AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pov Rian


__ADS_3

Apabila seorang laki-laki (suami) yang punya anak laki-laki menikah dengan seorang perempuan (istri) yang punya anak perempuan, maka anak laki-laki suami tersebut boleh menikah dengan anak perempuan si istri (saudara tirinya)." (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, A-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Darul Hadis: 2010], juz XVI, halaman 495)"


Pada intinya, hukum menikahi saudara tiri tidak haram alias diperbolehkan. Menurut Imam An-Nawawi, hal ini dikarenakan antara saudara tiri tidak ada hubungan nasab persusuan.


Meskipun di Indonesia menikahi dengan saudara tiri dirasa tidak lazim, namun dalam Islam hal itu tidak dilarang.


***


Pertemuan dan perkenalan yang begitu singkat, semua terkesan terburu-buru. Karena paksaan Mama dan permohonan Papa, hingga saat ini aku dan Intan telah resmi menjadi sepasang suami istri, suami istri yang paling aneh menurut ku. Karena aku belum mengenali seperti apa sifat dan karakter Intan yang sesungguhnya. Begitupun dirinya, dirinya pasti juga belum mengenali seperti apa aku.


Kekakuan dan kecanggungan terjadi setiap malam saat aku dan Intan berada di dalam kamar yang sama. Meskipun kami tidak tidur seranjang, tapi sekamar dengan wanita yang masih terasa begitu asing membuat aku benar-benar tak nyaman. Rasanya aku ingin menghilang saja, perpindahan ke kamar lama ku di rumah Mama, lalu tidur dengan nyenyak tanpa bayang-bayang wajah Intan.


Pernikahan aku dan Intan di gelar dengan begitu sederhana, hanya ada penghulu dan beberapa orang saksi. Tak ada resepsi dan pesta besar-besaran, karena kami menikah tanpa adanya cinta. Dan sepertinya pernikahan kami akan terus berjalan dengan kekakuan, hingga besok benar-benar ada yang menyerah lalu pergi mencari kebahagiaan lain. Entah itu Intan atau aku sendiri yang memilih pergi. Sekarang, pernikahan yang aku dan Intan jalani hanya karena permintaan seorang pria paruh baya, pria paruh baya yang tak bisa hidup lebih lama lagi karena kangker yang menggerogoti otaknya, sama seperti mendiang istrinya, Mama Intan juga meninggal karena suatu penyakit ganas yang mematikan. Entah aku harus bahagia atau bersedih dengan penyakit yang mereka derita, tapi yang jelas aku merasa biasa saja.


***


Pukul sebelas malam, aku menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Aku turun dari mobil yang sudah aku parkir di garasi, berjalan pelan memasuki rumah yang begitu sunyi, sepi. Para pelayan yang jumlahnya tidak terlalu banyak sepertinya sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing, menyiapkan tenaga untuk kembali bekerja besok pagi.


Saat aku melewati ruang tamu dengan cahaya remang-remang, tiba-tiba sebuah suara berhasil mengagetkan aku, menghentikan langkah kakiku.


''Mas, baru pulang?'' aku terkesiap, menoleh ke asal sumber suara, di sana tampak Intan duduk di sofa sambil menguap lebar. Ia memakai piyama seksi yang transparan, membuat aku tak bisa menatap ke arahnya lama-lama.


''Kamu ngapain di sini?'' tanya ku masih berada di posisi semula, berdiri tidak jauh dari Intan. Menatap Intan sekilas dengan kening berkerut.


''Aku menunggu kamu, Mas. Kamu kenapa tidak mengangkat panggilan aku?'' Intan berjalan ke arah ku, ia lalu mengambil tanganku, lalu mencium punggung tanganku. Aku hanya mampu bergeming melihat ulahnya. Ia sok bersikap seperti istri sholehah saja, sebenarnya apa yang ia harapkan dari pernikahan ini? Bisakah ia bersikap biasa saja, layak nya orang asing. Jujur, aku benar-benar muak melihat wajah sok lugunya, wajah yang mencuri Papa dari aku, wanita yang mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari Papa, sementara aku? Ah .... Menyebalkan sekali. Tidak mudah bagiku untuk berpura-pura baik terhadap Intan setelah apa yang telah ia dan Mamanya lakukan.


''Kamu dari mana saja, Mas?''

__ADS_1


''Aku sangat mengkhawatirkan mu.''


