AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kecelakaan


__ADS_3

Masih di rumah Malik.


Di dalam ruang bermain yang luas, yang di dalamnya terdapat bermacam-macam jenis permainan, ruang yang sengaja di siapkan oleh Malik sebagai tempat bermain Arif dan untuk tempat bermain Adik-adik Arif kelak. Arif nampak duduk di depan gundukan pasir, ia sedang bermain pasir mainan dengan di temani Hamidah dan Abdillah. Mereka membuat bermacam-macam bentuk buahan, binatang dan benda apa saja dari pasir itu dan cetakannya.


Saat sedang bermain, Abdillah sesekali diam-diam mencuri pandang ke arah Hamidah yang terlihat sangat manis. Hamidah mempunyai warna kulit yang tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap juga. Di pipi nya terdapat lesung pipi, gigi nya juga berginsul, bila ia tersenyum, ia terlihat sangat manis.


Tiba-tiba saja setelah itu Arif berlari keluar dari ruangan itu.


''Kamu mau ke mana, Arif?'' tanya Hamidah.


''Aku mau menghampiri Bunda sama Papa.'' jawabnya, lalu setelah itu tubuh Arif hilang di balik pintu. Kini di dalam ruangan itu tinggallah Hamidah dan Abdillah berduaan. Abdillah yang merasa bingung harus memulai obrolan dari mana, lalu berucap, ''Terimakasih, ya, karena dulu kamu telah menemani Hanifa dan Arif.'' ucap Abdillah terdengar aneh di telinga Hamidah. Abdillah begitu kagum dengan sosok Hamidah yang dianggapnya begitu baik dan tulus.


''Iya. Perasaan kamu sudah sering kali mengucapkan terimakasih kepada ku perihal itu. Padahal aku dan Hanifa dulu sama-sama saling menguatkan, kami sama-sama saling berbagi suka dan duka. Aku yang tak berkeluarga merasa senang bisa bertemu dengan Hanifa dan Arif. Dari dulu aku sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri, dan sampai sekarang mereka lah keluarga ku. Hanifa juga tidak pernah berubah, ia tetap baik seperti dulu meski sekarang ia sudah menjadi Nyonya Malik.''


''Apakah kau ingin menjadi bagian dari keluarga Hanifa dan Arif yang sesungguhnya?''


''Maksud mu?'' mata Hamidah menyipit memandang Abdillah lekat.


''Em ... Nggak usah gitu juga kali liatnya.'' Abdillah mengusap wajah Hamidah dengan telapak tangan nya. Ia salah tingkah di tatap sebegitu lekat oleh Hamidah.


''Eh, nggak usah pegang-pegang juga kali. Bukan muhrim!'' Hamidah protes, ia mengelap gelap wajahnya bekas tangan Abdillah. Wajahnya cemberut, membuat Abdillah merasa gemas.


''Bagaimana kalau aku resmikan saja kamu? Supaya kau dan aku jadi muhrim.'' Abdillah mengedipkan-ngedipkan kan matanya.


''Apaan sih, makin ngaco aja.'' sahut Hamidah salah tingkah.


''Nanti malam aku jemput, ya? Aku akan mengajakmu makan malam di suatu tempat, apa kau mau?''


''Emang ada acara apaan?'' tanya Hamidah.


''Ada deh, mau, ya?'' ulang Abdillah sedikit memaksa.


''Boleh.'' Hamidah akhirnya mengangguk setuju. Mendadak wajahnya merona.


''Yes.'' Abdillah berseru senang.


Hamidah menggeleng kecil melihat tingkah Abdillah yang menurutnya begitu konyol dan berlebihan.


***


Malam harinya, benar saja, Abdillah telah bersiap-siap, ia berdiri di depan cermin seukuran dirinya yang ada di dalam kamarnya. Ia membetulkan kerah bajunya, menyisir rapi rambutnya dan menyemprot farpum dengan wangi khas, wangi yang begitu ia sukai. Setelah di rasa pas, ia keluar dari kamar. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat rombongan Malik tengah duduk dan mengobrol di sana. Abdillah pun memilih ikut bergabung bersama Hanifa, Malik, Sarah dan Arif sebentar.

__ADS_1


''Mau ke mana kamu, Abdillah?'' tanya Sarah seraya memperhatikan penampilan Abdillah yang bisa di bilang sempurna.


''Ada deh,'' balas Abdillah becanda di sertai senyum miring.


''Pasti mau ketemuan sama Teh Hamidah, ya?'' tebak Hanifa.


''Hu'um.'' Abdillah mengangguk malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


''Oh ... Jadi, jadinya sama Hamidah? Syukurlah Mama senang dengarnya. Hamidah adalah wanita yang baik. Dari pada sama Arumi, Mama sungguh tidak suka dengan cara berbicaranya.'' ujar Sarah.


''Lho, kok Arumi sih, Ma?'' sahut Abdillah heran, ia melihat ke arah Hanifa dan Malik bergantian. Abdillah memang telah memanggil Sarah dengan sebutan Mama, atas permintaan Sarah sendiri.


''Itu, kemarin saat Arumi datang menjenguk Arif di rumah sakit, dia mengaku sama Mama kalau dia adalah calon istri Mas.'' tutur Hanifa tersenyum kecil. Malik juga tersenyum seraya mengelus-elus pundak sang istri.


''Ada-ada saja. Dasar cewek aneh!'' kata Abdillah merasa kesel sama ulah Arumi.


''Bro, besok kita akan berangkat ke Amrik, Aku tadi udah memerintahkan orang kepercayaan kita untuk mengurus semuanya, semua keperluan kita untuk berangkat telah siap semuanya. Setuju nggak setuju kamu harus ikut.'' ucap Malik.


