AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Penelepon misterius


__ADS_3

Sore hari, rombongan Hanifa tiba di rumah. Sarah Mama Malik menyambut mereka dengan senyum hangat. Para pelayan yang berjumlah tiga orang dengan sigap membantu membawakan barang bawaan rombongan Hanifa dari kampung.


''Oma.'' panggil Arif sedikit lesu ketika baru keluar dari mobil, Arif langsung menghampiri sang Oma.


''Iya, Sayang. Bagaimana perjalanannya?''


''Perjalanan yang melelahkan, Oma.''


''Ya sudah ayo kita masuk. Oma sudah menyiapkan makanan kesukaan mu.''


''Benarkah?''


''Iya dong.'' Sarah mengecup pipi Arif berulangkali, lalu ia membawa Arif ke dalam rumah. Di ikuti yang lain.


Hanifa dan Malik berjalan berdampingan, mereka lalu naik ke lantai atas, ke kamar mereka. Hamidah dan Abdillah juga, mereka juga masuk ke kamar mereka masing-masing. Di rumah yang luas itu dengan jumlah kamar yang banyak, Hanifa telah menyiapkan satu buah kamar khusus untuk Hamidah. Ia ingin Hamidah tetap tinggal bersama nya.


Malam hari setelah membersihkan diri dan sholat isya, mereka makan malam bersama, Hanifa melakukan tugasnya dengan baik, ia memasukkan makanan untuk sang suami dengan begitu telaten. Malik tersenyum simpul melihat sang istri yang begitu antusias melayani dirinya. Tidak lupa Hanifa juga memasukkan makanan untuk Arif.


''Sayang, tadi ada seorang wanita datang kesini, ia mencari mu. Dia bilang dia adalah temanmu.'' ucap Sarah di sela-sela suapannya.


''Siapa, Ma?''


''Mm ... Katanya namanya Arumi.''


''Arumi?'' ujar Hanifa heran dengan kening berkerut.


''Iya Sayang. Apakah dia memang benar temanmu?''


''Em ... Iya, Ma. Dia temanku.'' jawab Hanifa berbohong. Ia tidak ingin sang Mama mertua bertanya lebih jauh lagi kalau ia berkata jujur tentang siapa Arumi sebenarnya. Malik tersenyum simpul mendengar jawaban sang istri. Begitu juga yang lain.


''Kira-kira mau ngapain, ya, Arumi mencari aku?'' batin Hanifa bertanya-tanya, ia merasa penasaran. Setelah itu ia melanjutkan makan malamnya. Usai makan malam, Hanifa dan Hamidah membantu pelayan membersihkan meja makan dan mencuci piring yang kotor, Hamidah dan Hanifa memang begitu, mereka tidak pernah sungkan untuk berbaur bersama para pelayan.


''Teh, kira-kira Arumi ngapain, ya, pengen ketemu aku?'' tanya Hanifa. Sekarang ia dan Teh Hamidah sedang mencuci piring. Sedangkan para pelayan membersihkan sisa-sisa makanan di lantai dan di meja makan.


''Mungkin dia mau minta maaf kepada mu Hanifa.''


''Ah ... Masak sih!''


''Atau mungkin dia mau merebut suami baru mu. Ckckck.'' goda Hamidah sambil meletakkan satu persatu piring yang telah bersih di rak. Ia hanya becanda saja. Hanifa mendelik.


''Ih Teteh. Tidak akan aku biarkan wanita manapun merusak hubungan aku dan suamiku, Teh.'' ucap Hanifa percaya diri. Ia memegang spatula, mengangkat-angkat spatula tersebut. Hamidah tersenyum melihat ekspresi Hanifa yang nampak kesal.


''Nah iya. Kalau sampai Arumi menggoda Malik. Akan Teteh kasih ini dia.'' ujar Hamidah, ia mengambil sambel yang terdapat di rak.


''Hahaha ... Teteh ada-ada saja.'' tawa Hanifa pecah melihat tingkah Hamidah. Para pelayan tersenyum mendengar obrolan Hanifa dan Hamidah.


''Teteh tidak mau lagi melihat kamu dan Arif sedih. Tidak ridho Teteh kalau sampai ada seorangpun yang menyakiti kalian lagi.''


''Makasih Teh.'' Hanifa tersenyum haru mendengar penuturan Hamidah. Ia mencuci tangannya di wastafel. Semua piring telah selesai di bersihkan.


''Iya. Sama Mas juga tidak ridho.'' tiba-tiba Abdillah menyahuti. Abdillah muncul begitu saja di dapur.


