu juga bakal rasain."
"Iya deh, nanti aku tergoda." Renata mengerucutkan bibir dan ikut terpejam pula.
Acara haulan yang diadakan selepas salat Maghrib berjamaah, lalu jeda saat salat Isya itu berlangsung dengan penuh kekhusyuan. Walau terdengar ramai-ramai orang berzikir, tetap saja orang-orang yang mengikuti, banyak yang sampai menangis.
Setelah zikir dan membaca al-qur'an usai. Dilanjut dengan ceramah keagamaan yang dilakukan oleh salah seorang tokoh ulama besar hingga dua jam. Ghina dengan semangat mencatat di buku diary miliknya, sedangkan Renata, mencatat di aplikasi notes ponsel.
Renata berkali-kali menguap, matanya mulai berkunang-kunang.
"Tahan Ren, bentar lagi selesai," ucap Ghina saat mendapati Renata mulai kuyu.
"Ya Allah, denger ceramah agama malah ngantuk, giliran nonton film, eh tahan berjam-jam. Sedih ih, banyak dosa aku." Renata mengeluh sendiri, sambil mengucek mata.
"Ya udah, istighfar." Ghina memberi saran. Mereka kini sedang duduk di terpal tepat dihalaman Masjid.
Haul Datu Kalampayan memang tidak semeriah dan seramai Abah Guru Sekumpul, sehingga para jamaah yang ikut, biasanya sampai tidak bisa ke suffah masjid, saking banyaknya lautan manusia.
Anggota KSI menginap di rumah saudara Pak Adam yang kebetulan ada di Martapura. Sedangkan laki-lakinya menginap di rumah salah seorang teman Pak Adam.
Suami Ganteng : Nginep dimana kamu?
Mata Ghina melebar begitu mendapat pesan dari Fatih. Bukan karena isi pesannya, tapi nama kontak laki-laki itu yang berubah. Pasti sudah dia ganti namanya. Batin Ghina kesal.
Ia tengah berbaring di kasur lebar yang memuat lima orang. Teman-temannya khususnya Renata, sudah terlelap di sampingnya. Sedangkan Ghina, matanya padahal lelah, tapi ia sulit tidur di tempat baru.
Me : Di rumah saudara Pak Adam
Suami Ganteng : Sama ikhwannya juga?
Me : Ya nggak lah.
Suami Ganteng : Mau aku jemput? kita nginep di hotel.
Me : Nggak usah. Aku disini aja sama Renata dkk
Suami Ganteng : Oke. Hati-hati di sana. Mau pesen buku apa? besok, aku mau ke gramedia banjarmasin sekalian.
Me : Novel Tere Liye yang judulnya 'Tentang Kamu'
Suami Ganteng : Oke. Na udah mau tidur?
Me : Iya, kenapa?
Suami Ganteng : Kangen banget.
Me : Gelay
Suami Ganteng : Ciye yang lagi senyum-senyum. Ngaku aja.
Me : Apaan sih.
Suami Ganteng : Vc ya? pengen liat wajah bidadariku.
Me : Nggak ada kerjaan emang kamu ya Fath.
Suami Ganteng : Aku punya kerjaan. Mikirin kamu.
Me : Udahlah, aku mau tidur.
Suami Ganteng : Kamu boleh mimpikan apapun, selain mimpiin Ilham. Bagusnya mimpiin aku.
Me : Read
__ADS_1
Tidak terasa, akhirnya semua rombongan sudah kembali ke sekolah. Perjalanan dari Martapura mulai dari jam delapan, hingga sampai ke Jorong sekitar pukul sebelas.
Setelah saling bermaaf-maafan dan mengucap selamat tinggal. Semua anggota membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing, termasuk Pak Adam yang tampak masih kelelahan.
"Na, kamu mau naik angkot aja?" tanya Ilham begitu ia mendapati Ghina masih berdiri di depan gerbang. Renata sudah pulang beberapa menit yang lalu.
"Iya Ham. Nunggu angkot, bentar lagi juga."
"Em, gimana pernikahan kamu?" tanya Ilham. Ghina menatap ke arah lain, ia hanya berdua dengan Ilham, rasanya dadanya tak berhenti berdetak. Namun, entah mengapa, saat ini seolah ada sekat yang menjulang tinggi antara dirinya dan Ilham.
"Na? kamu ngelamun?" interupsi Ilham yang tak mendapat jawaban apapun.
