
Berapa hari setelahnya, Lita dan juga Mario telah resmi pindah di rumah baru mereka yang ada di kota Gresik Jawa timur. Namun demikian, Gracia tidak pindah sekolah seperti permintaan gadis kecil itu. dan untuk Mbok Robiah, Lita dan Mario bersepakat untuk menjaga dan merawat wanita paruh baya itu.
"apa kamu suka dengan rumah ini?"tanya Mario. saat mereka tengah duduk di kursi ruang tamu bersama dengan Gracia yang tengah bermain dengan Mbok Robiah.
Lita yang mendengar itu seketika berdecak sebal. " Ck, sampai kapan kau akan bertanya seperti itu?"tanya wanita cantik itu Seraya menarik hidung laki-laki itu karena merasa sangat gemas.
Tentu saja hal itu membuat Mario langsung memasang wajah cemberut karena mendapat perlakuan dari istrinya. walaupun itu tidaklah sakit, tapi tetap saja laki-laki itu merajuk agar segera disayang kembali. benar saja, Lita segera meraih tubuh laki-laki itu dan memeluknya dengan manja.
Entah mengapa, wanita cantik itu menjadi seberani ini dalam menunjukkan kemesraan di hadapan para keluarga yang lain. karena biasanya, Lita akan merajuk ataupun memukul jika Mario melakukan hal-hal yang menurutnya berlebihan di hadapan keluarga yang lain.
"apa kau tidak malu bersikap seperti ini di hadapan Gracia dan juga Mbok Robiah?"tanya laki-laki itu Seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.
Lita yang mendengar ucapan dari suaminya itu, seketika menatap ke sekeliling. dan di sana, wanita cantik itu mendapati tatapan yang aneh dari wanita paruh baya itu dan juga putrinya.
blusshh
Seketika itu juga, wajah Lita memerah karena menyadari tindakan yang baru saja ia lakukan itu.
"kenapa kamu nggak bilang, hmm?"tanya wanita cantik itu Seraya mengeram kesal. dan mencubit lengan laki-laki itu dengan sedikit keras.
"aduduh sakit sayang,"ujar Mario merengek seperti seorang anak kecil. tentu saja, hal itu membuat Gracia dan juga Mbok Robiah yang melihatnya, terkekeh pelan.
__ADS_1
"papa kayak anak kecil,"ucap Gracia meledek laki-laki itu.
Membuat Mario yang mendengarnya, seketika menampilkan wajah jahilnya dan berniat ingin menggoda Putri sambungnya itu.
"ini kan punya papa,"ujar Mario Seraya menunjukkan arah Lita dan juga memeluk wanita itu dengan gerakan yang sangat posesif.
Tentu saja hal itu membuat Gracia, yang awalnya tersenyum jahil menatap laki-laki itu, segera memasang wajah cemberut yang sangat menggemaskan. dan secepat kilat, gadis kecil itu menghambur ke dalam pelukan ibunya. mendorong Mario agar menjauh dari sisi sang ibu.
"papa, ini milik Gracia!"gadis kecil itu merengek seperti anak kecil yang ingin meminta permen. padahal memang Gracia kan, masih kecil.
"enggak ini milik papa,"ujar Mario yang tidak mau kalah.
"ibu huaa!"akhirnya gadis kecil itu pun menangis dengan memeluk ibunya dengan pelukan yang sangat erat.
Mario yang mendengar itu seketika melepaskan pelukan dan langsung sedikit menjauh dari wanita itu. bukan karena merasa takut dengan tatapan istrinya, tapi karena merasa kasihan dengan gadis kecil itu.
"iya deh papa ngalah,"ujarnya Seraya beranjak dari tempat duduk.
"mau ke mana?"tanya Lita dengan sedikit menarik ujung pakaian dari laki-laki itu.
"ke kantor sebentar, ada urusan!"ujarnya Seraya melirik istrinya disertai senyuman kecil.
__ADS_1
"kamu nggak marah, kan?"tanya Lita dengan raut wajah sedikit cemas dan nada berhati-hati.
"marah, memangnya aku marah kenapa?"tanya Mario yang merasa kebingungan dengan sikap istrinya itu.
"tentang..."Lita menghentikan ucapannya saat melihat ekspresi wajah dari suaminya itu.
"aku bukan anak kecil sayang,"ujarnya saraya mengusap kepala istrinya itu dengan perasaan sayang.
"huh syukurlah,"ucap wanita itu dengan menghirup nafas lega.
Sementara Mario yang melihat itu, seketika terkekeh pelan."kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu?"tanya Mario yang masih terkekeh pelan.
Lita yang mendengar itu hanya terdiam. enggan untuk melanjutkan perdebatan mereka yang sepertinya tidak berfaedah itu.
"aku antar ke depan,"ujar Lita Seraya beranjak dari tempat duduk Seraya menggandeng tangan Gracia.
"hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku nantinya,"ucap Lita pada suaminya itu. dan langsung dijawab anggukan oleh Mario.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian dan juga dendam.
"kenapa mereka bahagia seperti itu?"tanya orang itu Seraya mengeram kesal. siapa lagi jika bukan Arya. laki-laki itu sepertinya masih belum rela jika melihat kebahagiaan dari kedua wanita yang masih diinginkannya itu.
__ADS_1
"aku harus membuat rencana untuk menjebak,"gumam laki-laki itu penuh dengan tekad yang sudah bulat.