
Sang resepsionis yang memiliki wajah lumayan cantik dengan body seksi merupakan salah satu pekerja yang masih single, ia begitu iri melihat Hanifa yang di pilih Malik jadi istri. Ia duduk di kursinya lalu berdecak kesal lagi mengatai Hanifa norak, apalah, pokoknya menurut nya Hanifa tidak pantas sama sekali bergandengan dengan sang CEO muda lagi tampan. Ia tidak tahu saja, kalau sampai Malik mengetahui sang istri di kata-katai seperti itu, maka tamatlah riwayatnya. Pastinya Malik akan merasa amat murka lalu menendang sang Resepsionis kurang ajar itu secara tidak hormat keluar dari perusahaan.
Begitu tiba di ruang kerja sang suami, Hanifa menatap takjup, ia melongo melihat ruangan yang luas dengan furnitur yang nampak berkelas. Di dinding dan di atas meja kerja, foto pernikahan mereka terpajang rapi di sana.
''Wah ... Ruangan kamu bagus banget, Mas.'' ucap Hanifa yang masih asik memutari ruangan.
''Harus lah Sayang. Dulu sebelum menikahi kamu, Mas selalu menghabiskan waktu di kantor. Makannya Mas membuat ruangan yang luas dan berkelas begini. Supaya Mas selalu merasa nyaman.'' balas Malik.
''Ini foto kita bertiga kapan Mas membawa ke sini?'' tanya Hanifa sambil tersenyum simpul melihat foto pernikahan mereka dengan Arif berada di tengah tengah.
''Beberapa hari yang lalu.''
''Kamu memang terbaik.'' puji Hanifa, Malik memeluk nya dari belakang.
''Harus dong. Ya sudah, silahkan duduk Nyonya Malik, dan selamat datang di ruangan kita.'' setelah itu Malik berkata seraya menarik kursi kebesarannya, lalu ia mempersilahkan agar Hanifa duduk di sana.
''Terimakasih Mas.'' ucap Hanifa. Ia duduk di kursi itu dengan sedikit malu-malu. Sedangkan Malik tersenyum merekah melihat tingkah sang istri.
Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu di ketuk.
''Masuk.'' titah Malik. Hanifa langsung bangun dari duduknya. Lalu ia berjalan ke arah sofa. Ia memilih duduk di sofa saja.
''Kok pindah sih, Sayang?'' tanya Malik.
''Malu, aku lebih nyaman duduk di sini saja.''
''Ya sudah, senyamannya kamu saja.'' ujar Malik lagi.
Pintu terbuka, Abdillah masuk keruangan.
''Aku ganggu tidak?'' tanya Abdillah nyengir sambil melihat ke arah Hanifa dan Malik bergantian.
''Tidak, Mas.'' jawab Hanifa dan Malik bersamaan. Lalu mereka tersenyum bersama.
''Kalian boleh masuk.'' seru Abdillah lagi. Ia memanggil dua orang, orang suruhannya yang dari Malaysia.
Kemudian dua orang bertubuh tinggi kekar, menyusul Abdillah masuk keruangan. Lalu mereka duduk berhadapan dengan Malik.
''Bagaimana?'' tanya Malik dengan wajah datar.
__ADS_1
''Ini Tuan. Kami sudah mendapatkan nya.'' salah satu dari mereka menyerahkan sebuah benda persegi empat.
''Kerja bagus.'' puji Malik. Ia mengambil benda itu dengan perasaan lega.
''Apa kalian kesulitan mengambil laptop ini?'' tanya Malik lagi, tangan nya fokus mengotak-atik laptop. Ia lalu mengambil memori card yang terdapat pada laptop.
''Lumayan Tuan. Rumah itu memiliki security yang lumayan banyak. Mereka terus mengejar kami saat kami ketahuan, lalu kami bersembunyi di rerimbunan tumbuhan yang ada di pinggir jalan, saat kami merasa situasi sudah aman kami keluar dari persembunyian, eh, ternyata masih ada security lain lagi yang melihat kami. Terpaksa kami harus adu nyali menghadapi security security itu. Untungnya ilmu bela diri mereka tidak sehebat kami.'' jelas orang suruhan itu dengan sedikit bangga. Malik manggut-manggut mendengar kan. Ia juga mengambil memori card yang terdapat pada ponsel Shanum yang di kasih Abdillah.
''Ini untuk kalian. Terimakasih atas kerjasama nya.'' Malik menyerahkan amplop bewarna kuning kepada orang suruhannya. Di dalam amplop itu terdapat jumlah uang yang cukup banyak.
''Terimakasih kembali Tuan.'' sahut mereka bersamaan dengan wajah sumringah.
''Oh, ya. Ini, nanti tolong kembalikan dua benda ini kepada yang punya. Urusan aku sudah selesai dengan benda-benda ini.'' titah Malik. Ia meminta agar orang suruhannya itu mengambalikan kembali laptop dan ponsel milik Shanum.
''Baiklah.'' mereka mengangguk pasti.
Hanifa yang duduk di sofa menatap kagum sosok sang suami. Suaminya nampak sangat gagah dan berwibawa ketika berada di kursi kebesaran. Caranya berbicara sama bawahannya juga terlihat begitu berkelas. Berbeda sekali kalau lagi bersamanya, saat bersamanya, maka Malik akan menjadi pria tampan yang amat bucin.
