
Sesampainya di rumah, Siska langsung membereskan semua pakaiannya, ia memasukkan pakaian nya yang tak seberapa ke dalam tas. Rencananya ia akan segera mencari tempat berteduh lain, yang lebih nyaman, ia akan mencari kontrakan, tidak serumah lagi dengan Hellen, dan tidak mau berurusan apa-apa lagi menyangkut Setya. Ia akan pergi nanti, saat Hellen sudah pulang kerja.
Sedangkan Hamidah, di rumahnya, ia memasukkan tiga pasang gamis dan jilbab yang masih bagus-bagus ke dalam plastik, setelah itu ia akan ke rumah Siska untuk memberikan gamis dan jilbab yang masih bagus itu, gamis dan jilbab yang baru sekali ia pakai.
''Tunggu sebentar, ya, Mas. Aku mau kerumah Siska sebentar,'' pesan Hamidah kepada Bambang.
''Iya, Non.'' jawab Bambang. Bambang masih sabar menunggu Hamidah. Sore sudah datang, sudah setengah hari lebih Bambang selalu setia menunggu Hamidah dan menjadi supirnya. Tadi waktu di perjalanan pulang, mereka sudah mengisi perut mereka di warung padang.
Di dalam mobil, Bambang sedang berbalas pesan dengan Abdillah.
''Masih di rumah Hamidah kamu sekarang?'' tanya Abdillah.
''Masih, Bos. Sekarang Non Hamidah lagi ke rumah wanita yang bernama Siska. Non Hamidah seperti hendak memberikan sesuatu untuk wanita itu. Katanya setelah ini ia akan segera ke Butik.'' balas Bambang.
''Baiklah. Terimakasih karena kamu telah sabar menemani Hamidah. Nanti setelah dia kamu antar ke Butik, kamu baru bisa bebas mau ngapain aja.''
''Sama-sama, Bos. Oke-oke, Bos. Aku senang bisa menjadi supir Non Hamidah Bos,'' balas Bambang disertai emot tersenyum simpul.
''Senang? apa maksud mu? Jangan bilang kau menyukai nya, ya. Awas saja kalau kau berani macam-macam,'' balas Abdillah lagi dengan emot marah dan emot buku tangan.
''Eh, tidak, Bos. Maksud aku, aku senang karena dapat bonus, dapat uang tambahan dari Bos yang lumayan banyak. Hehehe ....''
''Oh, kirain apa tadi. Ya sudah, aku dan Tuan Malik juga mau pulang dari kantor. Kamu hati-hati bawa mobilnya.''
''Siap, Bos.''
Setelah itu Bambang memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia duduk di dalam mobil sambil bersenandung kecil, matanya fokus ke depan, melihat dua wanita yang sama-sama cantik tengah mengobrol di atas bangku kayu di teras rumah, sesekali Hamidah dan Siska berpelukan.
''Kasihan sekali wanita itu, masih muda sudah menjadi janda. Semoga saja kedepannya dia bisa lebih teliti lagi dalam memilih calon suami. Hem ... Itulah alasan kenapa sampai saat ini aku masih belum mau menikah, aku takut tidak bisa memegang tanggungjawab ku dan aku takut menyakiti anak gadis orang.'' gumam Bambang, ia tahu apa yang terjadi kepada Siska, karena tadi saat di mobil ia bisa mendengar obrolan antara Hamidah dan Siska. Bambang merasa kasihan melihat Siska.
Tidak lama setelah itu, sebuah motor melintasi mobil Bambang, lalu motor yang membawa wanita berpakaian kantoran dengan rok ketat yang panjang nya di bawah lutut berhenti tepat di depan rumah Siska.
Hellen turun dari motor, ia melepaskan helm dan memberikan uang kepada tukang ojek. Setelah itu ia berjalan menuju di mana Hamidah dan Siska berada.
''Kok mata mu merah gitu?'' tanya Hellen kepada Siska, begitu ia datang, ia sama sekali tidak mengucap sallam dan menyapa Hamidah. Ia menatap Hamidah dengan tatapan tidak suka, karena ia tahu Hamidah adalah wanita yang punya hubungan lumayan dekat dengan Abdillah, ia bisa tahu karena ia pernah melihat Hamidah dan Abdillah berdekatan saat di pesta pernikahan Hanifa dan Malik waktu itu.
''Em, nggak apa-apa. Kamu masuk dulu, ya, nanti ada sesuatu yang ingin aku katakan.'' sahut Siska dengan suara serak.
__ADS_1
''Lu ngapain di sini? Mending pulang, udah sore juga masih aja ngegosip kerjaan nya. Mending mandi atau apa gitu, kayak nggak ada kerjaan lain aja!'' Hellen berkata dengan nada ketus kepada Hamidah.
