
Di tempat berbeda masih pada hari yang sama. Arumi yang baru sampai di restoran miliknya menyapa ramah para karyawan, para karyawan merasa senang melihat sang atasan yang berubah baik dan lembut. Setelah sampai diruangan, ia langsung duduk di kursi. Lalu ia mengecek ponselnya yang dari tadi terus berdering.
''Aissshhh mengganggu saja.'' rutuk Arumi seraya mengamati layar benda pipih dengan wajah merenggut. Dari tadi malam Mama dan Adik Setya terus saja menghubungi, menanyakan keberadaan Setya dan meminta agar Arumi mentransfer sejumlah uang untuk mereka.
[Sudah aku bilang, aku dan Setya sudah bercerai. Jangan ganggu aku lagi dan aku tidak akan mengirim uang yang kalian minta!] Arumi mengirim pesan kepada Hellen.
[Iya. Oke kalau Kak Arumi sudah bercerai dari Mas Setya. Tapi tolong bantu aku, kirimkan nomer baru Mas Setya. Soalnya dari kemarin aku hubungi nomernya tidak aktif terus. Ini atas permintaan ibu. Soalnya Ayah sedang sakit. Kami butuh uang sekarang untuk mengobati Ayah.] Balas Hellen.
[Aku nggak tahu nomer Setya. Jangan tanya lagi. Coba temui dia di rumah lamanya, mungkin dia ada di sana, aku hanya memberi sedikit saran.] Send. Lalu Arumi memblokir nomer Hellen. Ia tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Setya. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan dan peduli Arumi terhadap Ayah Setya, ia merasa sedih mendengar Ayah Setya sakit, karena walau bagaimanapun selama Ayah Setya tinggal bersama nya dulu, Ayah Setya merupakan mertua yang baik dan tidak banyak tingkah.
***
Di perkampungan, di rumah satu lantai yang bisa di bilang rumah yang paling bagus di antara rumah lainnya.
''Bisa-bisanya Mas mu berulah dengan berselingkuh di belakang Arumi. Sebenarnya apa yang ia cari, padahal hidupnya sudah senang dan terjamin bersama Arumi. Sekarang di mana dia? Di mana Setya? Wanita seperti apa yang menjadi selingkuhan nya itu!'' racau Ibu Setya duduk di pinggir kasur dengan emosi yang membersamai. Sedangkan di atas kasur Ayah Setya berbaring lemah tak berdaya, selimut menutup setengah tubuhnya, matanya terpejam.
''Iya. Mas Setya begok banget sih! Terus bagaimana ini, Bu? Bagaimana dengan Ayah? Karena mendapat kabar dari Kak Arumi tentang Mas Setya yang berselingkuh hingga membuat keadaan Ayah tambah parah begini. Sekarang kita harus cari uang ke mana agar Ayah bisa di rawat di rumah sakit? Biaya rawat inap bukanlah murah.'' ujar Hellen. Ia duduk di ujung kasur di sebelah sambil memegang kepalanya.
''Ibu akan mencari pinjaman ke saudara terdekat. Kamu besok pagi-pagi sekali pergilah ke Jakarta, susul Mas mu. Cari dia di rumah lamanya bersama Hanifa dulu. Kalau kamu udah ketemu Mas mu, ajak ia dan selingkuhan nya itu pulang ke sini, Ibu mau lihat seperti apa rupa wanita itu.'' saran Ibu Setya. Sepulang dari Jakarta dulu Ayah Setya memang tidak pernah bekerja lagi, karena kesehatan nya yang berangsur menurun. Untuk makan dan mencukupi biaya hidup sehari-hari mereka menggunakan uang yang di kasih oleh Setya dan Arumi. Sebenarnya mereka juga punya banyak simpanan tapi begitu cepat habis, karena Ibu Setya dan Hellen yang begitu boros suka berpoya-poya.
Saat mereka tengah mengobrol tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dan ucapan sallam. Hellen berjalan ke arah pintu utama.
