
"Bersihkan semuanya, ya. Kau itu seorang menantu di rumah ini. Ini sudah menjadi tugasmu." titah sang mertua. Ia berdiri seraya menunjuk setiap sisi rumah yang berantakan.
Siska yang masih duduk lesehan di lantai menatap piring yang menumpuk, lantai yang berserakan bekas makanan dan kain lap yang juga menumpuk di sudut ruangan. Ia merasa sesak melihat semua itu. Dari tadi siang ia terus saja menggerakkan anggota tubuhnya untuk menyiapkan keperluan tahlilan, sekarang setelah selesai acara tahlilan, dia lagi yang harus membereskan bekas-bekas tahlilan seorang diri. Kaki, tangan, pinggang dan punggung nya terasa begitu remuk dan pegal. Rasanya ia tidak mampu lagi untuk mengerjakan semua itu. Setya sesekali juga ikut membantunya tadi, tapi saat Setya membantu Siska, Ibunya selalu memanggil dirinya, meminta agar Setya memijit kakinya dan tubuhnya. "Ibu lagi nggak enak badan Setya. Tetaplah di sisi Ibu, pijit tubuh Ibu. Apa kau mau setelah ini Ibu ikut menyusul Ayah mu." Ucap ibu nya bersandiwara dengan wajah di buat sedih dan lesu, seolah-olah memang lagi sakit. Hingga membuat Setya merasa kasihan dan tidak tega meninggalkan sang ibu sendirian di kamar. Alhasil Siska lah yang menyiapkan semua hidangan dari tadi siang, sedangkan Hellen hanya menonton saja, menjadi tukang suruh-suruh.
"Bu, aku sudah tidak sanggup lagi mengerjakan ini semua!" ucap Siska sambil berdiri. Siska akhirnya berani membantah perintah sang mertua. Ia merasa capek kalau harus menuruti semua perintah sang mertua yang rasanya tak masuk di akal. Mertua yang tak punya rasa empati sama sekali dengan dirinya.
"Kalau bukan kamu yang membereskan semua ini, lalu siapa lagi?! Apa kau mau kita tidur dengan keadaan rumah berantakan kayak kapal pecah seperti ini!" Sang mertua menyela dengan mata melotot.
"Bu, tadi 'kan tetangga dan kerabat juga banyak yang datang dan ingin ikut membantu membersihkan semua ini, tapi kenapa Ibu malah menyuruh mereka pulang dengan kata-kata manis yang terdengar seperti omong kosong. Hellen juga ada di rumah, dari tadi dia hanya duduk santai asik dengan ponselnya. Kenapa Ibu tidak meminta dia untuk ikut membantu ku?! Dia juga sudah dewasa, bahkan usia Hellen sudah tua dari aku. Kenapa Ibu malah memanjakan dia dan melimpahkan semua pekerjaan rumah kepada ku?! Aku ini bukan pembantu, Bu. Aku ini menantu dirumah ini. Orang tuaku saja tidak pernah meminta ku untuk mengerjakan pekerjaan yang tiada hentinya seperti ini. Aku sungguh lelah! Aku bukan robot!" racau Siska dengan mata berkaca-kaca. Ia dan sang mertua berdiri saling berhadapan.
"Kau merasa lelah?" ujar sang mertua dengan wajah memerah. Ia menatap kesal wajah Siska yang terlihat sedikit lusuh.
"Iya. Aku capek!" balas Siska dengan nada keras.
"Kalau begitu angkat kaki mu segera dari rumah ini. Sana, pulang ke rumah orangtua mu!"
"Oke. Baiklah." Balas Siska tidak takut sama sekali dengan ancaman sang mertua. Dada sang mertua terlihat turun naik. Siska berjalan ke dalam kamar dengan langkah lebar. Sekarang ia akan benar-benar pergi dari rumah yang sama sekali tidak memberi nya rasa nyaman semenjak hari pertama ia menginjakkan kaki. Ibu Setya menatap nya sambil tersenyum sinis. Tidak lama setelah itu Hellen keluar dari kamar. Ia tadi juga mendengar keributan yang terjadi antara Ibunya dan sang ipar, ia mengintip dari kamar. Sedangkan Setya lagi pergi ke musholla memulangkan sesuatu yang ia pinjam tadi dari sana untuk kepentingan tahlilan.
"Kita lihat, apakah dia benar-benar akan pergi dari rumah ini." ucap Ibu Setya menyeringai.
