AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Masih belum di temukan


__ADS_3

Setelah aku menemui Pak Agus di mobil, aku lalu menceritakan kepada nya kalau Arif sudah tidak ada lagi di sekolah karena telah di jemput oleh pria tak di kenal, setelah mendengar perkataan ku, Pak Agus langsung berlari keluar dari mobil, pria yang berusia sekitar empat puluh tahun itu terlihat panik, ia berlari masuk kedalam pagar sekolah TK lalu berteriak memanggil nama Arif. Aku tahu, hubungan Pak Agus dan Arif sudah sebegitu dekat, selama Arif sekolah Pak Agus lah yang rutin mengantar jemput Arif.


''Non, bagaimana ini? Siapa yang telah membawa Arif tanpa sepengetahuan Non? Tanpa sepengetahuan Ibu kandungnya sendiri! Ah .... Bagaimana bisa? Bagaimana kalau Arif di culik?!'' racau Pak Agus dengan nafas tersengal-sengal. Ia memukul kecil pintu mobil. Terlihat sekali ia sangat emosi.


''Aku juga nggak tahu harus bagaimana, Pak. Semua ini karena keteledoran ku. Aku telah lalai menjadi seorang Ibu.'' balasku lirih. Sungguh aku sangat merasa bersalah atas apa yang telah terjadi saat ini.


''Non lebih baik tenang dulu. Jangan menyalahkan diri sendiri.'' ucap Pak Agus terlihat menenangkan. Aku mengangguk kecil. Setelah itu sebuah mobil terdengar berhenti tepat di belakang mobil yang aku tempati sekarang. Aku menoleh kebelakang, ternyata Suamiku dan Mas Abdillah sudah datang. Aku keluar dari dalam mobil. Mas Malik dan Mas Abdillah melangkahkan kaki lebar ke arah ku, lalu saat sudah sampai di depanku Mas Malik langsung memeluk tubuhku tanpa malu dan sungkan sama Mas Abdillah dan Pak Agus.


''Sayang, kamu yang tenang, ya. Mas janji Mas akan mencari keberadaan Arif kemana pun, sampai ketemu. Kamu jangan banyak pikiran.'' ucap Mas Malik lirih sambil mengelus punggungku lembut.


''Iya, Mas. Tapi aku takut terjadi apa-apa sama Arif.'' sahutku dengan isakan tertahan. Ibu mana yang tidak merasa khawatir, cemas saat sang putra yang ia kandung selama sembilan bulan lamanya tidak tahu di mana keberadaan nya. Sama siapa? Lagi apa? Apakah Arif bersama orang baik atau jahat? Apakah orang-orang itu memperlakukan nya dengan baik? Dan apakah motif orang itu hingga rela membuang waktu untuk membawa Arif pergi bersama nya. Pertanyaan itu terus berkecamuk, hingga menjadi beban pikiran tersendiri untukku. Membuat aku gelisah dan tidak bisa berpikir dengan tenang barang sedetikpun.


''Tidak akan, Mas pastikan Mas akan menghabisi siapapun yang berani menyentuh Arif. Tadi Mas dan Mas Abdillah sudah mengerahkan beberapa orang, orang suruhan kita untuk mencari keberadaan Arif. Semoga saja hari ini juga Arif bisa kita temukan.'' ucap suamiku terdengar meyakinkan.


''Semoga saja Arif bisa segera di temukan.'' balasku dengan berpura-pura tegar. Menangis pun tak ada gunanya. Dengan menangis saja putraku tidak akan mungkin kembali.

__ADS_1


''Amin. Mas antar kamu pulang, ya. Mas takut nanti terjadi apa-apa sama kandungan mu. Sama anak kita.'' ucap suamiku, ia mengelus perutku lembut.


''Aku nggak mau pulang Mas. Aku mau ikut mencari keberadaan Arif.'' sahutku.


''Sayang, plis, kali ini nurut, ya. Ini demi kebaikanmu.'' Mas Malik berkata seraya menatap ku lekat. Ia meraup wajahku dengan kedua tangan nya. Akhirnya aku mengangguk. Suamiku juga menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.


***


Hingga malam tiba, kabar tentang keberadaan Arif masih belum di ketahui juga. Aku dan Mama duduk dengan gelisah di ruang keluarga. Kadang juga kami berdiri, berjalan mondar-mandir, sambil sesekali kami menatap layar ponsel, berharap ada kabar baik yang akan datang. Mas Malik dan Mas Abdillah masih belum pulang dari tadi siang. Kata suamiku, dia dan Mas Abdillah sholat di Masjid terdekat dan makan pun di warung mana saja yang mereka singgahi saat lelah mencari keberadaan Arif. Mereka telah menyusuri jalanan sekitar kompleks perumahan tempat kami tinggal sekarang, menyusuri jalanan di dekat TK, menghubungi orang tua teman-teman sekolah Arif dan mengirim berita tentang kehilangan Arif di grup wa sekolah. Tapi hasilnya tetap nihil, tidak ada yang mengetahui pasti keberadaan putraku saat ini.


''Mama,'' ucapku lirih memanggil Mama mertuaku. Mama menoleh, lalu setelah itu aku dan Mama saling berpelukan, kami sama-sama saling menguatkan. Kabar tentang hilangnya Arif telah sampai juga di telinga Teh Hamidah, Teh Hamidah menghubungi ku dengan suara seraknya, aku tahu dia pasti menangis. Berbagai macam doa dia sematkan agar Arif bisa segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja.


Hingga tengah malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Aku berbaring dengan gelisah di ranjang yang besar dan empuk, tentunya sangat nyaman. Tapi mata ku sama sekali tidak mau di pejamkan. Aku tadi telah selesai melaksanakan sholat malam, meminta petunjuk agar ada titik terang mengenai keberadaan Arif.


''Hah ... Ya Allah.'' gumam ku lirih sambil menatap langit-langit kamar. Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan, berharap sesak di dada berkurang.

__ADS_1


''Sayang, semoga saja Kakak mu baik-baik saja di manapun dia berada.'' gumam ku lagi sambil mengelus perutku yang masih rata. Kami baru saja merasakan kebahagiaan, tapi cobaan dan masalah selalu datang tanpa di duga-duga. Kapan semua ini akan berakhir? Kapan kami akan benar-benar hidup tenang tanpa ada yang mengusik keluarga kami? Tapi bukankah selama kita masih hidup di dunia masalah akan selalu datang? Harap ku setelah cobaan yang datang bertubi-tubi akan ada kebahagiaan abadi yang menanti di depan.


Saat aku tengah melamun, tiba-tiba saja ponselku yang berada di atas nakas berdering nyaring. Aku meraihnya cepat, lalu melihat siapakah gerangan yang menghubungi. Ternyata suamiku yang menghubungi.


''Assalamu'alaikum, Mas.'' ucapku cepat.


''Wakaikum'sallam, Sayang. Kamu masih belum tidur juga?''


''Aku nggak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur sementara orang-orang yang aku sayangi sedang tidak berada di rumah.''


''Mas dan Mas Abdillah sedang dalam perjalanan pulang. Maaf, Sayang. Sampai saat ini kami masih belum bisa menemukan Arif. Besok kami akan melanjutkan lagi pencarian nya.''


''Baiklah Mas. Aku tunggu di rumah. Kalian juga butuh istirahat.'' ucapku dengan dada terasa sesak. Ah ... Arif. Di manakah kamu sekarang, Nak?


Setelah itu panggilan terputus. Aku menutup mata sembari mengingat wajah tampan dan menggemaskan putraku. Aku sungguh rindu dengan ocehan kecilnya dan tingkah nya yang begitu aktif.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2