(Bukan) Anak Di Luar Nikah

(Bukan) Anak Di Luar Nikah
Tak Menyangka


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, akhirnya Lita dan keluarganya telah sampai di kota Surabaya. terlihat, raut kegembiraan terpancar jelas dari wajah Gracia.


Gadis kecil itu, henti-hentinya mengangkat kedua tangan dan disertai lompatan-lompatan kecil saat sesekali berhenti untuk mengisi bahan bakar ataupun hanya sekedar beristirahat.


Maklum saja, Lita belum pernah berpergian jauh sampai ke kota orang seperti ini. apalagi, kali ini wanita cantik itu sendiri yang menyetir mobil. membuat adrenalinnya, sesekali terpacu.


"Ibu, aku lapar!"ucap Gracia Seraya menarik tangan Lita untuk berhenti sejenak di sebuah warung makan pinggir jalan.


Membuat Lita yang mendengarnya, dengan sigap segera menghentikan laju kendaraannya itu. ternyata, saking asyiknya menikmati perjalanan, mereka sampai lupa sedari pagi belum pernah memasukkan makanan ke dalam perut.


"iya sayang Ibu lupa,"ucapnya Seraya terkekeh pelan. dan dengan segera, turun dari dalam mobil. saat kendaraan itu, telah benar-benar berhenti.


Akhirnya Lita dan yang lain pun memasuki sebuah warung bambu pinggir jalan yang terlihat sangat sederhana. mereka segera masuk dan langsung menduduki tempat yang kosong.


Karena konsep di warung itu adalah lesehan. membuat mereka dengan leluasa duduk di sembarang arah tanpa harus menunggu antrian untuk duduk. Mengingat, ruangan di warung bambu itu sangatlah kecil. sehingga tidak akan muat jika seandainya diberi kursi dan meja.


"Bu, Gracia mau pecel lelenya satu dong Bu,"ucap gadis kecil itu sedikit memulas.


Lita dengan senang hati menganggukkan kepala dan langsung memesankan makanan yang diminta oleh gadis kecil itu dan tak lama berselang, seorang wanita setengah baya datang menghampirinya dengan membawa nampan yang berisikan tiga piring makanan.


"silakan dimakan,"ujar wanita itu Seraya tersenyum ramah.


"terima kasih"


Setelahnya, Lita beserta Putri dan ibunya, menyantap makanan. yang ternyata lumayan enak. bahkan sampai-sampai, Gracia yang sebenarnya sulit sekali untuk makan, sampai menghabiskan makanan itu hingga tak tersisa.

__ADS_1


"enak banget ya sayang,"tanya Lita Seraya mengusap ujung bibir gadis kecil itu yang belepotan karena makanan.


"enak Bu,"ujarnya penuh dengan semangat. membuat Lita dan Mbok Robiah yang melihatnya, seketika terkekeh pelan.


"Lita apakah kamu di sana sudah memiliki tempat tinggal?"tanya Mbok Robiah di sela-sela mereka menyantap makanan.


Membuat wanita cantik itu, seketika mendogak. dan setelahnya, tersenyum tipis disertai anggukan kepala.


"sudah Mbok, Lita sudah memesankan semuanya kok."ujarnya tersenyum simpul. dan setelah selesai menyantap makanan mereka, Lita mengajak kedua wanita berbeda generasi itu untuk segera melanjutkan perjalanannya.


****


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Lita telah sampai di sebuah rumah sederhana berlantai 1 yang terletak di pinggir jalan.


"ayo keluar, kita sudah sampai"ujarnya Seraya membuka pintu mobil dan segera berjalan untuk masuk ke dalam pekarangan rumah yang terlihat luas itu. karena rumahnya model minimalis.


"iya Bu, saya Lita."dengan segera menyambut dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"mari silakan dilihat dulu,"ujarnya dengan membukakan pintu rumah itu.


"jadi semuanya berapa?"tanya Lita saat mereka telah duduk di kursi ruang tamu.


"murah nak Lita, hanya 30 juta saja."ujar wanita paruh baya itu Seraya tersenyum simpul.


Membuat Lita yang mendengarnya seketika membulatkan kedua matanya dengan mulut sedikit terbuka. karena tak menyangka, rumah sebagus ini, hanya dihargai 30 juta, padahal rumah ini berada di pusat kota Surabaya.

__ADS_1


"Maaf, apa itu tidak terlalu murah?"tanya Lita dengan ekspresi wajah kebingungan.


Wanita paruh baya itu, menggelengkan kepala. "tidak Mbak Lita, semua sudah sesuai kesepakatan,"ucap wanita paruh baya itu.


"kesepakatan siapa?"tanya Lita yang menyadari sesuatu. karena memang dirinya belum bersepakat dengan pemilik rumah yang lama tentang harga. dan akan diselesaikan saat Lita telah sampai di kota Surabaya ini.


"euumm, kesepakatan dengan keluarga saya."ujarnya sedikit gugup. namun dengan cepat, dapat dikuasai kembali dan memasang ekspresi wajah biasa saja.


Lita yang mendengar itu, awalnya merasa ada yang aneh. namun dengan segera, wanita itu menggelengkan kepala. mengusir pikiran negatif yang menggelayuti pikirannya.


"ya sudah kalau begitu, silakan dinikmati semuanya. ini sertifikat rumah dan tanahnya, saya serahkan ke mbak Lita."ucap wanita itu Seraya menyerahkan map berwarna coklat dan juga sebuah kunci.


"baik bu terima kasih atas semuanya," setelah mengatakan hal itu, si pemilik rumah yang lama segera keluar dari rumah sederhana itu. setelah sebelumnya, sudah mendapatkan imbalan berupa uang tunai dari Lita.


*****


"mas kita harus segera ke rumah wanita sialan itu, aku harus meminta pertanggungjawaban darinya!"ujar Cynthia Soraya berjalan cepat mendahului Arya.


Membuat Arya yang mendengarnya, hanya dapat menghela nafas panjang. untuk saat ini, dirinya masih belum bisa melawan Cynthia. karena masih membutuhkan pekerjaan untuk mengirimkan uang pada putrinya. yang hanya bisa dilakukan Arya saat ini, adalah mengikuti perintah wanita glamor itu.


"Mas, ngapain sih malah di situ? ayo cepetan!"ujar Cynthia dengan sedikit berteriak.


Sungguh, Arya tidak akan menyangka bahwa kedua orang tuanya, pernah menjodohkan dirinya dengan wanita kasar seperti ini. apa sebenarnya istimewanya Cynthia hingga membuat ibunya sendiri, begitu mengharapkan pernikahan mereka.


Padahal waktu itu, Arya telah menjalin hubungan dengan Lita. gadis lemah lembut dan juga polos. namun dengan mudahnya, ditentang oleh orang tuanya.

__ADS_1


Nb : mampir yuk di Karya memukau milik author kece yang satu ini, dijamin kalian nggak akan pernah nyesel.



__ADS_2