''Ini juga mau pulang,'' balas Hamidah.
''Baguslah.'' ucap Hellen lagi setelah itu ia masuk ke dalam rumah.
''Mbak,'' ucap Siska merasa tidak enak dengan ucapan Hellen.
''Nggak apa-apa, Mbak pulang dulu, ya, jaga diri baik-baik setelah ini. Kalau kamu lagi butuh apa-apa kamu hubungi saja, Mbak.'' tutur Hamidah tersenyum manis. Tadi mereka sudah saling bertukar nomer ponsel.
''Iya, Mbak.'' jawab Siska. Setelah itu Hamidah pulang.
Sepulangnya Hamidah, Siska masuk ke dalam rumah untuk menemui Hellen. Hellen sudah mengganti pakaiannya lalu ia berjalan ke dapur, ia menyingkap tudung saji lalu memasukkan nasi dan lauknya ke dalam piring. Makanan sudah dipanaskan oleh Siska tadi, ia melakukan itu supaya Hellen bisa makan dengan lahap.
''Ayo kita makan sama-sama.'' tawar Hellen saat ia melihat Siska hanya diam memperhatikan nya.
''Aku sudah makan tadi.'' tolak Siska lembut.
''Mas Setya masih belum pulang juga?'' tanya Hellen di sela-sela suapannya.
''Em ... Belum.'' Siska menjawab dengan wajah menunduk.
''Su, sudah ....'' sahut Siska ragu salah tingkah.
''Kok mukanya tegang gitu?'' tanya Hellen merasa ada yang aneh dengan tingkah Siska.
''Nggak apa-apa, ya sudah, kamu makan aja dulu. Soalnya ada sesuatu yang ingin aku katakan nanti.'' sahut Siska setelah itu ia berjalan ke depan. Meninggalkan Hellen yang di landa rasa penasaran, ia merasa begitu penasaran sama apa yang ingin dikatakan oleh Siska.
Tidak lama setelah itu, Hellen telah menghabiskan makanannya, ia berjalan ke kamar mandi lalu membersihkan wajahnya yang terasa kering dengan sabun dan air. Setelah itu ia berjalan ke depan untuk menemui Siska. Di ruang depan Siska nampak sedang duduk lesehan di atas tikar tipis, di depannya ada sebuah tas, dan penampilan Siska juga terlihat berbeda. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gamis dan jilbab yang di kasih oleh Hamidah tadi.
''Mau kemana? kayak mau ke pengajian aja.'' ujar Hellen lalu ia duduk di samping Siska. Siska tak menjawab, Siska sedang berusaha mengatur nada bicaranya, ia harus bisa tenang saat mengatakan perihal Setya kepada Hellen. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Hellen nanti saat tahu sang Kakak sedang berada di dalam jeruji besi.
"Ada apa? Kamu mau mengatakan apa? Jangan buang-buang waktu, aku mau mandi setelah ini, gerahhhh banget soalnya.'' ucap Hellen lagi sambil mengibas ngibas tubuhnya dengan tangan.
''Hellen, aku dan Mas mu sudah bercerai,'' ucap Siska lirih, namun masih bisa di dengar oleh Hellen.
''Apa? Kamu jangan becanda, nggak lucu. Setahu aku hubungan kalian lagi baik-baik saja.''
__ADS_1
''Aku beneran.''
''Kenapa? Ada masalah apa? Terus Mas Setya di mana sekarang?'' tanya Hellen bertubi-tubi. Ia menatap Siska lekat.
''Mas mu, Mas Setya sekarang sedang di tahan di kantor polisi.''
''Kamu semakin mengada-ada saja!'' Hellen tak percaya, wajah terlihat emosi.
''Dengar dulu, Hellen. Semua yang aku katakan benar adanya, untuk apa aku becanda, untuk apa aku mengada-ada, nggak ada gunanya juga. Kamu lihat? Lihat wajahku, aku sedang tidak baik-baik saja Hellen.'' tutur Siska meyakinkan dengan ekspresi sedih, bahkan air matanya telah merebak. Hellen akhirnya mencoba untuk percaya sama perkataan Siska.
''Kenapa? kenapa Mas Setya bisa masuk penjara?'' tanya Hellen dengan suara bergetar.
''Mas Setya menculik anaknya sendiri, atas perintah seorang wanita,'' jawab Siska.
''Arif?'' tanya Hellen begitu kaget.
