AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Fitting


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi telah datang menyapa, pagi ini cuaca begitu cerah, mungkin berbalas sama hujan tadi malam. Siska bangun dari tidurnya, di sampingnya nampak Setya masih pulas menutup mata. Kondisi Setya sangat memprihatikan, wajahnya yang lumayan tampan nampak merah memar di sertai bengkak. Hingga ketampanannya lenyap berubah menjadi sedikit aneh. Bibir monyong, mata sembab dan pipi sebelah bengkak, sebelah nya tidak.


''Aw ... Tubuhku pegal-pegal banget, pipi ku juga terasa perih. Ah, mana mungkin aku dan Mas Setya pergi dari Villa ini sementara kondisi kami tidak mengizinkan seperti ini, apalagi Mas Setya. Kasihan sekali kamu, Mas. Awas saja kau Arumi!'' gumam Siska sambil merentangkan kedua tangannya, menggerak-gerakkan tubuhnya kekiri kekanan. Setelah itu ia mengelus pipi Setya.


''Ya ampun, tubuh Mas Setya panas sekali.'' Siska mendadak panik meraba kening Setya. Bibir Setya juga nampak pucat.


''Mas.'' panggil Siska lirih, ia mencoba membangunkan Setya, setelah mencoba beberapa kali akhirnya perlahan Setya membuka mata.


''Siska, kepala Mas sangat pusing. Aduhh ...'' lirih Setya berucap sambil memegang bagian kepalanya.


''Kamu sakit, Mas. Aku akan keluar sebentar Mas. Aku akan menemui Bapak penjaga Villa, aku ingin meminta keringanan kepadanya agar kita diizinkan tinggal di sini lebih lama lagi.''


''Baiklah. Berbicaralah yang sopan dan lembut, uhukk, supaya Bapak penjaga Villa tidak meminta kita pergi dari sini hari ini. Mas sungguh tidak kuat kalau harus banyak gerak dan berjalan cukup jauh.'' Ujar Setya dengan suara serak disertai batuk.


''Iya, Mas.''


Siska berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu kamar, begitu pintu terbuka, ia melihat pria yang berusia sekitar enam puluh tahunan telah berdiri di depannya, pria yang ingin ia temui ternyata telah berdiri di depan pintu kamar.


''Sudah siap? Kenapa masih belum mengganti pakaian? Kau tahu, penyewa Villa yang baru sedang otw kesini, jangan sampai saat ia datang nanti kalian masih berada disini.'' ujar pria itu dengan keras penuh penekanan. Ia menatap Siska intens dari ujung kepala hingga kaki. Siska yang masih memakai piyama tadi malam merasa sedikit risih dengan tatapan Bapak penjaga Villa, piyama tipis yang menampakkan lekuk tubuhnya yang berisi.


''Pak, suami saya sedang sakit.'' sahut Siska lirih dengan wajah mengiba.


''Itu bukan urusan saya! Cepat berkemas, setelah itu tinggalkan tempat ini!''


''Ta-tapi ...''


''Tidak ada tapi-tapian! Plak!'' ucap penjaga Villa sambil menepuk bokong Siska. setelah mengatakan itu Bapak penjaga Villa berlalu dari hadapan Siska dengan senyum sinis. Siska yang mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan merasa marah dan sesak di dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya melihat Bapak penjaga Villa. Lalu setelah itu ia menghampiri Setya lagi dengan bersikap biasa. Ia tidak mau Setya sampai tahu kalau ia baru saja dilec*hkan oleh pria tua. Perempuan adalah suatu hal yang sangat berharga jika tubuhnya dijaga, di tutupi dan dilindungi. Maka pandai-pandai lah menjaga diri, semakin pandai kamu menjaga diri, semakin orang-orang di sekitar mu menghargaimu.


''Mas!'' ujar Siska saat ia sudah berdiri di dekat Setya.


''Mas sudah mendengar perkataan Bapak penjaga Villa. Lebih baik kita pergi saja, sebelum urusannya semakin runyam.'' ucap Setya lemah. Tadi ia juga mendengar perkataan Bapak penjaga Villa, karena suara Bapak penjaga Villa cukup keras.


