AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Bab 44


__ADS_3

Ameera mematut dirinya sekali lagi di depan cermin, memastikan apakah penampilannya sudah sempurna. Tubuhnya menyamping, berputar lalu setelah puas dan merasa pas baru ia keluar kamar. Ia memakai gaun bewarna biru dan jilbab senada.


''Anak gadis Mama lama banget sih dandannya, tuh kasihan Yusuf udah lama nunggu.'' ucap Mama Ameera yang tengah duduk di ruang keluarga menunggu dirinya. Sedangkan Yusuf duduk di ruang tamu bersama Papa Ameera.


''Ih, nggak lama kok, Ma. Namanya juga usaha, aku ingin penampilan aku terlihat wow gitu di acara pesta pernikahan Hanifa dan Malik.'' balas Ameera. Ia melihat ke arah Yusuf dan Papa nya yang tengah mengobrol, Ameera menarik bibir ke dalam, ia senang melihat keakraban antara Sang Papa dan Yusuf. Mama Ameera pun merasa lega, karena sang anak gadis semata wayang sudah kembali ceria, tidak terpuruk lagi karena cinta yang tak terbalas oleh Malik. Mama Ameera berharap Yusuf dan Ameera bisa menjalin hubungan lebih jauh lagi setelah ini, karena saat ini baik Ameera maupun Yusuf masih mengatakan kalau hubungan mereka masih sekedar teman biasa, tidak lebih.


''Kamu sudah sangat cantik Sayang.'' Mama Ameera membelai punggung Ameera. Kemudian mereka berjalan berdampingan menuju ruang tamu.


''maaf, ya, lama nunggu nya.'' Ameera berucap ketika sudah sampai di depan Yusuf dan Papanya. Yusuf melihat Ameera lalu melempar senyum kecil.


''Nggak apa-apa Kok.'' balas Yusuf. Ameera terlihat cantik, tapi masih belum mampu menggetarkan hati Yusuf. Yusuf memang tipikal pria yang tidak mudah jatuh cinta. Ia sama seperti Abdillah. Yusuf pun menjemput Ameera ke rumah atas permintaan Ameera sendiri.


''Ya sudah yuk kita berangkat.'' ujar Mama Ameera. Mereka akan pergi ke pesta pernikahan Malik dan Hanifa bersama-sama. Sedangkan kedua orangtua Yusuf juga telah pergi ke pesta pernikahan bersamaan dengan Bus yang membawa warga gang mereka.


''Nak Yusuf sekarang lagi sibuk apa?'' tanya Mama Ameera. Yusuf fokus menyetir dengan Ameera duduk di sampingnya sedangkan kedua orangtua Ameera duduk di kursi belakang.


''Aku lagi tidak sibuk apa-apa Tante.'' jawab Yusuf dengan senyum simpul.


''Kata Ameera kamu seorang Dosen, dan merupakan Ustadz muda juga.''


''He iya, Tan. Itu merupakan kewajiban aku Tante untuk berbagi ilmu kepada generasi muda. Aku merasa tidak sibuk sama sekali, aku senang melakukan pekerjaan sekaligus kewajiban itu.'' balas Yusuf lagi dengan sopan. Yang membuat orangtua Ameera semakin menyukai nya.


''Duhh ... Kamu sungguh anak muda yang baik dan rendah hati. Beruntung banget pastinya wanita yang menjadi istri mu.'' puji Mama Ameera. Ameera tersenyum mendengar obrolan Yusuf dan Mamanya.


''Tante bisa aja.'' balas Yusuf lagi. ''Hah ... Kalian tidak tahu saja kalau aku baru saja patah hati karena di tolak oleh wanita yang aku kagumi sejak lama.'' batin Yusuf tersenyum getir. Sedangkan Ameera juga masih belum mengetahui tentang masalah percintaan Yusuf. Tentang Yusuf yang pernah di tolak Hanifa. Entah bagaimana jadinya kalau Ameera mengetahui kenyataan bahwa nama Hanifa terletak istimewa di dasar hati Yusuf. Hingga saat ini.


***


Di tempat berbeda, Hellen dan kedua orangtuanya telah sampai di Jakarta. Mereka juga akan menghadiri pesta pernikahan Malik dan Hanifa. Hellen dan Ibunya sebenarnya malas sekali untuk ikut serta, karena mereka tidak suka melihat Hanifa yang tengah berbahagia. Tapi Ayah Setya yang begitu kekeh mengajak, ia sangat ingin melihat Hanifa, melihat Hanifa tersenyum bahagia di pelaminan. Kondisi kesehatan Ayah Setya sudah membaik, meskipun kalau ke mana-mana harus membawa obat-obatan, karena ia sudah ketergantungan sama obat-obatan. Wajar saja karena usianya yang sudah renta.


''Kita kerumah Setya dulu, 'kan? Kita titip dulu barang kita ini di rumahnya.'' ujar Ibu Setya, sekarang mereka berada di dalam taksi menuju rumah Setya.

__ADS_1


''Iya. Tapi jangan lama, Ayah sungguh tidak sabar lagi ingin melihat Hanifa dan Arif.'' sahut Ayah Setya dengan senyum bahagia mengingat wajah Arif dan Hanifa.


''Hanifa terus, Hanifa, Hanifa, Hanifa! Bikin Betek aja.'' ujar Hellen manyun. Ia duduk di depan di samping pengemudi.


''Kamu ini ngomong sama orang tua kok nggak ada sopan-sopannya, Hellen. Nanti kalau Ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini, kamu harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tutup aurat mu dan berbicara lah yang sopan dan lembut.'' nasihat Ayahnya dengan sungguh-sungguh.


