AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Rujak


__ADS_3

Dokter laki-laki berkacamata yang berusia sekitar empat puluh tahun keluar dari ruangan. Hanifa, Sarah dan Abdillah langsung berdiri menghampirinya.


''Bagaimana kondisi putra saya, Dok?'' tanya Hanifa dengan harapan semua akan baik-baik saja. Sekarang mereka bertiga sudah berdiri saling berhadapan dengan Sang Dokter.


''Alhamdulillah. Putra Ibu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatir secara berlebihan. Tadi saya dan tim sudah membersihkan pipinya yang berdarah, lukanya sudah kami kasih antibiotik untuk mencegah terjadinya iritasi kulit. Nafasnya juga sudah stabil. Sekarang pasien sedang tertidur pulas, mungkin karena tadi ia terlalu kelelahan membuat nya tidur dengan cepat tanpa harus kami kasih obat-obatan terlebih dahulu.'' jelas sang dokter dengan senyum yang menghiasi wajah.


''Alhamdulillah. Terimakasih Dokter.'' ucap Hanifah begitu bersyukur.


''Iya, sama-sama. Kalian sudah boleh menjenguk nya. Kalau begitu saya permisi dulu.''


''Iya Dok, sekali lagi terimakasih banyak.'' ucap Hanifa lagi. Dokter mengangguk dengan senyum simpul lalu berlalu. Setelah itu rombongan Hanifa masuk ke dalam ruangan putih bercorak coklat. Begitu sudah sampai di dalam, benar saja Arif terlihat telah tidur dengan lelap di brankar. Bajunya pun telah di ganti dengan baju bewarna biru muda, baju khas pasien rumah sakit.


''Wajah Arif kenapa bisa sampai begini Abdillah?'' tanya Sarah. Ia melihat Arif lekat lalu mengelus pucuk kepala Arif lembut.


''Itu, orang yang menculiknya menekan kedua pipi Arif dengan kuku nya yang panjang dan tajam, Ma. Hingga menyebabkan pipi Arif terluka begitu. Beruntungnya tadi kami cepat datang. Kalau kami sampai terlambat, entah apa yang akan terjadi kepada Arif setelah nya.'' tutur Abdillah. Dia juga sudah merasa lega melihat sang keponakan tidak apa-apa.


''Dasar biad*b! Siapa yang berani melakukan tindakan keji seperti ini kepada anak di bawah umur! Ayo katakan Abdillah, biar Mama kasih pelajaran tuh orang.'' ucap Sarah murka. Seketika wajah nya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda memerah karena amarah.


''Mama yang sabar dan tenang, ya. Orang itu sudah di tangkap polisi, biar polisi saja yang menghukumnya dengan balasan setimpal.'' Abdillah berkata dengan nada lembut menenangkan.


''Tidak bisa begitu Abdillah. Mama tidak terima. Besok Mama akan ke kantor polisi untuk melihat sendiri orang-orang yang menculik dan menyiksa cucu Mama.'' sanggah Sarah lagi bersikeras. Abdillah dan Hanifa diam tak menyahut lagi, karena mereka juga merasa amat geram dengan perbuatan Shanum yang sudah di luar batas.


Tidak lama setelah itu, seseorang mendorong pintu kamar Arif dari luar. Malik masuk ke kamar rawat inap Arif lalu ia tersenyum lega melihat Arif yang tertidur pulas. Ia juga tersenyum melihat keluarga nya telah berkumpul di ruang itu.


''Mas,'' Hanifa mengambil tangan sang suami lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Malik mengelus pucuk kepala sang istri yang di tutupi jilbab. Hanifa lalu menjelaskan kepada Malik tentang kondisi Arif. Malik pun merasa semakin lega karena kondisi Arif baik-baik saja. Hanya saja kata Dokter tadi penyiksaan kecil yang di alami oleh Arif mungkin akan meninggalkan rasa trauma di diri Arif. Hanifa dan yang lainnya bisa menghilangkan rasa trauma itu dengan perlahan saat kondisi fisik Arif sudah mulai membaik.


''Malik, siapa sebenarnya orang yang telah menculik Arif? Kata Hanifa dan Abdillah tadi Mama di suruh nanya sama kamu.'' tanya Sarah kepada sang putra. Sekarang mereka telah duduk di sofa.


''Em ... Ada, Ma. Udah nggak penting juga, yang terpenting sekarang 'kan Arif udah kembali berkumpul bersama kita.'' balas Malik santai.

__ADS_1


''Kalian kenapa seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari Mama?! Baiklah kalau kalian tidak mau memberi tahu sama Mama, Mama akan menemui langsung orang itu besok di kantor polisi.'' ucap Sarah lantang.


''Terserah Mama aja deh.'' balas Malik lagi dengan santai. Hanifa dan Abdillah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Malik. Malik sepertinya tidak takut sama sekali kalau sampai Sarah tahu siapa Shanum sebenarnya.


