
Selama beberapa hari ini Hanifa hanya berdiam diri saja di rumah. Makan, tidur, baca novel, ibadah dan hanya itu ke itu saja kegiatan yang dilakukan nya di rumah menjelang sang suami pulang bekerja. Membuat ia merasa sedikit bosan, rasanya ia ingin mengunjungi butik dan kembali di sibukkan dengan pekerjaan butik, tapi sang suami melarang keras dirinya untuk bekerja. Di kehamilannya yang kedua ini, tubuh nya tidak terlalu lemas, hanya hari itu saja ia merasa mual dan muntah, karena sang suami begitu perhatian terhadap nya, Malik bahkan rela mencari sendiri vitamin yang terpercaya khasiatnya untuk mencegah rasa mual dan muntah untuk Ibu hamil muda. Ia tidak ingin membuat Hanifa merasa begitu terbebani dengan kehamilannya.
Hanifa berjalan ke gazebo, ia hendak membaca novel sembari ngemil aneka buah-buahan yang sudah di kupas dan di iris tipis. Pagi ini Arif sedang sekolah dengan di temani Marwah, sedangkan sang mertua sedang berada di rumah sebelah. Rumah yang sudah jarang di kunjungi nya karena ia lebih nyaman berkumpul bersama anak mantunya.
Hanifa membuka halaman demi halaman novel, saat membacanya, kadang ia tersenyum mesem-mesem, kadang tertawa dan kadang ia nampak sedih. Novel yang ia baca berhasil membuat ia baper tingkat tinggi. Membuat mood nya berubah-ubah.
''Ah ... Aku tidak bisa berdiam diri terus di rumah. Sepertinya nanti setelah suamiku pulang aku akan membujuk nya agar dia membiarkan aku kembali mengunjungi butik. Dengan berdiam diri di rumah membuat tubuh ku menjadi sedikit pegal. Lagian kamu kuat 'kan, Nak? Mama juga. Papa mu terlalu memanjakan Mama.'' gumam Hanifa seraya mengelus perutnya yang masih datar.
***
Di tempat berbeda, seorang perempuan yang menggunakan high heels dan pakaian seksi berjalan berlenggak-lenggok memasuki sebuah perusahaan. Ia memakai dress tanpa lengan bewarna putih dengan tas bertengger di bahu dan rambut bergelombang terurai indah. Saat ia sudah tiba di dalam perusahaan, semua pasang mata karyawan menatap heran penuh tanda tanya ke arahnya, dan ada juga yang menatap dengan penuh kekaguman.
''Maaf, Anda mau bertemu siapa dan apa tujuan Anda datang ke sini?'' tanya sang resepsionis yang pernah mengata-ngatai Hanifa waktu itu.
''Aku mau ketemu sama CEO perusahaan ini.'' jawab perempuan itu dengan gayanya yang angkuh. Ia telah berdiri di depan meja resepsionis.
''Anda mau ketemu Tuan Malik? Emang ada perlu apa dan apa sudah buat janji sebelum nya?'' tanya resepsionis lagi. Jujur, sebenarnya ia juga merasa kagum melihat perempuan yang ada di depannya, perempuan yang di anggap nya begitu berkelas dengan gaya yang elegan dan kekinian.
__ADS_1
''Iya, aku mau ketemu Malik. Aku adalah kekasih simpanan nya, yang sebentar lagi akan menjadi istri muda nya.'' jawab Shanum membual dengan suara sengaja di keraskan, ia tersenyum sinis. Resepsionis itu kaget mendengar pengakuan Shanum. Begitu juga karyawan lain yang tidak sengaja mendengar. Mereka lalu saling berbisik-bisik lirih. Mereka merasa senang karena telah mendapatkan bahan obrolan baru untuk menjadi gosip hangat di perusahaan.
''Em ... Aku percaya, Anda sungguh cantik dan sangat pantas menjadi kekasih Tuan Malik.'' ucap Resepsionis itu lagi. Di dalam hati ia menertawakan Hanifa, menertawakan nasib Hanifa yang di anggap nya sungguh menyedihkan.
''Terimakasih.'' balas Shanum merasa berada di atas angin karena mendapat pujian.
''iya, sama-sama. Kalau begitu silahkan masuk. Tuan Malik pasti sedang menunggu Anda Nyonya cantik.'' ucap Resepsionis itu dengan nada lembut wajahnya ia paksa tersenyum semanis mungkin.
