(Bukan) Anak Di Luar Nikah

(Bukan) Anak Di Luar Nikah
Hah, Teman?


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Rita bersikap seperti biasa. bahkan, wanita cantik itu, sama sekali tidak memperdulikan tatapan tidak suka dari para tetangganya yang semakin menjadi itu.


" kapan kau pergi dari sini? Kenapa kau tidak pergi juga dari sini?" tanya Bu Rahmi Seraya berkacak pinggang. Seraya manatap tajam ke arah wanita cantik yang tengah bersiap-siap ingin berangkat kerja itu.


Lita yang mendengarnya, sekilas menoleh dan mengulas senyum tipis. Kemudian, kembali fokus ke arah depan. Karena, Lita kini tengah menyiram tanaman di depan rumah.


" Saya akan pergi, kalau semua tanah di sini sudah milik Ibu." ucapnya penuh dengan makna yang tersirat.


Mendengar ucapan dari wanita yang sangat ia benci, membuat Bu Rahmi seketika membulatkan matanya." berani kau menantangku?!" tanya wanita paruh baya itu dengan nada yang sangat tinggi.


Tangannya terangkat ke udara hendak melayangkan satu tamparan terhadap Lita. Namun, dengan segera wanita cantik itu, mampu menghalaunya." Jangan pernah macam-macam dengan seekor kucing. Karena, jika kucing itu telah marah, maka akan berubah menjadi seekor harimau." ucapnya dengan perumpamaan-perumpamaan.


Bu Rahmi mendengar itu, sejenak terdiam. mencerna semua kata-kata yang dilontarkan oleh Lita terhadapnya. sementara Lita, wanita cantik itu masih fokus terhadap tanaman hias yang ada di hadapannya itu.


" jangan sampai, saya melaporkan hal ini kepada Pak RT dan Pak Kades. Karena, setiap kesabaran manusia itu ada batasnya." Lita segera berlalu dari sana dan masuk ke dalam rumah. Setelah mengatakan hal itu.


Dirinya merasa Tak habis pikir, Mengapa wanita itu selalu mengganggunya. padahal, Sampai saat ini pun, Lita belum pernah membalasnya sama sekali. Atau, karena hal itulah wanita paruh baya itu menganggap, jika Lita adalah orang yang penakut.


Memang, sesekali perbuatan jahat harus sedikit dibalas. jika sudah keterlaluan. Namun, Jangan pernah berbuat jahat kepada orang terlebih dahulu. Karena kita sebagai manusia, terlahir sebagai makhluk yang suci dan putih.


" Ayo kita berangkat!" ucap Lita terhadap Putri semata wayangnya yang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Sementara Gracia yang mendengar itu, menganggukkan kepala. Karena memang, gadis kecil itu sudah bersiap- siap sedari pagi.


***


"Mau makan atau tidak?" tanya Lita pada Gracia. saat mereka berada di ruang makan. dan pertanyaan itu, dijawab gelengan oleh gadis kecil itu.

__ADS_1


Lita yang melihat reaksi putrinya itu, tersenyum tipis. Kemudian, berjalan keluar menuju ke arah mobilnya Yang telah terparkir di depan rumah.


" Gracia, ibu mohon jangan pernah menutup diri terhadap lingkungan di sekitarmu. Terutama, di sekolah. karena di sana, kamu itu memerlukan teman untuk berdiskusi." Lita menasehati Putri semata wayang itu.


Karena, wanita cantik itu mendapat laporan, jika putrinya masih sangat pasif jika berada di sekolah. dan itu, menurut Miss Agatha, adalah sikap yang salah. Karena, usia Gracia ini, adalah usia emas. Di mana, kemampuan motoriknya sangat diperlukan. Memang, Gracia sangat pintar dalam hal pelajaran. tapi tidak dengan sosialisasi diri. karena gadis itu, masih di bawah rata-rata.


Tentu saja, hal itu membuat Lita yang mendengarnya, merasa sedikit was-was. dan hari ini, wanita itu menasehati anak Samata wayangnya itu.


