
Sesampainya di perusahaan, Rian dan Intan berjalan dengan saling bergandengan. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tanda tanya tersemat di dalam hati. Siapa laki-laki yang di gandeng oleh Bu Intan? Pikir mereka. Karena mereka belum mengetahui siapa dan apa status Rian sebenarnya.
''Mas, nanti kalau kita sudah sampai di perusahaan apa boleh aku menggandeng tangan Mas? Em, aku ingin menunjukkan saja kalau kamu punya posisi istimewa di perusahaan dan di hatiku, sekalian aku ingin menunjukkan kepada para karyawan kalau kamu adalah suamiku.'' ucap Intan pelan dan sedikit ragu, saat mereka dalam perjalanan ke perusahaan. Intan sudah begitu terbuka kepada Rian, ia tidak malu-malu lagi menunjukkan isi hatinya yang sesungguhnya. Berbeda dengan Rian yang masih saja tertutup dan bersikap dingin terhadap Intan.
''Boleh.'' jawab Rian singkat dengan ekspresi wajah datar. Di dalam hati, Rian ingin menolak permintaan Intan. Tapi ia tak tega untuk mengatakan kalimat penolakan, karena ia bisa melihat wajah Intan tersenyum dengan penuh permohonan waktu mengatakan itu.
Intan pun tersenyum mengembang mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang suami.
***
"Katakan kepada para petinggi perusahaan dan kepada kepala masing-masing bagian di perusahaan ini, katakan kalau saya akan mengadakan rapat sebentar lagi, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua.'' ucap Intan dengan begitu berwibawa. Ia memberikan perintah kepada asisten pribadi nya. Asisten pria yang seumuran dengannya dan memiliki wajah tidak kalah tampan dari Rian. Intan duduk di kursi kebesaran nya di ruang kerjanya. Sementara Rian duduk di sofa yang berada di ruang yang sama. Rian menatap Intan penuh arti, ia merasa kagum melihat cara Intan menjadi seorang pemimpin. Terlihat berkelas dan nampak sekali kalau Intan adalah wanita yang cerdas.
''Baik, Bu. Akan segera saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu.'' balas Asisten nya dengan mengangguk kepala dan senyum simpul. Setelah itu ia berlalu keluar. Saat melewati Rian yang tengah duduk di sofa, ia menyapanya dengan melempar senyum. Rian membalas dengan senyuman yang sama.
Setelah tubuh Asisten itu menghilang di balik pintu, Intan berucap kepada sang suami.
''Ayo, Mas. Kita ke ruang rapat sekarang. Aku akan segera mengenalkan mu kepada para karyawan dan petinggi perusahaan ini.'' ajak Intan lembut, sekarang ia telah duduk tepat di samping sang suami. Ia hendak merebahkan kepalanya di bahu sang suami, tapi dengan cepat Rian menghindar, hingga hampir saja Intan jatuh, untungnya Intan bisa menahan diri agar tak jatuh. Intan menatap Rian dengan wajah datar. Ia merasa sedih dengan sikap sang suami, tapi lagi-lagi ia hanya bisa diam. Ia akan selalu sabar entah sampai kapan. Mungkin sampai ia menyerah lalu memilih pergi karena sang suami tak membalas cinta nya, atau ia akan tersenyum bahagia esok karena sang suami yang membalas rasa cintanya. Kita tunggu saja saat-saat itu tiba.
''Maaf.'' ucap Rian merasa sedikit bersalah.
''Tidak apa-apa.'' balas Intan memalingkan wajah, berusaha bersikap biasa saja.
''Apa tidak terlalu terburu-buru, Intan?'' ujar Rian lagi membalas perkataan Intan yang tadi.
''Tidak, lebih cepat lebih baik. Aku ingin sekali menunaikan wasiat terakhir Papa dan Mama.''
Rian menatap Intan penuh selidik, Intan terlihat sangat tulus, tapi ia masih saja ragu dengan keseriusan dan ketulusan Intan. Lagi-lagi ia menganggap mana mungkin wanita secantik dan secerdas Intan mau mengabdikan diri menjadi istrinya, dan tadi saat di dalam mobil Intan juga mengatakan kalau ia akan segera resign dari perusahaan yang ia pimpin, ia akan turun tangan dan mempercayakan semua tentang dan pekerjaan di perusahaan kepada Rian sepenuhnya. Intan ingin menjadi Ibu rumah tangga biasa seperti kebanyakan Ibu-ibu lain di luar sana.
__ADS_1
Intan dan Rian berjalan dengan saling bergandengan tangan lagi menuju ruang rapat. Setibanya di ruang rapat, terlihat para petinggi perusahaan dan kepala cabang sudah menunggunya. Termasuk sang Asisten pribadi. Sang Asisten yang sudah lima tahun mengabdi di perusahaan. Dulu ia adalah Asisten papa nya Rian dan Intan, setelah sang papa resign, sang papa memerintah sang asisten untuk menjadi asisten pribadi Intan dan selanjutnya mungkin asisten itu akan menjadi asisten pribadi Rian. Karena ia sudah di percaya, ia sangat cakap dalam menjalankan tugasnya. Sama seperti Abdillah.