"Iya, Bu." jawab Hellen tersenyum sinis.
Tidak lama setelah itu Siska keluar dari kamar, dengan pakaian yang telah berganti. Tadi ia memakai daster usang compang camping, sekarang ia sudah memakai celana jeans panjang dan atasan kaos. Di punggung nya terdapat tas ransel bewarna hitam. Rambutnya yang panjang terlihat rapi di ikat kuda. Wajahnya yang tadi kusam terlihat bersih karena sudah di baluti bedak bayi, bibirnya yang tadi pucat terlihat segar di baluti lipstik berwarna merah nude. Siska melewati tubuh sang mertua dan Ipar begitu saja tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Tatapan matanya lurus kedepan seakan ia tidak menyadari akan kehadiran dua wanita itu.
"Dasar wanita angkuh!" umpat Ibu Setya begitu Siska sudah sampai di dekat pintu. Setelah itu tubuh Siska menghilang di balik pintu. Beberapa menit setelah kepergian Siska, Hellen berjalan ke arah pintu lalu keluar. Di ikuti oleh sang Ibu.
"Bagaimana ini, Bu? Bagaimana kalau Mas Setya menanyakan keberadaan Siska!" ucap Hellen sedikit panik. Matanya menyusuri halaman rumah yang luas, tidak ia lihat lagi keberadaan Siska.
"Kamu tenang saja. Nanti Ibu akan bermain drama lagi di depan Mas mu." balas Ibu nya santai.
"Terus ... Rumah kita siapa yang mau bersihin, Bu? Aku nggak mau, ya." Hellen menjatuhkan bokongnya di teras.
"Ibu juga nggak mau. Ibu juga merasa capek."
__ADS_1
"Ibu sih, tadi 'kan tetangga dan kerabat dekat kita pada mau bantuin bersihin rumah, tapi malah Ibu suruh pulang dengan mengatakan kalau Siska yang akan membersihkan 'kan semua nya. Gara-gara Ibu sekarang minggat tuh anak."
"Udah. Nanti kita bereskan bersama-sama, Mas Setya juga. Yang terpenting sekarang Siska sudah pergi dari rumah ini. Setelah ini Ibu akan meminta Setya mencari istri yang cantik dan kaya raya. Mas mu 'kan tampan, mudahlah baginya untuk mencari pengganti wanita pembangkang itu."
"Ya sudah. Terserah Ibu."
"Kamu kapan akan menikah Hellen? Lihatlah, usia mu sudah beranjak semakin dewasa. Hanifa yang seusia mu saja sudah dua kali menikah."
"Aku masih mengharapkan Abdillah."
"Dari dulu itu terus jawab mu. Bosan Ibu dengar nya." usai berkata seperti itu sang Ibu masuk kedalam rumah. Meninggalkan Hellen yang duduk sendirian di teras rumah. Hellen menatap bintang di langit dengan senyum simpul sembari membayangkan dirinya sedang menatap wajah tampan Abdillah di atas sana.
"Abdillah, I love you forever." gumam Hellen tersenyum-senyum sendiri.
***
Siska berjalan di jalanan yang sepi dengan kedua tangan memeluk tubuh, ia sebenarnya merasa takut kalau harus meninggalkan kampung tempat ia berada sekarang ini sendirian. Tapi karena tidak ingin harga dirinya terus di injak-injak lagi akhirnya ia memantapkan tekad dan niatnya.
Karena jalanan yang lumayan gelap karena belum ada lampu jalan, Siska tidak menyadari di depannya Setya juga tengah berjalan hendak pulang ke rumah. Dari kejauhan Setya sudah menyadari akan kehadiran seseorang, tapi ia belum menyadari kalau orang itu adalah istrinya.
Begitu sudah sampai di dekat Siska, Setya bersuara.
"Hey." Sapa Setya. Siska menegakkan kepalanya yang dari tadi terus menunduk. Ia dan sang suami sama-sama kaget tak menyangka.
"Siska? Ka-kamu mau kemana, Dek?" tanya Setya seraya hendak mengelus pipi sang istri. Tapi dengan cepat Siska mengibas kasar tangan Setya.
"Jangan sentuh aku lagi, Mas." Siska berucap keras dengan dada terasa sesak. Setya yang merasa keheranan lalu bertanya lagi.
"Apa yang terjadi, Dek?"
"Aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke Jakarta. Aku benar-benar sudah lelah tinggal di rumah orangtua mu. Aku nggak tahan lagi di perlakukan seperti pembantu." seru Siska. Lalu ia berjalan cepat meninggalkan Setya.
