AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Bab 46


__ADS_3

Semerbak bau bunga melati menguar menusuk Indra, tiupan angin terasa mendayu menyapa. Sekarang aku dan yang lainnya tengah berdiri di depan gundukan tanah yang masih basah, lengket, dan bewarna kekuningan. Suamiku selalu setia berada di sampingku, sesekali ia mengelus punggung, mengelus pucuk kepala dan juga memeluk tubuhku. Ah ... Suamiku memang terbaik. Sedangkan tiga orang duduk berjongkok di depan gundukan tanah sambil terisak, menangis pilu.


''Ayah .... Huhuhu, maafkan aku. Semoga Ayah tenang di alam yang baru. Aku akan mengingat selalu amanah Ayah.'' Mas Setya, mantan suamiku itu dari tadi terus menangis tak berkesudahan, mungkin ia telah sadar dan menyesali semua kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalunya. Sedangkan Adik dan Ibunya hanya diam dengan isakan yang sesekali terdengar. Iya, Ayah mertua, Kakek dari Putraku telah pergi meninggal dunia, ia menghembuskan nafas terakhirnya di pesta pernikahanku, dengan senyum manis yang ia tunjukkan kepadaku dan berkata, ''Ayah sekarang sudah bisa pergi dengan tenang Hanifa. Kamu sudah menemukan jodoh yang tepat, Setya sudah meminta maaf kepada mu dan kamu juga telah memaafkan nya. Setya ... Sudah! Sudahi kegilaan mu, jaga Istri baru mu, jaga Ibu dan Adik mu. Dan jangan menyerah untuk terus membujuk Arif agar mau memaafkan mu. Ayah titip mereka. Jadilah pria sejati setelah ini, Nak.'' begitulah pesannya. Lalu mata yang sayu sedikit kemerahan itu perlahan menutup dan tak bergerak lagi.


Tamu-tamu undangan menatap kepergian Ayah dengan wajah terlihat sedih. Setelah itu Ayah dilarikan ke rumah sakit. Dan aku, tetap melanjutkan pesta yang berlangsung dengan hati yang terasa gundah, tamu-tamu masih pada berdatangan. Aku memasang senyum semanis mungkin menyambut mereka. Mereka yang merupakan kerabat Mas Malik dan rekan kerjanya. Aku tidak mau membuat suamiku kecewa.


***


Plesback.


Mas Setya berjalan mengikuti langkah Mas Abdillah dari belakang dengan kepala menunduk, di sampingnya seorang wanita muda yang memiliki wajah yang cantik juga mengikuti langkah Mas Abdillah. Saat sudah sampai di hadapan aku, Ayah dan yang lainnya, Mas Setya berdiri membeku, wajahnya yang kusut seperti tak terawat terlihat pucat. Aku sungguh merasa prihatin melihat kondisinya saat ini. Ini kali pertama aku melihat penampilan Mas Setya semenyedihkan ini, aku hampir tak mengenali sosoknya. Selama enam tahun hidup bersamaku dulu, aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Selalu memperhatikan penampilan dan menyiapkan pakaian yang bersih dan rapi untuknya. Tapi sekarang .... Ah sudahlah, aku tak mau mengingat lagi.


Lalu setelah itu, Mas Setya menjatuhkan tubuhnya tepat di kakiku dan putraku, ia menunduk lalu berucap.


''Maaf, maafkan aku Hanifa. Arif Ayah minta maaf. Maaf sekali. Maaf ... Hiks.'' Mas Setya berjongkok tepat di kakiku, aku menarik langkah mundur kebelakang. Ayah dan yang lainnya menatap dengan haru. Begitu juga Arif, ia juga memundurkan tubuhnya mungilnya.


''Mas.'' bisikku tepat di telinga suamiku. Aku merasa tidak enak sama Mas Malik dengan situasi yang terjadi tanpa di duga.


''Maafkanlah Sayang. Mas tahu kamu adalah wanita yang baik, dan Mas tidak keberatan. Sekarang lihatlah, dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya. Dia juga sudah menyesali nya.'' balas Mas Malik lirih. Aku mengangguk kepala, lalu berucap.


''Berdirilah, aku sudah memaafkan kamu Mas Setya.''


''Benarkah?'' ia mendongak.

__ADS_1


''Iya.'' ia tersenyum kaku. Setelah itu ia beralih menatap Arif.


''Arif, ini Ayah, Nak. Maafkan Ayah, ya.''


''Nggak mau!'' Arif berkata dengan suara lantang.


''Ayah minta maaf Sayang ....'' Mas Setya menggapai tangan Arif.


''Tidak!'' Arif menepis tangan Mas Setya lalu ia berlari menembus tamu yang berkumpul menyaksikan. Putraku masuk ke dalam rumah. Teh Hamidah dan Mas Abdillah dengan cepat mengejarnya.


Setelah itu tidak di sangka-sangka tiba-tiba Ayah terjatuh, nafasnya terlihat sesak, Mas Yusuf yang juga menyaksikan dengan sigap menyambut tubuh renta Ayah. Di ikuti Mas Setya. Hellen dan ibunya menjerit melihat keadaan Ayah. Lalu setelah itu usai menyampaikan sedikit pesannya, Ayah menutup mata, Mas Yusuf memeriksa nadi dan menyatakan Ayah sudah tak bernyawa.


