
Malam hari di kediaman Hanifa.
''Assalamu'allaikum.'' ucap Mamanya Malik begitu ia hendak melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. Rumah mewah dan megah milik Malik yang kini di huni oleh Hanifa dan keluarga. Di samping sang Mama, Malik berdiri dengan gagahnya, Malik memakai kemeja panjang bewarna putih dengan celana panjang bewarna hitam.
''Walaikum'sallam.'' sahut Hanifa dari dalam rumah, ia berjalan dengan langkah kaki lebar menghampiri Tante Sarah dan Malik yang masih berdiri di dekat pintu utama, di ikuti Arif di sampingnya. Hanifa memang sedang menunggu kedatangan mereka setelah Isya, untuk membicarakan perihal pernikahan ia dan Malik.
''Oma ...'' seru Arif riang berlari kecil menuju Tante Sarah. Tante Sarah lalu membawa tubuh Arif kedalam gendongannya. Tante Sarah tidak pernah merasa kerepotan menggendong tubuh Arif. Sedangkan Hanifa mengambil tangan Tante Sarah, menyalami tangan calon Ibu mertua nya itu dengan lembut dan sopan. Malik tersenyum menatap pemandangan yang ada di depan matanya, pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya.
''Ayo masuk Tante, Tu ...''
''Ehm ...''
Ucapan Hanifa terputus karena ulah Malik. Hanifa, Tante Sarah dan Arif menatap Malik bingung.
''Kamu kenapa Malik? Kenapa berdehem kayak gitu saat Hanifa belum selesai berbicara?'' tanya Tante Sarah protes.
''Tidak apa-apa Ma, aku hanya memberi sedikit kode kepada calon istriku.'' ucap Malik santai tanpa malu, ia tersenyum melihat wajah Hanifa yang mendadak bersemu merah setelah ia berucap seperti itu.
''Kode?'' tanya Tante Sarah lagi semakin penasaran, keningnya berkerut menatap Malik dan Hanifa secara bergantian. Hanifa sedikit menunduk menyembunyikan wajahnya, sedangkan Malik bersikap biasa saja.
''Iya.''
''Kode apaan?'' Tante Sarah tersenyum melihat tingkah Malik dan Hanifa. Ia ikut bahagia melihat dua insan yang tengah dilanda kasmaran.
''Mama kepo banget sih, ini urusan anak muda. Yuk ah, masuk.'' jawab Malik santai. Ia mendorong pelan tubuh sang Mama dari belakang agar berjalan lebih dulu. Mama nya hanya menurut saja. Sedangkan Hanifa hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Malik, seorang CEO muda yang selama ini di kenalnya dingin dan pendiam ternyata juga suka berbicara dan becanda.
''Nggak ingat, ya. Tadi siangkan aku udah bilang jangan panggil Tuan lagi.'' bisik Malik lirih tepat di telinga Hanifa yang tertutup hijab. Mereka berjalan berdampingan menuju ruang keluarga, Tante Sarah berjalan duluan di depan mereka.
''Ingat. Tapi mau panggil apaan? Masak di depan Tante Sarah dan Arif aku harus manggil kamu dengan sebutan Ayang. Malu ah, mana belum muhrim juga. Emang aku wanita apaan!'' balas Hanifa polos sedikit mengerucutkan bibirnya yang tipis. Hanifa benar-benar tidak mengerti maunya Malik, ia merasa Malik aneh-aneh saja maunya. Sedangkan Malik memandang Hanifa gemes. Ia semakin senang menggoda calon istrinya itu.
''Panggil apa aja asal jangan Tuan atau Mas. Aku tidak suka sama panggilan kedua itu. Panggilan itu sudah umum aku dengar.'' ujar Malik lagi masih berbisik lirih. Tubuh Tante Sarah sudah semakin jauh meninggalkan mereka. Mereka berjalan pelan.
''Abang aja gimana?'' ucap Hanifa meminta pendapat Malik, ia menatap Malik lekat. Sekarang mereka sudah saling berhadapan.
''Abang? Hahaha kamu lucu sekali Hanifa. Aku ini bukan Abang kamu.'' Malik susah payah menahan tawa.
''Ribet banget sih.'' protes Hanifa.
__ADS_1
''Sayang aja.'' Malik tersenyum mesem menatap Hanifa lekat. Ketampanannya semakin bertambah. Hanifa tak kuasa memandang calon suaminya itu. Semakin dipandang ia semakin terpesona kerenanya.
''Iya udah kalau begitu Sayang aja, tapi tunggu besok, kalau kita udah sah. Sekarang di depan orang-orang aku panggil kamu dengan sebutan Tuan aja dulu. Titik! Nggak ada protes lagi. Masalah panggilan aja ribet banget.'' ucap Hanifa.
''Emm ... Baiklah.'' Malik akhirnya mengalah.