"Eh, kenapa tadi ketua?" Ghina tersenyum canggung. "Oh itu, alhamdulillah, layaknya pengantin baru. Aku jadi malu lah, kalau ngomongnya sama kamu."
Ilham terkekeh. "Ngapain malu, aku sebagai mantan ketua KSI, pengen tau dong gimana pernikahan anggotanya berjalan." Setelahnya, mereka sama-sama terdiam.
"Kalau, kamu nggak bahagia, kenapa masih mau sama dia?"
Mendengar pertanyaan itu, Ghina menoleh. Tatapan Ilham menyiratkan luka dan memelas.
"Kenapa ngomong gitu?" tanya Ghina dingin. Berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri, yang membenarkan ucapan Ilham.
"Keliatan dari gelagat dan mata kamu."
"Ketua, kamu harus banyak nundukkan pandangan," nasihat Ghina, sambil membuang muka. "Kalau nggak ada yang penting lagi, ketua bisa pulang duluan."
"Jujur, aku ngerasa ada yang gak beres sama pernikahan kalian Na."
"Terus?"
"Bener 'kan berarti? kalian terpaksa aja 'kan? di jodohin 'kan?"
Ghina tertawa sumbang, ia menatap Ilham dengan mata berkaca. "Lagian, siapa yang bisa nolak, di jodohin sama anak Kyai? semua emak, kayanya pengen mantu anak kyai."
"Kalau dia nyakitin kamu, bilang ke aku Na. Aku siap, jadi benteng bagi kamu."
"Kamu tuduh Fatih nyakitin aku?" tanya Ghina dengan alis bertaut. Walau bagaimana pun, ia sebagai istri harus menjaga kehormatan suaminya, apalagi Ilham seolah menerka bahwa Fatih akan berbuat kekerasan padanya.
"Aku cuma waspada, kamu juga tau gimana sifat dia 'kan?"
"Dia nggak pernah mukul wanita Ham."
"Iya aku cuma takut. Karena dia pernah mukul kamu waktu itu."
"Itu nggak sengaja ketua."
"Jadi, kamu belain dia? apakah rasa itu sudah berpindah Na?" tanya Ilham dengan suara lirih.
"Udahlah ketua, kayaknya omongan kita mulai nggak pantes. Aku duluan, mau ke depan nyetop angkot."
Ghina melengos dan beranjak meninggalkan Ilham setelah mengucap salam. Laki-laki itu menatap kepergian wanita yang menempati hatinya dengan sendu. Jika saja, Ghina mau jujur, ia akan benar-benar memperjuangkan gadis itu hingga benar-benar terlepas dari Fatih.
"Wa'alaikumussalam, loh kamu kok pulang ke sini?" tanya Narsih saat mendapati anaknya di ambang pintu tengah menatapnya penuh kehangatan.
"Ibu, aku kangen." Ghina segera memeluk ibunya. Beberapa hari tidak bertemu, membuat rasa hampa di sudut hatinya. Begitu pula Narsih, ia merasakan betapa sepinya tidak ada putrinya di rumah.
"Suamimu mana?"
Narsih manggut-manggut, dan memeluk putrinya sambil berjalan ke sofa. "Na, kalau Fatih mau, suruh dia nginep di sini aja selama kalian nunggu untuk berangkat kuliah."
Ghina tampak berfikir. "Iya bisa aja Bu. Tapi, Fatih 'kan punya kewajiban di pesantren? em nanti aku bicarain sama dia."
"Gimana bermalam di pesantren, betah 'kan?"
"Iya Bu. Keluarga Kyai sangat baik dan ramah. Cuma, akunya aja yang canggung dan susah berbaur hehe." Ghina memijat punggung tangan sang Ibu. Mereka saling tersenyum.
"Bahagia 'kan sama Fatih?"
Ghina menatap sang Ibu, berusaha agar rona wajahnya tak berubah. Ia berdehem pelan, "ya bahagia seperti pengantin baru kebanyakan Bu. Ih, aku malu." Ghina membuang wajah seolah tengah bersemu, padahal tidak.
"Kalian udah?"
"Hah? Ibu ngomong apaan Bu. Udah, nggak usah dibahas Bu."
Narsih hanya tersenyum, ia mengusap kerudung putrinya dengan gemas. "Iya ibu ngerti. Nggak papa kok, itu 'kan memang hal yang wajar dilakukan suami istri. Bentuk nafkah batin dari suamimu dan kewajiban bagi kamu melayani dia. Untuk urusan momongan, Ibu nggak akan tagih-tagih. Kalian masih muda, jika pun ingin fokus dulu ngejar cita-cita, nggak ada salahnya."
