
Di dalam jeruji besi di sudut ruangan, seorang pria tampak begitu menyedihkan, duduk meringkuk dengan kedua tangan memeluk lutut, wajahnya menunduk, di tenggelamkan diantara dua lutut. Ia pria, tapi dari tadi ia terus saja menangis terisak, tangisan tanpa air mata, karena sepertinya air mata nya telah mengering karena terlalu lama menangis.
''Ya Allah, ampuni hamba. Kali ini hamba benar-benar kapok.'' ucapnya lirih.
''Perkataan Malik tadi malam ada benarnya juga, kenapa aku tidak meminta bantuannya saja agar dia memberikan aku perkerjaan. Malik 'kan kaya raya dan punya banyak perusahaan. Tapi, ah ... Aku terlalu malu untuk menemuinya waktu itu, aku tidak enak sama Hanifa. Dan aku terlalu gampang di bujuk oleh Arumi hingga aku sekarang bisa berada di sini, di tempat dingin dan sempit ini.''
''Siska, maafkan, Mas, Mas bukanlah suami yang baik untuk mu. Hellen, Ibu dan Ayah, maafkan aku, aku bukanlah anak dan kakak yang baik. Lagi-lagi aku telah menjadi pecundang. Aku telah membahayakan nyawa putra ku sendiri. Arif, maafkan Ayah, Nak.'' batin Setya terus berkecamuk mengatakan hal yang telah terjadi, hal yang ia sesali, memang penyesalan datangnya belakangan. Terlalu banyak beban pikiran yang menghimpit nya sekarang, ia merasa kepalanya hendak pecah saja. Belum lagi kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja. Perih, nyeri, sakit dan rasa nyut-nyutan yang dia rasakan hampir di seluruh bagian tubuhnya bekas di pukul oleh Malik tadi malam. Peluru yang bersarang di dalam betisnya sudah di keluarkan dan bekasnya pun sudah di jahit, tapi menyisakan rasa sakit yang teramat sangat.
Saat Setya tengah meratapi nasib malangnya yang ia ciptakan sendiri, tiba-tiba seorang polisi memanggilnya.
''Keluarlah, ada yang ingin bertemu dengan mu.'' seru polisi tersebut seraya membuka gembok sel. Setya lalu berdiri, ia kepayahan berdiri karena kakinya, ia berpegangan pada dinding.
''Cepatlah! Makanya nggak usah pakai acara kabur-kaburan segala! Membuat semakin susah dan repot saja!'' bentak polisi yang bertubuh sedikit gempal. Setya menyeret langkahnya dengan hati-hati, lalu polisi tersebut menggiring tubuhnya menuju ruang jenguk. Ruang khusus untuk tamu yang ingin menjenguk napi.
''Kira-kira siapa, ya, yang ingin bertemu dengan ku?'' ucap Setya bertanya-tanya di dalam hati dengan perasaan was-was. Saat sudah tiba di ambang pintu ruang tunggu, ia melihat Hanifa, Malik, Sarah dan Abdillah telah berada di sana. Tidak hanya mereka berempat, di sana nampak Sarah sedang marah-marah sama Shanum. Setya menunduk wajahnya, kakinya dan seluruh tubuh nya seketika terasa gemetaran, ia belum siap untuk ketemu sama Hanifa dan Abdillah, tapi ia tidak bisa mengelak, karena ia tidak punya kuasa untuk mengelak.
''Dasar perempuan jahanam! Sini biar kau rasakan apa yang di rasakan oleh cucu ku.'' terdengar suara Sarah marah kepada Shanum. Sarah hendak menyentuh pipi Shanum tapi dengan cepat Malik dan Hanifa mencegah nya.
''Tante, apa Tante tahu, semua ini terjadi gara-gara putra Tante yang tak mau bertanggung jawab terhadap diriku, dia sudah meniduriku, tapi ia kabur begitu saja tanpa memperdulikan diriku yang telah ia nodai.'' balas Shanum angkuh. Walaupun sudah berada di jeruji besi, tapi ia tetap bersikap percaya diri.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Shanum. Shanum mengaduh, ia ingin membalas Sarah tapi dengan cepat polisi menengahi. Hingga polisi sedikit dibuat kewalahan menghadapi dua wanita yang berbeda usia tersebut. Sarah sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan tentang siapa Shanum, tadi saat di rumah sakit Malik sudah menjelaskan semuanya kepada sang Mama, dengan semua bukti-bukti yang Malik sertakan, hingga sang Mama percaya kepadanya.
