
Lita saat ini, berada di ambang pintu. karena wanita cantik itu bertekad akan menghadapi semua kenyataan yang akan terjadi ke depannya. wanita cantik itu akan menghadapi masalah apapun. apalagi, ini menyangkut Putri semata wayangnya. Lita tidak akan pernah membiarkan seseorang pun, menyentuh Gracia. karena memang semua ini adalah kesalahannya.
Kesalahan sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik Gracia dengan baik. toh juga Lita merasa sangat lelah harus selalu berurusan dengan orang-orang jahat seperti itu. Biarlah, jika memang dirinya nanti akan terluka ataupun tiada, setidaknya Lita merasa tenang karena telah memperjuangkan apa yang seharusnya ia perjuangkan.
Tangannya mengambil ponsel yang berada di atas meja. kemudian, mendali nomor milik Arya. kemudian memencet tombol berwarna hijau.
Daringan ponsel itu terus menerus berbunyi. menandakan, bahwa pemilik nomor yang ada di seberang sana, belum juga meresponnya.
"Mas Arya pasti tidak akan pernah mengangkat teleponku,"gumam wanita itu Seraya mendesah pelan.
"lalu aku harus bagaimana?"tanya Lita masih pada dirinya sendiri. "oh iya aku hampir saja lupa,"ujarnya Seraya menepuk keningnya sendiri.
Kemudian dengan cepat, berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas berwarna hitam itu.
"ini dia, Untung saja aku belum membuangnya."gumam Lita Seraya memperlihatkan kartu nama seseorang.
Setelah selesai mengetikkan nomor itu, Lita segera menghubungi si pemilik nomor. siapa lagi jika bukan Cynthia.
Memang sepertinya, tekad Lita sudah sangat bulat ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin. dia bersikeras akan tetap menghadapi kemarahan Cynthia dan apapun resikonya. asalkan semua masalah ini dapat terselesaikan dengan cepat. toh juga ini memang kesalahannya, karena menikahi laki-laki tanpa mengetahui latar belakangnya terlebih dahulu.
Senyum Lita seketika mengembang saat deringan ponsel itu seperti tersambung oleh seseorang.
"halo, ini siapa?"tanya seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"ini saya Mbak Chintya, saya Lita."ujarnya dengan helaan nafas berkali-kali. karena tanpa disadari, wanita cantik itu merasa sangat gugup.
"oh ini ternyata kamu, katakan padaku sekarang kau ada di mana?"tanya Cynthia dengan suara amarah yang meledak-ledak.
"aku berada di jalan perumahan,"dengan suara yang dibuat setenang mungkin, Lita menyebutkan perumahan yang menjadi tempat tinggalnya.
Tut.
Tepat di saat sambungan telepon itu terputus, tubuh Lita ambruk di atas lantai. wanita cantik itu menangis tersedu-sedu. karena kenyataan pahit, akan segera kembali menyergap kehidupannya.
"hiks hiks hiks, kenapa hidupku selalu sial seperti ini ya Allah, tolong kuatkan hambamu ini."ujarnya Seraya menangis terisak.
Setelah puas menangisi kehidupannya yang amat sangat menyedihkan itu, Lita perlahan bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke kamar putrinya.
Lita segera duduk di pinggiran ranjang Seraya tangannya mengusap kepala gadis kecil itu dengan sangat lembut. dan setelahnya, mencium kening dan rambut gadis kecil itu berkali-kali.
Membuat Mbok Robiah yang melihat pemandangan itu, merasa sangat tidak tega.
"apakah kau serius dengan ucapanmu?"tanya wanita paruh baya itu sekali lagi untuk memastikan.
Lita yang mendengarnya, seketika mendugak menatap ke arah wanita paruh baya yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu.
"iya mbok, dia akan datang sebentar lagi."ucapnya dengan lelehan air mata. kemudian, kembali menatap Putri kecilnya itu dengan tatapan kasih sayang.
__ADS_1
"apakah kau sudah memikirkannya matang-matang?"tanya Mbok Robiah untuk memastikan.
Lita yang mendengarnya, menganggukkan kepala."tidak ada gunanya bersembunyi terus-menerus. serapat-rapatnya menutupi bangkai, pasti akan langsung tercium juga."ujarnya Seraya mengusap kepala gadis itu.
Kemudian, kembali menatap Mbok Robiah dengan tatapan mengibah. "nanti kalau Lita di penjara, Mbok harus jaga dia baik-baik ya," ucapnya dengan tangis sesenggukan.
Mbok Robiah yang mendengar itu, segera memeluk tubuh wanita yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri. wanita paruh baya itu, juga ikut menangis pilu.
****
"nah kan, akhirnya kau akan ku dapatkan juga,"ujar Cynthia dengan senyuman menyeringai.
"ayo segera datangi rumah itu,"ujar Cynthia pada sang suami. membuat Arya yang mendengarnya, menjadi pucat pasi.
"tidak usah tegang begitu, apa kau juga ingin menyusulnya ke dalam penjara?"tanya Cynthia Seraya menatap tajam ke arah laki-laki itu.
Namun Arya sama sekali tidak berani untuk menjawab. ketakutan akan kehancuran hidupnya terlalu besar. sehingga menjadi sangat lemah di hadapan wanita glamour itu.
"apa yang kamu lakukan Lita?"tanya laki-laki itu panik. namun sayangnya, suara Arya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. karena laki-laki itu tidak akan pernah berani untuk menyuarakannya.
Nb: Mampir yuk di karya temen author yang paripurna ini di jamin ngak nyesel
__ADS_1