"Iya Bu, aku pengen raih impian dulu. Kuliah bener-bener dulu. Baru mikirin punya anak."
"Nah, itu dia. Pokoknya apapun rencana kalian ke depan, selalu lah saling komunikasi ya, jangan sampai satu sama lain nggak terbuka."
"Iya Bu. Makasih Bu. Aku mau istirahat Bu. Masih pusing habis perjalanan."
"Iya, nanti Ibu antar teh hijau ke kamarmu."
"Makasih Bu. Sayang deh." Ghina kembali memeluk sang Ibu.
Sampai di kamar, Ghina merebahkan diri. Ia menatap langit-langit kamarnya. Kejadian saat Fatih ingin menciumnya terngiang. Kepalanya menggeleng keras. Dalam hati, merasa khawatir jika malam ini Fatih pulang dan menginap di rumahnya. Setelah itu, hari-hari berikutnya dan seterusnya, ia bakal sering melihat wajah itu setiap saatnya.
"Sejak kapan aku jadi mikirin dia?" batin Ghina kesal. Ia menggulir layar ponselnya, melihat beberapa chat yang masuk. Salah satunya dari Ilham.
Ilham : Maaf soal omonganku tadi Na.
Me : Iya ketua, nggak papa.
Ilham : Udah sampe?
Me : Udah
Ilham : Fatih ada di sana?
Me : Dia masih di Banjarmasin.
Ilham : Aku liat nama Fatih di dokumen kelulusan SPAN PTKIN
Me : Masa'? aku kok nggak tau
Ilham : Iya aku juga kaget Na. Dia nggak bilang-bilang kamu? bukannya mau ke UNISKA, ya?
__ADS_1
Me : Iya dia mau ke UNISKA, soalnya akreditasi jurusan IT di sana A.
Ilham : Ya mungkin karena istrinya. Kamu harusnya seneng, sekampus sama suami 'kan?
Me : Iya. Ya udah ketua, aku mau istirahat.
Ilham : Iya.
Pukul delapan malam, terdengar bunyi sepeda motor diluar. Ghina yang asyik menonton tv, langsung beranjak, dan menyibak gorden untuk melihat siapa yang datang. Ia kira Kakaknya, ternyata suaminya.
"Wa'alaikumussalam." Ghina membukakan pintu dan melihat Fatih yang berdiri dengan wajah sumringah, walau tersirat guratan lelah di bawah remang lampu. Ah, walau ia terkejut, tapi harusnya segera sadar, bahwa lambat laun, sang suami akan datang dan menginap di rumahnya.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Ghina mempersilakan Fatih untuk masuk.
"Nggak cium tangan gitu?" tanya Fatih begitu dia sudah duduk di sofa.
"Males lah. Nggak ada yang liat juga."
"Eh, jadi kemarin pagi itu salim nggak ikhlas?"
"Iya kenapa emang? ikhlas nggak ikhlas 'kan hati aku yang tau."
Fatih menggelengkan kepala. "Juteknya udah mulai," katanya sambil celingukan. "Ibu mana?"
"Kalau udah isya, Ibu langsung istirahat di kamarnya," jelas Ghina yang masih berdiri. "Mau aku bikinkan minuman apa?"
Fatih tersenyum kecil. "Wah nawarin nih." Ia memegang dagunya sendiri. "Bikinin teh anget aja, kepalaku agak pusing, tadi kena angin malam di jalan."
"Sampe ke pesantren jam berapa emang?"
"Sebelum isya. Terus salat, langsung ke sini."
Ghina manggut-manggut lalu melangkah ke dapur dan merebus air hangat. Tangannya cekatan mengambil gelas, lalu menuangkan satu teh celup ke dalamnya. Ia melirik ke arah sofa, ternyata Fatih merebahkan diri di sana.
"Kalau kamu mau tiduran sampe besok di sofa, aku nggak papa kok." Ghina menaruh teh di meja. Fatih terbangun.
"Jangan dong, kasian suamimu yang kurus kering ini. Btw, makasih tehnya." Fatih meraih gelas berisi teh, dan menyeruputnya pelan.
"Kamu mau nginep di sini?" tanya Ghina yang diangguki cepat oleh Fatih.
