
Hanifa menatap layar ponselnya yang menyala, seketika dia tersenyum bahagia melihat di layar ponsel nama sang suami tertera, sang suami yang tengah melakukan panggilan terhadap dirinya.
''Hmm baru saja aku hendak menghubungi mu Mas. Ternyata kita memang sehati suamiku.'' batin Hanifa dengan bibir melengkung sempurna. Lalu ia mengangkat panggilan dari sang suami dengan cepat. Sekarang ia tengah duduk di kursi tunggu di luar ruangan rumah sakit.
Sepasang suami istri itu berbicara apa saja, berbasi-basi dengan disertai tawa kecil. Hanifa bahkan menceritakan tentang kondisi Setya saat ini kepada sang suami. Malik merasa kasihan terhadap Setya, tapi ia juga berpesan agar Hanifa tetap berhati-hati saat berhadapan dengan Setya, bukan apa-apa, ia takut Setya berbuat yang tidak-tidak terhadap sang istri tercinta, dan mencelakai kandungan sang istri. Malik tidak bisa menemani Hanifa karena ia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal di perusahaan, sekarang pekerjaannya di perusahaan bertambah banyak karena Abdillah yang tak lagi bekerja di perusahaan miliknya, Abdillah telah pindah, ia telah menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan sang mertua. Malik belum menemukan orang yang tepat untuk mengganti posisi Abdillah.
Setelah itu panggilan terputus, Hanifa memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Lalu ia berjalan memasuki ruang Setya lagi, ia akan berpamitan pulang, ia rasa sudah cukup waktunya ia dan sang putra berada di rumah sakit jiwa menjenguk sang mantan suami.
Saat sudah di dalam, ternyata Arif sudah selesai menyuapi sang Ayah. Arif kini tengah mengelap bibir sang Ayah menggunakan tissue, Arif melakukannya dengan pelan dan hati-hati, sampai-sampai Setya menatap nya dengan begitu lekat dengan air mata yang telah mengenangi pelupuk, Setya rasa hatinya menghangat disertai desiran aneh yang ia rasa di dadanya, desiran yang telah lama tidak ia rasa, selama beberapa bulan ini ia merasa hidupnya begitu hampa, seakan semua kebahagiaan telah lenyap dari hidupnya, tapi kehadiran dan perlakuan lembut sang putra perlahan menjadi obat penawar baginya, ia merasa kembali bersemangat lagi dalam menjalani hidup, karena ada sang putra yang harus ia perhatikan di masa depan, ia berjanji akan menjadi Ayah yang baik. Meskipun kalau ia telah sembuh sempurna, ia harus kembali mendekam di penjara selama sepuluh tahun lamanya untuk menjalani masa tahanan nya. Mungkin saat itu Arif sudah beranjak remaja, menjadi remaja yang tampan dan pastinya di idolakan gadis-gadis seumuran dengannya.
Begitu juga Hellen dan Ibunya, mereka juga begitu terharu melihat kelembutan Arif dalam memperlakukan Setya, kini mereka sangat menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, mereka yang tak pernah menganggap Arif dahulu sebagai bagian dari keluarga mereka. Kini mereka berjanji akan selalu ada untuk Arif. Mereka tidak akan menyia-nyiakan Arif lagi.
''Ayah sudah terlihat sedikit tampan, hanya saja, Ayah harus memotong rambut Ayah dan memotong kumis dan jenggot Ayah yang sudah semakin panjang agar terlihat lebih tampan lagi.'' ucap Arif dengan senyum simpul. Setya mengangguk kencang, lalu berkata, Iya, iya, iya. Te-terimakasih a-anak Ayah ....'' ucap Setya terbata dengan senyum sumringah, air matanya pun menetes, lalu ia memeluk Arif lagi dengan begitu erat. Sampai-sampai Arif merasa sedikit sesak akibat pelukan sang Ayah. Beberapa menit setelah itu seorang Dokter masuk ke dalam ruangan, sebelum masuk Dokter perempuan itu mengucap salam terlebih dahulu, rombongan Hanifa pun membalas salam sang Dokter dengan ramah.
''Wah, sepertinya sudah ada kemajuan ini ...'' ujar sang dokter seraya menyentuh kening Setya dengan telapak tangannya.
''Iya, Dok. Bahkan Setya sudah menghabiskan sepiring nasinya. Ini semua karena kehadiran putranya dan mantan istrinya.'' jawab Ibu Setya.
''Ini putranya Pak Setya?'' tanya dokter ramah menatap Arif.
''Iya, Dokter.'' jawab Arif.
__ADS_1
''Kamu tampan sekali, Sayang. Dan kamu juga memiliki Ibu yang sangat cantik.'' ucap dokter lagi melihat Arif lalu beralih ke arah Hanifa.
''Bundaku emang cantik Dokter.'' ujar Arif lagi.
''Selain tampan kamu juga pintar. Ayah mu pasti sangat beruntung bisa memiliki seorang putra seperti mu.'' puji dokter sambil mengelus pucuk kepala Arif.