''Hentikan omong kosong mu itu wanita licik. Tidakkah kau merasa malu karena membuka aib mu sendiri di depan orang-orang.'' lontar Sarah lagi tersenyum sinis.
Shanum tak membalas lagi, ia hanya berdecih mendengar perkataan Sarah.
Setya yang lama termenung di ambang pintu karena melihat keributan yang terjadi, lalu kembali di giring oleh polisi agar duduk di kursi di ruang tanggu, di samping Shanum. Begitu ia sampai di kursi.
''Setya?'' ucap Abdillah kaget. Hanifa dan Sarah pun sama kagetnya. Mereka menggeleng sedikit tak percaya.
''Mas, apakah dia pria bertopeng yang di maksud Arif?'' tanya Hanifa kepada sang suami.
__ADS_1
''Iya, Sayang.'' jawab Malik. Ia mengelus punggung sang istri.
Kini giliran Abdillah dan Hanifa lagi yang emosi dan marah. Mereka sungguh tidak menyangka ternyata Setya tega membantu Shanum untuk menyulik dan menyekap Arif.
Lalu Abdillah melangkah maju menghampiri Setya, ia ingin menghadiahkan bogeman keras ke pipi Setya tapi dengan cepat polisi mencegah nya.
''Mohon jangan buat keributan disini Tuan dan Nyonya. Mereka biar kami saja yang memberi hukuman yang setimpal.'' ucap polisi dengan nada lantang.
''Argh ... Dasar pria tidak tahu di untung, tidak tahu terimakasih. Ternyata kau benar-benar pecundang tak berguna! Tega sekali kau menculik putra mu sendiri! Di mana hatimu Setya?'' ucap Abdillah dengan suara lirih tapi penuh penekanan.
''Maaf, maafkan aku Abdillah.'' mohon Setya. Ia menjatuhkan dirinya di kaki Abdillah. Ia menunduk dengan memohon-mohon.
''Aku tak menyangka, Setya. Kesalahan mu kali ini sungguh-sungguh fatal. Apa kau tak mengingat dan memegang kata-kata yang di ucapkan Ayah mu ketika ia hendak menutup mata untuk terakhir kalinya?! Setelah ini jangan harap lagi kau bisa bertemu dengan Arif. Dia putra ku, hanya putra ku, Ayah kandung nya sudah mati!'' ucap Hanifa dengan suara bergetar. Susah payah ia menahan air matanya, tetapi tetap saja air mata itu lolos membasahi pipinya yang mulus. Ia merasa sedih tidak menyangka, Setya yang merupakan Ayah kandung Arif ternyata tega menyakiti Arif. Hanifa sedih mengingat Arif yang mempunyai Ayah kandung seorang penjahat.
''Hanifa, maafkan Mas. Mas terpaksa melakukan semua ini karena Shanum yang terus membujuk. Dia memberikan Mas uang saat Mas benar-benar sedang membutuhkan uang. Maaf, maaf ....'' racau Setya dengan posisi masih terduduk di depan Abdillah.
''Uang? Dari dulu kau selalu melakukan kesalahan karena uang.'' ucap Hanifa lagi. Setya tak bisa berkata-kata lagi, hanya suara isakan nya saja yang terdengar. Perkataan Hanifa semuanya memang benar.
''Ayo, lebih baik kita pulang saja.'' ujar Hanifa lagi. Malik, Sarah dan Abdillah mengangguk.
Setelah kepergian rombongan Hanifa, Malik dan Shanum kembali di giring menuju penjara. Shanum dari semalam terus menunggu kedatangan orang tuanya untuk membebaskannya, tetapi kedua orangtuanya tak kunjung datang, membuat nya merasa amat kesal.
***
Di dam mobil, Hanifa terus saja mengucap istighfar karena dirinya tadi yang terlampau
emosi. Ia merasa ia telah membuang-buang energi nya dengan percuma.
