
Beberapa hari setelah prosesi pernikahan itu, Mario benar-benar membawa Lita dan juga Gracia untuk pindah dari rumah itu. selain karena rumah itu tidak layak, Mario juga sangat mengkhawatirkan mereka berdua. karena Arya, mantan suami istrinya masih berkeliaran untuk mengganggu keluarga kecil itu.
Namun demikian, Mario tidak akan membuat Gracia pindah sekolah dari tempat itu. walaupun, mereka nantinya akan tinggal di kota yang berbeda.
"apa ini tidak akan membuat susah nantinya?"tanya Lita pada sang suami saat mereka tengah berada di dalam kamar.
Membuat Mario yang mendengarnya, seketika menatap ke arah Lita dengan tatapan meminta penjelasan.
"maksud kamu?"tanya laki-laki itu karena memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang istri.
"kita kan akan pindah ke kota Gresik, apa tidak akan merepotkan Mas, jika Gracia masih sekolah di Surabaya?"tanya wanita cantik itu menatap serius kepada suaminya.
Mario yang mendengar itu, tersenyum tipis. dan dengan segera, mengusap kepala istrinya dengan perasaan penuh kasih sayang.
"tidak apa-apa, yang penting dia nyaman dan mau berbaur dengan lingkungan yang baru."ujarnya Seraya tersenyum simpul ke arah Lita.
Yap, Mario telah mendengar semua cerita dari sang istri. karena Lita, telah menceritakan semuanya pada laki-laki itu. agar tidak ada ketersinggungan nantinya saat sudah berumah tangga. karena keterbukaan antar satu pasangan itu sangatlah penting.
"terima kasih, terima kasih karena kamu telah menerima kehadiran Gracia. dan menyayanginya, seperti anak kamu sendiri."ucapnya Seraya terisak kecil.
Tentu saja, itu membuat Mario segera menarik istrinya untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
"tidak usah berterima kasih, aku memang sangat menyayangi dia. dan sudah menganggapnya, seperti anak kandung sendiri,"Mario berkata Seraya menangkup kedua pipi wanita itu.
Kemudian secara perlahan-lahan, wajah mereka berdua semakin mendekat. hingga berjarak hanya beberapa senti saja. dan di saat mereka hendak menyatukan benda kenyal milik masing-masing, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Ibu, papa buka!"teriak suara seseorang dari arah luar kamar. itu adalah Gracia, gadis kecil itu seakan tahu jika kedua orang tuanya akan berbuat hal yang lebih. untuk itulah gadis kecil itu mengetuk pintu di waktu yang tidak tepat.
Lita terkekeh pelan saat melihat raut wajah frustasi dari suaminya itu. "sabar ya sayang, nanti malam aku janji akan memberikan penampilan yang terbaik."fisik wanita itu Seraya beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
Karena kita mendengar, suara ketukan itu telah berubah menjadi dudakan-dodakan kecil. tentu saja, Lita merasa heran mengapa anaknya bisa berbuat seperti ini, seperti seorang preman.
"ada apa sih sayang, kenapa?"tanya Lita yang baru saja membuka pintu melihat perubahan wajah putrinya yang sangat masam.
"ibu sama papa ngapain Di dalam?"tanya gadis kecil itu dengan nada polos namun terdengar sangat sewot.
"ibu sama papa hanya mengobrol saja sayang,"tiba-tiba saja, Mario berkata dengan sangat tenang. entah sejak kapan, laki-laki itu telah berada di belakang istrinya.
"kenapa sama Putri Papah ini, hmm?"tanya Mario Seraya berjongkok dan mengusap pipi gembul anak sambungnya itu dengan gemas.
"Gracia bosen, Gracia mau main sama papa sama ibu."ucap gadis kecil itu dengan nada polosnya.
Mario dan Lita, seketika saling pandang. dan setelahnya, sama-sama tersenyum. Lita memberikan anggukan kecil pada suaminya.
__ADS_1
"ya udah kita keluar main ya, sekalian kita mau pindah rumah,"ucap laki-laki itu Seraya langsung menggendong Gracia dan mengangkatnya beberapa kali. hingga membuat gadis kecil itu, tertawa dengan sangat senang.
Lita yang melihat pemandangan itu, merasa sangat terharu. karena tidak akan pernah menyangka jika jalan hidupnya akan sampai kepada titik ini.
Tak berselang lama, Mbok Robiah datang dengan membawa beberapa tas dan koper besar keluar dari rumah itu.
"semua sudah siap,"ucapan itu dengan raut wajah sedikit sedih.
Tentu saja, hal itu membuat Lita dan juga Mario yang melihatnya, lagi-lagi saling pandang.
"Mbok Robiah kenapa?"tanya Lita Soraya menghampiri wanita paruh baya itu.
"Mbok senang kalau kalian bisa bahagia, meski nantinya kita tidak akan bisa bertemu seperti ini, tapi setidaknya Mbok bangga karena pernah bertemu dengan orang-orang supaya kalian."ujar wanita itu Seraya menantikan air mata.
Sontak saja, hal itu membuat Lita merasa sangat terkejut. "memangnya, Mbok Robiah mau ke mana?"tanya Lita.
"Mbok mungkin akan kembali ke desa tempat tinggalmu dulu, karena Mbok tidak ingin membuat kau selalu repot,"ujarnya Seraya menundukkan kepala.
Sontak saja hal itu membuat Lita menggelengkan kepalanya dengan kuat. "tidak boleh, Mbok harus ikut kami. karena aku, telah menganggap Mbok seperti ibu kandungku sendiri."ucap Lita Seraya menatap wanita itu dengan tatapan serius.
"tapi suamimu,.."ucapan wanita paruh baya itu terhenti saat mendengar penuturan dari Mario.
__ADS_1
"aku tidak apa-apa jika Mbok ingin ikut,"ucap Mario tersenyum tulus pada wanita paruh baya itu.
Tentu saja itu membuat Mbok Robiah, merasa sangat bahagia. wanita paruh baya itu bahkan menangis terisak karena merasa terharu dengan kebaikan dua anak manusia itu.