"Apa maksudmu, Dek?" Setya mengikuti langkah sang istri.
__ADS_1
"Pikirkan sendiri."
"Dek, Mas mohon kembali lah."
"Tidak! Kau tahu, tadi selepas kepergian para tetangga dan kerabat, Ibu meminta aku untuk membereskan rumah yang begitu berantakan terkena sisa makanan, tumpukan piring kotor, dan tumpukan kain lab yang kotor, sendirian. Ibu pikir aku ini robot apa! Aku juga merasa lelah dan aku juga punya perasaan. Lama-lama aku bisa mati berdiri kalau masih tinggal di rumah itu. Aku tidak sanggup!" racau Siska sambil terus berjalan lurus kedepan. Setya menarik nafas dalam, lalu mengacak kasar rambutnya. Ia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi Ibu dan Istrinya yang tidak akur. Sebenarnya hanya ibunya saja yang tidak mau akur sama Siska.
"Dek, pulang dulu, ya. Sekarang sudah malam, Mas takut terjadi apa-apa sama kamu. Nanti Mas akan bicarakan sama Ibu." Setya membujuk dengan suara lembut. Ia sudah berhasil menghentikan langkah sang istri. Ia dan Siska berdiri saling berhadapan.
"Tidak! Talak aku sekarang juga Setya!" Tangis Siska pecah. Ia terisak-isak seraya menutup mulutnya.
"Mas tidak akan pernah menalak mu, Dek."
"Makanya kamu yang tegas jadi laki-laki."
"Pulang, ya. Besok kita pikirkan lagi. Kalau kamu mau ke Jakarta, mari kita ke Jakarta bersama-sama. Kau tahu, Mas juga merasa pusing, posisi Mas serba salah sekarang. Ibu dan Hellen juga membutuhkan Mas sekarang." Setya membawa tubuh Siska kedalam pelukannya. Dan pada akhirnya Siska luluh. Di dalam hati, setelah ini Siska bertekad tidak akan mau lagi di perlakukan semena-mena oleh sang mertua dan Ipar, ia akan mengerjakan pekerjaan sewajarnya saja. Kalau sampai Setya bersikap tak adil lagi, ia benar-benar akan meninggalkan Setya.
***
Di tempat berbeda, Arumi tengah berbaring di kamar, ia menatap langit-langit kamar yang bewarna biru.
"Kakak Hanifa yang tampan dan berwibawa benar-benar telah berhasil membuat aku tergila-gila. Selagi janur kuning belum melengkung, masih ada harapan bagiku untuk berusaha mendekati nya. Aku ingin dia lah pria yang menjadi pria terakhir untukku." batin Arumi dengan tersenyum-senyum sendiri. Kali ini Abdillah tengah di idolakan oleh banyak wanita. Sedangkan di tempat berbeda, Abdillah dan Hanifa sedang duduk di balkon kamar Arif. Hanifa sengaja mengajak sang Kakak berbicara berdua di sana.
"Mas, aku melihat ada yang berbeda dengan raut wajah suamiku hari ini. Ia terlihat sedikit gelisah dan seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari aku. Apakah sedang ada masalah seriusnya di perusahaan sekarang?" tanya Hanifa. Abdillah terlihat berpikir lalu berucap.
"Di perusahaan setahu Mas sedang tidak ada masalah. Masih aman-aman saja." balas Abdillah.
"Iyahkah? Terus kenapa, ya, dengan Mas Malik?"
"Sudah. Kamu jangan terlalu banyak pikiran Dek. Mas akan membantu menyelidiki dengan diam-diam. Kamu tenang saja, ya.'' ucap Abdillah. Hanifa mengangguk kecil.
"Rupanya di sini kalian " tiba-tiba Malik menyusul mereka. Arif sudah tidur.
"Mas, sudah selesai pekerjaan nya?" tanya Hanifa. Karena tadi Malik sedang berada di ruang kerja. Katanya ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Karena besok ia dan Abdillah akan mulai masuk kantor.
__ADS_1
"Sudah Sayang." jawab Malik dengan ekspresi sulit di artikan. Hanifa dan Andillah menyadari perubahan mimik wajah Malik. Setelah itu Abdillah pamit keluar lebih dulu. Di susul oleh Hanifa dan Malik. Malik dan Hanifa berjalan bergandengan menuju kamar mereka.
Bersambung.