''Abdillah sejak kapan kau di sini?'' tanya Hamidah. Ia mengalihkan tubuhnya, sehingga sekarang posisi ia dan Abdillah saling berhadapan.


''Barusan.'' Abdillah tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih berbaris rapi.


''Kamu butuh apa hingga ke sini? Biar aku ambilkan.'' tanya Hamidah. Ia balas tersenyum. Mata keduanya saling menatap lekat.

__ADS_1


''Aku hanya ingin mengambil air putih.''


''Biar aku ambilkan, ya.'' tawar Hamidah. Abdillah mengangguk memberi jawaban.


''Iihuuyyy, kalian cocok sekali.''


''Begitu serasi, dan aku sangat senang melihatnya.'' sekarang giliran Hanifa yang menggoda Hamidah dan sang Kakak. Hanifa berlalu dari dapur dengan wajah tersenyum ceria, ia meninggalkan Abdillah dan Hamidah yang sedikit salah tingkah.


''Adikmu itu kenapa?'' Hamidah berkata, lalu ia menyerahkan segelas air putih kepada Abdillah. Abdillah mengambil nya cepat.


''Nggah tahu. Terimakasih, ya.''


''Iya, sama-sama.'' jawab Hamidah, Abdillah meminum air yang ada di gelas dengan seketika hingga tandas.


''Haus, ya?'' tanya Hamidah.


''Iya.''


''Ya sudah, gih masuk ke kamar, beristirahat lah. Kamu pasti capek karena habis dari perjalanan jauh tadi.'' Abdillah berkata lembut kepada Hamidah.


''Iya. Kamu juga.''


''Iya.''


Hamidah dan Abdillah berjalan berdampingan menuju kamar masing-masing.


Di kamar yang berbeda, sepasang pengantin baru hendak melakukan ritual malam kedua.


''Kali ini harus sampai puas Sayang.''


''Terserah, Mas. Aku selalu siap.'' Ucap Hanifa malu-malu.


Tubuh Malik telah berada di atas tubuh Hanifa. Mereka saling menatap lekat, Malik semakin mendekatkan bibirnya di bibir sang istri. Hanifa memejamkan mata, ia telah siap menanti sentuhan lembut dari sang suami. Saat sedikit lagi bibir mereka akan bertemu, tiba-tiba ponsel Malik yang berada di nakas berdering.


''Cup ... Muahhcc ...'' Malik mengecup bibir Hanifa. Ia abaikan ponselnya yang berdering. Hanifa berusaha melepaskan pagutan sang suami.


''Mas, itu ponsel mu angkat dulu, siapa tahu penting.'' ucap Hanifa sedikit ngos-ngosan. Meski hanya sekejap. Tapi Malik begitu brutal melahap bibirnya, hingga membuat ia kesulitan bernafas.


''Aihhh ... Mengganggu saja.'' Malik berdecak kesal, ia bangkit lalu duduk bersandar di kepala sofa. Ia mengambil ponselnya lalu mengangkatnya cepat.


''Iya.'' jawab Malik.


''Siapa ini?''


''Hey!''


''Siapa?'' tanya Malik lagi karena sang penelepon terus saja diam, tak bersuara. Malik melihat nomer sang penelepon, nomer yang tak di kenal dan baru pertama kali menelpon dirinya. Lalu setelah itu Malik memutuskan panggilan.


''Siapa, Mas?''


''Tidak tahu, paling orang iseng saja, Sayang.''


''Oh.''


''Ayo kita lanjutkan lagi.'' Malik tersenyum nakal. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas lagi. Tapi, tiba-tiba saja ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Malik membuka pesan itu cepat. Sedangkan Hanifa masih berbaring di kasur.


Saat Malik membuka pesan itu, mendadak wajahnya berubah pucat dan salah tingkah. ''****! Apa-apaan ini!'' umpat Malik kesal dengan wajah pias. Hanifa yang menyadari akan perubahan mimik wajah sang suami langsung bertanya.

__ADS_1


''Ada apa, Mas.''


