
Malam harinya, setelah selesai shalat Isya. Intan dan Rian bersiap untuk pergi ke kediaman Andra. Rian mengambil pakaiannya di dalam lemari, ia memilih celana panjang berwarna hitam di padukan dengan kemeja polos lengan panjang bewarna abu tua, ia melipat lengan bajunya hingga ke siku. Setelah itu ia menyisir rambut, menyemprotkan parfum, dan saat penampilan nya sudah di rasa pas ia berlalu keluar dari kamar. Kini giliran Intan lagi, setelah Rian keluar dari kamar, Intan memakai gaun bewarna hitam dengan panjang di bawah lutut, berlengan pendek. Intan membiarkan rambut hitam lurus nya tergerai indah. Ia duduk di depan meja rias, memoles wajahnya dengan make up tipis. Setelah di rasa pas, Intan berjalan ke lantai bawah, karena sang suami tengah menunggu nya di lantai bawah, di ruang keluarga.
Suara langkah kaki terdengar turun dari tangga, Intan yang memakai sepatu hak tinggi berjalan sedikit hati-hati dengan tangannya berpegangan pada railing tangga. Ia takut jatuh. Rian yang juga mendengar suara langkah kaki turun dari tangga lalu menatap ke arah sumber suara, begitu ia melihat sang istri turun dari tangga, ia menatap terpana. Dengan mata tak mau berkedip, dadanya tiba-tiba berdebar lebih cepat. Bagaimana tidak, Intan terlihat sangat cantik dengan gaun bewarna hitam. Kulit nya yang putih nampak begitu serasi dengan warna gaunnya, parasnya yang cantik nampak berseri-seri. Saat Intan telah sampai di bawah, Rian mengalihkan pandangannya, ia pura-pura menatap layar ponselnya.
''Aku sudah siap, Mas.'' ucap Intan menyapa sang suami.
''Em, ya udah, ayo.'' balas Rian berusaha bersikap biasa saja. Ia berdiri, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, setelah itu mereka berjalan berdampingan menuju mobil.
Saat sudah tiba di dekat mobil, Rian masuk begitu saja, masuk lebih dulu tanpa memperdulikan sang istri, tanpa adanya basa-basi. Bahkan ia tak membukakan pintu mobil untuk sang istri. Intan yang masih berdiri di depan pintu mobil menarik nafas panjang melihat sikap dingin sang suami. Sikap sang suami yang terkadang baik dan terkadang begitu dingin dan cuek.
"Uh sebel, udah capek-capek dandan cantik begini malah di anggurin sama suami dingin, sedingin kulkas.'' ucap Intan di dalam hati seraya membuka pintu mobil. Setelah itu ia duduk di kursi di samping sang suami dengan sedikit menghembuskan bokongnya.
''Sudah siap?'' tanya Rian.
''Sudah.'' jawab Intan singkat dengan wajah tak bersahabat. Rian yang mendengar nada tak biasa yang keluar dari mulut sang istri merasa sedikit bersalah. Tapi ia tak berniat untuk berbicara baik-baik kepada sang istri. Ia membiarkan Intan merenggut. Setelah itu Rian melajukan kendaraan roda empat miliknya. Selama di dalam perjalanan menuju kediaman Andra, baik Intan maupun Rian tidak ada yang bersuara. Intan lebih memilih fokus menatap layar ponselnya untuk meredamkan rasa kesalnya terhadap sang suami. Intan membuka satu persatu pesan yang masuk ke dalam aplikasi WA nya. Pesan yang belum sempat ia baca tadi.
__ADS_1
''Aku baik-baik saja, Rangga. Kamu jangan mengkhawatirkan aku.''
