AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Bab 47


__ADS_3

Malik terkesiap kaget mendengar ketukan dan suara kecil yang memanggil dirinya dan sang istri. Repleks ia menghentikan aktivitasnya. Ia dan Hanifa tersenyum bersama mendengar suara Arif yang terus memanggil. Dengan cepat ia bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Pakaian yang hampir terlepas semuanya tadi.


''Sayang, cepat kenakan kembali baju mu.'' titah Malik kepada Hanifa. Hanifa mengangguk kecil. ''Mas, apa kamu tak apa-apa?'' tanya Hanifa merasa tidak enakan.


''Tidak Sayang. Malam-malam lain 'kan bisa kita lanjutkan lagi atau kita pikirkan saja lagi nanti.'' Malik berkata dengan senyum nakal. Meski merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Arif yang tiba-tiba. Tapi ia sangat menyayangi Anaknya itu, ia tidak bisa mengabaikan Arif hanya kerena nafsu semata. Begitu pakaian Hanifa sudah terpakai sempurna, Malik berjalan ke arah pintu. Dan ... Ceklek! Begitu pintu terbuka Malik melihat Arif telah berdiri tepat di depan pintu dengan kedua tangan mendekap guling kecil dan selimut karakter, wajahnya sedikit cemberut menatap Malik. Di belakang nya Hamidah tersenyum canggung. ''Maaf mengganggu Malik, Arif kekeh ingin tidur bersama kalian. Padahal Teteh sudah membujuk nya berulang.'' ucap Hamidah yang seakan mengerti apa yang tengah di kerjakan oleh pengantin baru itu.


''Tidak apa-apa Teh. Arif biar tidur sama kami saja.'' balas Malik sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Arif.


''Benarkan, Bu, apa kata aku tadi, aku tidak menggangu Papa dan Bunda.'' ucap Arif percaya diri dengan wajah ceria.


''Ya sudah, kalau begitu masuk dan tidur lah segera anak manis.'' Hamidah mengusap pucuk kepala Arif.


''Iya, Bu. Selamat malam.'' setelah Arif mengatakan itu, Malik membawa Arif ke dalam kamar. Hanifa menyambut putranya itu dengan kecupan berulang. Lalu mereka bertiga berbaring bersama di atas tempat tidur berukuran sedang dengan Arif berada di tengah-tengah. Hanifa membaca dongeng sebelum tidur untuk Arif, sedangkan Malik mengelus kepala nya. ''Cepatlah tidur, Nak. Supaya Papa bisa segera memberikan Adik yang lucu untuk mu.'' batin Malik tersenyum-senyum. Hanifa yang melihat sang suami tersenyum sendiri merasa ada yang aneh. Tidak lama setelah itu Arif telah tidur. Lalu dengan pelan Malik bangun, ia meminta agar Hanifa membentangkan kasur lantai di bawah. Begitu kasur sudah di bentang, Malik mematikan lampu kamar. Dan setelah itu ... Mereka mulai melakukan itu lagi, melanjutkan ibadah yang sempat tertunda tadi dengan pelan dan hati-hati karena takut membangun Arif yang tertidur pulas.


***


Hamidah duduk sendiri di teras rumah. Malam kian larut, tapi ia kesulitan untuk tidur. Ia menatap kerlap kerlip bintang di langit sambil bersholawat nabi. Lalu ia mengalihkan pandangannya saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dari jarak tiga meter ia melihat Abdillah berjalan ke arahnya.


''Kenapa masih di luar? Angin malam nggak bagus untuk kesehatan. Nanti kamu masuk angin.'' ucap Abdillah yang heran melihat Hamidah duduk di teras.


''Aku nggak bisa tidur, Abdillah. Aku ingin menghirup udara segar sebentar.''


''Arif mana? Bukannya dia tidur bersama kamu malam ini?'' tanya Abdillah, lalu ia duduk di sebelah Hamidah.


''Arif tidak mau tidur bersama ku, aku sudah membujuknya. Tapi ia tetap kekeh ingin tidur bersama Hanifa dan Malik.'' jelas Hamidah.


''Mengganggu saja anak itu!'' Abdillah tergelak kecil. Hamidah pun ikut-ikutan.


''Udah selesai urusannya?'' Tanya Hamidah.


''Sudah. Alhamdulillah. semoga sedikit rizki yang aku dan Tuan Malik berikan bisa meringankan beban mereka dan bisa memajukan desa ini.'' jawab Abdillah.