''Tidak, tidak ada apa-apa Sayang.'' jawab Malik berusaha tenang. Ia menghapus pesan itu cepat, lalu ia memblokir nomor itu tanpa pikir panjang lagi. Nomor yang berpotensi dapat merusak rumah tangganya. Malik menekan tombol Off, kali ini ia benar-benar tidak mau lagi ada yang mengganggu malam panjang nya. Ia menghampiri Hanifa lagi, lalu setelah itu mereka sama-sama terhanyut dalam kenikmatan yang melenakan. ''Kali ini harus berhasil.'' gumam Malik dengan mata terpejam. Tangan dan mulutnya sibuk menelusuri setiap inci tubuh sang istri. ''Berhasil apa, Mas?'' tanya Hanifa lirih. Tangannya menarik gemes rambut sang suami. ''Berhasil bikin Adik untuk Arif.'' ucap Malik dengan nafas tak beraturan. Di depan pintu kamarnya, sang Mama mencoba menguping. ''Sepertinya mereka sedang bekerja. Baguslah. Aku ingin setelah ini rumah ini ramai dengan suara anak kecil. Sudah lama sekali aku menginginkan nya.'' Mama Malik tersenyum senang. Lalu ia beranjak dari depan pintu kamar. Arif sudah tidur bersama Mbak Marwah.


***


Keesokan paginya.


Malik dan Abdillah masih cuti, mereka hanya mengecek serta memantau pekerjaan kantor dan masalah perusahaan dari leptop mereka. Rencananya besok lusa mereka akan kembali bekerja seperti biasa.


Hamidah nampak telah siap dengan gamis dan jilbabnya. Ia akan pergi ke butik, membuka kembali butik milik Hanifa setelah libur hampir seminggu lamanya.


''Biar Pak Agus yang antar, Teh.'' ucap Hanifa, ia mengantar Hamidah kedepan.


''Iya.''


''Em ... Biar Mas saja yang antar, mumpung lagi cuti.'' Abdillah menyahut dari belakang.


''Oke. Itu lebih bagus.'' balas Hanifa.


Hamidah dan Abdillah berjalan menuju mobil, saat sudah sampai di dekat mobil, Abdillah dengan cepat membuka pintu mobil untuk Hamidah. Hamidah tersenyum mendapat perhatian kecil dari Abdillah. Hanifa pun sama. Lalu setelah itu mobil bergerak maju meninggalkan Hanifa yang melambaikan tangan di teras .


Abdillah dan Hamidah saling melempar canda ketika dalam perjalanan menuju butik. Perjalanan yang lumayan jauh terasa singkat karena tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merasa nyaman dan nyambung saat mengobrol.


Saat sudah sampai di depan butik, Hamidah melihat sebuah mobil telah terparkir rapi di pelantaran butik. Pintu butik masih tertutup, area butik juga sepi. Hamidah keluar dengan cepat dari mobil, di ikuti oleh Abdillah. Saat itu juga sang pemilik mobil yang tidak mereka kenali juga keluar.


''Arumi?'' ucap Hamidah kaget begitu ia melihat Arumi yang keluar dari mobil.


''Eh ... Bukan Hanifa, ya.'' ujar Arumi. Ia, Hamidah dan Abdillah sudah berdiri saling berhadapan.


''Bukan. Hanifa 'kan baru menikah, mana mungkin ia bekerja dengan cepat.'' ujar Hamidah.


''Oh iya juga, ya. Maaf, aku kesini rencananya ingin bertemu sama Hanifa.''


''Kalau mau ketemu Hanifa langsung ke rumah saja.'' sahut Abdillah yang memasang tampang datar dan cuek.


''Iya. Em ... Kamu Kakaknya Hanifa, ya?'' Arumi menatap Abdillah lekat.


''Iya.''


''Boleh kenalan? Siapa nama mu?'' Arumi menjulurkan tangannya. Rencananya ia akan meminta maaf juga kepada Abdillah, karena dulu ia juga pernah mengata-ngatai Abdillah dengan umpatannya.


''Abdillah.'' balas Abdillah. Ia menyambut uluran tangan Arumi. Mereka bersalaman.


''Nama yang bagus. Sesuai sama orangnya, tampan.'' puji Arumi tersenyum manis. Abdillah melepaskan tangannya cepat.


''Abdillah, bisa kita bicara berdua saja?''


''Maksudnya?''


''Iya, kita bicara berdua saja. Wanita ini tidak usah ikut. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, kita duduk-duduk di kafe yang ada di dekat persimpangan, ya. Aku yang traktir.'' pinta Arumi dengan mimik wajah memohon. Hamidah yang melihat dan mendengarkan merasa kesal kepada Arumi. ''Ih ... Masih gatel juga ternyata.'' batin Hamidah.


''Em ... Gimana, ya?'' Abdillah seperti berpikir.


''Ayolah ...'' Arumi mencoba membujuk dengan kedua tangan saling mengatup di depan dada.


Hamidah meninggalkan Arumi dan Abdillah dengan langkah kaki lebar. Ia membuka pintu butik sedikit tergesa.

__ADS_1


Entah kenapa, rasanya, ia .....


Bersambung.


__ADS_2