''Iya.'' ucap Hellen ketus begitu pintu sudah terbuka. Saat ia melihat siapa yang tengah berdiri di depannya, ia langsung memasang senyum lebar, dadanya tiba-tiba berdebar tak karuan. ''OMG, ganteng amat cinta pertama ku.'' batin Hellen salah tingkah.
''Mana Ayah?''
''A-da di dalam, Ayah tengah sakit. Mas Abdillah kapan pulang kampung?''
''Sakit, sakit apa? Boleh aku melihatnya?''
''Bo-boleh, boleh banget malahan.'' Hellen memberi jalan agar Abdillah bisa masuk rumah. Hellen mengikuti langkah Abdillah dari belakang dengan perasaan tak menentu. Sebenarnya Abdillah pulang kampung guna memberikan undangan pernikahan Hanifa kepada kerabat dekat sekaligus tetangganya di kampung. Sekalian ia juga ingin memberikan kepada Ayahnya Setya. Karena meskipun hubungan Hanifa dan Setya telah usai, tapi tidak hubungan dengan Ayahnya Setya. Ayah Setya memiliki hati yang baik dan tulus, Hanifa dan Abdillah masih menghormati dan peduli terhadap Kakek dari Arif itu.
__ADS_1
''Heh, ngapain kamu kesini?'' tanya Ibu Setya sinis begitu ia melihat Abdillah masuk ke kamar. Ia kaget melihat kedatangan Abdillah.
''Ayah.'' Abdillah tak mengubris ucapan Ibu Setya, ia langsung berjalan ke arah kasur. Ia sudah tahu bagaimana watak asli wanita yang tak lagi muda itu.
''Nak Abdillah.'' balas Ayah Setya seraya membuka mata, sebenarnya ia tidak tidur, ia memejamkan mata untuk menahan rasa sakit dikepala dan di dadanya.
''Ayah sakit apa?'' tanya Abdillah lembut, menatap pria yang sudah di anggap seperti Ayah sendiri itu lekat.
''Mungkin Ayah tidak akan lama lagi hidup di dunia ini, Ayah akan menyusul kedua orangtua mu.'' ucap Ayah Setya dengan senyum simpul.
''Kenapa Ayah ngomong seperti itu?''
''Ayah sudah lelah hidup di dunia. Setya, uhuk ... Uhukk ... Anak itu semakin dewasa semakin menjadi saja kelakuannya.'' Ayah Setya berkata lemah putus asa.
''Kenapa lagi dengan Setya?'' tanya Abdillah.
Kemudian Ibu Setya mulai bercerita tentang Setya yang telah berselingkuh lagi dan bercerai lagi. Abdillah tidak menyangka kalau Setya bakal kelewat batas, Setya yang di kenalnya dulu baik kini telah banyak berubah, tersesat karena harta dan wanita. Abdillah menyematkan doa untuk kesembuhan Ayah Setya, Setelah itu ia memberikan undangan kepada orangtua Setya, ia juga menyelipkan beberapa lembar uang bewarna merah ke tangan Ayah Setya. Ia berlalu dan akan kembali ke Jakarta.
''Ihh kok bisa, ya, Hanifa dapat calon suami yang tampan dan kaya raya. Pelet apa yang dia pakai.'' ujar Ibu Setya begitu Abdillah telah pergi.
Di depan pintu utama Hellen menatap kepergian Abdillah dengan perasaan pilu lesu. Usia Hellen sepantaran dengan Hanifa, tapi ia tak kunjung menikah. Selama ini ia hanya berpacaran saja dengan banyak pria, tidak pernah hubungannya itu ia anggap serius karena perasaannya masih terpaut kepada Abdillah, pria yang di sebutnya cinta pertama. Yang membuatnya membenci Hanifa dulu, karena baginya Hanifa lah yang membuat ia tidak bisa bersatu bersama Abdillah.
***
Beberapa hari terlewati.
Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan anak-anak yang merupakan tetangga lama Hanifa telah bersiap dengan pakaian terbaik mereka. Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Hanifa.