''Yakin terserah Mama?''


''Iya. Asalkan Mama senang.''


Setelah itu obrolan mengenai siapa penculik itu selesai. Malik pun masih merahasiakan sama Abdillah dan Hanifa tentang Setya yang ikut terlibat, Malik takut keributan kembali terjadi, karena ia tahu pastinya Abdillah tidak akan diam kalau sampai ia tahu Setya terlibat dalam penculikan Arif. Pastinya Abdillah akan memberikan pelajaran kepada Setya, pelajaran yang lebih parah dari apa yang Malik lakukan tadi. Sedangkan Hanifa pastinya akan merasakan amat kecewa, karena walaupun Setya tetaplah Ayah kandung Arif.


Malam sudah semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sarah dan Andillah sudah tertidur pulas. Abdillah tidur di sofa yang ada di dalam ruang Arif, sedangkan Sarah tidur di atas ranjang yang tersedia di ruangan. Karena Arif di rawat di ruangan VVIP 1 di rumah sakit itu. Malik dan Hanifa masih berjaga, duduk di sisi brankar Arif.


''Sayang, tidur lah. Biar Mas saja yang jagain Arif.'' ucap Malik lembut. Ia merengkuh tubuh Hanifa hingga sekarang Hanifa telah bersandar di dada bidangnya.


''Lebih baik Mas saja yang tidur, besokkan Mas harus kerja. Nanti Mas ngantuk saat di kantor. Arif biar aku saja yang jaga.'' timpal Hanifa sambil menghirup aroma tubuh sang suami yang begitu menenangkan bagi nya. Jujur, baru beberapa saat saja mereka berpisah, mereka berdua sudah sama-sama saling merindu.


''Kita jaga Arif berdua saja, Mas.''


''Mmm, sepertinya Mas harus menyewa seorang perawat pribadi untuk Arif agar kita tidak berdebat kayak ini.''


''Nggak usah nyewa perawat. Aku Ibunya, aku bisa jaga putra ku sendiri.''


''Kamu memang Ibu yang baik hati dan sedikit keras kepala.'' ucap Malik mendekap Hanifa erat.


''Tapi kamu sayang kan?''


''Sayang banget.''


''Mas, Shanum kok tega banget, ya. Aku tidak menyangka dia bakal nekat menculik Arif.''

__ADS_1


''Iya Sayang. Begitulah kalau hati di penuhi ambisi dan kemauan yang tak sesuai realita, tak bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya, sampai-sampai dia tega menyakiti anak kecil yang tak tahu apa-apa untuk membalas rasa sakit hati, yang katanya. Seharusnya kalau dia benar-benar wanita baik-baik dan punya harga diri, dia akan mengerti dan menghargai keputusan Mas saat Mas menolaknya sekali saja. Tapi ini ... Ah bikin sakit kepala saja kalau terus membicarakan tuh wanita.'' tutur Malik terdengar bijak.


''Kamu beneran nggak punya perasaan apa-apa 'kan sama dia?'' tanya Hanifa memastikan.


''Laahh pertanyaan macam apa itu? Kamu aneh-aneh saja Sayang. Cuma kamu wanita yang Mas sayangi dan kasihi selain Mama.''


''Mas kamu tahu nggak sih, tadi tuh aku lagi kepengen banget makan rujak buah. Rujak buah yang ada buah mangga muda, buah kedondong, buah jambu air, pokonya buah yang asem-asem gitu di sirami sama kuah kacang. Duh ... Sepertinya enak banget, ya, Mas.'' jelas Hanifa yang sudah keluar dari topik pembicaraan awal. Malik tersenyum mesem-mesem mendengar penuturan sang istri.


''Kamu ngidam rujak Sayang?''


''Hu'um, sepertinya iya.''


''Mau Mas belikan sekarang?''


''Ihh udah malam gini, mana ada orang jual rujak malam-malam.''


''Ada. Mas akan suruh orang suruhan Mas untuk mencarinya untukmu. Mas tidak mau anak kita ngences karena ada keinginan ibunya yang tak terpenuhi. Tapi sebelum makan rujak kamu harus makan nasi dulu.''


''Kasihan orang suruhan mu kalau harus di suruh-suruh malam-malam gini cari rujak buat aku. Besok saja lah.''


''Yakin masih bisa nahan?''


''Iya, Mas.'' jawab Hanifa mantap. Lalu setelah itu Malik meminta Hanifa agar tidur. Akhirnya Hanifa menurut, sedangkan Malik terjaga sepanjang malam melihat Arif kalau-kalau Arif bangun. Untungnya Arif tidak bangun.


Bersambung.


Alhamdulillah akhirnya keluarga Hanifa bisa berkumpul lagi, ya, guys.


Kira-kira gimana tanggapan Siska begitu tahu Setya di penjara? Akankah dia akan tetap setia atau malah meminta cerai kepada Setya?

__ADS_1


__ADS_2