Setelah berbasa-basi sebentar, Hanifa dan Arif pun pamit dari ruangan Setya. Setya masih sering mencuri-curi pandang kearah Hanifa, untungnya ia tidak melakukan hal yang dapat merugikan Hanifa. Karena tadi setelah makan, dokter telah memberinya obat. Arif berjanji, besok dia akan kembali lagi kerumah sakit, Arif merasa senang bisa berbuat sesuatu yang berguna untuk sang Ayah. Karena tidak ada kebaikan yang sia-sia kalau kita tulus melakukan nya.
Hellen dan Ibunya masih tetap berada di rumah sakit, mereka akan menemani Setya sebentar lagi.
***
Malam harinya, pukul delapan lewat, di kediaman Rian.
''Apaan sih, Ma! Kayak nggak ada kerjaan lain saja, aku lagi sibuk.'' balas Rian angkuh, saat ini ia tengah berada di ruang kerjanya, ia duduk di kursi menghadap leptop. Ia sedang memeriksa beberapa laporan dari perusahaan. Ia merasa tidak fokus dalam bekerja karena kehadiran pria yang telah meninggalkannya sedari kecil.
''Kamu 'kan bisa meninggalkan pekerjaan mu sebentar.'' pinta Mamanya lagi sedikit memohon.
''Ma, sudah! Jangan paksa aku untuk ketemu si tua bangka itu. Buat apa dia ingin ketemu aku, berpuluh tahun lamanya ia pergi meninggalkan Mama, meninggalkan aku. Sekarang untuk apa dia capek-capek datang ke sini. Mama juga, apa tidak ada rasa benci Mama terhadap pria itu setelah apa yang telah dia lakukan kepada kita dulu.'' ujar Rian dengan begitu kesal. Ini kali pertamanya ia semarah ini, dan ini juga kali pertamanya ia berbicara begitu kasar dengan sang Mama.
''Katanya dia sangat merindukan mu, Sayang. Kamu tidak boleh seperti itu, walau bagaimanapun dia tetap Papa kandung mu.'' Santi berucap dengan wajah sedih. Sedangkan Rian merasa aneh melihat sikap sang Mama yang begitu memaksanya untuk bertemu dengan sang Papa. Rian tak menjawab lagi, ia kembali fokus dengan leptop yang ada di depannya.
__ADS_1
''Rian, please!'' Santi memohon lagi dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Rian menarik nafas dalam lalu berucap.
''Baiklah.'' ucapnya mengalah dengan wajah datar tanpa ekspresi. Santi pun tersenyum senang mendengar jawaban sang putra. Setelah itu mereka berjalan berdampingan menuju lantai bawah, menuju ruang tamu. Saat sudah berada di ruang tamu, Rian melihat pria paruh baya dan seorang wanita muda tengah duduk di sofa.
''Mas Adi, maaf lama menunggu,'' ucap Santi merasa bersalah. Rian yang mendengarkan merasa ingin muntah, ia menganggap sang Mama sudah tidak punya harga diri lagi, karena sudah mau menerima kedatangan sang mantan suami yang pernah menggores luka di hati hanya karena perempuan lain.
''Eh, em ... Tidak apa-apa.'' jawab pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda. Ia dan wanita muda yang ada di sampingnya menatap Rian lekat, Rian dan sang Mama sudah duduk di sofa, mereka duduk berhadapan mengelilingi sebuah meja yang di atasnya sudah tersedia minuman dan cemilan yang berupa kue kering.
''Ri-rian ... ternyata kamu sudah dewasa dan sangat tampan, Nak. Wajah mu sama persis seperti wajah Papa waktu masih muda.'' ucap Adi dengan suara terdengar serak, matanya berbinar menatap Rian.
''Cihh ... Dasar tidak tahu diri!'' umpat Setya membuang muka.
''Rian!'' Santi merasa tidak suka melihat sikap sang putra.
''Tak apa, tidak apa-apa, terserah kamu mau berkata apa sama Papa, Papa akan terima dengan senang hati asalkan kamu mau menerima dan menganggap Papa sebagai Papa mu, Nak.'' Adi berkata dengan mata berkaca-kaca. Membuat Rian semakin muak melihat nya, ia paling tidak suka ada drama-drama. Rian merasa sangat tak nyaman, rasanya ia ingin mengunjungi rumah Andra dan Ainun saja, ia ingin bercerita banyak kepada Om dan Tantenya mengenai kekesalan hatinya saat ini.
Bersambung.
Sebut saja ini season selanjutnya, ya, gais. Di part-part selanjutnya kita akan banyak menceritakan kehidupan Rian. Untuk kehidupan Hanifa, Hamidah dan yang lainnya masih tetap di ceritakan, tapi hanya sedikit-sedikit saja.
Kira-kira apa gerangan Papa Rian menemui Rian, ya?
__ADS_1
Ada yang bisa jawab?