
Pagi harinya, Hamidah sudah di pindahkan ke kamar rawat inap VIP 1. Itu semua atas permintaan Bu Ainun, dan Pak Andra, orangtua kandungnya. Tadi malam mereka sudah menjelaskan semuanya kepada rombongan Abdillah tentang siapa mereka sebenarnya dengan menunjukkan surat bukti dari Dokter, surat yang menunjukkan kalau mereka punya golongan darah yang sama dengan Hamidah. Mendengar itu, rombongan Abdillah merasa begitu kaget dan tak menyangka bahwa orang tua kandung Hamidah masih hidup. Mereka turut bahagia mendengar kabar baik itu. Tapi sayangnya Hamidah masih belum sadarkan diri. Hamidah masih belum tahu kalau keduaorangtua nya masih hidup. Kalau dia tahu, entah bagaimana reaksinya.
Rencana liburan rombongan Hanifa terpaksa di tunda dulu untuk beberapa hari kedepan, mereka masih harus memastikan kondisi Hamidah baik-baik saja, setelah itu mereka akan segera berangkat. Kandungan Hanifa sudah mulai membesar, usia kandungannya sudah memasuki empat bulan.
Pagi harinya sekitar pukul sepuluh, setelah mereka melihat Hamidah, Malik menyempatkan diri mengajak Hanifa untuk memeriksa kandungannya terlebih dahulu di rumah sakit itu. Memang minggu kemarin mereka sudah melakukan pemeriksaan, tapi, kini, Malik kekeh ingin melihat hasil pemeriksaan lagi, ia ingin melihat pertumbuhan sang anak dan jenis kelamin sang anak, karena minggu kemarin Dokter masih kesulitan mendeteksi jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungan Hanifa. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan, mereka beramah tamah dengan sang Dokter, lalu mulai melakukan pemeriksaan. Dokter menyingkap baju Hanifa, lalu ia mulai mengoleskan gel di atas perut Hanifa.
''Nah, itu, ya, Pak. Bapak dan Ibu bisa lihat sendiri kan kalau bayinya sehat dan aktif sekali.'' ucap Dokter Obgyn yang memeriksa Hanifa. Ia menggerak-gerakkan transduser di atas perut Hanifa. Malik dan Hanifa tersenyum haru melihat dan mendengar detak jantung bayi mereka.
''Dok, kalau boleh saya tahu, bayi kami cowok apa cewek?'' tanya Malik penasaran.
''Sepertinya cwk, Pak.'' jawab Dokter Obgyn tersenyum ramah.
''Alhamdulillah.'' Hanifa dan Malik berucap bersamaan dengan tangan mengusap wajah. Setelah semuanya selesai, mereka keluar dari ruang periksa dengan wajah ceria.
''Mas, aku rasa nya kepingin makan bakso yang pedas, bakso yang kuahnya merah dan sedikit kental gitu. Duh, pasti enak banget.'' tutur Hanifa saat ia dan sang suami berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Mereka berdua berjalan dengan saling bergandengan tangan.
''Nggak boleh! Nggak bagus buat kesehatan kamu dan bayi kita, Sayang.'' sahut Malik lembut.
''Tapi aku pengen, nanti bayi kita ngeces lo.'' ujar Hanifa lagi dengan suara terdengar sedih. Mendengar itu membuat Malik merasa tak tega.
''Oke baiklah, mari kita cari. Tapi kamu makannya jangan banyak-banyak, ya.'' akhirnya Malik menuruti apa yang di inginkan oleh sang istri.
''Iya, Pak suami yang paling tampan, paling baik dan paling perhatian sejagat.'' Hanifa semakin mendekap tubuh tegap sang suami.
''Kamu bisa saja, Sayang.'' sahut Malik lagi mengusap pucuk kepala sang istri. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.
***
Di ruangan tempat Hamidah di rawat, Abdillah duduk di sisi brankar, ia menutup surah Yasin yang tadi ia buka. Abdillah baru selesai membaca surah Yasin. Sebagai bentuk doa dan usahanya meminta pertolongan kepada Allah agar Hamidah segera sadar dari koma nya. Orangtua Hamidah menatap kagum ke arah Abdillah, menurut mereka Abdillah adalah pria yang baik.
Abdillah menatap nanar ke arah Hamidah yang masih betah menutup mata. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya kering dan sekitar matanya yang terdapat garis-garis hitam. Sedangkan di bagian kepala Hamidah di balut perban bewarna putih.
__ADS_1
''Cepat sadar, ya. Aku kangen dengan suara mu dan keceriaan mu. Kamu wanita kuat dan hebat. Aku tahu itu.'' gumam Abdillah, setelah itu ia pamit. Sebelum keluar dari ruangan Hamidah, ia menyalami tangan kedua orang tua Hamidah, ia mencium nya dengan takzim. Setelah kepergian nya, keduaorangtua Hamidah merasa begitu tersentuh sama kesopanan Abdillah.
''Ma, sepertinya pria itu adalah teman dekat putri kita.'' kata Pak Andra.
''Iya, Pa. Mama juga bisa melihat kalau dia sangat tulus menyayangi putri kita. Rasanya Mama tidak tega kalau harus menjodohkan Hamidah dengan Yusuf.''
