
''A-aduh ... Perut ku sakit sekali.'' gumam Arumi lirih seraya memegang bagian perutnya. Ia menunduk, wajahnya terlihat pucat karena menahan rasa sakit. Setya berjalan cepat ke arah sang istri, ia hendak membantu Arumi.
''Sayang ... Kamu kenapa? Makanya kamu jangan marah-marah begitu, lagi hamil juga.'' ujar Setya lembut dengan wajah terlihat cemas. Ia menyentuh lengan Arumi pelan, berniat ingin membantu Arumi, membimbing tubuh Arumi agar duduk di atas kasur.
''Jangan sentuh aku. Kamu jangan memanfaatkan keadaan ini, aku bisa sendiri. Jijik!'' tolak Arumi lirih seraya menepis kasar tangan Setya. Setya yang mendapat perlakuan seperti itu merasa kaget, emosinya sedikit terpancing. Wajahnya memerah.
''Arumi! Lihatlah, wajah kamu begitu pucat. Mas tahu kamu sedang kesakitan. Jangan keras kepala, lupakan kesalahpahaman yang terjadi barusan. Mas tidak mungkin mengkhianati kamu Sayang. Lebih baik sekarang kita kerumah sakit. Mas tidak ingin sampai terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita yang ada didalam kandungan mu itu.'' ujar Setya dengan nada keras sedikit membujuk. Ia dan Arumi berdiri saling berhadapan.
''Aku nggak sudi kamu sentuh lagi! Lebih baik kamu pergi sekarang juga dari rumah ini! Angkat kaki mu dari sini sekarang juga! Jangan suka omong kosong! Aku tidak percaya lagi!'' tolak Arumi bersikeras. Tangannya masih berada di perut, ia masih berusaha menahan rasa sakit. ''Auuhhh.'' lirih Arumi.
''Arumi!'' bentak Setya dengan gigi terdengar bergemeletuk.
''Apa? Aw ...'' Arumi semakin kesakitan, peluh membasahi keningnya.
''Heh .... Dalam keadaan sakit saja kamu masih belagu dan sok-sokan. Dasar keras kepala! Tanggung sendiri penderitaan mu itu, jangan salahkan aku kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu dan kandungan mu!'' oceh Setya seraya menendang kecil lemari yang ada di sampingnya. Wajahnya yang masih kusut tersenyum sinis.
''Sana pergi kamu pria brengsek! Keluar dari rumahku. Dasar, miskin! Tidak tahu terimakasih! Aku kira kamu pria kampung yang baik dan lugu, eh ... Ternyata kamu buaya. Nyesel aku karena udah merebut kamu dari Hanifa dulu! Pergi! Pergi dari rumahku, angkat kaki mu!'' Arumi benar-benar kekeh dengan pendiriannya tidak mau memaafkan dan menerima Setya lagi. Sesak di dada karena dikhianati membuat seketika rasa cinta berubah jadi benci yang teramat sangat. Arumi benar-benar tidak bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan oleh Setya, ia tidak menyangka Setya akan setega itu menduakan nya, padahal ia sudah sangat baik sama Setya selama ini. Tadi, saat ia membuka ponsel Setya dengan diam-diam, ia tidak hanya membuka pesan antara Setya dan Siska di aplikasi WA, tapi, ia juga tidak sengaja membuka vidio, betapa terkejutnya ia saat ia menemukan sebuah vidio panas antara Setya dan Siska. Video yang berdurasi sekitar lima menit, di dalam vidio itu ia melihat Setya sangat bersemangat memimpin permainan tanpa sehelai benang yang menutupi anggota tubuhnya. Dan suara des*h*n kenikmatan yang keluar dari mulut Siska masih terus berdengung di telinga Arumi. Membuat hati Arumi terasa begitu nyeri. Di saat dirinya tengah menunggu kepulangan sang suami dengan cemas, eh ... Ternyata suami yang amat ia percaya tengah bermandi keringat bersama wanita lain. Wanita mana yang tak kecewa dan sakit hati.
''Baiklah, aku akan pergi kalau itu mau mu. Awas, jangan nyesal!'' ujar Setya seraya mengambil tas yang berisi pakaiannya.
''Selamat menahan rasa sakit, mudah-mudahan kamu tidak mati!'' seru Setya lagi sebegitu tega. Setelah itu ia benar-benar berlalu dari hadapan Arumi, meninggalkan Arumi sendiri bertemankan rasa sakit.
__ADS_1
Setelah kepergian Setya, Arumi menangis terisak, kedua telapak tangannya menangkup wajah, ia menangis tergugu, tangisnya terdengar begitu memilukan. Setelah itu ia berjalan pelan ke arah tempat tidurnya. Lalu ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia menghubungi Mama nya. Ia akan meminta bantuan kepada sang Mama. Dengan cepat Mamanya mengangkat panggilan Arumi. Setelah panggilan terputus, Arumi mengelus perut buncitnya, ia sudah berbaring sempurna di atas tempat tidur. Rasa sakit di perutnya berangsur berkurang.
''Ah ... Maafkan Mama, Nak. Perut Mama sakit pasti karena emosi Mama yang tidak dapat Mama kendalikan. Bertahanlah, Mama tahu kamu anak yang kuat. Tidak lama lagi Oma dan Opa akan datang membantu kita.'' gumam Arumi lirih. Ia menutup matanya. Tiba-tiba bayang-bayang tentang kecurangan yang pernah ia lakukan terhadap Hanifa dulu berputar di kepalanya bak sebuah film. Ia merasa amat bersalah dan menyesal atas perbuatannya dulu. Sekarang ia baru merasakan betapa sakitnya dikhianati oleh orang yang amat di cintai dan dipercaya.
