AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pov Rian


__ADS_3

Sebulan berlalu.


Aku berdiri di balkon kamar, menarik nafas dalam dan panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Aku menatap langit malam yang di penuhi kerlap kerlip bintang, indah. Tapi tidak seindah jalan hidupku. Kedua tanganku berada di saku celana, aku meratapi nasibku yang entah kenapa aku bisa terbujuk rayuan si tua bangka itu.


''Papa titip Intan sama kamu, Rian.'' lirihnya waktu itu. Ia berusaha setiap harinya untuk bertemu denganku meski aku sudah berkata kasar dan mengusir nya secara tidak hormat dari rumah, bahkan dia juga menemui ku di perusahaan tempatku bekerja.


''Tidak mau!'' tolak ku kasar tanpa mau menatapnya barang sedetik saja.


''Intan sudah tidak punya siapa-siapa lagi Rian. Mamanya sudah meninggal, dan Papa, Papa juga tidak akan lama lagi akan menyusul Mamanya. Uhuk, uhuk ... Intan wanita yang baik.'' pria tua yang ada di hadapanku berkata dengan terbatuk-batuk dan wajahnya memelas. Aku lihat, tubuhnya yang dibalut kemeja semakin hari semakin kurus.


''Dia sama sekali bukan tanggungjawab ku! Buang-buang waktu saja. Sana, titip dia di panti saja.'' jawabku angkuh. Tapi pria tua itu masih saja bersikeras, bahkan ia rela berlutut di kakiku. Hingga akhirnya hatiku yang lemah ini luluh, luluh untuk menerima semua yang ingin ia titipkan di sisa-sisa usianya.


Katanya, Intan adalah anak tirinya, anak dari wanita yang telah merampas kebahagiaan aku dan Mama. Bahkan, wanita yang bernama Intan juga ikut andil dalam merusak kebahagiaan ku waktu kecil. Wanita itu memiliki wajah yang lumayan cantik, kulit putih bersih, hidung bengir, rambut lurus bewarna hitam pekat sepunggung dan postur tubuhnya tinggi langsing. Dia cantik, tapi aku sangat membencinya. Usianya mungkin seusia aku dan Hamidah.


''Mas, aku mau ke rumah sakit jenguk Papa. Kamu ikut nggak?'' Intan menghampiri ku di balkon, lalu berucap lirih.


''Nggak!''


''Ya sudah, kalau begitu aku pergi dengan di temani sopir saja.'' Intan mau mengambil tanganku, tapi aku tepis kasar.

__ADS_1


''Terserah.''


Setelah aku mengatakan itu, Intan melangkahkan kakinya meninggalkan aku sendiri di balkon. Sempat aku dengar ia mendengus kasar, mungkin ia merasa kesal dengan sikap angkuh dan dingin yang selalu aku tunjukkan kepadanya.


Tidak lama setelah itu, aku melihat di perkarangan rumah Intan memasuki sebuah mobil dengan di temani seorang supir yang berusia sekitar empat puluh tahun, supir keluarga katanya, supir itu memiliki tubuh gempal dengan warna kulit sedikit gelap. Lalu mobil itu perlahan menjauh meninggalkan halaman. Aku pun memilih meninggalkan balkon, aku berbaring di tempat tidur seraya membuka sosial media milikk yang sudah lama sekali tidak aku buka.


***


Keesokan paginya, aku duduk di meja makan, Intan selalu setia berada di sisiku, bahkan dia memasukkan nasi dan lauk kepiringku. Untuk urusan masak, semuanya telah di siapkan oleh pembantu.


''Mas, kapan kamu akan mulai bekerja di perusahaan Papa menggantikan posisiku?''


''Tidak akan pernah! Kamu jangan banyak berharap.''


''Hentikan omong kosong mu itu! Kau tak tahu apa-apa!'' bentakku membanting sendok ke piring, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Aku berdiri, lalu pergi, aku meninggalkan Intan sendiri di meja makan. Sempat aku lihat, wajah Intan menegang setelah aku berkata seperti itu.


***


"Kamu masih belum menjenguk Papa mu, Rian?'' ucap Mama, dia menemuiku di perusahaan.

__ADS_1


''Tidak akan pernah, Ma!'' jawabku, aku tetap fokus dengan beberapa berkas yang harus aku tanda tangani. Abdillah tidak masuk hari ini, karena katanya Adik perempuannya yang bernama Hanifa sedang berada di rumah sakit.