''Baiklah. Aku akan mengabari kamu kalau ada orang yang ingin mencelakai aku dan berbuat yang tidak-tidak kepadaku. Hahaha ... Kamu lucu sekali Rangga. Emangnya aku ini anak kecil.'' Intan mengirim pesan balasan kepada Rangga dengan di sertai emot tertawa lebar. Selama ini Intan tahu Rangga memiliki perasaan khusus kepada nya. Rangga seringkali mengirimkan pesan yang menunjukkan perhatian nya kepada Intan. Tapi Intan pura-pura tak tahu saja, ia sudah menganggap Rangga sebagai rekan kerja sekaligus temannya. Tidak ada perasaan khusus yang ia rasakan terhadap Rangga.
Rian yang melihat sang istri tersenyum-senyum sendiri sembari melihat layar ponsel mendadak merasa ada yang aneh yang ia rasa di hatinya. Ia merasa curiga. Curiga kalau sang istri bermain hati sama pria lain.
''Ah, apa peduliku. Terserah dia saja mau berbalas pesan sama siapa saja. Emang aku pikirin.'' ucap Rian di dalam hati sambil mencengkram erat setir mobil. Tanpa ia sadari sepertinya benih-benih cinta itu sudah mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Seiring ia yang selalu menghabiskan hari bersama sang istri yang dinikahi nya tanpa adanya cinta. Yang ada hanya dendam, tapi dendam itu sudah ia lupakan karena sang Papa telah tiada di dunia. Sekarang yang Rian khawatir kan, ia takut Mama nya mencelakai Intan.
***
Sementara itu, di kediaman Andra.
''Sempurna.'' gumam Ainun seraya tersenyum lebar, ia menjentikkan jarinya hingga mengeluarkan bunyi. Ia berdiri di dekat kursi, mengendus aroma masakan yang tercium begitu menggoda selera.
''Mama sibuk sekali, apa sudah serindu itu Mama sama Kak Rian? Maaf, Ma. Tadi aku nggak bantuin Mama.'' ucap Hamidah yang tiba-tiba menghampiri sang Mama. Hamidah berdiri di samping Mama nya.
__ADS_1
''Iya, Sayang. Tidak apa-apa. Mama tidak hanya rindu sama Kakak mu saja, Mama juga rindu sama Intan, Kakak iparmu.'' balas Ainun tersenyum simpul seraya mengelus punggung sang putri. Perut Hamidah sudah mulai membuncit, hingga ia memakai jilbab panjang dan lebar untuk menutupi perutnya. Abdillah dan Andra masih berada di dalam kamar mereka masing-masing.
''Selain cantik, Kak Intan ternyata baik juga, ya, Ma.'' ujar Hamidah memuji Intan. Ia mengingat wajah dan perilaku Intan waktu mereka melayat Papa Intan waktu itu. Intan menyambut mereka dengan begitu ramah. Padahal waktu itu Intan sedang berduka.
''Iya, Sayang. Kamu benar. Mama merasa lega dan sangat senang karena kamu dan Kakak mu sudah menemukan pasangan yang tepat. Pasangan yang insyaAllah baik dan tidak banyak tingkah. Mama selalu berdoa, semoga saja rumah tangga kamu dan Kak Rian berjalan baik-baik saja, selalu bersama dalam kondisi apapun dan tidak saling menyakiti satu sama lain.'' ucap Ainun dengan harapan agar anak-anak nya selalu bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.
Tidak lama setelah itu, seorang pelayan menghampiri Ainun dan Hamidah di ruang makan. Lalu berkata.
''Bu Ainun, Den Rian dan istrinya sudah datang.''
''Baiklah. Terimakasih.''
Ainun dan Hamidah berjalan ke pintu utama untuk menyambut kedatangan Rian dan Intan. Abdillah dan Andra pun ikut serta. Mereka juga sudah sampai di lantai bawah.
''Assalamu'allaikum Tante.'' ucap Intan dan Rian.
__ADS_1
''Walaikum' sallam.'' jawab Ainun, Hamidah, Abdillah dan Andra bersamaan.
Bersambung.