AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kekhawatiran Malik


__ADS_3

''Siska?'' ucap Hellen gelagapan. Ia berdiri dari duduknya. Ia tidak menyangka Siska akan kembali pulang bersama sang Kakak. Hellen yang masih duduk di teras sambil membayangkan wajah tampan Abdillah merasa kaget.


''Ibu, mana?'' tanya Setya. Sedangkan Siska memilih diam dengan menundukkan kepala.


''Ibu ada di dalam.'' jawab Hellen.


''Kamu ngapain masih duduk diluar? Sudah malam, ayo masuk. Mendingan beresin rumah yang berantakan dari pada melamun nggak jelas.'' ujar Setya sedikit keras. Ia sudah berpikir saat diperjalanan pulang tadi, setelah ini ia akan bersikap sedikit keras kepada Ibu dan Adiknya.


''Apaan sih!'' Hellen berdecak sebel.


Setelah itu mereka masuk, setibanya di dalam rumah, mereka melihat keadaan rumah yang masih berantakan. Setya dan Siska tidak habis pikir, bisa-bisanya Hellen dan Ibu nya bersikap santai sementara keadaan rumah masih kayak kapal pecah. Ibu Setya yang tadi duduk santai di sofa ruang tamu berjalan menghampiri Siska dan Setya. Wajahnya yang keriput memandang Siska dengan amarah.


''Heh ... ngapain kamu kembali lagi?'' tanyanya sambil menunjuk wajah Siska. Siska bergeming, ia tidak mau lagi membuang-buang suaranya membalas ucapan ketus sang mertua.


''Bu, Siska ini istriku, tanggungjawab aku. Bisa-bisanya Ibu membiarkan Siska keluar dari rumah malam-malam begini. Aku heran, apa sih maunya Ibu?'' ujar Setya dengan tangan mengepal. Ternyata Ibunya sama sekali tidak merasa bersalah.


''Ibu pengen punya menantu kaya dan dapat di andalkan.'' jawab Ibu Setya.


''Kaya terus yang ada di pikiran Ibu. Bu, sepertinya besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku capek kalau harus melihat Ibu bersikap ketus terhadap istri ku.''


''Aku ikut, ya, Mas.'' timpal Hellen. Hellen berencana akan mencari pekerjaan di Jakarta dan sambil berusaha mendekati Abdillah.


''Setya, kamu tega mau ninggalin Ibu sendirian di kampung ini?'' Ibunya berbicara dengan suara melemah.


''Tidak ada pilihan lain lagi, Bu.'' usai berkata seperti itu Setya dan Siska masuk ke kamar. Siska akan mengganti pakaian lagi. Lalu setelahnya mereka keluar lagi dari kamar, mereka membersihkan rumah bersama-sama. Dari tadi Ibu Setya terus saja memasang wajah masam. Ia seperti anak kecil saja, seharusnya sebagai seorang ibu ia bersikap bijak dan mengayomi. Tapi ... Ah sudahlah. Ya ... Begitulah manusia di dunia. Pasti memiliki beragam sikap dan sifat yang berbeda.


****


Beberapa hari terlewati, Malik dan Abdillah sudah kembali rutin berkerja di perusahaan. Meeting bersama klien, berjibaku dengan tumpukan berkas-berkas serta menerima laporan hasil penelitian tentang kemajuan, keuntungan bahkan kerugian kecil yang dialami oleh perusahaan. Mereka sudah kembali sibuk sekarang.


Wanita masalalu yang dikhawatirkan Malik dapat berpotensi merusak hubungan nya dan sang istri, sudah tidak pernah lagi menghubungi semenjak hari itu. Malik merasa lega, tapi ia tidak boleh juga lengah. Ia tidak ingin sampai kecolongan. Wanita itu bukan wanita sembarangan, ia dan orangtuanya memiliki pengaruh yang besar di berbagai instansi dan perusahaan besar. Mereka juga kaya raya, sama seperti Malik.


Pagi itu, Hanifa berdiri di depan sang suami, memasang dasi dengan telaten dan rapi.


"Sayang, ayolah, sesekali kamu berkunjung ke kantor, Mas. Biar Mas kenalkan kamu secara langsung kepada para karyawan dan para petinggi perusahaan." bujuk Malik lembut. Ia mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang tanpa hijab.


"Tidak mau, Mas. Malu ah ...." balas Hanifa. Beberapa kali Malik sudah membujuk sang istri agar sesekali ikut bersama nya ke perusahaan, tapi Hanifa selalu menolak dengan alasan yang sama. Hanifa masih kurang percaya diri melenggangkan kaki di perusahaan besar milik sang suami.