''Okey.'' Shanum berlalu dari meja resepsionis dengan senyum penuh arti. Ia akan memulai melancarkan rencananya yang telah ia pikir secara matang-matang untuk menghancurkan rumah tangga Malik dan Hanifa. Ia berjalan ke ruangan Malik dengan percaya diri.
Selepas kepergian Shanum, resepsionis itu tertawa girang sambil berucap.
Di dalam ruangannya, Malik tengah sibuk berbincang dengan beberapa orang petinggi perusahaan lain. Abdillah duduk di sampingnya, sesekali Abdillah berbicara menjelaskan perihal materi yang hendak perusahaan mereka kerjakan bersama-sama. Namun saat Malik tengah berbicara dan para petinggi perusahaan lain fokus mendengarkan, tiba-tiba saja Shanum masuk begitu saja ke dalam ruangan tanpa mengucap salam tanpa permisi, lalu ia menghampiri Malik dengan langkah kaki lebar, begitu ia sudah sampai di depan Malik ia langsung mengecup bibir Malik sekilas. Malik yang mendapat serangan mendadak seperti itu langsung mendorong tubuh Shanum dengan keras. Perbuatan Shanum kali ini benar-benar membuat nya merasa amat murka. Ia tidak menyangka Shanum akan bertindak semaunya, tadi Malik merasa kaget melihat Shanum yang tiba-tiba datang tanpa di duganya, karena kejadian yang begitu cepat ternyata Shanum telah berhasil mendaratkan kecupan yang di anggap nya begitu menjijikkan. Malik menghapus bibirnya berulangkali menggunakan tissue.
''Maaf, kalian jangan salah paham dulu. Tunggu disini. Aku mohon. Aku akan mengusir wanita aneh ini!'' ucap Malik kepada para petinggi perusahaan. Shanum masih terduduk di lantai, pantatnya terasa sakit akibat dorongan keras yang di lakukan Malik. Shanum memasang wajah sedih, ia pura-pura menangis. ''Sayang, kamu kenapa mendorong ku? Padahal tadi 'kan kamu sendiri yang meminta aku untuk datang ke sini menemui mu. Kamu tega sekali sama aku. Hiks ...'' ucap Shanum pura-pura.
''Tuan Malik lebih baik selesaikan dulu urusan Anda dengan Nyonya Shanum. Kami permisi dulu, lain kali kita lanjutkan lagi materi yang belum kita bahas sepenuhnya hari ini.'' ucap salah satu petinggi perusahaan. Ia menatap ke arah Shanum. Ia mengenali sosok Shanum karena Papa Shanum juga merupakan rekan kerjanya.
__ADS_1
''Baiklah.'' balas Malik terpaksa membiarkan rekan kerjanya pergi. Karena ia sudah tidak sabar lagi ingin memberi pelajaran kepada Shanum.
Abdillah yang melihat Shanum bersandiwara merasa sangat kesel. ''Ternyata wanita ini masih belum menyerah. Besar juga nyalinya.'' ucapnya di dalam hati.
''Apa mau mu Shanum? kau mengacaukan semuanya! Kau telah mempermalukan aku!'' bentak Malik dengan wajah memerah, rasanya ia ingin mengusir Shanum segera dari perusahaan nya.
''Dasar wanita tidak punya harga diri! Malik itu sudah beristri. Kau seperti wanita yang tidak laku saja.'' timpal Abdillah.
Shanum berdiri dengan sedikit sempoyongan.
''Heh orang asing, keluar kau dari ruangan ini! Biarkan aku berbicara berdua bersama Malik.'' ucap Shanum menunjuk ke arah Abdillah.
''Kau tidak berhak mengusirnya! Yang lebih baik keluar itu kamu Shanum!'' Malik menarik tangan Shanum kasar lalu membawa Shanum keluar dari ruangannya. Shanum menjerit-jerit tidak terima di perlakukan seperti itu, jeritannya berhasil mengundang perhatian orang-orang.
''Malik, aku hanya ingin berbicara berdua dengan mu. Aku ingin berbicara perihal masalalu kita. Masalalu kita yang pernah kita berdua habiskan waktu semalam di ranjang nan hangat.'' racau Shanum.
''Argh! Mana Security? Apa kalian mau saya pecat karena tidak becus bekerja?!'' seru Malik menggema, ia sungguh tidak tahan lagi menghadapi sikap konyol Shanum. Ia juga merasa begitu kesal sama Security.
__ADS_1
Bersambung.