''Rian, Papa mu sudah sekarat di rumah sakit, kenapa kamu masih belum mau memaafkan semua kesalahannya?'' Mama berkata dengan nada lembut seraya mengelus pundakku, aku melihat masih ada sedikit cinta yang Mama simpan untuk Papa.


''Aku tidak akan mau memaafkannya, Ma.''


''Haaahh .... Sejak kapan kamu jadi keras begini? Padahal Papa mu sudah menitipkan perusahaan nya kepada mu, dia juga telah menitipkan seorang gadis cantik untuk mendampingi mu dan mengurus mu. Kau seharusnya bersyukur untuk semua itu, Rian. Kau hanya tinggal menikmati semua yang telah Papa wariskan.'' ucap Mama lagi seraya menghembus nafas kasar. Ia lalu duduk di sofa yang ada di ruangan ku. Tidak lama setelah itu Mama pamit, katanya ia akan menjenguk mantan suaminya itu. Aku heran sama Mama, kenapa Mama masih bersikap baik sama Papa, bahkan Mama juga sangat baik sama Intan.


Setelah kepergian Mama, aku duduk merenung, mengingat semua kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ku. Selama berproses tumbuh hingga sedewasa ini, bisa di bilang hidup ku tidak terlalu sulit-sulit amat. Om Andra dan Tante Ainun selalu mencukupi semua kebutuhan ku sedari aku kecil, mereka juga mencurahkan kasih sayang mereka terhadap diriku persis seperti anak kandung mereka sendiri. Hanya saja, aku merasa masih ada yang kurang, yaitu kasih sayang seorang Ayah kandung. Apalagi saat aku kecil, aku seringkali melihat Mama menangis di dalam kamarnya, aku tahu Mama menangis gara-gara Papa. Gara-gara Papa berpaling ke wanita lain, wanita yang merupakan rekan kerjanya, sekaligus putri dari pemilik perusahaan tempat papa bekerja. Wanita yang merupakan seorang janda beranak satu, janda penggoda. Begitulah yang aku tahu, karena aku sering mendengar Mama curhat kepada Tante Ainun dengan air mata berlinang.


***


Malam harinya, aku tidak langsung pulang setelah dari kantor. Aku lebih memilih mampir ke rumah Om Andra dan Tante Ainun. Aku lebih nyaman saat berada di rumah mereka.


"Rian, bagaimana kondisi Papa mu, Nak?'' tanya Om Andra saat kami sedang makan malam bersama. Aku, Om dan Tante, kami hanya makan bertiga. Hamidah dan Abdillah masih belum pulang, karena kata Tante Ainun, Hanifa masih belum sadarkan diri pasca operasi sesar.


''Aku tidak tahu, Om.'' jawabku apa adanya.


''Papa mu dan Istrinya sudah mendapatkan balasan dari perbuatan mereka, Rian. Papa mu sudah minta maaf, dia sudah menyesali semuanya. Bahkan sebelum dia masuk rumah sakit, dia juga menemui Om, menyampaikan semua keluh kesahnya tentang perasaan bersalahnya terhadap dirimu. Katanya, saat kamu masih kecil hingga sedewasa sekarang, dia sering meminta orang suruhannya untuk memotret dirimu dari jarak jauh, lalu foto itu ia simpan sebagai pengobat rindunya. Katanya ia tidak punya keberanian untuk menemui mu. Cobalah berdamai dengan dirimu sendiri, Nak. Om tahu, kamu adalah orang baik dan mampu memaafkan suatu kesalahan yang terjadi di masa lalu.''

__ADS_1


''Iya, Rian. Apalagi saat ini kamu telah menjadi seorang suami. Berbesar hatilah, dan mulai hari ini, kamu harus bisa menerima semuanya. Jalani hidup dengan baik tanpa adanya dendam. Intan adalah wanita yang baik, dia juga begitu sopan dan sabar, belajar lah untuk mencintainya.'' Tante Ainun memberi pesan dengan wajah tersenyum manis. Aku hanya mampu diam. Aku tidak berani membantah apa yang Om Andra dan Tante Ainun katakan. Setelah itu tidak ada obrolan apa-apa lagi. Kami fokus dengan makanan yang ada di piring masing-masing. Dari tadi ponselku yang ada di saku terus saja berdering, aku tahu, itu pasti panggilan dari Intan. Selama menjadi istriku, Intan memang sangat gencar menghubungi ku bila aku terlambat pulang.


Bersambung.


__ADS_2