AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Menyelinap


__ADS_3

Orang suruhan Malik terus saja mengikuti mobil Shanum dengan hati-hati dan tentunya dengan tatapan begitu fokus ke depan. Takut kalau sampai kehilangan jejak. Bisa-bisa Malik marah besar kalau mereka gagal mengikuti Shanum hingga ke tujuan, tujuan yang belum mereka ketahui entah kemana.


Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu, Shanum membelokkan mobilnya ke arah jalanan yang jarang di lalui oleh kendaraan lain. Karena jalan itu merupakan jalan buntu menuju ke arah hutan, jalanan berbatu bercampur dengan tanah. Orang suruhan Malik menghentikan mobilnya sejenak di jalan raya. Mereka takut ketahuan, karena lampu mobil yang menyinari cukup terang kedepan. Mereka membiarkan mobil Shanum melaju lebih dulu. Setelah di rasa mobil Shanum sudah melaju cukup jauh, orang suruhan itu kembali melajukan mobilnya mengikuti jalanan yang kiri kanannya di penuhi oleh semak belukar, bahkan ada juga tumbuhan liar yang menutupi jalan, membuat mereka sedikit kesulitan memasuki tempat itu. Tidak lama setelah itu mereka berhasil melewati jalanan yang di penuhi semak belukar, orang suruhan Malik bersama temannya di buat kaget ketika melihat sebuah rumah megah berdiri kokoh di dalam sana. Dengan gerbang tinggi menjulang.


''Turun lo, Bro. Coba intip lewat pagar apakah mobil wanita itu telah masuk ke sana.'' perintah orang suruhan yang mengemudi.


''Oke.'' teman yang duduk di sebelahnya keluar dari mobil. Lalu ia berjalan pelan dan hati-hati menuju gerbang, takut kalau gerbang itu ada yang menjaga. Begitu sudah sampai di gerbang, benar saja, ia melihat mobil Shanum telah terparkir rapi di teras rumah, lalu tidak lama setelah itu ia juga melihat Shanum keluar dari mobil dengan pandangan melihat ke kiri ke kanan, bahkan kebelakang ke arah pagar. Penerangan yang remang-remang memudahkan orang suruhan itu untuk sembunyi, mengintip hingga tidak ketahuan. Gerbang juga tidak ada yang menjaga. Orang itu kembali masuk ke dalam mobil untuk memberikan informasi kepada temannya.


''Wanita itu telah masuk ke dalam sana. Sepertinya memang dia yang telah menculik Putranya Tuan Malik. Gerak geriknya terlihat mencurigakan.'' lapornya.


''Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi Tuan Malik dulu.'' sahut temannya. Lalu ia mengambil ponselnya yang ada di dashboard mobil, begitu ponsel sudah berada di tangan ia menghubungi Malik segera. Hanya dengan sekali panggilan Malik langsung mengangkat panggilan tersebut.


''Tuan, kami sudah sampai di lokasi. Wanita yang bernama Shanum telah masuk ke dalam rumah yang kami curigai sebagai tempat di mana dia menyekap Putra anda. Saya sudah mengirimkan lokasi rumah yang saya maksud kepada Anda.''


''Baiklah, terimakasih. Kami meluncur kesana sekarang. Awasi terus.''


''Oke.'' panggilan di akhiri.


***


Malik dan Abdillah tersenyum senang begitu mendengar laporan dari orang suruhan mereka, Malik melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan semakin tinggi menuju ke alamat yang ia lihat melalui ponselnya.


''Kira-kira siapa, ya, pria yang ada di dalam cctv sekolah? Pria yang menuntun Arif masuk ke dalam mobil?'' ucap Malik dengan tatapan fokus ke depan.


''Palingan orang suruhan Shanum.'' sahut Abdillah.


''Ternyata wanita itu semakin gila saja, kali ini aku tidak akan segan-segan untuk menjebloskan dia ke penjara kalau beneran dia yang menjadi dalang di balik penculikan Arif.'' ucap Malik lagi dengan gigi terdengar bergemeletuk.


''Betul. Wanita seperti itu memang tidak boleh di diamkan, nanti malah semakin menjadi-jadi. Tapi kalau di pikir-pikir kasihan juga dia sampai segitunya menculik Arif hanya gara-gara kau tak menerima cintanya. Ck ... Terkadang cinta memang bisa membuat orang buta dan hilang akal sehat kalau tidak di sikapi dengan benar.'' tutur Abdillah terdengar bijak.


''Kalau kau kasihan sama dia, nikahi saja dia oleh mu. Ck ...'' goda Malik dengan senyum kecil. Malik terkadang memang suka sekali menggoda Kakak Iparnya itu.


''Ogah! kayak nggak ada wanita lain saja.''

__ADS_1


''Makanya jangan kelamaan menjomblo. Aku dan Hanifa sudah tidak sabar lagi ingin memiliki Kakak ipar.''


''Kau lihat saja, dalam waktu enam bulan kedepan aku akan segera menikah.'' ucap Abdillah yakin.


''Yakin?'' tanya Malik.


''Pastinya.''


''Siapa wanita itu?'' tanya Malik.


''Ada. Masih rahasia.'' jawab Abdillah. Malik hanya mengangguk kecil. Berharap apa yang di katakan Abdillah memang benar adanya.