"Selalu saja itu jawab mu Sayang. Kamu itu cantik." Malik mengecup kening sang istri.


"Lain kali aku akan berkunjung ke sana Sayang. Hari ini aku akan ke butik." balas Hanifa lembut dengan menyunggingkan senyum.


"Ya udah, kamu jangan capek-capek, ya." pesan Malik. Hanifa mengambil tangan sang suami lalu mengecupnya.


"Iya Sayang." Mereka berpelukan beberapa saat. Bagi sepasang pengantin baru itu, berpisah karena tuntutan pekerjaan yang lamanya hampir sehari penuh, rasanya sudah seperti setahun saja. Mereka sama-sama mudah merindu, hingga kerap kali di sela-sela kesibukannya di kantor, Malik masih berusaha menghubungi sang istri, menanyakan kabar sang istri.


Kemudian Hanifa mengantarkan Malik ke depan, Abdillah telah menunggu Malik di mobil. Hanifa melambaikan tangan melepas kepergian dua pria gagah lagi tampan itu.


Setelah itu Hanifa masuk ke rumah, di ruang keluarga sang mertua dan putranya tengah bercengkrama, Arif tidak masuk sekolah karena sedang tidak enak badan katanya.


"Bagaimana kondisi mu Sayang?" Hanifa duduk di sofa yang sama dengan sang putra dan mertua. Arif sedang berbaring di paha Sarah.


"Udah agak enakan, Bunda. Sehabis Oma kasih sirup rasa jeruk tadi." balas Arif sedikit lesu. Oma Sarah mengelus bahunya berulang.

__ADS_1


"Syukurlah, Nak.''


''Sekarang emang lagi musim demam kayaknya Hanifa. Anak tetangga ada juga yang demam.'' timpal Sarah.


''Iya, Ma.''


''Mama, aku titip Arif boleh? Soalnya aku mau ke butik hari ini?''


''Tentu boleh dong. Tapi kamu jangan capek-capek, ya.'' Sarah tersenyum hangat menatap Hanifa. Sesekali ia menatap ke arah perut Hanifa yang masih datar. Ia berharap perut itu akan berisi janin keturunan dari nya.


''Iya, Ma.''


''Sayang, Bunda hari ini ke butik, ya. Arif nggak apa-apa dirumah aja 'kan? Di temani Oma sama Mbak Marwah.''


''Nggak apa-apa, Bunda. Palingan nanti sore Arif sudah sembuh. Arif kan anak kuat.''


''Anak pintar.'' puji Hanifa. Hanifa menciumi kening dan pipi Arif. Setelah itu ia naik ke lantai atas. Ia akan mengganti pakaian.


***


Hanifa duduk di dalam mobil sambil menatap layar ponselnya, sekarang ia tengah dalam perjalanan menuju butik, menyusul Hamidah yang telah pergi duluan tadi pagi-pagi sekali. Hanifa membalas pesan yang di kirim oleh sang suami.


[Kalau ada perempuan yang tidak di kenal ingin bertemu dengan mu jangan di ladeni, ya, Sayang.] Hanifa membaca pesan yang di kirim oleh Malik dengan mata menyipit.


[Emang kenapa dan ada apa, Mas?]


[Pokoknya kamu turuti saja apa yang Mas sampaikan, Sayang.]


[Baiklah, Mas.]


[I love you to.] Hanifa pun membalas pesan yang di kirim oleh sang suami dengan wajah tersenyum lebar dan dada berdesir. Lagi-lagi ia merasa begitu bersyukur karena memiliki suami yang amat baik dan perhatian seperti Malik.


Setiba di butik, Hanifa di sambut ramah oleh para karyawan, mereka juga mengucap selamat kepada Hanifa secara bergantian. Hanifa pun menyapa mereka sama ramahnya. Setelah itu Hanifa duduk di depan Hamidah.


''Teh, gimana? Aman-aman aja, 'kan?


''Iya Hanifa. Alhamdulillah.''


Hanifa duduk di depan meja kasir seraya mengecek beberapa laporan hasil penjualan. Tidak lama setelah itu seorang perempuan berpenampilan elegan masuk. Hanifa belum menyadari akan kehadiran perempuan itu. Lalu setelah beberapa saat.


''Hanifa ...''


''Eh ... Iya.'' Hanifa beralih, melihat siapa yang memanggil nya.


''Arumi? Kamu ... Ngapain ke sini?'' tanya Hanifa. Pertanyaan repleks yang keluar begitu saja dari mulutnya. Hamidah yang melihat kehadiran Arumi menatap tak suka.