"Boleh 'kan?" tanya Fatih karena istrinya hanya terdiam. Dalam hatinya tentu bertanya-tanya, apakah Ghina masih belum bisa mengizinkan ia untuk menginap dirumahnya? padahal, mereka sudah sah secara agama maupun negara. Apalagi yang dijadikan pertimbangan?
Nafasnya berhembus lega saat melihat Ghina yang mengangguk.
"Sepi ya?" komentarnya saat ia maupun Ghina sama-sama terdiam. "Selalu gini, tiap hari?" tanyanya.
Ghina mengangguk. "Ya inilah keluargaku. Beda sama kamu, selalu ramai, karena banyak anggotanya."
Fatih terkekeh pelan, lalu meletakkan gelas dan menatap Ghina. "Jam berapa kamu sampe sini?"
"Jam sepuluh."
"Sana istirahat, kalau kamu udah capek. Duluan aja, nanti aku nyusul ke kamar." Fatih mengisyaratkan dengan dagunya agar Ghina masuk ke kamar.
"Ck, harusnya aku yang bilang gitu. Emang itu kamarmu huh?"
"Iya dong, kamar istri, kamarku juga."
"Kamu mau ngapain emang di ruang tamu?"
Fatih hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Ghina. Ia melangkah ke dapur, lalu menaruh gelas di wastafel, ia mengambil spons dan mencucinya.
"Eh, nggak usah. Biar aku aja," sela Ghina dan mencoba merebut spons dari tangan Fatih.
"Diem, gak usah bawel." Fatih mendorong pelan tubuh Ghina yang menyerempetnya dari samping.
"Ih, nanti kalau tiba-tiba Ibu lewat, dikirain aku istri durhaka."
"Kayaknya semuanya kamu lakuin demi penilaian dari orang lain ya Na?" tanya sang suami tanpa menoleh.
Pertanyaan Fatih terasa menohok hatinya. Apakah benar selama ini, dia hanya bersandiwara dalam mentaati suaminya? Ghina terdiam.
"Bercanda. Udah jangan cemberut gitu dong," interupsi Fatih saat melihat istrinya hanya bengong. Ia menaruh busa di hidung istrinya dan membuatnya tertawa sendiri.
"Fatih!" kesal Ghina karena bisa ia pastikan hidungnya cemong oleh busa.
"Kamu sih, malah bengong tadi. Mikirin apa huh?" tanya Fatih. "Biasanya seorang Ghina selalu serius, lurus, tajam, nggak cengo kayak tadi."
"Nggak tau ah. Aku mau ke kamar."
"Kamu ikut SPAN, daftar ke uin juga?" tanya Ghina begitu mereka sudah berada di kamar.
"Tau dari mana?" tanya Fatih dan meletakkan ranselnya di meja belajar Ghina. Ia menelisik setiap lekuk dekorasi kamar sang istri yang tampak feminim.
"Aku liat nama kamu di dokumennya. Salah satu mahasiswa yang di terima di jurusan TI. Kenapa, berubah pikiran? gara-gara kamu harus bayar UKT aku?"
"Gak ada hubungannya sama UKT kamu Na," ucap Fatih, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang dan terduduk di pinggirannya, sama seperti sang istri.
"Dengar," katanya. "Aku milih sekampus, karena biar memudahkan kita aja. Jadi, nggak LDR banget. Bisa ketemu di kampus dan di rumah hihi." Fatih terkekeh diakhir. Ghina pikir Fatih akan bicara serius, tapi ternyata hanya gombalan.
"Eleh, alesan. Nih." Ghina menyodorkan bantal.
"Kenapa?"
"Tidur di sana," tunjuk Ghina ke sofa kecil yang bahkan jika dipakai meringkuk pun, sepertinya sulit.
"Tega ya sama suami," keluh Fatih, ia tidak menolak sama sekali dan menerima pemberian bantal dari Ghina.
"Iya tegalah. Dari pada kamu macem-macem nanti."
"Su'uzon terus nih sama suami."
"Emang bener kok, kamu nggak lupa 'kan apa yang mau kamu lakuin kemarin pagi di kamarmu?"
"E-m lupa gak yah?" Fatih justru menggodanya dari arah sofa. "Pengen ulagi lagi, sekarang."
"Fatih!"
__ADS_1
Fatih segera loncat ke sofa kecil, dan menelungkupkan badannya sendiri di selimut yang Ghina berikan.
Yuhu, otor datang lagi... rencana pengen bikin trailer cerita ini, tapi.... em masih rencana hihi.