''Apaan sih Ayah. Kayak udah mau mati aja.'' lagi Hellen berucap ceplas-ceplos yang membuat Ayahnya merasa sedih. Ayahnya hanya mampu menggeleng kepala melihat kelakuan sang anak gadis.


''Eh, nanti Ibu nggak usah ikut aja ya ke pesta Hanifa, Ibu nunggu kalian di rumah Setya aja. Kalian berdua aja yang pergi. Setya dan istri barunya pasti ada di rumah sekarang, Ibu ingin mengobrol-ngobrol sama mereka saja.'' Ibu Setya beralasan berusaha mengelak agar tidak jadi ikut. Ia merasa sungguh malu kalau datang ke pesta. Ia takut Hanifa akan menghinanya seperti apa yang sering ia lakukan kepada Hanifa dulu.


''Ibu! Harus berapa kali Ayah bilang! Ibu harus ikut, apa Ibu tidak mau bertemu sama cucu Ibu satu-satunya!'' Sang suami berkata sedikit membentak. Yang berhasil membuat istrinya itu terdiam dengan rasa kesal.


''Ish ... baiklah.'' gumamnya mengalah.


Tidak lama setelah itu mereka sampai di tempat tujuan, begitu mereka memasuki gang, pintu-pintu rumah warga terlihat tertutup semuanya, gang begitu sunyi seperti tiada kehidupan.


''Yah ... Di gembok.'' rutuk Hellen sambil memegang gembok yang sudah karatan. Ia sedikit kesusahan membawa ransel yang berisi dua setel pakaian gantinya dan barang-barang lain. Sekarang mereka sudah berada di depan pintu rumah Setya yang terbuat dari papan kualitas rendah, yang sudah bolong-bolong di sebagian.


''Iya. Sebel ih. Aku jadi kangen sama Kak Arumi dan Caca.'' sahut Hellen.


''Di taro di teras sini aja, Bu, barang-barang kita. Insyaallah aman. Dari pada kita membawa ke pesta, repot nanti. Kasihan sama tukang taksi sudah lama nunggu kita. Ayo cepetan.'' ujar Ayah Setya.


''Ya sudah. Duh ribet banget sih ini hidup!'' rutuk Ibunya Setya sambil berdiri. Ia masih belum bisa melupakan Arumi, ia masih menginginkan Arumi yang kaya menjadi menantunya.


Setelah itu mereka berangkat ke tempat tujuan.


***


Hanifa dan Malik sibuk bercengkrama bersama tamu undangan lalu berfoto bersama. Setya yang bersembunyi di kerumunan keramaian warga menatap Hanifa diam-diam dari jarak jauh, ia kesulitan melihat wajah Hanifa dan Arif. Meski begitu ia sudah bisa melihat seperti apa wajah dan penampilan sang mantan istrinya itu sekarang. Ia begitu takjub melihat Hanifa begitupun Arif.


''Kamu sangat cantik Hanifa. Mas rindu, Mas ingin mendekap tubuh mu itu, melepaskan rasa rindu yang sudah lama tertahan ini. Oh ... Putra ku, kamu sangat tampan, maafkan Ayah. Hiks.'' batin Setya dengan dada terasa begitu sesak. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, lalu ia menghapusnya cepat.

__ADS_1


''Mas, ayo kita makan.'' tiba-tiba Siska menyenggol tangan Setya yang membuat Setya kaget.


''Iya. Ayo.'' sahut Setya.


Lalu setelah itu Setya dan Siska duduk menunduk di kursi paling belakang sambil menikmati sepiring penuh nasi beserta bermacam lauk.


''Enak banget, ya, Mas.''


''Iya. Makanlah yang banyak.''


''Mas makanan aku udah hampir habis. Aku pengen nambuh lagi setelah ini.''


''Ya sudah ambil aja.''


''Tapi aku malu.''


''Biar Mas aja yang ambil.''


''Hihi terimakasih Mas.'' Siska kegirangan.


Orang-orang yang berada di dekat mereka hanya bisa memandang tidak suka melihat gaya Setya dan Siska yang sedang menikmati makanan, mereka makan tidak ada manis-manisnya. Makan menggunakan tangan dengan suapan yang besar dan cepat. Lalu setelah makanan Siska habis, ia menyerahkan piringnya kepada Setya, meminta Setya mengambil makanan lagi. Setya pun berjalan ke arah hidangan yang berjejer. Setya mulai memasukkan nasi, lauk dengan tangan sedikit gemetar. Sesekali pandangannya tertuju ke arah Hanifa yang ada di pelaminan. Ia takut Hanifa melihatnya. Ketika sudah merasa cukup ia mengalihkan tubuhnya hendak berjalan ke arah Siska yang tengah menunggu dirinya. Namun ...


Brak!


Piring yang di pegang Setya jatuh, karena tubuhnya beradu sama seseorang.


''Maaf, maaf, baju kamu kotor karena aku.'' Setya berucap sambil menunduk dan mengibas kecil baju seseorang yang ada di depannya, menyingkirkan nasi yang menempel. Sedangkan tatapan tamu-tamu yang lain sudah berfokus kepada mereka.


''Sudah, tidak apa-apa.'' jawab orang itu. Setya lalu menegakkan pandangannya, duarrrr ... Jantungnya serasa mau copot melihat siapa yang ada di depannya. Begitupun dengan pria yang ada di hadapannya.


"Setya?'' ucap pria itu dengan senyum sinis.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2