
Hari demi hari dilalui Lita dengan penuh semangat. Karena Wanita cantik itu, kini menanggung beban harus menghidupi anak dan juga orang tua.
Ya, walaupun bukan orang tua kandung, tapi Lita sangat menghormati dan menyayangi mbok Robiah dan menganggapnya, seperti orang tua sendiri. Apalagi, dirinya sudah menjadi yatim piatu dari sejak kecil.
Itulah yang membuat Lita begitu memperlakukan Mbok Robiah dengan sangat spesial. karena mereka berdua, memiliki nasib yang hampir sama. Yaitu, sama-sama ditinggalkan oleh orang-orang tersayang mereka.
" eh maaf nyonya, Hari ini kita mau membuat apa untuk mengisi di dalam toko besok.?" ucap Mbok Robiah saat mereka Tengah berada di dalam rumah.
" Mbok, saya kan udah bilang berkali-kali Jangan pernah panggil saya dengan sebutan nyonya. karena bagi saya, Mbok itu adalah pengganti orang tua saya. Sudah, jika Mbok masih mau menganggap saya sebagai orang yang menolong mbok, Jangan panggil saya nyonya lagi. panggil saja saya Lita." kocak wanita itu dengan nada yang sangat tegas.
Mendengar ucapan dari wanita muda itu, seketika membuat Mbok Robiah merasa sangat terharu. wanita paruh baya itu, menitihkan air mata karena tidak menyangka akan dianggap berharga oleh orang lain. Padahal, dengan keluarga sendiri saja sering dianggap orang asing. Namun, di keluarga orang asing, malah dianggap seperti keluarga sendiri.
Itulah hidup, terkadang darah bisa menjadi air dan air bisa menjadi darah. dalam artian, yang keluarga saja dapat menganggap orang asing. dan orang asing, dapat dianggap keluarga. dan itu tak lebih dari campur tangan yang maha kuasa. Untuk membolak-balikkan hati manusia.
" sepertinya, Besok aku akan membuat brownies. Siapa tahu saja laku." ucapnya Seraya membuka kembali buku resep yang ada di tangannya.
" asalkan makanan itu enak, pasti akan diminati oleh orang banyak."
Mbok Robiah berkata Seraya berlalu pergi dari sana. Setelahnya, Rita segera mengangguk-nganggukkan kepala. Seperti baru saja mendapatkan ide dari perbincangan ini.
" sepertinya, Aku memiliki ide jualan yang bagus. lebih baik, aku mulai saja sekarang."
Lita segera membuat kue-kue yang ada di dalam buku resep yang ia pegang itu. dan saking asyiknya, wanita cantik itu tidak menyadari Jika waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. dirinya baru menyadari, saat tidak sengaja melihat jam dinding yang terpajang di belakangnya itu.
" Astagfirullahaladzim! sudah malam ternyata." serunya Seraya dengan gerakan cepat langsung membasuh kedua tangannya. dan dengan segera, langsung menyusul anaknya untuk mengistirahatkan tubuh.
__ADS_1
Karena sedari pagi, tubuhnya sudah lelah dipaksa untuk bekerja. Walaupun, sampai saat ini masih sedikit orang yang mau mampir ke toko kuenya. Namun begitu, Lita merasa sangat bersyukur karena masih pulang dalam keadaan membawa uang.
Dirinya bertekad, akan bekerja lebih giat lagi. agar dapat memenuhi semua kebutuhan yang ada di dalam keluarga ini.
" semoga, besok masih ada pelanggan setia dan semakin banyak orang yang mengunjungi toko kueku itu." gumamnya sebelum memejamkan mata.
****
Pagi Harinya, seperti biasa Lita sudah mempersiapkan semuanya. dan jangan lupakan pula, tatapan sini dari tetangga-tetangga itu. yang sebenarnya, membuat wanita cantik itu merasa tidak nyaman. Namun, mau bagaimana lagi, dirinya masih belum memiliki dana yang cukup untuk pindah dari lingkungan itu.