''Aku harus mencari keberadaan Hanifa, aku akan meminta maaf kepadanya dan putranya. Ah .... Kenapa baru sekarang aku merasa menyesal dan bersalah. Maafkan aku Hanifa.'' gumam Arumi lirih, tetes air mata jatuh di ujung mata membasahi sprei.
***
Setya mengemudi kendaraan roda empat milik Arumi dengan kecepatan tinggi. Ia membawa mobil itu menuju kediaman Siska. Ia tahu hari ini Siska juga tidak datang ke restoran tempat ia bekerja. Karena Setya sudah bisa menebak bahwa Siska pasti juga sedang kelelahan karena perbuatan mereka tadi malam.
''Hahaha dasar perempuan bodoh! Aku tidak apa-apa ia usir dari rumahnya itu, ia kira aku takut. Yang terpenting saat ini sebagian dari hartanya sudah ada pada ku. Mungkin karena terlalu lengah dengan emosi dan rasa sakitnya hingga ia melupakan hartanya. Bahkan ia tidak melarang aku untuk membawa mobil ini. Setelah sampai di rumah Siska nanti, aku akan meminta Siska untuk segera bersiap, aku dan Siska harus segera kabur dari kota ini. Sebelum semua kelakuan aku diketahui oleh Arumi. Aku akan mengajak Siska bersenang-senang ke sebuah Villa dengan menggunakan uang dari hasil restoran milik Arumi yang aku ambil secara diam-diam.'' gumam Setya seraya tersenyum licik. Ia sama sekali tidak merasa bersalah, Setya benar-benar sudah lupa diri terlalu jauh.
Begitu sampai di depan pintu rumah yang di huni oleh Siska, Setya mengetuk pintu cukup keras. Beberapa Ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumah yang merupakan tetangga Setya dulu melihat Setya dengan saling berbisik-bisik. Mereka sudah lama curiga melihat kedekatan antara Setya dan Siska yang tak biasa. Siska gadis muda yang memiliki wajah cukup cantik, sedikit mirip sama Hanifa. Itulah yang membuat Setya berani mengkhianati Arumi. Ia belum bisa melupakan Hanifa sepenuhnya. Ia Ingin menemui Hanifa tapi ia tidak punya cukup nyali untuk itu, dan ia juga tidak akan mungkin lagi mengajak Hanifa untuk rujuk karena ia sudah menjatuhkan talak tiga kepada Hanifa. Selain itu Hanifa juga tidak akan mau menerimanya kembali. Makanya sekarang ia begitu terobsesi sama Siska.
***
''Apakah Tante Sarah sudah mengetahui tentang kita?'' tanya Hanifa membuka percakapan, tetapannya lurus kedepan menatap jalanan yang sepi.
''Tentang kita?'' goda Malik dengan mata di main-main kan, bibirnya di tarik kedalam.
''Iya. Tuan jangan becanda, aku serius.'' Hanifa menunduk malu.
__ADS_1
''Mama sudah tahu, bahkan Mama selalu memberi dukungan dan semangat untuk aku agar aku segera mengungkapkan isi hatiku kepada kamu Hanifa. Mama sangat bahagia saat aku mengatakan kalau aku menyukai mu. Mama juga sangat mengharapkan kamu jadi menantunya. Mama sangat menyayangi kamu, Arif dan Abdillah. Dari awal kehadiran kalian, Mama sudah menganggap kalian seperti keluarga sendiri.'' jelas Malik jujur.
''Terimakasih Tuan.'' sahut Hanifa lirih.
''Untuk apa? Seharusnya aku yang berterimakasih kepada kamu, karena sejak kehadiran kamu aku bisa merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Ah ... Ternyata seindah ini ternyata.'' ujar Malik lagi.
''Cinta awalnya memang terasa indah dan manis Tuan. Tapi, di dalam menjalani suatu hubungan yang dilandasi rasa cinta itu terkadang akan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat jika di antara salah satunya ada yang tak setia, dan berubah perasaannya. Itulah yang membuat aku perlu berpikir panjang untuk menjawab lamaran Tuan.''
''Hanifa, percayalah aku akan tetap setia dengan mu hingga kita menua bersama. Rintangan dan cobaan di dalam suatu hubungan itu pasti ada. Berbagai macam dan bentuk wanita sudah aku temui selama aku memimpin perusahaan dan melakukan perjalanan keluar kota maupun keluar negeri. Selama ini tidak ada satupun wanita yang berhasil membuat dada ku berdebar tak karuan. Hanya kamu yang mampu menimbulkan debaran di dada ku. Kamu istimewa.
Nanti malam aku akan mengajak Mama untuk menemui kamu dan Abdillah. Aku akan mengatakan semua tentang kita kepada Abdillah. Dan sekalian juga aku ingin nanti malam kita membicarakan sama Mama dan Abdillah perihal hari pernikahan kita. Aku ingin pernikahan kita di percepat.'' ucap Malik sambil mengemudi, sesekali pandangannya beralih kesamping melihat Hanifa.
''Baiklah Tuan.''
''Bisa tidak kamu jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi.''
''Lalu apa?''
''Ayang atau apalah gitu yang enak di dengar.'' Malik tersenyum lebar usai mengatakan itu. Sedangkan Hanifa wajahnya seketika bersemu merah.
''Iihhh ...'' ucap Hanifa singkat. Lagi-lagi ia menunduk.
__ADS_1
Bersambung.