''Iya. Ayoo, nanti Tante Sarah sama Mas Abdillah kelamaan nungguin kita, dikiranya kita ngapa-ngapain lagi.'' Hanifa berjalan duluan meninggalkan Malik yang masih hendak bersuara. Lalu Malik mengejar langkah kaki Hanifa, mensejajarkan dirinya dengan Hanifa.
Begitu sudah sampai di ruang keluarga, Malik menyapa Abdillah yang tengah mengobrol dengan Mamanya, lalu ia duduk di sofa di sebelah Abdillah. Mamanya duduk di sofa berbeda bersama Arif. Sedangkan Hanifa duduk di sofa yang berhadapan. Setelah itu obrolan di mulai. Tante Sarah berbicara duluan, ia mengatakan tentang tujuannya menemui Abdillah dan Hanifa. Abdillah manggut-manggut mendengar penuturan Tante Sarah.
''Ya sudah. Lebih baik malam ini kita tentukan saja hari dan tanggal pernikahannya. Aku senang mendengar kabar baik ini. Terimakasih banyak aku ucapkan kepada Tante dan Tuan Malik, karena kalian sudah begitu baik selama ini sama kami, dan sekarang Tuan Malik mau meminang Hanifa, aku tidak menyangka Hanifa akan berjodoh sama atasan aku di Kantor. Semuanya terasa bagai mimpi. Aku tidak menyangka tidak lama lagi kita akan menjadi sebuah keluarga.'' tutur Abdillah.
''Kamu bisa saja Nak Abdillah. Ah ... Iya. Kamu benar, mari sekarang kita tentukan hari lamaran dan pernikahan antara Hanifa dan Malik, lebih cepat lebih baik. Tante sudah tidak sabar lagi ingin melihat Malik duduk di pelaminan.''
''Iya Tante. Aku juga sudah tidak sabar lagi ingin memiliki Adik ipar seorang CEO muda dan tampan. Ini ceritanya bisa kayak judul-judul di sinetron ikan terbang. Mmm ... Mungkin judulnya kayak begini kali, ya, Bos ku Iparku. Hahaha ....'' tawa Abdillah dan yang lainnya pecah.
''Mas ada-ada saja.'' ucap Hanifa.
''Apakah sebentar lagi Paman tampan akan menjadi Papa Arif?'' lontar Arif. Usia Arif sebentar lagi hendak menginjak enam tahun. Sedikit-sedikit ia mengerti perkataan orang dewasa. Karena ia merupakan anak yang cerdas.
''Hore ... Hore ... Hore ...'' Arif mengangkat kedua tangannya sembari meloncat berteriak bahagia. Yang lainnya pun ikut bahagia melihat tingkah Arif. Setelah itu percakapan mengenai hari pernikahan Hanifa dan Malik di tentukan. Mereka akan menikah dua Minggu lagi. Malik perlu waktu untuk mengurus semua keperluan untuk pernikahan mereka. Malik ingin hari pernikahan diadakan secara meriah, ia akan membuat pesta besar-besaran. Ia tidak peduli dengan status Hanifa yang sudah janda, yang ia mau seluruh kenalannya dan rekan bisnisnya mengenali Hanifa sebagai istrinya, wanita beruntung yang ia persunting dengan segenap rasa cinta.
***
Di rumah sakit di Ibukota.
''Ma, seingat aku tadi perut aku tidak terasa begitu sakit lagi. Tapi kenapa sekarang perut aku jadi kempes begini? Aku sekarang di mana, Ma? Dan kemana anak aku, Ma, Pa?'' tanya Arumi ketika ia baru sadar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia berbaring di brankar rumah sakit, tangannya meraba-raba perutnya yang telah datar. Ia masih berusaha mengumpulkan semua ingatannya. Arumi tidak sadarkan diri cukup lama, mungkin karena efek obat bius yang di suntikan oleh Dokter yang menangani nya tadi.
''Sayang, sabarlah, Nak. Tadi begitu Mama dan Papa tiba di rumah mu, Mama dan Papa menemukan kamu sudah tidak sadarkan diri di atas tempat tidur dengan darah membasahi sprei kasur mu, Nak. Kamu keguguran. Janin yang sudah berusia lima bulan dikandungan mu sudah tidak dapat di selamatkan. Dokter sudah mengambil tindakan dengan membersihkan rahim mu tadi.'' jelas Mama nya Arumi hati-hati. Sedangkan Papanya hanya mengangguk kecil.
''Innalillahiwainnaillahirrojiun. Huhuhu .... Pantasan saja.'' Arumi menangis terisak, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Meskipun ia membenci Setya, tapi, ia sangat menyayangi anak yang ada dikandungannya itu.
