
Setelah melihat Shanum keluar dari mobil, lalu Shanum berjalan melenggang masuk ke dalam hotel. Malik tidak melakukan apa-apa, ia hanya memperhatikan pergerakan Shanum dari dalam mobilnya saja, sambil berpikir keras langkah apa yang harus ia ambil setelah ini. Walau bagaimanapun Ia tidak boleh bertindak gegabah dengan langsung menuduh Shanum tanpa bukti, karena takutnya Shanum kabur dan mengelak dari tuduhan yang akan Malik lontarkan. Mana ada maling yang mau mengaku begitu saja. Pikirnya.
Malik mengambil ponselnya dari saku celana, lalu ia mulai menghubungi seseorang. Hanya dengan sekali panggilan saja orang itu langsung menjawab panggilan Malik.
''Datang ke hotel Manhattan sekarang, aku tunggu. Ada tugas yang akan aku berikan kepada kalian.'' ucap Malik memberi perintah.
''Baik Tuan.'' jawab seseorang dari seberang sana, seseorang yang merupakan orang suruhannya.
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, akhirnya orang suruhan Malik datang. Selama satu jam itu pula Shanum tidak keluar lagi dari dalam hotel. Malik merasa sedikit lelah karena terlalu lama berada di dalam mobil mengintai pergerakan Shanum. Maski begitu, ia iklas menjalani, demi bisa menemukan keberadaan Arif. Orang suruhan Malik membuka pintu mobilnya, lalu ia berpindah masuk ke dalam mobil Malik saat Malik memberi kode. Begitu ia sudah duduk di kursi kemudi sebelah Malik, Malik mulai berbicara memberi perintah.
''Kau intai pergerakan wanita ini, namanya Shanum, awasi dia selalu dari dalam mobil mu. Begitu ia keluar dari hotel, kalau dia pergi meninggalkan hotel, kau ikuti mobil nya dari belakang. Buntuti mobil nya ke mana saja dia pergi.'' tutur Malik sambil memperlihatkan foto Shanum kepada orang suruhannya. Foto Shanum yang ada di dalam ponselnya, foto yang ia ambil saat Shanum keluar dari mobil tadi. Malik memotret nya dengan diam-diam. Setelah Malik memperlihatkan foto itu kepada orang suruhannya. Ia langsung menghapusnya. Malik tidak mau terjadi salah paham antara dirinya dan sang istri, kalau sampai sang istri melihat ada foto Shanum ada di dalam ponselnya.
''Baik Tuan.'' jawab pria bertubuh kekar dengan tinggi atletis.
__ADS_1
''Lakukan tugas mu dengan serapi mungkin tanpa ketahuan. Kalau kau sudah menemukan tanda-tanda dia yang menculik putra ku, kau hubungi aku cepat.'' ucap Malik lagi.
''Iya Tuan. Kami akan bekerja dengan sebaik mungkin.''
''Baiklah. Aku akan pulang dulu.''
''Hati-hati Tuan.'' ucap orang suruhan itu, Malik mengangguk. Lalu ia keluar dari dalam mobil Malik. Setelah itu Malik melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju rumah. Dia akan terus memantau perkembangan kasus pencarian Arif lewat orang-orang suruhan nya yang ia sebar cukup banyak di berbagai lokasi yang ia curigai. Dan tadi Abdillah juga telah menghubungi nya, Abdillah mengatakan kalau polisi sudah bergerak untuk ikut membantu mencari keberadaan Arif.
Setibanya di rumah, dua orang wanita yang amat ia kasihi nampak sedang duduk di ruang keluarga. Sang Mama nampak tengah menatap foto Arif dari ponselnya, sedangkan sang istri duduk melamun dengan mata nampak sembab. Malik menghampiri mereka, lalu ia duduk di tengah-tengah dua wanita itu.
''Masih belum, Ma.'' balas Malik. Seketika Sarah kembali tak bersemangat.
''Hanifa, apa tidak ada orang yang menghubungi mu, Nak? Em maksud Mama, Orang yang meminta tebusan atau apalah, kalau ada kasih berapapun uang yang dia minta demi keselamatan Arif.'' ucap Sarah pelan, ia menatap ke arah Hanifa lagi.
