AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Memulai ritual


__ADS_3

''Mas, tolong ambilkan handuk dong,'' ucap Hamidah dengan suara terdengar sayup dan malu-malu, wajahnya sedikit memerah, ia bersandar di balik pintu kamar mandi. Sebenarnya ia merasa sungkan minta tolong kepada sang suami, tapi apa boleh buat, karena terburu-buru masuk ke kamar mandi tadi, membuatnya lupa membawa handuk. Hamidah merasa kedinginan, kedua tangannya saling menyilang di depan dada, memeluk tubuh.


Abdillah yang mendengar sang istri minta diambilkan handuk, dengan cepat ia mengambil handuk kering di dalam lemari, lalu ia berjalan kearah pintu kamar mandi dengan dada terasa berdebar tak karuan.


''Sayang, ini handuknya,'' Abdillah berucap sambil mengetuk pintu dengan pelan. Hamidah yang mendengar sang suami sudah berada di depan pintu kamar mandi, dengan cepat ia membuka pintu, dengan kepala yang hanya menongol keluar, sedangkan tubuhnya yang polos di sembunyikannya di balik pintu.


''Sini, Mas. Terimakasih.'' Hamidah mengambil cepat handuk warna putih yang diulurkan oleh sang suami, setelah itu ia menutup pintu lagi. Abdillah hanya mempu tersenyum kecil melihat tingkah sang istri.


''Jangan lama-lama di kamar mandinya, Mas tunggu, Mas sudah menyiapkan mukena mu Sayang.'' ujar Andillah sebelum ia berlalu dari pintu kamar mandi.

__ADS_1


''Iya, Mas.'' balas Hamidah yang masih sibuk melilit handuk sebatas dadanya.


Tidak lama setelah itu Hamidah keluar dari kamar mandi, ia melihat sang suami telah duduk di atas sajadah, sedangkan sehelai sajadah sudah terbentang rapi di belakangnya, dengan mukena terdapat di atasnya. Abdillah telah menyiapkan semuanya. Melihat itu, Hamidah berjalan dengan cepat ke arah ruang ganti, kamarnya memang luas, bahkan ruang ganti pun tersedia di kamar itu. Hamidah memakai piyama bewarna merah muda yang sedikit transparan, piyama tanpa lengan dan panjangnya hanya di bawah lutut. Piyama itu telah di siapkan oleh Ainun, sang Mama.


''Aku nggak boleh membuat suamiku menunggu lama. Sudah belum, ya? Ah, sepertinya sudah. Bukankah seorang istri harus bisa memanjakan mata suaminya? Mulai malam ini aku akan melaksanakan tugas pertama ku sebagai seorang istri dengan baik. Agar aku bisa mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ganda.'' gumam Hamidah sambil berputar-putar di depan kaca, ia juga telah selesai menyisir rambutnya. Setelah itu ia menghampiri sang suami.


''Maaf, menunggu lama, Mas.'' ucap Hamidah lembut.


''Biar aku saja yang bereskan, Mas.'' ucap Hamidah ketika Abdillah hendak melipat sajadah.

__ADS_1


''Mas bantu, ya.''


''Baiklah. Kamu gini terus, ya, sama aku. Jangan pernah berubah, meskipun kita sudah berumah tangga lima puluh tahun lamanya esok.'' ucap Hamidah.


''Tentu, Sayang. Kita sama-sama berdoa agar rumah tangga yang baru kita bina ini bisa berjalan baik-baik saja kedepannya.''


''Amin, Mas.''


Hamidah meletakkan mukena dan sajadah pada tempatnya. Sedangkan Abdillah sudah duduk santai di kasur dengan punggung bersandar di kepala sofa. Tatapan Abdillah selalu tertuju kepada sang istri, sang istri yang terlihat begitu seksi, rambutnya yang panjang sepunggung ia geraikan, hingga semakin menambah kesan keseksian nya. Abdillah dengan sabar menunggu sang istri menghampiri nya. Tidak lama setelah itu Hamidah berjalan menghampiri Abdillah. Begitu ia sudah berada di depan sang suami, sang suami berucap lirih, ''matikan lampunya, Sayang.'' Hamidah yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan sang suami langsung saja memencet seklar, mematikan lampu utama, hingga tersisa lampu tidur yang remang-remang.

__ADS_1


''Duduk disini,'' Abdillah menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Hamidah pun menurut dengan anggukan kecil. Jujur, ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Abdillah dan Hamidah sudah duduk dengan saling berhadapan, setelah itu Abdillah menatap sang istri lekat, Hamidah yang merasa malu lalu menundukkan kepalanya, dengan pelan Abdillah menyentuh dagu sang istri lalu ia mengangkatnya lagi. Setelah itu Abdillah mengecup pelan kening sang istri. Hamidah yang diperlakukan begitu lembut merasa sangat bahagia karena mendapatkan suami seperti Abdillah. Dari cara Abdillah bertutur kata dan memperlakukan nya saja, Hamidah sudah tahu, kalau sosok suami seperti suaminya adalah sosok pria penyayang dan lembut.


Bersambung.


__ADS_2