Intan menyapa semua orang yang sudah duduk di kursi ruang rapat dengan mengangguk kepala dan senyum simpul, mereka semua berdiri menyambut kedatangan Intan dan Rian, lalu duduk kembali. Setelah itu, Intan duduk di kursi kebesaran nya, kursi sang CEO. Sementara Rian duduk di sebelah sang istri.
Tidak lama setelah itu, setelah kalimat pembuka dan sedikit berbasa-basi, akhirnya Intan mengenalkan siapa Rian sebenarnya, dan mengatakan kalau Rian akan bergabung bersama mereka di perusahaan menggantikan posisinya. Awalnya semua yang ikut rapat merasa ragu dengan kinerja seorang Rian, tapi setelah Intan menjelaskan tentang pengalaman Rian dalam bekerja serta memimpin perusahaan dan setelah Rian sendiri yang angkat bicara mengenalkan dirinya, akhirnya semuanya setuju. Karena saat sedang berbicara di depan para petinggi perusahaan, Rian sama sekali tidak grogi, ia berbicara dengan lancar dan kata-katanya pun terdengar bijak dan mudah di mengerti.
Hanya satu orang yang merasa kurang setuju dengan keputusan Intan, yaitu Rangga. Sang Asisten pribadi. Entah kenapa ia menilai kalau Rian adalah pria yang angkuh. Tapi ia tak bisa bersuara, ia hanya mempu mengangguk kepala, setuju dengan keputusan Intan. Rangga menatap Intan lekat, jarak kursi yang tidak terlalu jauh antara mereka membuat Rangga bisa melihat wajah cantik Intan dengan jelas. Entah kenapa ia merasa tidak rela jabatan Intan digantikan dengan Rian. Selama menjadi Asisten pribadi Intan, Rangga begitu bersemangat bekerja, jujur, sebenarnya ia begitu mengagumi sosok seorang Intan yang cantik, cerdas, mandiri, sederhana dan tidak sombong.
Setelah itu rapat di tutup dan semua orang kembali ke ruang masing-masing. Mulai bekerja untuk memajukan perusahaan.
Rian sudah duduk di kursi kebesaran nya. Menggantikan posisi sang istri. Berulangkali ia menolak permintaan Intan, tapi Intan selalu memaksa agar Rian duduk di kursi itu. Intan juga menjelaskan semua pekerjaan yang harus di lanjutkan oleh sang suami. Intan menjelaskan dengan begitu sabar dan detail. Saat Intan sedang menjelaskan, sesekali Rian mencuri pandang ke arah sang istri yang terlihat begitu anggun dan cantik.
Tidak lama setelah itu jam makan siang datang. Intan dan Rian berjalan berdampingan menuju kantin. Setibanya di kantin, mereka memesan makanan dan minuman dengan menu yang berbeda. Begitu pesanan mereka datang, Intan menyantap makanan nya begitu lahap, sementara Rian sibuk dengan benda pipih miliknya. Ia sedang berbalas pesan dengan seseorang.
''Mas, kenapa tidak masuk kantor hari ini?''
''Mas, kamu baik-baik saja, 'kan?''
''Maafkan atas kekhilafan aku tadi malam.''
''Aku tidak akan mengulangi lagi. Nanti malam kamu main ke apartemen milikku lagi, ya.'' disertai emot memohon di belakang nya.
''Mas, balas dong.'' Vira terlihat sedang online.
Rian hanya membaca semua pesan yang di kirim oleh Vira tanpa berniat membalasnya.
Setelah itu Rian membaca pesan lain lagi, pesan berbeda dengan kontak berbeda.
__ADS_1
''Nak, nanti malam main kerumah, ya. Ajak istri mu juga. Tante ingin sekali bertemu dengannya.''
''Selain itu, Tante dan Om sudah sangat merindukan mu. Semenjak menikah, kamu sudah jarang sekali main ke rumah Om dan Tanta.''
''Tante tunggu nanti malam. Tante akan menyediakan makanan kesukaan mu.''
Rian membaca pesan yang di kirim oleh Ainun dengan senyum yang tersungging. Lalu ia membalas.
''Baiklah, Tante. Nanti malam aku akan ke sana bersama Intan.'' balas Rian. Setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
''Siapa, Mas?'' tanya Intan. Ia merasa curiga melihat sang suami yang senyum-senyum sendiri menatap ponsel. Ada rasa cemburu di yang ia rasa.
''Tante Ainun. Dia mengajak kita makan malam bersama di rumahnya nanti malam. Apa kau mau?''
''Tentu saja aku mau.'' jawab Intan sumringah. Ia merasa sangat senang karena Rian mengajak nya untuk mengunjungi kediaman Ainun dan Andra.
''Baiklah. Ayo makan lagi.'' ucap Rian.
''Aku udah habis.'' Intan menunjuk piring dan gelas yang telah kosong.
''Waw.'' Rian sedikit kaget. Dia tidak menyangka sang istri yang memiliki bentuk tubuh yang langsing ternyata banyak juga makan nya.
''Hehehe ...'' Intan tersenyum cengengesan, merasa malu. Rian pun ikut tersenyum melihat sikap sang istri yang terkadang lucu, terkadang begitu berkelas.
Sementara di meja yang lain, Rangga menatap tak suka. Ia merasa cemburu melihat kedekatan antara Intan dan Rian.
Bersambung.
__ADS_1