''Kalian mau di antar ke mana?'' tanya Abdillah.
''Kembali ke rumah sakit saja, Nak.'' jawab Sarah. Hanifa mengangguk. Sedangkan Malik dan Abdillah akan ke kantor, karena ada beberapa pekerjaan sedang menunggu mereka. Di rumah sakit, Hamidah dan Marwah menjaga Arif untuk sementara, sampai Hanifa dan Sarah kembali.
Tidak lama setelah itu, mobil yang di kendarai oleh Abdillah berhenti di parkiran rumah sakit. Sarah dan Hanifa bersiap keluar. Tapi sebelum itu, Malik berpesan kepada sang istri agar jangan terlalu banyak pikiran. Mereka berempat juga telah sepakat untuk menyembunyikan identitas tentang pria bertopeng itu dari Arif. Arif tak boleh tahu kalau Ayahnya sendiri lah yang menculiknya, karena kalau sampai Arif mengetahui itu, sudah pasti ia akan semakin membenci sang Ayah.
__ADS_1
Begitu sudah sampai di dalam ruangan Arif, Arif nampak sudah tidur lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
''Teh, Arif udah lama tidurnya?'' tanya Hanifa. Ia duduk di sebelah Hamidah di sofa, begitu juga Sarah. Sarah juga menyapa Hamidah dengan ramah.
''Belum lama Hanifa. Baru saja.'' balas Hamidah.
''Terimakasih, ya, karena Teh Hamidah dan Mbak Marwah udah berkenan jaga Arif.'' ucap Hanifa lagi
''Kamu kayak sama siapa, saja.'' balas Hamidah.
''Iya. Kami senang bisa jaga Arif. Lagian Arif nggak rewel, Non.'' timpal Marwah.
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap sallam iringi dengan suara ketukan kecil di pintu. Mereka menjawab sallam tersebut serempak.
''Masuk.'' seru Hanifa. Lalu seorang wanita masuk kedalam ruangan Arif. Orang itu membawa parsel buah dan cake yang lumayan banyak, ia sedikit kesulitan membawa itu semua. Orang itu adalah Arumi.
''Arumi, kamu nggak perlu repot-repot gini.'' ucap Hanifa. Hanifa membantu Arumi membawa parsel lalu meletakkan nya di atas lemari kecil.
''Aku nggak repot Hanifa. Untuk calon keponakan apa sih yang nggak. Eh ... sorry, keceplosan.'' sahut Arumi seraya melirik ke arah Hamidah. Hamidah hanya diam saja dengan wajah datar.
''Kamu ada-ada saja Arumi.'' kata Hanifa.
''Kamu calonnya Abdillah, ya?'' tanya Sarah kepada Arumi. Karena Sarah memang belum tahu tentang siapa Arumi. Sarah juga belum tahu tentang kedekatan Abdillah dan Hamidah.
'' Hehehe ... Doa'kan saja Tante cantik.'' balas Arumi malu-malu. Ia lalu mengambil tangan Mama mertua Hanifa, lalu menciumnya takzim.
''Tante selalu berdoa agar Abdillah segera mendapatkan istri yang baik, yang ia cintai dan yang benar-benar tulus mencintainya.'' ujar Sarah.
''Semoga saja orang itu aku, ya, Tante.'' sahut Arumi lagi tanpa malu. Hanifa dan yang lain hanya menggeleng kepala melihat tingkah konyol Arumi.
''Anak ganteng, kasihan sekali kamu, Nak. Semoga kamu cepat sembuh.'' ucap Arumi, kini ia sudah berdiri di dekat brankar Arif.
''Kamu dari mana sampai tahu kalau Arif lagi di rawat di rumah sakit Arumi?'' tanya Hanifa.
__ADS_1
''Eh, itu, tadi aku ingin menemui mu di butik, tapi kata karyawan mu Arif sedang di rawat di sini. Begini aku mendengar kabar yang kurang mengenakkan itu, tanpa pikir panjang aku langsung aja cus ke sini, tapi sebelum itu aku mampir dulu di toko buat beli parsel.'' jawab Arumi lancar. Setelah itu mereka mengobrol kecil.
Bersambung.