Yang Lita tidak habis pikir, Mengapa para tetangga rempong itu, sepertinya selalu mencari gara-gara terhadap dirinya. Padahal, dirinya tidak pernah menyinggung siapapun dalam hal menjalani kehidupannya itu.
****
Sesampainya di toko kue miliknya, Lita seperti biasa segera merapikan semuanya. Karena hari ini, dia akan membuka toko dan mengisi toko itu dengan berbagai macam kue basah. ada brownies, kue tart, dan lain-lain.
Tiba-tiba saja, Mbok Robiah datang menghampiri Lita sesaat setelah meletakkan Gracia di tempat biasa.
Lita yang mendengar itu, hanya melakukan kepala saya tersenyum kecil." kasihan pasti selama ini, Mbok Robiah merasa tertekan." gumamnya seorang diri.
" permisi!" ucap seseorang dari arah depan toko kuenya itu. dan dengan segera, Lita menghampiri sumber suara. Yang sepertinya, berasal dari arah depan Tokonya itu.
" iya, mau beli apa ya,--" suara Lita seketika terhenti. saat matanya, melihat seseorang yang sangat familiar di dalam kehidupannya yang dulu.
" Mario!" ucapnya dengan nada yang sangat Lirih. dan dengan segera, menundukkan kepala. saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Sementara orang yang merasa namanya disebut itu, segera menoleh ke belakang. dan sesaat, laki-laki itu juga ikut terdiam di tempatnya.
" Lita, Apa benar ini kamu?" tanya laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya untuk maju dan menghampiri wanita yang ada di hadapannya itu.
Lita yang sudah kepalang tanggung, akhirnya menduga menatap ke arah laki-laki itu dengan senyuman yang sedikit dipaksakan." hai, kok kamu ada di sini?" Lita bertanya dengan nada yang sangat Canggung.
Sementara Mario yang mendengar itu, menghembuskan nafasnya kasar." Lita Lita, kamu masih aja mengingat masalah itu. Padahal, aku sudah melupakannya." ucapnya Seraya membuang muka ke arah lain.
" sekali lagi, aku minta maaf. Karena ulah aku dan teman-teman dulu, akhirnya kamu malah berpisah dengan gadis yang sangat kamu idam-idamkan." ucap Lita masih dengan menundukkan kepala.
" tidak masalah Lita. Justru, sekarang aku berterima kasih. karena berkat kalian dulu, aku jadi tahu seperti apa wanita itu." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.
Lita yang mendengarnya, juga ikut menyunggingkan senyum kecil. Kemudian, mengajak laki-laki itu untuk duduk di depan toko kuenya itu. yang memang, sudah tersedia beberapa kursi di sana.
" by the way, Kamu apa kabar?" tanya Lita mencoba untuk mencairkan suasana canggung itu.
Mario yang mendengar ucapan dari Lita, segera mendongak dan menatap wanita yang ada di hadapannya itu." aku baik, kamu sendiri, dan ini Toko kamu?" tanya Mario saat baru menyadari tempat yang ia singgahi itu berbentuk toko.
Lita yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil." Apa kamu sudah menikah?"
Tiba-tiba saja, pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut Mario. hingga membuat Lita, sejenak menatap ke arah laki-laki itu. Kemudian, dengan perlahan menganggukkan kepala.
Terdengar helaan nafas dari Mario. tentu saja hati itu membuat Lita yang mendengarnya, merasa sedikit kebingungan.
" kenapa, kok seperti lesu gitu?" tanya Lita mulai penasaran. Mario dengan segera, menggelengkan kepala.
__ADS_1
" nyonya, ini Nona Gracia sepertinya menangis?" tiba-tiba saja, terdengar suara dari arah belakang. hingga membuat kedua anak manusia itu, menoleh ke arah sumber suara.