Setelah itu dua orang itu pamit dari ruangan, Abdillah pun juga. Kini tinggallah Malik dan sang istri berada di ruangan itu. Malik menghampiri sang istri, lalu ia duduk tepat di samping sang istri.
''Gi mana, Sayang? Apa kamu sudah bisa merasa tenang sekarang? Sekarang semua bukti tentang masalalu Mas dan Shanum sudah tidak ada lagi.'' ucap Malik. Ia merengkuh tubuh Hanifa, kini Hanifa telah bersandar di dada bidangnya. Malik terus saja mengecup pucuk kepala sang istri. Ia amat senang melakukan itu.
''Iya, Mas. Aku sudah merasa amat lega sekarang. Tapi, apakah tidak berdosa? Aku merasa kasihan sama Shanum. ''
''Iya, Mas. Aku mengerti.''
''Lagian Mas juga merasa heran sama Shanum, ia seperti begitu terobsesi sama, Mas. Kayak nggak ada pria lain aja di atas dunia ini. Ya ... Tapi kalau di pikir-pikir wajar juga dia bersikap begitu, Mas 'kan merupakan pria tertampan di negeri ini.'' tutur Malik sedikit becanda.
''Ihh, dasar kege'eran.'' lontar Hanifa mencubit kecil hidung bengir sang suami.
''Muachhh.'' balas Malik dengan mengecup bibir tipis Hanifa.
''Ih, kamu ...'' Hanifa hendak protes. Tetapi Malik mengunci bibir sang istri.
Setelah itu mereka berciuman cukup lama, mata keduanya berangsur menutup, mereka menikmati ciuman yang terasa begitu nikmat, ciuman yang semakin lama semakin dalam. Lidah keduanya telah bermain saling melilit. Tangan Malik meraba-raba tubuh sang istri yang di tutupi gamis. Setelah beberapa saat pagutan mereka terlepas, lalu keduanya tertawa kecil.
''Jadi ini alasan kamu ingin aku ikut ke kantor?'' lontar Hanifa.
''Iya. Mas selalu ingin berada di dekat mu, Sayang.'' sahut Malik. Malik menghapus sisa-sisa ciumannya di bibir sang istri.
__ADS_1
''Gombal.''
''Beneran.''
Hanifa tidak membalas lagi, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa isi perutnya bergejolak hebat minta di keluarkan. Ia merasa mendadak mual. Lalu ia berlari cepat menuju kamar mandi yang ada di ruangan sang suami. Malik mengikuti langkah sang istri dengan cemas.
***
Di tempat berbeda, pada pukul sepuluh pagi, Shanum baru saja keluar dari restoran mewah. Ia habis makan.
''Terimakasih sudah mampir Nona cantik.'' ucap seorang wanita dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ia memperhatikan penampilan Shanum yang begitu elegan. Dengan sekali lihat ia sudah bisa menebak bahwa Shanum adalah wanita kaya. Karena di jari manis Shanum melingkar cincin berlian bewarna gold, di pundak nya bertengger tas branded keluaran terbaru.
''Iya.'' balas Shanum dengan gayanya yang angkuh. Ia menatap sekilas wajah wanita yang ada di hadapannya. Lalu melanjutkan langkahnya lagi. Tapi saat baru dua langkah, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
''Eh ...'' ucapnya kembali mundur.
''Iya, apa ada yang tertinggal?'' tanya wanita itu.
''Aku seperti mengenali wajah mu.'' ujar Shanum menatap wanita yang ada di depannya itu lekat.
''Iyakah?''
''Em ... Siapa, ya? dan di mana aku pernah melihat kamu?!'' Shanum berpikir keras mengingat-ingat sambil memegang kepalanya.
''Salah lihat kali. Aku aja nggak pernah lihat kamu sebelumnya.''
''Ah, iya. Kamu mirip sekali sama wanita yang ada di vidio badut!'' ungkap Shanum dengan senyum simpul.
''Maksudnya gimana?'' tanya Arumi.
''Kamu 'kan wanita yang bertengkar sama Hanifa saat di taman? Kalian saling dorong-dorongan merebutkan satu laki-laki kere. Ckckck ....''
''Iya. Aku memang wanita itu. Tapi itu sudah menjadi masalalu. Jangan di ingatkan lagi.'' Arumi tidak suka ada orang yang mengingatkannya dengan Setya.
''Bisa kita bicara berdua? Kamu pemilik Restoran ini, ya?'' Shanum berkata dengan nada yang tiba-tiba lembut. Arumi pun mengiyakan karena ia merasa penasaran sama apa yang ingin dibicarakan oleh Shanum. Lalu mereka duduk di salah satu meja yang ada di luar ruangan.
''Shanum.'' ucap Shanum memperkenalkan diri.
''Arumi.'' balas Arumi. Mereka saling berjabat tangan.
__ADS_1
Bersambung.
Akankah Arumi dan Shanum menjadi teman? Dan bekerja sama untuk merusak kebahagiaan Hanifa lagi? Yuk like dan komen yang banyak. Biar aku semangat buat melanjutkan cerita ini.