''Apa kamu sudah makan?'' tanya Intan, ia mengikuti langkah ku, aku naik ke lantai atas hendak masuk kamar.


''Aku sudah menghangatkan makanan untuk mu.''


''Mas.''


''Apaan sih? Bisa diam tidak?'' ucapku sedikit membentak. Aku dan Intan berdiri saling berhadapan.


"Aku cuma ingin belajar untuk menjadi istri yang baik, Mas. Semua ini aku lakukan atas permintaan Papa dan almarhumah Mama.'' mata Intan nampak berkaca-kaca.


''Alah, jangan sok baik kamu Intan! Dua orang yang kamu sebutkan tadi itu bukanlah orang yang baik. Mereka penjahat, pengkhianat!'' ucapku lantang. Setelah itu aku masuk ke kamar meninggalkan Intan yang terdiam terpaku. Aku sedikit membanting pintu kamar hingga mengeluarkan bunyi berisik.


Setibanya di dalam kamar, aku langsung mengganti pakaian formal dengan setelan piyama tidur. Aku ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu aku merebahkan diri di atas kasur lantai. Aku menutup mata, berharap malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Untuk sholat magrib dan Isya, tadi aku sudah sholat berjamaah sama Om Andra dan Tante Ainun.


''Tidur yang nyenyak, Mas. Hiks ...'' ucapnya dengan suara bergetar di sertai isakan kecil. Setelah itu aku mendengar dengan sayup-sayup Intan naik ke tempat tidur.


***


Keesokan paginya, aku dan Intan sarapan dalam diam. Saat makan, sesekali aku mencuri pandang ke arah Intan, aku lihat, matanya sedikit sembab. Intan juga telah siap dengan pakaian kantorannya, sama seperti aku. Ada rasa bersalah saat aku memandangi wajah Intan, tapi saat aku merasa bersalah dan kasihan, dengan cepat aku halau rasa itu dengan mengingat apa yang telah Mamanya lakukan kepada Mamaku dulu.


''Nanti, saat jam istirahat kita jengguk Papa yuk ...'' ujar Intan pelan saat kami sudah menghabiskan makanan.


''Aku sibuk hari ini.'' balasku lalu berlalu dari hadapannya.


''Aku harap kamu tidak merasa menyesal Mas setelah Papa benar-benar pergi dari dunia ini.'' ucap Intan keras. Sementara aku, langkahku sempat terhenti saat ia mengatakan itu, tanpa menoleh ke arahnya, setelah itu aku benar-benar pergi meninggalkan Intan.

__ADS_1


***


"Bagaimana caranya aku bisa membalas rasa sakit hatiku? Intan sepertinya wanita yang tangguh, ia bukan tipekal wanita yang gampang menyerah. Cepat atau lambat, aku harus mengakhiri pernikah antara aku dan dirinya.'' gumamku sambil mengetuk-ngetuk jari ke meja. Tidak lama setelah itu terdengar seseorang bersuara sambil mengetuk pintu dari luar, aku menyahut menyuruh sang pemilik suara masuk.


''Masuk.''


Pintu ruangan ku terbuka, lalu masuklah seorang wanita muda berpakaian sedikit seksi. Dengan rok ketat di atas lutut, atasan kemeja yang di baluti jas.


''Pak, ini ada beberapa berkas yang harus Bapak tandatangani, Pak Abdillah masih belum masuk.'' ucap wanita itu tersenyum simpul sambil menyerahkan beberapa berkas.


''Baiklah Vira.'' balasku.


''Apa Bapak baik-baik saja?''


''Tentu saja.''


''Tapi aku lihat mata Bapak sedikit berbeda, Bapak seperti kurang tidur.''


''Hmm, bisa aja kamu.'' balasku lagi. Aku dan Vira saling tatap cukup lama. Vira adalah sekretaris pribadi ku. Aku tahu, dari dulu dia selalu mencoba menarik perhatian ku, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Tapi hari ini?


Ah, aku punya ide, bagaimana kalau aku dekati saja Vira, dengan menjadikan Vira sebagai kekasih, mungkin akan membuat Intan semakin menjauh dariku.


Bersambung.


Ternyata Rian masih belum bisa berdamai dengan masalalunya, ya.


Bagaimana dengan Intan? Apakah dia benar-benar tulus mencintai Rian?

__ADS_1


__ADS_2