Malam harinya, Mas Malik dengan wajah tersenyum simpul menghampiri aku yang baru saja selesai melipat mukena. Kami baru selesai melaksanakan sholat isya bersama. Aku duduk di pinggir kasur.


''Masih kuat?'' tanyanya sambil merapikan rambutku, menyematkan rambutku di belakang terlinga. Yang membuat aku salah tingkah.


''Kalau begitu bersiaplah Sayang. Ayo kita berangkat ke kampung halaman mu. Kita ikut melayat ke rumah Ayah Setya.'' ucap Mas Malik yang membuat kening ku berkerut. Aku kira dia akan segera melakukan ritual malam pengantin.


''Iya Sayang.'' balasku. Lalu aku mengambil gamis, hijab dan keperluan lainnya. Setelah itu kami berjalan kelantai bawah dan berpamitan kepada Mama. Aku pergi ke kampung bersama Mas Abdillah, Arif, Teh Hamidah dan suamiku.


***


Sepulang dari pemakaman Ayah Mas Setya. Aku dan yang lainnya mampir ke makam Ayah dan Ibu kandungku, tidak tertinggal makam Nenek dan Kakekku juga. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi makam mereka. Karena keterbatasan ekonomi dulu, membuat semua serba sulit hingga aku tidak pernah bisa pulang kampung karena tak ada uang untuk ongkos naik Bus.

__ADS_1


Aku mencabut pelan rumput yang tumbuh subur, di ikuti Arif dan yang lainnya. Begitu sudah bersih kami membaca doa-doa di sana.


''Papa gendong.'' pinta Arif ketika kami hendak pulang. Kami memang berjalan kaki ke pemakaman, karena jarak yang lumayan dekat dari rumah. Mas Malik menggendong tubuh Arif dengan wajah tersenyum manis, ia dan Arif berceloteh lucu. Aku senang melihat hubungan mereka yang begitu dekat. Kami berjalan beriringan, suasana pedesaan terasa sangat sejuk, aku senang bisa berkunjung kembali ke kampung halaman ku. Tempat aku dilahirkan dan di besarkan.


Malam harinya, aku dan Mas Malik hendak tidur di kamar yang cukup sempit. Kamar yang merupakan kamarku dulu, rumah ini memang sudah di renovasi oleh Mas Abdillah, di renovasi menjadi lebih bagus tapi tidak lebih besar. Ukurannya masih sama seperti dulu.


''Mas .... Maaf, ya, kamu pasti nggak nyaman tidur di rumah ini.'' ucapku pelan. Kalau aku tak apa-apa harus tidur di mana saja, tapi kalau Mas Malik ... Diakan terbiasa hidup dalam kemewahan sedari kecil.


''Siapa bilang? Mas nyaman, asal bersama mu, Sayang.'' Mas Malik berkata lirih dengan nada begitu lembut. Aku dan ia duduk di ujung kasur. Mas Malik melepaskan bajunya.


''Mau ngapain, Sayang?'' tanyaku sedikit gugup. Aku meneguk ludah melihat Mas Malik yang tanpa pakaian. Suamiku terlihat sangat tampan, perutnya yang sixpack begitu menggoda. Walau bagaimanapun aku adalah wanita normal, aku tidak bisa membohongi diriku dengan mengatakan kalau aku tak tertarik, suamiku sungguh tampan.


''Panas yangg.'' balasnya dengan senyum kecil.


''Hm ... tuh 'kan, kamu pasti nggak nyaman.''


''Nggak gitu.'' Mas Malik mendekati aku, lalu ia menyentuh pucuk kepalaku, aku melihat mulutnya, mulutnya komat-kamit melapaskan doa-doa. Setelah itu aku merasa jantungku berpacu cepat. Mas Malik semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, kami saling tatap. Aku lalu memejamkan mataku, tidak lama setelah itu aku merasa sentuhan lembut telah mendarat di bibirku. Aku menikmati setiap sentuhan yang Mas Malik berikan, dia memperlakukan aku dengan sebegitu lembut dan hati-hati. Semakin lama cium*nnya semakin dalam, lid*h Mas Malik bermain-main di dalam mulutku. Mas Malik seperti sudah berpengalaman saja. Pikirku. Karena jujur, aku memang belum mengetahui semua tentang masalalu suamiku. Tapi meski demikian, aku akan selalu mencintai dan percaya sama suamiku. Karena, masalalu sebaiknya dilupakan dan di jadikan pelajaran. Dan masa sekarang nikmati dan syukuri yang ada dan selalu berbenah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepan.


Saat aku dan Mas Malik sudah mer*bahkan diri di atas kasur, tiba-tiba terdengar suara ketukan kecil di pintu.


''Bunda, Papa ... Buka pintunya, aku mau tidur sama kalian.''


***

__ADS_1


Tamat.


Eh ... Gimana? Tamat apa lanjut nih?


__ADS_2