''Mm ... Aku juga sudah mendapatkan bukti tentang kebusukkan Shanum tujuh tahun yang lalu, ternyata memang dia sendiri yang telah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman ku. Dia memang begitu pandai bermain drama dan sungguh licik.'' ungkap Malik, tatapannya masih fokus ke depan.


''Kau terlalu lalai dan lengah dalam memberantas dia dulu, hingga urusannya jadi panjang begini sekarang.'' ujar Abdillah.


''Itu karena selama ini aku masih menghargai orangtuanya. Dulu aku dan Papa nya masih bekerjasama dalam satu proyek besar.''


''Tentu.'' jawab Malik mantap. Lalu mobil yang ia kendarai berbelok memasuki jalanan berbatu. Dia juga telah menghubungi polisi dan orang suruhannya yang lain untuk segera menyusul nya. Tidak lama setelah itu benar saja ia melihat rumah megah dan mewah berdiri kokoh sendiri dengan dikelilingi pepohonan tinggi berdaun lebat. Suasana di tempat itu terasa sedikit horor dan menyeramkan. Suara kodok, jangkrik, dan burung hantu berbunyi saling bersahutan. Malik menghentikan mobilnya tepat di samping mobil orang suruhannya. Setelah itu mereka berbincang sebentar lalu mereka mulai memasuki rumah itu dengan diam-diam. Menyelinap, mengendap-endap seperti hendak maling saja.


***


Di dalam rumah, Arif yang telah selesai makan terus saja mendesak Setya agar Setya segera mengantar nya pulang.


''Om, cepetan antar aku pulang! Om tadi 'kan sudah janji sama aku. Nggak baik lho bo'ong. Nanti Allah marah.'' ucap Arif terdengar memohon dengan wajah mengiba, ia menarik-narik celana Setya. Arif bahkan telah mendukung tas ransel nya yang bergambar Spiderman, dia juga telah memakai sepatu nya sendiri, bersiap hendak pulang. Setya yang merasa iba dan tidak tega melihat Arif terus memohon lalu dia memutuskan mengurung Arif di dalam kamar. Kamar berukuran kecil yang merupakan kamar pembantu. Kamar itu terletak di bagian belakang rumah. Tangis Arif kembali pecah, ia menjerit-jerit sekuat-kuatnya setelah Setya keluar lalu mengurang nya.


''Dasar, jahat!''


''Huhuhu ... Bunda.''


''Tolong, lepaskan aku!'' teriak Arif dengan suara kecilnya sambil memukul pintu.


Setya yang tahu dirinya tengah di tunggu oleh Shanum lalu berjalan menghampiri Shanum yang ada di ruang keluarga.

__ADS_1


''Shanum, sudah lama kau sampai?'' tanya Setya. Lalu ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Shanum.


''Lumayan.'' balas Shanum singkat sambil menyesap sebatang rokok.


''Mana anak mu itu?'' tanyanya menatap Setya.


''Dia ada di kamar.''


''Menangis lagi? Kau apakan dia?'' ucap Shanum ketika dia mendengar suara tangisan Arif.


''Dia meminta agar aku mengantarnya pulang.'' jawab Setya dengan nada lirih dan wajah lesu.


''Baiklah. Kau tunggu di sini, aku akan membujuk nya.'' Shanum berdiri, lalu mematikan api rokoknya dengan menekan di atas asbak.


''Shanum, jangan kau apa-apakan lagi dia. Cukup kau pisahkan saja dia dari Bundanya. Jangan kau tambah lagi penderitaan.'' Setya berucap memberi peringatan.


''Apa kau tidak dengar tadi? Aku ingin membujuknya!'' ucap Shanum penuh penekanan, lalu ia berjalan menuju tempat di mana Arif di kurung.


Shanum berjalan ke kamar mandi, lalu ia mengambil se ember air dingin. Setelah itu ia berjalan ke kamar tempat Arif berada dengan membawa ember tersebut. Shanum membuka pintu kamar, begitu pintu kamar terbuka, ia melihat Arif menangis dan berusaha keluar dari kamar. Shanum lalu mengangkat ember yang berisi air dingin itu tinggi-tinggi, dan ....


Byuuurrrr ....


Air itu telah membasahi tubuh kecil Arif. Arif tersedak-sedak karena perlakuan kasar Shanum. Shanum dengan cepat mengeluarkan ponselnya lalu mulai merekam.


''Uhuk, uhuk, uhuk ... Ta, tante jahat! Uhuk ...'' ucap Arif.


''Hahaha .... Mau lagi?'' tanya Shanum melotot, Arif menggeleng ketakutan. Shanum berjalan pelan menghampiri tubuh Arif, sedangkan Arif berjalan mundur, hingga punggung nya kepentok dinding.


''Mau ke mana kau anak nakal?'' ucap Shanum dengan senyum menyeringai, lalu ia menekan kedua pipi Arif dengan kuku panjang dan tajamnya.


''Aduh .... Hiks!'' ucap Arif lirih ketika dia merasa kuku Shanum telah masuk ke pipi nya. Pipinya pun sudah mengeluarkan darah. Sedangkan Shanum semakin kesenangan melihat itu. Ia semakin menekan kuat pipi Arif.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2