''Apa tak apa, Mas? Mas sanggupkah kalau harus berjalan?''


''Apa mau dikata, tidak ada pilihan lain lagi.'' ujar Setya seraya bangun dari kasur. Meski kesulitan ia tetap berusaha. Setelah itu mereka membasuh muka, mengganti pakaian dan memasukkan pakaian kedalam tas.


Setelah bersiap, Setya dan Siska berjalan keluar dari Villa. Setya dan Siska mendukung tas ransel yang di dalamnya terdapat beberapa helai pakaian dan barang-barang milik mereka. Setya berjalan lamban, karena kepalanya terasa pusing, wajah terasa nyut-nyutan, dan tubuh lemas, membuat sikap angkuhnya lenyap seketika, sekarang kondisinya sungguh menyedihkan. Beruntung nya Siska masih selalu setia berada di sisinya.


Mereka berjalan menyusuri jalan raya yang sepi, yang dikiri kanannya di tumbuhi pohon-pohon tinggi berdaun lebat. Mereka akan berjalan menuju jalan utama, menunggu angkutan umum di sana.


''Ah.'' Setya teduduk di jalan, wajahnya semakin pucat.

__ADS_1


''Mas. Kamu masih kuat? Kalau tidak kita beristirahat saja dulu.''


''Iya, lebih baik kita beristirahat sebentar.'' Setya dan Siska duduk di pinggir jalan sambil menikmati sepotong roti dan air mineral, karena mereka memang belum makan tadi. Roti dan air mineral yang mereka bawa dari Villa.


''Mas, nasib kita kok apes banget sih. Kita udah kayak gembel aja. Nggak punya kendaraan, uangpun cuma ada sedikit. Palingan uang yang kita punya hanya cukup untuk ongkos ke Jakarta dan untuk makan kita sehari ini saja. Mana kamunya juga sedang sakit. Duh ... Pusing ah. Hiks.'' oceh Siska dengan air mata mengenangi pelupuk. Kali ini ia benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya. Niat nya ingin hidup senang dengan menjalani hubungan sama suami pemilik restoran tempat ia bekerja. Tapi keadaan begitu cepat berubah, menghempaskan mereka hingga titik terendah.


''Maafkan, Mas. Nanti sesampainya kita di Jakarta, kita tinggal di rumah lama Mas dulu, ya. Soalnya tidak ada pilihan lain lagi, hanya rumah itu yang kita punya.'' sahut Setya mengelus pelan punggung Siska. Sekarang mereka sedang berada di Bogor.


''Iya. Tapi nanti tetangga yang ada di sekitar sana ngomongin kita lagi. Kitakan belum menikah. Tetangga lama Mas 'kan julid-julid orangnya. Aku kurang suka tinggal di sana.''


''Mas akan segera menikahi mu, Siska.''


''Iya, tapi uang dari mana, Mas? Kamu kira nikah gratis!''


''Mas akan menggadaikan handphone milik Mas begitu kita sampai Jakarta.''


''Kamu yakin?''


''Iya. Tidak ada pilihan lain lagi. Untuk kedepannya lagi kita pikirkan bersama-sama.''


''Orangtua ku gimana? Masak anak gadisnya ini mau nikah tidak mengabari mereka.''


''Kita akan menikah siri dulu. Besok kalau Mas sudah punya uang Mas akan menemui orangtua mu dan Mas akan mengabari orangtua Mas juga.'' ucap Setya memberi pengertian kepada Siska. Siska mengangguk mendengarkan itu.


***


Di tempat berbeda.


Hanifa dan Malik tengah berada di sebuah butik ternama. Mereka melakukan fitting busana pengantin. Persiapan untuk acara pernikahan mereka hampir rampung semua, Malik begitu antusias mengurus semuanya. Sekarang hanya tersisa waktu sekitar seminggu lebih lagi menuju hari bahagia mereka.