''Sudah, jangan menangis lagi Sayang. Beristirahat lah supaya tubuh mu cepat pulih. Caca di rumah dari tadi terus menanyakan keberadaan mu dan Setya, ia berulang kali menghubungi Mama menggunakan ponsel Bibi.'' jelas Mama Arumi lagi, ia duduk di kursi di samping brankar, ia mengelus pundak dan rambut Arumi.
''Iya, Ma. Mama benar, aku harus cepat sehat dan kembali pulih, ada Caca yang harus aku perhatikan dan restoran milik aku juga.'' ujar Arumi. Ia berusaha mengiklaskan janinnya yang tidak dapat diselamatkan.
''Iya Sayang. Yakinlah, semua ini terjadi atas izin Allah. Mungkin ini yang terbaik. Em ... Ngomong-ngomong Setya di mana Arumi? Dari tadi Mama tidak melihat keberadaannya, Papa juga sudah berusaha menghubungi nya tapi nomernya tidak aktif.''
__ADS_1
''Mama jangan sebut nama pria itu lagi! Aku benci dan jijik. Aku sudah mengusir dia dari rumah ku Ma, Pa.'' kedua orangtua Arumi kaget mendengarkan ucapan Arumi. Mereka menatap Arumi lekat, meminta penjelasan lebih.
''Maksud kamu? Apa yang terjadi Arumi?'' tanya Papa Arumi sedikit menggebu.
''Setya sudah mengkhianati aku Ma, Pa. Ia berselingkuh di belakang aku di saat aku tengah mengandung anaknya. Hiks ...''
''Apa kamu punya buktinya?'' lagi Papa Arumi bertanya, ia tidak ingin bersikap gegabah meskipun wajahnya terlihat telah memerah.
''Punya.'' Arumi celingukan mencari benda pipih miliknya. ''Ah ... Aku punya vidio saat Setya dan gundiknya tengah memadu kasih. Tapi ponselku sepertinya ketinggalan dirumah.'' tadi Arumi memang telah mengirimkan vidio panas antara Siska dan Setya ke ponsel nya.
''Ya sudah beristirahat lah Sayang. Semuanya biar Papa yang urus. Dari awal kamu mengenalkan Papa dengan Setya Papa sudah tidak suka sama dia. Awas saja kalau ketemu, akan Papa kasih pelajaran dia. Dasar pria tidak tahu diri!'' gumam Papa Arumi marah.
''Sabar, Pa.'' Mama Arumi mengelus punggung sang suami.
''Ma, Pa.'' Arumi berujar lagi.
''Iya kenapa, Nak?'' tanya Mama Arumi.
''Selama aku mengandung aku tidak pernah melihat laporan keuangan restoran milikku. Duh ... Kenapa aku bisa lengah begini?! Selama ini aku serah dan percayakan semua urusan restoran kepada Setya. A-aku harus menghubungi staf keuangan ku sekarang juga untuk memastikan apakah uang itu aman atau tidak.'' Arumi tidak tenang, ia hendak bangun dari brankar tapi dengan cepat Mamanya melarang.
''Arumi, beristirahatlah dulu. Semua biar Papa yang urus. Kamu jangan banyak pikiran dulu.'' Papa Arumi berucap pasti. Setelah itu ia keluar dari ruang rawat inap Arumi. Papa nya akan segera mencari tahu perihal laporan keuangan restoran milik Arumi. Ia tidak akan pernah terima jika ada seorangpun yang berani mengibuli putri dan cucu nya. Harta yang di punya Arumi adalah harta peninggalan Almarhum suaminya, harta milik anaknya Caca. yang berarti harta itu adalah harta milik anak yatim.
''Tapi, Ma, Pa.''
''Sudah, beristirahatlah Sayang.''
''Ma, maaf. Aku selama ini sudah menjadi wanita bodoh, jahat, dan tega! Aku malu sama kekhilafan aku.'' ucap Arumi menunduk, ia sekarang baru merasa menyesal.
''Sudah. Sudah, beristirahatlah Arumi. Mungkin dengan cara ini kamu bisa lebih mendewasakan diri. Mama tahu kamu wanita yang baik, kamu hanya sedang salah jalan saja belakangan ini. Meminta ampun lah sama Allah, dan Mama akan membantu kamu mencari anak dan wanita yang telah kamu sakiti itu.'' ucap Mama Arumi. Ia tahu selama ini Arumi telah merebut Setya dari Hanifa.
''Baiklah Ma. Terimakasih.''
''Iya.''
Setelah itu Arumi beristirahat, ia kembali menutup matanya. Ia berharap esok hari ia telah pulih, rasanya ia sudah tidak sabar ingin mengecek semua laporan keuangan restoran miliknya. Ia juga ingin segera mencari Hanifa. Perihal hubungan nya dan Setya ia anggap hanya persoalan mudah, karena ia hanya menikah siri sama Setya. Ia tidak perlu mendaftar kepengadilan untuk mengurus perceraiannya.
Bersambung.
__ADS_1