''Amin.'' balas Hamidah.


Tadi, Abdillah sholat Isya berjamaah di Musholla bersama warga setempat. Sekalian juga ia memberikan bantuan berupa dana yang tidak sedikit kepada kepala desa untuk membangun musholla, memperbaiki jalan yang rusak dan untuk dibagi-bagikan kepada warga yang tidak mampu serta anak yatim piatu. Malik juga berpesan agar Abdillah mencari orang yang bisa dipercaya di kampung untuk meneruskan niat baiknya, rencananya ia akan membangun lapangan pekerjaan berupa pabrik minyak dan gula. Kemarin saat Malik berkeliling desa bersama Abdillah, ia melihat pohon sawit dan tebu tumbuh subur cukup banyak di kampung tempat asal Hanifa dilahirkan. Malik begitu tertarik melihat itu, ia akan membuat langkah petani semakin mudah untuk menjual hasil kebun mereka.


''Ya sudah, ayo masuk.'' ajak Abdillah lembut.

__ADS_1


''Kamu duluan saja, aku masih ingin duduk di luar.'' tolak Hamidah pelan.


''Kalau begitu aku akan menemani mu.''


''Tidak usah repot-repot.''


''Repot apanya. Aku senang bisa menemani seorang wanita cantik seperti mu.''


''Ih ... Rupanya bisa nge-gombal juga kamu.'' Hamidah mengalihkan pandangannya ke arah Abdillah. Lalu tersenyum simpul.


''Bisa lah.''


''Mm ... Hamidah, kalau boleh aku tahu di mana keluarga mu?'' tanya Abdillah sedikit ragu. Karena ia merasa penasaran tentang asal-usul seorang Hamidah.


''Aku tidak punya keluarga.'' jawab Hamidah lesu.


''Maksudnya?'' kening Abdillah berkerut menatap Hamidah lekat.


''Iya. Sedari bayi aku di besarkan di panti. Kata Ibu panti aku di temukan di depan pintu pada pagi hari. Seseorang seperti nya dengan sengaja telah membuang aku. Mungkin aku bukanlah anak yang di inginkan. Aku tidak punya keluarga. Keluarga ku hanya Ibu panti dan anak-anak lain seusia ku yang sama-sama di besarkan di panti. Tapi sekarang Ibu panti sudah tiada, beliau sudah meninggal saat aku baru saja menamatkan sekolah menengah atas. Setelah beliau meninggal aku dan teman-teman seusia ku yang ada di panti menjalani kehidupan masing-masing. Kami berpisah mencari jalan dan tujuan hidup masing-masing. Aku melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa, aku mengambil jurusan keagamaan. Lalu setelah wisuda aku mencari pekerjaan, dan mendapatkan pekerjaan mengajar anak TK dan Paud di dekat tempat tinggal aku, di dekat rumah Hanifa dulu. Dari situlah aku bisa mengenal Hanifa. Hanifa dan Arif sudah aku anggap seperti keluarga ku sendiri. Aku sangat menyayangi mereka.'' jelas Hamidah. Abdillah manggut-manggut mendengarkannya dengan perasaan susah di artikan. Ia tidak menyangka ternyata Hamidah harus menjalani hari-hari yang berat tanpa di kelilingi orang tua dan saudara kandung. Abdillah merasa kagum dengan ketegaran Hamidah dalam menjalani hidup.


''Terimakasih, ya, karena selama menjadi tetangga Hanifa kamu sudah banyak membantu, memperhatikan Hanifa dan menemaninya dalam menjalani masa-masa sulit.''


Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Mereka akan segera tidur. Bertepatan dengan itu juga, Hanifa dan Malik terkapar di kasur tipis, mereka telah selesai mengerjakan ibadah pertama mereka sebagai pasangan suami istri.


''Terimakasih, Sayang.'' Malik mengecup kening Hanifa. Hanifa berbaring di lengan sang suami.


''Sama-sama Sayang.'' balas Hanifa. Lalu mereka tidur saling berpelukan dengan pakaian yang sudah di kenakan kembali.


***


Keesokan paginya, rombongan Hanifa telah siap. Mereka akan kembali ke Jakarta. Mereka tidak bisa lebih lama lagi tinggal di desa karena Arif yang harus sekolah, butik milik Hanifa yang harus di buka serta pekerjaan Malik dan Abdillah sebagai seorang CEO dan Asisten CEO juga telah menunggu. Abdillah juga telah menemukan orang yang tepat untuk mengurus pembangunan pabrik di desa.