''Aku mau gaun untuk pernikahan dan pesta ku yang syar'i semuanya, untuk pernikahan aku mau gaun bewarna putih dengan hijab senada, hijabnya harus yang panjang dan lebar yang menutupi dada. Mbak bisa 'kan membuat gaun yang aku pinta.'' ujar Hanifa ketika ia ditanya mau model gaun yang seperti apa, Designer ternama baru saja mengukur tubuhnya. Meskipun Hanifa juga punya butik sendiri, tapi ia tidak punya cukup waktu untuk merancang busana pengantin nya sendiri. Sejak malik melamarnya waktu itu, Malik melarang Hanifa untuk bekerja, bukan apa-apa, semua itu Malik lakukan agar tidak terjadi apa-apa sama Hanifa menuju hari bahagia mereka. Untuk sementara waktu Butik milik Hanifa di kelola oleh Hamidah.


''Baiklah, kami akan menyiapkannya. Kalau tidak ada halangan, beberapa hari lagi gaunnya akan selesai di jahit.'' sahut Designer dengan senyum simpul, designer yang berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya begitu glowing dengan penampilan yang cetar.


''Lakukan yang terbaik untuk calon istriku, Mbak Imel.'' seru Malik. Mereka tengah duduk diruangan Designer itu.


''Tentu. Ini pesta besar. Pesta pernikahan seorang CEO muda yang begitu di segani di kalangan atas. Kami akan melakukan yang terbaik dalam menjahit gaun dan menjahit pakaian pria nya.''


''Baiklah. Kalau begitu kami permisi.'' Malik dan Hanifa berjabat tangan dengan Mbak Imel.


''Iya. Hati-hati kalian. Jaga calon istrimu yang cantik ini dengan baik.''


''Iya Mbak.''

__ADS_1


Malik dan Hanifa sekarang tengah berada di dalam mobil. Mereka akan makan siang bersama.


''Mau makan di mana, Dek?'' tanya Malik lembut. Sekarang ia sudah memanggil Hanifa dengan Dek, besok saat sudah menikah ia akan memanggil Hanifa dengan sebutan 'SAYANG'. Para pembaca jangan baper, ya. Wkwkwk. Dan selalu sabar menunggu hingga hari bahagia itu tiba.


''Di mana saja, aku selalu suka, asal bersama mu.'' balas Hanifa dengan senyum yang tersungging di bibir tipisnya.


''Bisa nge-gombal juga ternyata, ya.''


''Sesekali. Supaya nggak serius-serius amat.''


''Aku senang kamu bersikap seperti ini, teruslah bersikap terbuka dan apa adanya di depan ku.''


''Baiklah Tuan besar.''


''Aisss tuan lagi.'' batin Malik di dalam hati.


''Kita makan di restoran yang ada di depan aja, ya.''


''Iya.''


Begitu sudah sampai di halaman restoran yang cukup luas, Malik keluar terlebih dahulu, lalu ia membuka pintu mobil untuk Hanifa. Mereka berjalan berdampingan masuk kedalam restoran. Beberapa orang pelayan menyambut kedatangan mereka. Saat sudah sampai di dalam restoran.


''Mau duduk di mana?'' tanya Malik lagi. Hanifa dan Malik tengah menatap kursi. Kursi nampak penuh, hanya yang di pojokan saja yang kosong.


''Di sana saja.'' tunjuk Hanifa ke arah pojokan. Malik mengangguk setuju.


''Eh, tapi ...'' repleks Hanifa berucap saat ia melihat orang yang begitu ia kenal tengah menyantap makanan bersama perempuan. Perempuan itu duduk membelakangi mereka hingga Hanifa tidak mengenalinya.


''Ada apa, Dek?''


''Itu, bukannya Mas Yusuf.''


''Mana?''


''Itu ....''


''Iya, itu memang dia. Sepertinya ia sudah menemukan pengganti mu, Dek. Syukurlah.'' ucap Malik lega sedikit menggoda Hanifa.


''Apaan sih.''


Setelah itu Hanifa dan Malik berjalan ke arah meja kosong. Di dekat meja kosong itu Yusuf dan Ameera tengah makan bersama, mereka belum menyadari akan kehadiran Hanifa dan Yusuf.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2