''Hamidah?'' tanya Abdillah.


''Nanti, sekalian kamu tanyakan ke dia apakah dia mau ikut.'' ucap Malik lagi.


''Oke, baiklah.''


''Ya sudah, gih sana, nanti Teh Hamidah kelamaan nunggunya.''


''Asiiaappp. Aku pergi dulu.''


''Semoga berhasil niat baiknya, Mas.''


''Amin.''


Setelah itu Abdillah melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju Butik. Di dalam perjalanan, ia mencoba menghubungi Hamidah, ia akan memberi kabar kalau ia akan segera sampai. Setelan melakukan panggilan, nomer Hamidah tidak aktif. Seketika Abdillah di landa rasa khawatir yang teramat sangat, karena tidak biasanya ponsel Hamidah tidak dapat di hubungi seperti sekarang.


Begitu sudah sampai di depan Butik, nampak orang-orang ramai berdiri di jalanan di depan butik. Pintu Butik juga terlihat telah tertutup sempurna. Abdillah yang merasa penasaran dan memang ingin bertemu sama Hamidah langsung saja keluar dari dalam mobil. Begitu ia sudah tiba di luar, ia bertanya kepada salah satu remaja perempuan yang berpenampilan sedikit tomboi.


''Dek, ini kenapa? Kenapa orang-orang ramai di sini?'' tanya Abdillah sopan.


''Ini, Kak. Tadi ada wanita yang kena tabrak, Kak. Tabrak lari.'' jawab remaja itu.


''Apa? Siapa? Mana orangnya sekarang?'' Tanya Abdillah bertubi-tubi, mendengar jawaban dari remaja itu, mendadak ia didera rasa panik dan cemas.

__ADS_1


''Aku juga nggak tahu siapa orangnya, Kak. Soalnya tadi aku cuma lewat. Tapi kata orang-orang, wanita yang di tabrak itu memakai gamis dan jilbab. Dan sekarang ia sudah di larikan ke rumah sakit sama Bapak-bapak yang kebetulan lewat tadi. Di ikuti oleh teman-temannya juga.'' jelas remaja itu, setelah itu ia pamit dari hadapan Abdillah. Setelah mendengar itu, mendadak tubuh Abdillah terasa lemas, ia berjalan pelan melihat ke jalanan, benar saja, di jalanan nampak darah kental mengenang.


''Nggak, nggak mungkin Hamidah.'' lirih Abdillah berucap, lalu ia berjalan ke Butik, ia mengetuk-ngetuk pintu Butik, berharap Hamidah lah yang membuka pintu itu.


Setelah beberapa kali Abdillah mengetuk pintu, seseorang membuka pintu dari dalam, begitu pintu sudah terbuka, tampak karyawan Butik yang berdiri dengan wajah terlihat sembab.


''Ha-Hamidah, mana? Dia di dalam, 'kan?''


''Pak Abdillah, Bu Ha .... Huhuhu ... '' belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tangis karyawan itu pecah kembali. Setelah melihat itu, Abdillah langsung mengerti, tanpa pikir-pikir lagi ia berlari cepat menuju mobil nya. Ia memacu kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Di tempat berbeda, Hanifa yang masih mengobrol bersama keluarga nya mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Layar ponsel tiba-tiba menyala menandakan ada panggilan masuk, begitu ia melihat siapa yang memanggil, ia mengangkat nya cepat.


''Iya, Sari.'' ucap Hanifa. Sari adalah nama karyawan Butiknya.


''Bu, Bu Hamida kecelakaan, Bu. Hiks ...''


''Apa?''


''Sekarang Bu Hamidah telah di bawa ke rumah sakit, ia di tabrak saat ia tengah menunggu jemput dari orang yang spesial katanya. Huhuhu ....''


Kabar dari Sari berhasil membuat Hanifa shock, Sarah dan Malik menenangkan Hanifa lalu menanyakan apa yang terjadi. Hanifa menjelaskan dengan suara bergetar, lalu setelah itu mereka berangkat ke rumah sakit.


***


Di rumah sakit, sepasang suami istri yang berusia sekitar enam puluh tahun, dan beberapa wanita mendorong brankar yang membawa tubuh Hamidah. Hamidah sudah tidak sadarkan diri, darah masih saja merembes dari kepala nya yang tertutup hijab. Setelah itu tubuh Hamidah di masukkan ke dalam sebuah ruangan untuk segera di tangani.


Sepasang suami istri dan dua orang karyawan butik menunggu di ruang tunggu, mereka duduk di kursi yang tersedia.


''Terimakasih banyak, Pak, Bu, karena kalian sudah mau membantu teman kami.'' ucap karyawan butik.


''Iya, sama-sama. Semoga saja teman kalian masih bisa di selamatkan, kasihan sekali, kepalanya mengeluarkan darah begitu banyak. Masih muda, cantik juga.'' sahut wanita yang memakai gamis dan jilbab lebar. Wanita itu masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.


''Pa, melihat anak itu, Mama kok jadi ingat sama putri kita yang hilang dulu. Kita jangan pulang dulu, ya, kita tunggu kabar dari Dokter dulu.'' ucap wanita itu lirih kepada suaminya.


''Iya, Ma.'' sahut sang suami yang memakai peci.


Bersambung.


Kira-kira siapa yang menabrak Hamidah?


Dan apakah di balik musibah yang menimpanya, membawa Hamidah bertemu sama orangtua kandungnya?

__ADS_1


__ADS_2