''Hati-hati kalian, ya.''


''Semoga selamat sampai tujuan.''


Kepala desa dan beberapa warga melepas kepergian Hanifa dan rombongan. Mereka merasa sangat senang dan terbantu akan kepulangan Hanifa yang hanya sebentar. Mereka berharap suatu saat nanti Hanifa dan rombongan akan berkunjung lagi ke desa. Warga desa begitu sibuk membicarakan Hanifa, apalagi Malik. Mereka menganggap Hanifa sangat beruntung bisa memiliki suami yang amat tampan dan kaya raya seperti Malik. Nama Hanifa, Malik, Abdillah, Hamidah dan Arif sudah menjadi trending topik di desa. Semua orang sibuk membicarakan mereka.

__ADS_1


Sebelum kembali ke Jakarta, rombongan Hanifa akan mengunjungi rumah orangtua Setya sebentar.


''Assalamu'allaikum.'' ucap Hanifa ketika mereka sudah berada di depan pintu rumah orangtua Setya. Tidak lama setelah itu pintu di buka.


''Walaikum'sallam.'' jawab Siska. Siska terlihat lusuh dengan daster kusam dan compang-camping. Rambutnya yang di ikat kuda terlihat sedikit berantakan.


''Siska, Ibu mana?'' tanya Hanifa ramah dengan tersenyum hangat.


''Ibu ada di dalam. Ayo silahkan masuk.''


Begitu sudah sampai di dalam, Hanifa melihat Hellen dan Ibunya sedang duduk santai di kursi ruang tamu sambil menonton televisi dan memakan cemilan. Begitu mereka melihat kedatangan Hanifa dan yang lain, mereka sedikit salang tingkah lalu tersenyum ramah.


''Eh ... Ada Nak Abdillah dan Hanifa rupanya. Ayo silahkan duduk.'' ucap Ibu Setya.


''Siska, kamu tolong bikin minuman, ya.'' titah Ibu Setya dengan suara terdengar keras.


''Iya, Bu.'' jawab Siska dengan wajah lesu terlihat lelah.


''Tidak usah repot-repot Siska. Ayo duduk di sini sama kami.'' ujar Hanifa. Siska salah tingkah, ia seperti orang bingung sambil melihat mertua nya.


''Tidak apa Siska. Ayo duduk.'' ucap Hanifa lagi. Entah kenapa Hanifa merasa kasihan melihat Siska. Ia merasa ada yang tidak beres. Lalu Siska duduk bergabung bersama rombongan Hanifa. Saat Siska telah duduk tepat di samping Hanifa, Hanifa menyelipkan amplop dengan diam-diam ke tangan Siska. Siska menatap Hanifa heran. ''Ssttt ... Ini untukmu, untuk pegangan mu.'' ucap Hanifa pelan. Siska mengangguk kecil, matanya terlihat berkaca-kaca. Saat melihat Siska, Hanifa tiba-tiba membayangkan kalau itu dirinya dulu. Ia merasa kasihan melihat penampilan Siska. Tidak lama setelah itu Setya menghampiri rombongan Hanifa.


''Kami ke sini ingin memberikan ini. Ini untuk membantu kalau kalian ingin membuat acara tahlilan untuk Ayah.'' Abdillah memberikan amplop berwarna putih yang lumayan tebal kepada Setya.


''Terimakasih banyak atas bantuan kalian.'' balas Setya dengan senyum lebar. Ibunya dan Hellen juga tersenyum ceria. Setya melihat ke arah Arif, Arif bersembunyi di belakang tubuh tegap Malik. Setya merasa sedih melihat sang putra yang masih berusaha menghindari dirinya.


''Iya. Sama-sama.''


''Mas Abdillah akan segera kembali ke Jakarta?'' Hellen bersuara.


''Iya.''


''Kenapa cepet banget sih pulangnya. Padahal aku masih ingin melihat Mas Abdillah di desa ini.''


Abdillah tak menjawab lagi. Lalu setelah itu mereka pamit. Abdillah tidak mau banyak berbasa-basi lagi dengan keluarga Setya. Ia hanya menunaikan hal yang di rasanya wajib saja.


Bersambung.

__ADS_1


Tidak jadi tamat, ya.


__ADS_2