''Itu terserah Hamidah saja, Ma. Papa juga tidak mau menjadi orangtua yang egois. Senyaman nya saja besok. Karena yang menjalani rumah tangga nya, ya, dia. Bukan kita. Tapi, rasa-rasanya Papa pernah ketemu sama pria muda itu, tapi Papa lupa di mana.'' ujar Pak Andra lagi sambil berpikir di mana ia pernah bertemu Abdillah.
''Katanya tadi malam 'kan dia adalah Asisten pribadi Iparnya yang bernama Malik itu, rasa-rasa Mama juga tidak asing lagi mendengar nama Malik.'' sahut Bu Ainun.
''Wajarlah Mama merasa tidak asing, Malik 'kan merupakan pengusaha muda yang memiliki cabang di mana-mana.'' lontar Pak Andra lagi.
''Apa perusahaan kita pernah bekerjasama dengan perusahaan mereka?''
''Entahlah, Papa lupa. Karena selama hampir sepuluh tahun ini kan perusahaan kita sudah kita percayakan kepada keponakan mu untuk mengurus semua nya. Kita udah jarang sekali berkunjung ke perusahaan, kita hanya memantau dari rumah saja.''
''Iya, Papa betul juga. Karena peristiwa hilangnya putri kita, membuat kita tidak fokus mengurus perusahaan yang telah kita bangun bersama-sama sedari muda. Mama kira kita tidak akan pernah bertemu sama putri kita lagi, makanya selama ini Mama abai sama perusahaan, bagi Mama kita tidak perlu perusahaan itu lagi karena kita tak punya ahli waris. Tapi sekarang Putri kita yang hilang sudah di temukan. Bagaimana caranya, Pa? Bagaimana caranya kita ngomong sama Kakak ku dan Keponakan ku agar mereka besok bersedia berbagi perusahaan sama putri kita?''
''Iya, Pa. Papa ada benarnya juga.''
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba terdengar seseorang mengucap sallam dari luar, di iringi dengan ketukan kecil di pintu. Ainun menghampiri pintu, lalu setelah pintu terbuka, ia melihat Pak Ahmad dan keluarganya tengah berdiri di sana. Mereka berjumlah empat orang, di samping Yusuf berdiri seorang wanita berjilbab pasmina.
***
Di tempat berbeda, Arumi yang terus di landa rasa gelisah tak berkesudahan dari semalam memutuskan untuk meninggalkan kota. Ia akan pergi ke sebuah Villa yang ada di bandung, ia akan menenangkan dirinya untuk sementara di sana.
''Ma, aku titip Caca, ya.'' ucap Arumi, ia menitipkan anaknya di rumah orangtuanya.
''Iya, kamu hati-hati, ya Sayang. Jaga diri baik-baik.'' pesan sang Mama.
''Iya, Ma.''
__ADS_1
Setelah itu Arumi melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi. Setelah mengendara cukup jauh, sekarang ia sudah melintasi jalanan yang cukup sepi. Arumi melihat ke spion, dari tadi ia merasa curiga, rasa-rasanya ada sebuah mobil yang terus mengikuti nya. Dan benar saja dugaannya, di saat tengah melintasi jalanan sepi, mobil yang ada di belakang mobil nya semakin mempercepat laju mobil, Arumi yang merasa ada yang tak beres, langsung saja menambah kecepatan mobilnya.
''Ya ampun, apa itu Abdillah? Ah, gawat, sepertinya dia sudah mengetahui semuanya, aku tidak boleh menyerah begitu saja, pokok nya aku harus bisa lolos dari kejaran nya.'' gumam Arumi panik.
Beberapa saat dua buah mobil tersebut saling kejar-kejaran, beradu kecepatan, saat ini mobil Arumi masih memimpin di depan.
''Bambang, kamu tambah lagi kecepatan nya.'' perintah Abdillah.
''Ini udah cepat, Bos.'' sahut Bambang.
''Cepat apanya!'' protes Abdillah. Karena ia tahu Bambang sama sekali tidak menambah kecepatan mobil.
''Duh, aku takut Bos, aku 'kan belum kawin.'' ujar Bambang.
''Kamu kira kamu saja yang belum kawin!'' balas Abdillah kesal.
''Hehehe, kita sama-sama belum kawin 'kan Bos. Jadi nggak usah cepet-cepet, aku belum mau mati.''
''Udah, nggak usah banyak cincong, pokoknya kita harus berhasil mengejar mobil wanita itu.''
''Baik, Bos.''
Bambang semakin menambah kecepatan, lalu setelah itu, sebuah senyum kecil terbit di wajah Abdillah.
''Kamu kira, kamu bisa lari dari tanggungjawab dan hukuman mu setelah apa yang telah kamu lakukan Arumi!'' gumam Abdillah. Lalu setelah itu Bambang menginjak pedal rem dengan mendadak, sehingga mengeluarkan bunyi berdecit pada ban mobil. Mobil mereka sudah berhasil menyalip mobil Arumi.
Arumi yang merasa kaget juga langsung menginjak pedal rem dengan mendadak.
''Ah, sial!'' rutuk Arumi memukul setir. Setelah itu Arumi melihat Abdillah keluar dari mobil yang ada di depannya. Mendadak jantung Arumi merasakan debaran aneh yang tak biasa. Ia merasa sangat takut melihat wajah Abdillah yang nampak memancarkan amarah yang teramat sangat.
Bersambung.
__ADS_1