Sebuah Bus besar telah menunggu mereka di jalan raya, di depan persimpangan arah masuk ke gang sempit itu. Bus yang sengaja di kirim oleh Hanifa untuk menjemput mereka. Karena jarak rumah mereka ke lokasi pesta lumayan jauh, jadi Hanifa berinisiatif untuk mengirim sebuah Bus besar, agar semua tetangga lamanya itu dapat hadir di acara pernikahan tanpa terbebani biaya transportasi dan agar mereka juga dapat mencicipi berbagai macam hidangan yang tersedia.
''Ayo cepat ... Bus sudah menunggu kita di depan.''
__ADS_1
''Iya, ayo barengan kita jalan kedapan.''
Ujar Ibu-ibu antusias dengan wajah sumringah. Berbeda sekali dengan wajah Setya dan Siska, di dalam rumah mereka dilanda keraguan dengan wajah lemas, lesu.
''Pergilah, Sis. Biar Mas yang jaga rumah.''
''Mas ikut, ya. Ayo.''
''Mas 'kan nggak di undang. Malu juga.'' ucap Setya dengan dada terasa sesak.
''Aku 'kan di undang Mas, kamu 'kan suami aku. Jadi nggak apa-apa dong. Lumayan lah Mas, di sana nanti kita bisa makan sepuasnya tanpa harus ada amplop, karena kata tetangga sekitar kita nggak perlu bawa amplop, Hanifa dan suaminya mengadakan pesta yang tamu undangan bisa datang secara gratis, makan secara gratis.'' usai mengatakan itu perut Siska dan Setya berbunyi. Setya dan Siska memegang perut mereka.
prok, prok, prok!
''Tuh 'kan, kasihan cacing-cacing yang ada di perut kita, selama beberapa hari ini kita makan hanya dua kali sehari dalam porsi dikit. Aku laper banget Mas, aku tahu kamu juga.'' ucap Siska sedih.
''Ba-baiklah. Kalau begitu ayo kita bersiap, nanti kita ketinggalan Bus.'' Setya berkata dengan senyum getir. Sebenarnya ia merasa malu kalau harus datang ke acara pernikahan Hanifa, tapi tidak ada pilihan lain lagi pikirnya. Selain bisa makan secara gratis ia juga bisa melihat Hanifa dan Arif, meskipun nanti ia harus melihat dua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya itu dari jarak jauh, tapi ia sudah merasa bahagia, rasa rindunya bisa sedikit terobati. Selain itu ia juga akan merasa bahagia kalau Siska bisa makan di acara pesta Hanifa.
''Iya, ayo Mas.'' sahut Siska senang.
***
Di lokasi pernikahan Hanifa dan Malik.
Seorang MUA handal telah selesai merias wajah ayu Hanifa, Hanifa nampak sangat anggun. Ia juga telah memakai busana pernikahan. Busana berwarna putih dengan jilbab senada, di atas kepalanya sebuah mahkota telah bertengger di sana.
''Bunda cantik sekali.'' ujar Arif senang, Arif tiba-tiba masuk ke kamar Hanifa, kamar pengantin.
''Arif juga sangat tampan.'' Hanifa mengecup lembut kening Arif. Arif juga sudah sangat tampan dengan stelan bewarna putih di baluti jas dan dasi kupu-kupu. Rambutnya yang hitam tebal nampak rapi.
''Bunda, Papa tampan udah datang. Papa tampan sangat tampan hari ini.'' bisik Arif lirih. Jantung Hanifa tiba-tiba berdebar tak karuan. Setelah itu Teh Hamidah dan Mbak Marwah datang.
__ADS_1
''Ayo turun Hanifa. Tuan Malik sudah di bawah.'' ucap Teh Hamidah dengan senyum simpul. Hanifa mengangguk kecil, lalu Hamidah dan Marwah membimbing Hanifa keluar kamar, sebentar lagi prosesi pernikahan akan segera di mulai. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan pesta yang mewah dan juga meriah tentunya.
Bersambung.