AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Mengejang hebat


__ADS_3

Beberapa saat setelah keheningan yang sempat melanda di kamar rawat inap tersebut, akhirnya Rian bersuara.


''Papa, aku datang ke sini untuk menjenguk Papa. Aku sudah memaafkan semuanya, jadi kalau Papa mau pergi, pergilah dengan tenang.'' ucap Rian dengan nada begitu pelan dan lirih, terdengar ada kekakuan di nada bicaranya. Intan yang mendengarkan merasa bergetar hatinya, ia menoleh ke samping, ke arah sang suami dengan senyum simpul. Akhirnya sang suami mau juga memanggil sang Papa dengan sebutan Papa. Dan benar saja, tidak lama setelah itu hal yang tak terduga-duga terjadi pada Papa kandung Rian. Pria paruh baya yang semula tak sadarkan diri perlahan menggerakkan jari-jarinya, matanya pun perlahan terbuka. Intan begitu senang melihatnya, tapi Rian, ia merasa kaget, tapi wajahnya masih menunjukkan ekspresi datar.


''Rian, putraku, maafkan Papa, Nak.''


''Papa ngaku bersalah, Papa ngaku berdosa dengan dirimu.''


''Tak seharusnya Papa mengabaikan mu.''


''Di masa muda Papa, dan di masa sehat Papa, Papa hanya memikirkan perasaan istri Papa. Wanita yang sangat Papa cintai, wanita yang mampu membuat Papa lupa akan segalanya. Lupa kamu dan lupa mama mu''. racau Papa Rian dengan air mata perlahan jatuh dari ujung mata, lalu menetes di atas bantal. Ia menatap ke arah Rian dengan tatapan mengiba, tapi ada kelegaan di dalamnya.

__ADS_1


''Mas Rian sudah memaafkan, Papa.'' ujar Intan.


''Benarkan?


''Si-sini, Nak ...''


''Papa ingin sekali menggenggam tanganmu.'' pinta Papa kandung Rian lagi dengan suara putus-putus.


''Te-terimakasih.''


''Hu'um.''

__ADS_1


''Kamu sangat tampan, Papa sekarang merasa sangat bahagia, akhirnya di sisa-sisa usia Papa, Papa bisa menatap mu dari jarak sedekat ini. Merasakan genggaman tangan mu yang begitu hangat, dan menenangkan. Andaikan Papa masih di beri kesempatan kedua, Papa ingin sekali melewati hari-hari bahagia dengan mu. Tapi lupakan, sekarang yang hanya ingin Papa katakan dari jauh hari, jauh dari lubuk hati Papa, Papa ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada mu putra ku, dan juga kepada Mama mu.''


''InsyaAllah, aku sudah memaafkan Papa.'' balas Rian pelan dengan dada terasa sesak. Tidak bisa ia pungkiri, jauh dari dasar lubuk hatinya yang terdalam, ia juga merasa bahagia bisa menyentuh tangan sang papa kandung.


''Satu lagi, kalau kamu masih belum bisa menerima Intan sebagai istri mu, kamu bisa melepaskan nya dengan baik-baik, Papa tahu kamu begitu tertekan dengan keputusan Papa ini. Lepaskanlah kalau kamu merasa terbeban, Nak. Carilah wanita yang bisa membuat kamu bahagia, wanita yang kamu cintai pastinya.'' Rian hanya mampu mengangguk kecil mendengar penuturan sang Papa. Sementara Intan, mendadak ia terdiam membeku menatap ke arah sang Papa. Matanya mendadak berkaca-kaca. Intan tak rela kalau harus berpisah dengan Rian, pria yang sudah ia impikan, ia kagumi dan cintai dari bertahun-tahun lamanya.


Setelah mengatakan itu, tiba-tiba tubuh kurus yang baring di brankar itu mengejang hebat, dengan mata membeliak lebar menatap ke atas.


Intan mengguncang-guncang tubuh sang Papa, begitu juga Rian.


''Dokter, Dok ...'' ucap Intan panik seraya menekan tombol darurat.

__ADS_1


__ADS_2