''Bisa kita berbicara berdua saja Hanifa?'' pinta Arumi sambil melepas kacamata hitam yang menutupi matanya.


''Oh ... Tentu bisa.'' balas Hanifa sambil berdiri.


''Aku tidak menggangu, 'kan?''


''Tidak.''

__ADS_1


Kemudian Hanifa mengajak Arumi untuk berbicara di ruangan nya. Sekarang mereka telah duduk di sofa yang saling berhadapan.


''Hanifa, aku ingin minta maaf kepada mu atas kesalahan ku di masa lalu. Aku yang merebut suami mu, aku yang menyakiti putra mu dan semua nya. Maafkan aku.'' ucap Arumi menatap Hanifa lekat. Matanya yang jernih nampak berkaca-kaca. Hanifa menarik nafas dalam, pernyataan Arumi barusan membangkitkan ingatan nya di masalalu, membangkitkan kesakitan yang harus ia dan sang putra tanggung. Tapi sekarang itu tak penting lagi. Sekarang Hanifa telah bahagia, di kelilingi oleh orang-orang baik serta menyayangi nya dan sang putra.


''Aku sudah memaafkan mu Arumi. Bukankah kamu juga telah merasakan sakit nya dikhianati. Jadi lupakanlah. Lanjutkan hidup, dan mulailah merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.'' ucap Hanifa.


''Terimakasih Hanifa. Kamu memang perempuan yang baik. Wajar saja sekarang kamu telah menemukan kebahagiaan yang seutuhnya.''


''Sama-sama Arumi. Em ... Putri mu apa kabar nya?'' Hanifa berbasa-basi.


''Caca baik-baik saja sekarang. Sekarang dia begitu antusias karena beberapa bulan lagi akan masuk SD.''


''Caca sudah besar, ya.''


''Iya. Arif kapan masuk SD?''


''Arif tahun depan lagi.''


''Usia mereka cuma beda setahun berarti, ya.''


''Iya.''


''Hanifa, bolehkah aku minta nomor ponsel Kakak mu?'' ucap Arumi sedikit ragu, wajahnya seketika merona.


''Mas Abdillah?'' tanya Hanifa memastikan.


"Iya. Aku cuma pengen temenan aja sama dia.'' balas Arumi beralasan. Alasan yang tidak masuk di akal.


''Maaf, ya, Arumi. Nanti sajalah aku tanyakan langsung sama orangnya. Kalau Mas Abdillah setuju aku akan hubungi kamu. Sekarang save nomor aku aja.'' ujar Hanifa. Ia tidak ingin sembarangan memberikan nomor ponsel sang Kakak.


''Oke. Baiklah.'' Arumi mengangguk kecil. Lalu ia dan Hanifa bertukar nomor ponsel. Setelah itu Arumi pamit pulang. Saat melewati meja kasir, Arumi menatap Hamidah lalu berhenti di sana sebentar.


''Mari kita bersaing secara sehat.'' ucap Arumi yang membuat Hamidah terbengong.


''Aku nggak ngerti.'' balas Hamidah.


''Syukurlah kalau kamu nggak ngerti. Ckckck. Aku pulang, ya.'' ucap Arumi santai dengan senyum cengengesan. Lalu setelah itu ia berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Hamidah. Hamidah menggeleng melihat tingkah konyol Arumi. ''Apa maksudnya tadi? Dasar perempuan aneh!'' batin Hamidah.


Di tempat berbeda, Malik yang baru saja fokus dengan setumpuk berkas yang ada di mejanya harus berhenti karena ponselnya yang berdering. Ia meletakkan pulpen lalu meraih ponsel.


[Tuan, perempuan itu telah berada di depan butik Nyonya Hanifa.]


[Cegah dia. Pokoknya jangan sampai perempuan itu berhasil bertemu sama istri saya.] ucap Malik dengan penuh penekanan.


[Baik Tuan.]


Panggilan terputus. Malik meletakkan ponselnya di atas maja dengan kasar. Tadi pagi setibanya di kantor ia mendapat laporan dari orang suruhannya tentang kedatangan perempuan masalalu nya di Jakarta. Sekarang perempuan itu nekat ingin menemui Hanifa. Malik yakin perempuan itu pasti juga mempunyai banyak mata-mata untuk mematai Hanifa dan diri nya.


''****! Apa mau mu Shanum?''


''Menyebalkan sekali.''


Rutuk Malik. Lalu ia mengambil ponselnya lagi, ia akan menghubungi Hanifa. Di depan pintu ruangannya, tenyata Abdillah diam-diam menguping. Abdillah masih belum mengerti apa yang terjadi. Ia harap Malik akan selalu setia dengan sang adik.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2