''Iya. Mereka menyekap Arif di sebuah rumah, lalu wanita itu menyiksa Arif. Wanita yang memberikan uang dan pekerjaan kepada mu. Arif sudah di temukan, lalu setelah itu, Mas mu di tahan. Mas mu juga di pukul oleh Malik, Papa sambung nya Arif. Mereka sangat-sangat murka begitu tahu Arif di culik oleh Ayahnya sendiri. Sekarang Mas Setya sedang berada di kantor polisi terdekat, kondisinya sangat memprihatikan, ia tidak bisa berdiri karena kakinya di tembak, karena ia mencoba untuk kabur, terpaksa polisi menembak nya. Dan aku, tadi aku sudah menjenguknya, aku juga meminta agar dia menjatuhkan talaknya kepada ku. Dia menurut dan sekarang kami telah resmi bercerai. Aku akan pergi dari rumah ini Hellen, aku akan mencari kontrakan.'' jelas Siska panjang lebar dengan dada terasa sesak.
''Jahat sekali kamu! Teganya kamu meninggalkan Mas Setya saat dia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Dia mau melakukan itu karena dia ingin membahagiakan mu, dia ingin memberikan kamu banyak uang! Jahat sekali kamu Siska.'' protes Hellen, ia menunjuk-nunjuk wajah Siska dengan jari telunjuknya.
''Dia melakukan itu bukan untuk aku saja Hellen, tapi juga untukmu dan Ibu. Kamu dan Ibu juga mendapatkan bagian dari uang itu, bahkan untuk kalian berdua lebih banyak ke timbang aku. Dan pekerjaan yang kamu dapatkan sekarang, itu juga karena Mas Setya.'' bantah Siska. Ia sudah capek kalau harus terus mengalah dengan perkataan Hellen yang menyakitkan.
''Terus sekarang kamu tega membiarkan aku dan Ibu yang mengurus Mas Setya? Kamu melepaskan tanggungjawab mu begitu saja saat Mas Setya sedang terpuruk. Sekarang sana, pergi kamu, pergi dari rumah ini! Sana pergi .... Dasar pengkhianat!'' ucap Hellen dengan suara lantang, ia lalu mendorong-dorong tubuh Siska keluar rumah. Siska pun menurut dengan membawa tasnya. Begitu Siska sudah berada di luar, Hellen menutup pintu dengan keras hingga mengeluarkan bunyi yang berdentum, tepat saat suara adzan Maghrib berkumandang. Beberapa orang tetangga sekitar rumah mereka yang mendengarkan keributan yang terjadi melihat mereka dari rumah mereka masing-masing. Sedangkan Hamidah sudah pergi ke Butik. Siska berjalan dengan langkah gontai melewati jalanan, ia akan singgah di musholla terlebih dahulu untuk sholat magrib, setelah itu ia akan naik ojek untuk mencari kontrakan yang sudah siap di huni.
Sedangkan Hellen, selepas kepergian Siska, ia terduduk di belakang pintu, lalu ia menangis tergugu, tidak menyangka sang Kakak kandung akan mendekam di jeruji besi. Setelah puas menangis, ia menghubungi Ibunya yang ada di kampung, ia menjelaskan semua yang di katakan oleh Siska tadi. Ibu nya mengatakan kalau besok ia akan berangkat ke Jakarta guna melihat Setya. Sekarang kehidupan keluar Setya benar-benar sudah berantakan. Itu semua terjadi akibat keserakahan Setya sendiri.
***
Di tempat berbeda, di rumah sakit setelah melaksanakan sholat Magrib, Hanifa dan Sarah tengah bersiap-siap membereskan beberapa barang yang tidak terlalu banyak. Arif sudah di perbolehkan pulang. Kondisi kesehatan nya sudah membaik, wajah pun sudah kembali ceria.
''Sudah siap pulang jagoan?'' tanya Abdillah begitu ia sampai di ruangan Arif. Setelah dari kantor tadi mereka langsung melajukan kendaraan roda empat mereka menuju rumah sakit untuk menjemput Arif, Hanifa dan Sarah. Pak Agus dan Mbak Marwah juga berada di rumah sakit. Nanti mereka akan pulang dengan dua buah mobil yang saling beriringan.
''Sudah dong, Paman.'' sahut Arif.
''Kalau begitu ayo Paman gendong.'' Abdillah menggendong tubuh Arif. Hanifa dan Malik tersenyum melihat itu. Setelah itu mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju parkiran. Soal biaya rumah sakit, Malik sudah mengurus semuanya.
Bersambung.
__ADS_1
Di dalam cerbung ini ada banyak pemeran, ya. Tapi tetap saja di cerbung ini pemeran utamanya adalah Hanifa. Tinggal beberapa part lagi menuju ending. Untuk urusan asmara antara, Abdillah dan Hamidah, Yusuf dan Ameena, Siska dan Bambang dan kehidupan Arif saat ia dewasa nanti akan ada cerbung baru dengan judul yang berbeda. Di tunggu dan jangan bosan-bosan, ya.