" Tapi Cia nggak suka sama mereka. mereka terlalu banyak bertanya. di mana Ayah Cia," ucap gadis itu menundukkan kepalanya.


Lita yang mendengar itu, hanya dapat menghela nafas panjang." Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang." ucap Lita Seraya mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu.


****


" sekolah yang rajin, nggak usah dengerin apa kata temen yang tidak suka sama kamu. dan jangan menutup diri." pesan Lita terhadap anaknya.


Sementara Lita, setelah mengantarkan putrinya masuk ke dalam lingkungan sekolah, langsung bergegas meluncur ke tempat tokonya berada.


Sepanjang perjalanan, wanita cantik itu selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh anaknya. ada rasa bersalah, saat wanita itu tak berterus terang pada gadis kecil yang tidak berdosa.


" maafkan Ibu Cia, Ibu tidak bermaksud untuk membohongimu. Tapi, Ibu benar-benar tidak kuat jika harus menceritakan ini semua padamu." ucapnya Seraya mengusap pipi yang telah basah oleh air mata.


Sungguh, rasanya tidak akan pernah Sanggup jika Lita harus menceritakan semuanya pada Putri kesayangannya itu. hatinya masih tidak ikhlas untuk mengatakan, jika ayah kandungnya, adalah laki-laki tidak bertanggung jawab. yang tega meninggalkan anak dan istrinya di tempat yang tidak dikenal itu.


****


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Lita, Akhirnya sampai juga di depan toko kue miliknya itu. dan dengan segera, wanita cantik itu keluar dari dalam mobil. Setelah mobil itu, diparkirkan dengan selamat di tempat yang biasa.

__ADS_1


" apa semua rame, Tika?" tanya Lita yang baru saja masuk ke dalam toko.


" Alhamdulillah bu, semuanya seperti prediksi kita dari awal." ucap gadis bernama Tika itu Seraya tersenyum tipis.


Lita yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, memilih bergabung dengan dua karyawannya untuk melayani pelanggan.


Yap, satu tahun yang lalu, Lita merekrut dua orang untuk bekerja sebagai pelayan di toko miliknya. karena memang, toko miliknya itu sudah sedikit ramai. Bahkan, Lita tidak hanya merekrut dua pegawai. Melainkan, juga merekrut seorang koki untuk membantu Mbok Robiah membuat kue di dapur.


Karena mengingat, Mbok Robiah sudah terlihat sudah kelelahan. Mengingat, wanita paruh baya itu sudah menginjak usia hampir 50 tahun. tentu tenaganya, tidak akan sekuat para anak-anak muda.


" Hai, saya boleh duduk?" tiba-tiba saja, terdengar suara seseorang dari arah depan. tentu saja, hal itu membuat Lita, seketika menatap ke arah sumber suara.


Degh


Tubuh Lita, terpaku sesaat di tempatnya. saat melihat, seseorang yang sangat ia hindari. Namun, sekarang malah muncul di hadapannya." Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Lita dengan nada seadanya.


Karena Wanita itu, benar-benar sangat muak dengan situasi seperti ini. Ingin rasanya, wanita itu berteriak di hadapan orang yang ada di hadapannya itu yang tak lain adalah Cynthia.


" Mbaknya, mau beli apa?" tanya Lita dengan raut wajah yang sangat terpaksa.


Sesungguhnya, wanita itu tidak ingin berlama-lama berada di tempat yang sama dengan orang yang telah menyakitinya. Walaupun, bukan Cynthia yang menyakiti. namun itu tetap saja membuat Lita enggan untuk bertegur sapa.


Setelah berbasa-basi, akhirnya Cynthia membeli sebuah kue pernikahan yang ada tiga tingkat. seperti kue pernikahan. Namun, sangat kecil. dan dengan segera, Lita segera membungkus kue itu dengan paper bag berwarna Senada.


" Bisakah kita berteman?" tiba-tiba saja, Cynthia mengatakan hal itu. membuat Lita, seketika terdiam.


Hah, teman? Impossible. Pikirnya Soraya tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2