__ADS_1
''Tidak ada, Ma. Aku juga tengah menunggu kalau-kalau ada orang yang menghubungi ku.'' balas Hanifa dengan suara terdengar serak. Malik lalu merangkul dua wanita yang sangat ia sayangi itu, sambil mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Arif akan segera di temukan dalam keadaan seperti semula.
***
Di tempat berbeda, di atas kasur lantai, Arif nampak terlelap dengan kondisi menyedihkan, ia masih memakai seragam sekolahnya yang telah kotor sebagian, wajahnya juga terlihat pucat karena dia yang tetap tidak mau makan. Setya yang duduk di samping sang putra lalu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya dari tadi. Begitu topeng terbuka, Setya menatap Arif lekat, lalu dengan pelan ia mengelus kepala dan pipi Arif. Setya menarik nafas dalam lalu berucap lirih.
''Maafkan Ayah, Nak. Hanya dengan cara ini Ayah bisa bertemu dan berada sedekat ini dengan mu. Kau terlihat sangat tampan sekarang. Persis seperti Ayah mu ini. Hehehe ...'' Setya tersenyum getir. Lalu ia berucap lagi, ''Sekali lagi maaf kan Ayah, karena Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk mu.'' ucap Setya lirih dengan dada terasa sesak. Ia tidak tahu hal apa yang akan terjadi padanya setelah ini karena dia yang telah bertindak di luar batas. Ia menculik putranya sendiri hanya karena uang dan karena rindu yang terus ia pendam terhadap sang putra. Semua uang yang di berikan oleh Shanum waktu itu telah ia berikan kepada Siska dan Hellen. Dan juga sebagian nya telah ia transfer kepada Ibunya yang ada di kampung. Ketiga wanita itu sangat senang ketika Satya memberi uang yang cukup banyak kepada mereka. Saat Siska bertanya dari mana Setya mendapatkan uang sebanyak itu, Setya mengatakan kalau ia telah mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji cukup besar. Dan uang itu adalah uang mukanya. Siska percaya begitu saja, pun Hellen dan Ibunya, mereka tidak peduli Setya bekerja apa. Yang terpenting bagi mereka adalah uang, uang dan uang. Hellen juga telah mulai bekerja di perusahaan milik Papa Shanum, ia bekerja sebagai karyawan biasa. Ia merasa sangat senang ketika mendapatkan pekerjaan itu lewat Setya. Semakin percaya lah dirinya kalau sang kakak benar-benar telah bekerja dengan keluarga kaya raya.
Setya lalu merebahkan tubuhnya di samping sang putra, ia memeluk Arif pelan lalu mengecup pucuk kepala Arif dengan perasaan yang teramat dalam. lagi-lagi bayang-bayang masalalu saat dia masih berumahtangga dengan Hanifa memenuhi pikirannya.
''Indah, damai, tentram dan tenang. Dulu kehidupan keluarga kecil kita begitu tenang Sayang. Tapi Ayah, dalam sekejap Ayah menghancurkan semuanya. Hingga saat ini hidup Ayah terasa tak berarah, tak tahu kemana hendak berlayar, tak tenang. Semakin terperosok ke jurang terdalam. Sekarang Ayah telah menciptakan masalah semakin runyam. Bunda mu pasti akan sangat murka begitu ia tahu Ayah lah yang menculik mu. Bunda dan Paman mu pasti akan sangat membenci Ayah. Hiks, Hiks ... Mereka saat ini pasti sangat khawatir karena memikirkan mu. Ayah tak peduli lagi. Mungkin setelah ini Ayah akan mendekam di penjara, atau bahkan hanya tinggal nyawa. Ayah pasrah. Tapi untuk saat ini biarkan Ayah memeluk tubuhmu lebih lama. Biarkan Ayah membaui aroma tubuhnya yang terasa begitu menenangkan. Karena Ayah tahu, hanya saat ini Ayah bisa memelukmu dengan lebih leluasa. Di masa yang akan datang, kau pasti tidak akan pernah sudi untuk bertemu Ayah lagi, bahkan mengingat Ayah.'' racau Setya di dalam hati dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
''Kakek mu pasti juga sangat kecewa kepada Ayah. Huhuhu .... Jadi lah anak yang sholeh, Nak. Jaga Bunda mu, hormati Papa mu dan Paman mu. Kelak kau pasti akan tumbuh menjadi anak yang hebat, karena kau di kelilingi oleh orang-orang yang hebat.'' lagi-lagi Setya menangis terisak-isak.
__ADS_1
Bersambung.